Hidup Emak!

RUMAH kos tempat saya numpang hidup demi membangun harapan ekonomi di Depok yang semakin riuh itu memberi saya pelajaran berharga tentang pertarungan antar-kelas yang dimenangkan oleh kelas pekerja. Sekaligus bukti betapa vitalnya peran mereka-mereka para penghuni kelas sub-ordinat dalam pembagian kelas-kelas sosial di masyarakat itu.

Alkisah, terjadi perselisihan di tempat kos saya yang mengucil di salah satu sudut Margonda Raya itu. Pertarungan itu bak pergulatan antar-kelas yang melibatkan anak pemilik kos yang mewakili kelas borjuis dengan kelas proletar yang diwakili Emak, penjaga kos yang telah puluhan tahun mbaurekso pondokan ini.

Nama ’Emak’ itu sih hanya panggilan dari saya saja. Karena, sebenarnya dia tak pernah mempermasalahkan panggilan apa yang bisa membuatnya menoleh ketika dipanggil. Ada anak kos lain memanggil dia ’Mbah’, ‘Buk’, ’Bik’, atau apapun. Tapi saya tetap manggil dia Emak. Karena, menurut subjektivitas saya yang agak ngawur sebagai sesama orang Jawa ini, karakter dan garis wajah perempuan lanjut itu lebih pantes disebut Emak. Hidup Emak!

Nenek dua belas cucu asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah itu lugu, omongnya cakcek, servisnya oke. Dia proaktif. Apabila ada penghuni kos yang malu-malu memerintahkan dia, seperti saya waktu awal-awal mondok, justru dia yang mendatangi minta perintah. ”Dicuciin to, Mas? Dibikinin kopi to?” Wuih! Full service tanpa gangguan sinyal! Lancar. Emak memang oye. Dia pun menjadi semacam legenda di tempat kos kami karena attitudenya itu. Rumah kos itu akan murung tanpanya.

Di dalam lingkungan rumah kos itu, ada sebuah rumah petak yang berdiri terpisah dari bangunan utama, mojok di sudut barat-utara area. Rumah khusus tersebut dihuni oleh anak bungsu pemilik kos yang berasal dari Sumatera Utara, bersama istri dan dua anaknya. Dan, jujur saja, dia itu agak gimana gitu. Suombong. Misalnya, setiap kali dia berpapasan sama saya, saya yang merasa sebagai tamu, pendatang yang merasa perlu menghormati tuan rumah, memberinya senyum. Tapi, lha kok malah melengos! Wasyu! Wah, saya disepelekan ini. Ya terus terang saja saya tersinggung, sudah bagus saya yang jarang senyum ini ngasih dia senyum, malah tidak dianggap. Wooo, awas yo! Berhubung saya masih butuh tempat kos itu, ya saya hanya bisa mengalah, mengelus dada. Menerima kenyataan kalau saya ini orang numpang. Kalau saya melawan dia, bisa-bisa dia menggunakan hak pertalian darahnya dengan pemilik untuk mengusir saya. Lalu, saya mau tinggal di mana? Ya sudah lah. Sejak saat itu, saya anti berbagi senyum sama dia. Huh, sory ya..!

Sudah begitu, kalau anak-anaknya yang polahnya ajaib nggak karu-karuannya itu sedang kumat, mereka teriak-teriak sak enak udele dewe, kayak hidup di hutan saja! Cetar membahana! Sangat mengganggu istirahat saya yang, sialnya, menempati kamar yang paling dekat dengan rumah spesial di pojokan itu. Mau menegur, nggak enak. Anak juragan….

Ternyata, eh ternyata, sikap congkak dan teriakan-teriakan si boy kecil dan bini itu bukan hanya saya yang mengeluhkan. Tapi merata juga melanda semua penumpang hidup di kos ini. Akhirnya, sikap itu jadi pergunjingan. Mentang-mentang anaknya juragan kos! Kami semua pun sepakat tidak akan tersenyum pada dia.

Pada suatu hari, saya mendengar ribut-ribut dari rumah kecil borjuis kecil itu. Ternyata, Emak meluruk mereka, protes, karena diberi beban tanggung jawab ekstra tapi tidak mendapat upah yang layak untuk itu. Emak harus menjaga dan merawat dua anak pasangan itu (keduanya sama-sama kerja dari pagi hingga malam), tapi besaran upahnya begitu ngenes. Emak yang harus mengawasi anak-anak seharian penuh, pagi sampai malam, dan memberi mereka makan dari kantong pribadinya, hanya diupah 200 ribu per bulan! Rak yo kebangeten to?

Emak protes. Dia membuka negosiasi, upahnya ditambah atau dia tak mau lagi mengasuh.

Tapi, arogansi borjuisme kecil seperti di Prancis abad 17 lalu sepertinya muncul lagi di nDepok. Mendapat protes itu, bukannya mengakomodasi, minimal membuka ruang negosiasi lah, si borjuis dan nyonya malah ngamuk-ngamuk. Teriak-teriak. Katanya, Emak kurang ajar. ”Babu aje belagu!” umpat si borjuis seperti yang sempat saya dengar. Dia malah ngusir emak yang 17 tahun mengabdi pada bapaknya dan anak-anak kos itu! Gara-gara beberapa ratus ribu, bo… Bahkan dia ngamuk, semua pakaian emak di lemari dibuangnya, disebar di halaman yang becek setelah hujan. Si borju merasa harga dirinya diinjak-injak Emak yang hanya menuntut hak. Emak menangis sambil memunguti pakaiannya….

Meski posisinya hanya abdi, Emak punya harga diri. Dia memilih pulang ke Semarang daripada dihina oleh anak bungsu juragannya.

Saat itu juga, dia sambangi satu persatu penghuni kos, mohon pamit dan minta maaf kalau ada salah selama melayani. Tentu saja, pamit emak yang mendadak itu membuat kami semua terhenyak! What’s happen with you, Mak?

Kami semua gundah dan resah. Apa jadinya rumah kos ini tanpa emak yang melegenda itu? Emak itu ya, sudah menjadi semacam punden, mitos yang jadi sokoguru, penyangga keberlangsungan dinamika kehidupan rumah kos kami.

Ketika kami tahu muasal keputusan Emak yang menggegerkan itu, kami semua kian antipati pada si bos kecil yang tak pernah mau membalas senyum kami itu. Bisik-bisik solidaritas untuk emak pun beredar. Beberapa orang memutuskan, kalau emak pergi, kita semua ikut pindah! Wih, mengharukan lho semangat senasib sepenanggungan waktu itu. Seperti solidaritas perlawanan kelas proletar di Prancis zaman Louis XVI dulu!

Saya pun, yang sudah kadung ’mengkultuskan’ Emak mengambil keputusan serupa.

Setelah pamit pada kami, Emak pamit ke juragannya. Pada Mister Opung, dia menceritakan duduk perkaranya. Emak mengaku, tugas mengasuh cucunya itu itu memberatkannya, karena tupoksi sebenarnya adalah mengurus kami-kami para jejaka asoy yang mondok di situ. Ada 25 bujang yang harus dia ladeni. Kalau ditambah ngurus anak kecil, wah, ya kami-kami ini bisa terabaikan.

Sementara, menurut titah Opung, tugas utama Emak adalah melindungi dan melayani kami. Karena, walau bagaimana pun kami ini konsumen, dan konsumen adalah raja. Tanpa kami, Opung dapat duit dari mana, hayo?

Untungnya Opung itu bijak. Dia anti-nepotisme. Dia memilih Emak, mengingat posisi Emak yang mengakar dan melegenda di kalangan akar rumput dunia perkosan kami itu, daripada membela anaknya.

Ternyata, Opung sendiri juga sudah jengah sama kelakuan anak bungsu dan istrinya itu. Si boy kecil selama ini hidup nunut bapaknya. Makan nunut, padahal mereka pasangan yang sama-sama kerja dan mampu beli mobil.

Sebenarnya Opung sudah muak, karena dengan terus begitu, si bontot itu tak akan bisa mandiri seperti kedua kakaknya. Dan, eng ing eng, keputusan yang melegakan pun diambil; si boy kecil dan anak bayatnya harus pindah, sementara Emak melanjutken lakonnya sebagai legenda rumah kos kami.

Pas si borjuis congkak itu pindahan, kebetulan kami semua penghuni kos ada dalam formasi lengkap. Akhir pekan. Kami semua memandangi dia mengangkati barang dengan pandangan yang membahasakan; kesian deh loe!

Anehnya lagi, di saat-saat terakhir itu, terjadilah momen yang luar biasa langka. Dia tiba-tiba membagi senyum untuk kami semua. Weleh… Cari muka? Cari dukungan? Telat, Bos! Kami sudah kadung emoh melihat muka ente! Kami diam saja, sambil terus memandangi kepergiannya. Dingin. Senyumnya tidak kami respons. Rasain!

Biar dia tahu rasa, borjuisme congkak sudah kuno, tidak lagi musim, sejak kepala Louis XVI dipenggal guilotine! Makanya, jangan membuat rakyat kecil marah, kecewa. Mentang-mentang anak penguasa.

Momen itu pun menjadi simbol kemenangan Emak; wong cilik, dari kampung, pekerja keras, ikhlas melayani dan berani protes ketika haknya dikebiri oleh borjuisme ndak tahu adat. Tanpa orang-orang seperti emak, kehidupan ekonomi rumah kos yang megah itu akan tumpas. Ya, wong cilik punya peran sangat vital dalam menggerakkan roda perekonomian. Tanpa Emak, perputaran modal Opung akan macet.

Dan tanpa si boy and family, suasana kehidupan rumah kos lebih damai dan tenang. Ayem sasmita.

Hidup Emak!

Advertisements

3 thoughts on “Hidup Emak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s