Nasi Pecel Anarkis

KALA Ibu masih sugeng rahayu, Beliau selalu mengingatkan saya pada falsafah cara menikmati makan yang baik dan benar; ”Biarlah lidahmu merasakan makanan dengan jujur, Le…”

Ibu terbiasa ’merajakan’ saya tiap saya pulang kampung. Beliau senantiasa menghadirkan surga yang sederhana di setiap pagi saya. Khusus untuk anak lanang sing paling bagus dewe. Kadang Bapak sampai cemburu sama servis plus-plus Ibu untuk saya lho

Usai Subuh biasanya saya curi waktu untuk merem lagi. Ketika mentari mulai merangkak menuju Dhuha, saya baru benar-benar bangun. Nah, saat itulah, dengan iler dan blobok yang masih lengket mendominasi muka saya namun tak bisa mengurangi nuansa bagus rupa saya ini (ini Ibu lho yang ngomong…), saya selalu mendapati nasi pecel orisinil ala Mbak Parti Gembrot telah siap santap di meja makan. Bungkusnya daun pisang, segede peluru meriam, kulupannya daun turi dan kenikir, sambelnya kuentel, lauknya telor ceplok sempurna yang kuningnya melotot seperti ngajak berantem, tempe goreng kekar, dan rempeyek teri setebal dan selebar permadani Persia. Jian, mak nyus tenan

”Sarapan dulu,” adalah kalimat pertama dari Ibu yang selalu terdengar merdu, yang rutin saya dengar setiap bangun tidur.

“Jangan lupa berkumur. Biar gidalmu (jigong) ndak ikut ketelen”. Saya nurut, langsung plencing ke kamar mandi. Setelah saya singkirkan barisan gidal, hap, tanpa babibu langsung saya hajar pecel Mbak Parti itu seperti musuh bebuyutan yang lama saya buru. Top markotop

Betapa nikmatnya saya menyantap hidangan sederhana, yang ketika saya masih sekolah dibanderol 300 per porsi, dan setelah kerja naik jadi 3.000. Fluktuasi harga yang wajar dalam rentang sepuluh tahun. Udara pagi di kampung yang selalu sejuk punya andil besar meniup selera saya agar kian lahap cenderung mblind piggy. Membabi buta

Terkadang, di tengah saya mengecap kenikmatan itu, beberapa tanggungan yang belum selesai tiba-tiba mak tlunyur melintas, dan membuat pikiran saya langsung rewel berkecamuk. Terutama saat saya masih mburuh di koran sebagai kartawan. Beberapa kali suapan saya terhenti karena memikirkan isu. Akhirnya makan saya jadi tergesa-gesa, karena saya mikir ada ’yang lebih penting’ daripada menikmati nasi pecel Mbak Parti.

Rupanya, Ibu dengan jelinya melihat gestur saya itu. ”Kalau makan itu mbok ya jangan gitu to. Alon-alon. Dinikmati… Ndak perlu mikir dulu, biar lidahmu bisa merasakan dengan jujur. Kalau lidah mengecap ndak diriwuki (diganggu) pikiran, makan itu pasti lebih enak,” kata Beliau kalem. Maknanya dalam sekali, saya rasa. Saya pun tersenyum, lalu mencoba sekuat tenaga untuk mengesampingkan kecamuk pikiran saya demi  memberikan kemerdekaan pada lidah, sembari mengucap mantra dalam hati; setan ora doyan, demit ora ndulit…

Benar apa yang diwejangkan Ibu. Ketika lidah bekerja secara otonom waktu mengecap makanan, ayem tanpa diriwuki pikiran apapun, sari rasa akan mampir mak nyus. Perfecto! Cita rasa mengelus sensasi saya dengan kenikmatannya yang jumawa.

Naa, kalau sudah kenyang gitu, baru mikir. Rak enak…” kata Ibu sembari membereskan daun pisang bungkus nasi pecel saya yang telah ludes. Mendengar petuah itu saya sambil glegeken (bersendawa) setelah tenggorokan digelontor segelas air putih. Hoiiikkk… Ngalkhamdulillah…

Ibu mengingatkan saya, ketika saya berhasil memanen kenikmatan utuh dari makanan, energi akan terkumpul dalam pormasi lengkap. Baru saat itulah saya boleh mikir. Mikir itu kewajiban kita sebagai manusia.

Pecel, yang awalnya 300 perak, lalu naik bertahap hingga jadi 3.000 itu, terkecap tanpa cacat. Nikmat. Dari tenaga yang dibentuknya, saya mendulang banyak prestasi di sekolah atau pekerjaan saya.

Ibu juga selalu mengingatkan saya; ”Makanan itu rezeki, makanya harus dinikmati. Rezeki sudah ada yang ngatur. Hidup jangan ngonjo-ngonjo (serakah). Kalau kamu mau hidup sederhana, makan jadi enak.” Ibu senantiasa membawa semangat kehidupan bersahaja ala wong cilik yang selalu menerima kenyataan hidup di tengah kemelut modal itu. Kalau mau adem ayem, ya kudu sumeleh

Sendika dawuh, Kanjeng Ibu

Tapi, tunggu dulu, tunggu… Sekarang ini… Duh, sepertinya saya murtad dari falsafah yang diajarkan Ibu. Saya terlalu ngonjo-ngonjo, sepertinya. Sebelum makan, bahkan sebelum makanan terhidang pun, pikiran saya sudah nyolot, nyolong start. Saya pasti memikirkan harganya dulu. Situasi ini memaksa lidah selalu bohong. Saya tak bisa lagi pasrah pada otonomi lidah.

Saya –mungkin juga banyak orang lain yang senasib– tak lagi bisa membiarkan lidah menari, mengalun, mengecap dengan jujur, karena di antara seremoni makan itu terlalu banyak pikiran berkecamuk. Otak dengan arogansinya selalu memerintah lidah saya agar cepat-cepat menyelesaikan bersantap. Waktu adalah uang. Apa itu rasa, bahkan saya sudah nyaris lupa.

Kini, kapital adalah raja. Sikap neda nerima sebagai wong cilik akan membuat kita terlempar dari prosa kehidupan modern. Jadi, ya otak itu tak boleh berhenti bekerja. Dilarang buang-buang waktu. Jangankan menyediakan jeda untuk makan, waktu tidur pun benak seperti dilarang rehat.

Sebelum berangkat tidur, saya selalu refleks terpikir, “Besok harus apa? Bagaimana?” Pertanyaan itu tak jarang jadi suguhan utama mimpi saya, yang membuat tidur malam saya senantiasa terbagi dalam beberapa babak. Beberapa kali saya harus bangun sebab mendadak girap-girap. Gelagapan. Terlalu

Kini, begitu bangun tidur dan setelah cuci muka, hal pertama yang saya lakukan bukan nyarap. Tapi saya langsung mengingat-ingat proyeksi yang sempat dirancang sebelum tidur, untuk kemudian direvisi agar menjadi sebuah rencana yang matang. Rencana itu harus diingat-ingat terus, lengket di pikiran.

Saya sepertinya kena kutuk Herbert Marcuse, seperti dalam bukunya yang mengumpat manusia modern itu, Manusia Satu Dimensi; ”Setelah ini apa? Selanjutnya, apalagi?” dan seterusnya, dan seterusnya. Otak diajak untuk berburu, bergegas, dilarang lelah, jikalau saya masih butuh makan. Untuk makan perlu duit, dan duit tidak turun dari langit.

Apalagi ketika dihadapkan pada kenyataan menggilanya harga nasi pecel di sekitaran saya kini. Dari yang dulu hanya 300 perak, naik bertahap jadi 3.000, we ladhalah, sekarang kok melonjak drastis sampai Rp 15.000 lho per porsi! Edyan! Komposisinya pun KW 100, hanya berupa nasi sekepal, sedikit sayuran, bumbu yang terlalu encer, tempe setipis ari, empal secubit dan rempeyek ringkih yang saya yakin dibuat setengah hati. Edyan!

Harga umbar-umbaran itu harus saya bayar dengan dongkol setelah saya makan di warung bertuliskan ’Nasi Pecel Madiun’ di daerah Cikini, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Apa ndak kebangetan itu? Lha wong konsumsi masyarakat kelas menengah ke bawah pun sudah dijajah oleh eksploitasi harga lho… Kalau yang jual itu benar-benar orang Madiun, saya yakin dia murtad, sudah menjelma menjadi seorang kapitalis-komunis-anarkis. Komplit kejemnya. Wasyu

Seandainya tiba-tiba Karl Marx mecungul andok nasi pecel di situ, wah, yakin bakal ruwet urusannya! Kalau kebijakan harga makanan kelas proletar di Jakarta dan sekitarnya angkuh seperti itu, apalagi kalau sampai semangkin jauh menghina kepantasan harga makanan kelas menengah ke bawah, dan ke bawah lagi, masih teruuus ke bawah, wah, bisa-bisa memantik revolusi kelas dari seluruh pencinta pecel se-Jabodetabek! Wahai, para pecelis, bersatulah!

Jian, kebangetan… Di waktu lampau, tiap kali makan nasi pecel, saya selalu berhasil menikmati rasanya dengan lidah yang jujur, mengumpulkan tenaga dari seremoni yang biasanya di pagi hari itu, setelah itu baru bekerja. Sekarang? Sebelum makan, saya harus waspada dan mikir dulu; bagaimana caranya agar upaya pencukupan kebutuhan pokok satu itu selalu berjalan mulus tak putus? Caranya cuma satu; harus dapat duit. Bagaimana caranya dapat duit? Ya mikir!

Jujur saja ya, kenyataan ada nasi pecel anarkis yang dibanderol 15.000 sepincuk itu merusak total mood saya, membuat saya syok, sakit hati, sekaligus membuat lidah saya mati rasa lantaran merasa dizalimi. Saya tak lagi cakap mencari di mana nikmatnya makanan itu. Pengecap saya lumpuh, tak lagi bisa mengecap setulus dulu. Setelah menyantap nasi pecel gadungan tersebut, yang terkumpul itu bukannya energi positip, tapi pikiran nggerundel! Saya kok curiga yang jual nasi pecel itu punya hubungan darah sama George Soros. Amit-amit jabang bayek

Akhirnya saya sadar, isu yang menyebut semakin mahal makanan maka makin enak rasanya itu bohong besar! Resep kenikmatan itu bukan pada harga, tapi suasana dan pikiran. Betul sekali petuah Ibu.

Ah, rasanya ingin sekali pulang, sarapan dengan nasi pecel asli dan manusiawi yang selalu disediakan Ibu setiap pagi. Suasana breakfast hangat lahir dan batin itu selalu hadir bersama Ibu. Saya rindu petuah-petuah Beliau dalam seremoni sarapan saya.

Sayang sekali, dimensi ruang dan waktu kami yang kini berbeda tak memungkinkan saya dan Ibu berjumpa dalam nuansa itu…

image (2)

nDepok, 13 Juni 2013

Sebuah catatan kenangan yang direka ulang 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s