Rediscovery of…

Umar Kayam

PERMISI. Nuwun sewu. Mau numpang nyocot ndak apa to? Matur tengkyu

Jadi begini. Beberapa saat terakhir, saya bertemu dengan memori yang sangat, ah, gimana gitu. Bukan, saya tidak bertemu dengan mantan kekasih atau ibu saya hidup kembali. Tapi, saya bertemu dengan ’kenikmatan’ luar biasa terkait dengan hobi saya dalam hal baca-membaca.

Ada dua hal yang membuat saya senang. Pertama, saya dipertemukan kembali dengan sketsa-sketsa budayawan kita yang telah almarhum, Saudara Umar Kayam, setelah sekian puluh tahun saya berpisah dengan celometannya itu. Waktu saya kecil, di Madiun dulu, Bapak itu paling senang nyimak celometannya yang hadir sepekan sekali di koran Kedaulatan Rakyat, terbitan Yogyakarta itu. Tiap kali bertandang ke nYukja, dan itu sering Beliau jalani, Bapak selalu menyempatkan diri untuk membeli KR, terutama yang ada edisi sketsanya Mbah Umar.

Tiap kali membaca, Bapak mesti cekikian sendiri. Saya sempat mikir, apa Bapak kesambet sing mbaurekso (penguasa) dunia lelembut Kraton Ngayogjakarta? Setelah koran yang ’mencekikikkan’ Bapak itu ditaruh, saya yang memang punya rasa ingin tahu tinggi sejak bayek, doyan baca pula, langsung menyerobot koran itu. Saya mau menyelidiki sumber cekikian Bapak.

Naa, akhirnya penelurusan saya pun nancep, berhenti di sketsa Umar Kayam. Saya simak obrolan santai tapi ’penuh gizi’ ala Pak Ageng dan pormasi lengkap kitchen cabinetnya; Mr Rigen, Ms Nansiyem, dan bedes kecil mereka Beni Prakoso. Tahu kitchen cabinet? Babu, babu…

Lha, dari itulah saya tahu, bahwa yang saya curigai sebagai lelembut yang nyurup ke Bapak itu ternyata dagelan cerdas ala Pak Ageng dan anak bayatnya. Dan saya pun ikut kesurupan, cekikian sendiri. Bapak, yang ngelihat saya cekikian, lha kok ikut nyekikik juga to. Hehehe… Itulah pertama kalinya saya bertemu bacaan sehat, ketika saya SD, sebelum kenal Pramoedya Ananta Toer kala SMP.

Corat-coret Umar Kayam itu menceritakan lakon jujur tentang rakyat kecil yang senantiasa bisa menerima hidup mereka sebagai puisi, kendati digencet hegemoni politik Orde Baru kala itu. Gayanya yang enteng itu sarat gizi, memberi banyak asupan sehat pada benak saya. Mengajarkan saya bagaimana cara memandang wong cilik, yang jujur, nerimo, tapi tahan banting itu. Tak seperti penggede atau priyayi, yang berkeringat sedikit saja gumoh, dan langsung setep (kejang-kejang).

Umar Kayam mengajak saya lebih akrab dengan kelompok masyarakat yang hingga kini masih mendominasi negeri ini; kalangan ekonomi menengah ke bawah. Saya senang. Tak ada kemunafikan di dunia mereka. Orang-orang yang lemah secara ekonomi itu selalu jujur melihat dunia. Kadang ceplas-ceplos lucu, nelangsa, tapi kebanyakan mereka menerima hidup mereka dengan gembira sebab mereka berhasil mengamalkan cara hidup nerimo ing pandum.

Di tengah situasi sulit yang serba tidak memungkinkan, termasuk sekarang ini, apalagi yang bisa dilakukan wong cilik kecuali tawakal, nerimo, sambil terus menyimpan harapan dan berusaha sebisa mereka? Ya, cuma itu yang bisa mereka lakukan, setelah jadi bancakan rutin elit parpol tiapkali pemilu.

Saya sempat terpisah lama dengan celoteh-celoteh Umar Kayam lantaran banyak dalil. Ya urusan sekolah lah, kuliah lah, kerjaan lah. Ketika nyaman dalam dunia kerja, dan menjadi kapitalis kecil yang ternyata tidak sukses, saya bahkan sempat melupakan sama sekali lakon Pak Ageng dan kitchen cabinetnya yang sumeleh itu. Hingga akhirnya suatu hari saya dan perempuan saya blusukan ke sebuah toko buku yang ngetem di dalam salah satu mal di kawasan Margonda, Depok, dan kami menemukan kembali sketsa-sketsa yang sempat saya ’hilang’ itu, terangkum dalam dua jilid buku; Mangan Ora Mangan Kumpul dan Sugih Tanpa Banda. Dan, ah, saya pun kembali digiring pada kesenangan dan kejujuran masa lalu yang sempat hilang itu. Mbah Umar kembali menyuguhkan saya hiburan di tengah keringnya metropolitan yang semangkin dan semangkin bergegas dan saling gilas itu. Matur suwun untuk karya-karyamu, Mbah….

Kegembiraan yang kedua, saya seperti menemukan resdicovery of sketsa-sketsa Umar Kayam dalam situs kangmasdiadjeng.com. Benar, itu rediscovery, penemuan kembali, setidaknya menurut saya. Persis seperti rediscovery soto ayam kampung, salah satu sketsa Umar Kayam dalam Mangan Ora Mangan Kumpul yang berjudul Tentang Soto Ayam Kampung itu. Upaya kembali menghadirkan sebuah kenikmatan yang pernah hilang, atau dihilangkan tepatnya.

Ya, saya sebut kenikmatan, karena sketsa-sketsa kangmasdiadjeng itu menghadirkan kembali kejujuran-kejujuran wong cilik yang polos, jenaka, namun membawa makna yang begitu mak jleb, dalam. Yang membedakan adalah lokasinya, Umar Kayam menjatuhkan pilihan pada Yogyakarta, kangmasdiadjeng memilih pinggiran Jakarta sebagai locus delictinya.

Tapi, setidaknya, dengan hadirnya kembali sketsa-sketsa sederhana dan jujur ala rakyat jelata dalam kangmasdiadjeng itu, masih ada harapan bahwa sastra untuk rakyat kecil, sastra jujur, sastra’telanjang’ dalam memandang kenyataan ekonomi, hukum, dan politik negeri ini, masih mungkin untuk mendapat tempat di tengah gempuran ’sastra-sastra cantik’ yang kian mendominasi dunia bacaan kita –mulai dari toko buku sampai pasar loak.

Setidaknya, orang-orang kecil masih bisa bercerita dan berpendapat sederhana. Nyata, tak dibuat-buat. Tentang bagaimana mereka memandang dan menjalani hidup, menerima masih adanya fakta sekat-sekat kelas sosial yang tegas, tak capek tirakat, tawakal, serta senantiasa berusaha sekuat tenaga.

Wong cilik masih senantiasa merawat harapan agar bisa rediscovery of urip yang sekarang sedang ambles itu, sambil sesekali mengecap kenikmatan hidup sederhana, misalnya dengan menikmati panggang ayam khas Klaten dagangan Pak Joyoboyo –salah satu figuran paling legendaris dalam sketsa Umar Kayam yang khas dengan suara cemprengnya; penggeng eyem, penggeng eyem….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s