Pak Agus Membangun Hidup

NAMA orang itu Agus. Umurnya 40 tahunan. Badannya agak pendek, tapi otot-ototnya kokoh. Pak Agus, begitu biasanya kami orang sekampung memanggilnya. Dia adalah pria yang ditempa oleh kehidupan panjang dan keras. Tanpa dia sadari, tapak demi tapaknya membawa dia dalam sebuah pemahaman lahir-bathin tentang hidup bersahaja.

Pekerjaannya kasar. Dari kacamata kita-kita yang merasa pintar hanya karena beruntung bisa mengenyam pendidikan tinggi dan merasa bisa berkomentar soal apa saja ini, status sosial Pak Agus itu mungkin tak begitu menarik. Dulu dia adalah kuli kelas kopral, yang hanya menjalankan apa yang disuruh ’kumendan’ tukang alias mandor.

Tenaga mudanya habis untuk ikut nimbrung mengerjakan proyek bangunan-bangunan megah di Jakarta. Salah satunya dia ikut merenovasi Hotel Nikko, yang berdiri megah di sekitaran Bundaran Hotel Indonesia, Jalan Panglima Sudirman, Jakarta Pusat.

Dia rajin melompat dari satu proyek ke proyek lain. Semuanya demi tuntutan hidup. Dia jalani pekerjaannya itu penuh dedikasi. Tak ada pilihan memang, karena untuk masuk kantor dan mendapat satu tempat di dalamnya, minimal dia harus bisa menyerahkan selembar ijazah sarjana. Dia tak pernah punya itu.

”Lulus SMP saja saya sudah untung, Mas…” katanya di sela mengerjakan borongan renovasi rumah orangtua saya, beberapa waktu lalu. Karena syarat adminsitrasi itulah, dia hanya bisa ikut membuat gedungnya saja, tapi tak bisa ikut menempatinya. Proyek perumahan dan gedung di Depok, Tangerang, dan Bekasi, dia juga ikut memoles.

Kendati tenaga dan andilnya tak pernah masuk dalam daftar nama-nama orang yang punya jasa menyokong peradaban Ibukota, kalau mau adil, sebenarnya kita tak boleh menggeleng ketika diminta untuk mengakui betapa besarnya andil orang-orang seperti Pak Agus ini terhadap pembangunan. Bahkan, andilnya itu langsung. Ingat, tanpa insfrastruktur fisik –seperti bangunan-bangunan gedung atau perkantoran yang Pak Agus ikut mengerjakannya itu– sebuah peradaban tak akan terbangun.

Insinyur Roseno, maestro arsitektur Indonesia yang sukses membangun pusat perbelanjaan Sarinah, Tugu Monas, Gelora Bung Karno, bahkan merekonstruksi Candi Borobudur setelah diamuk gempa itu, tak akan kondang kalau hanya mengandalkan kepintarannya merancang bangunan di atas kertas. Mahakarya arsitektur agung itu itu tak akan pernah berdiri tanpa sentuhan orang-orang seperti Pak Agus. Cuma Bandung Bondowoso yang bisa membangun candi tanpa bantuan manusia lain.

Tapi, nasib tak pernah berpihak pada Pak Agus dan sejawatnya, ’orang-orang kasar’ itu. Kendati dari tangan mereka lah bangunan-bangunan megah di Ibu Kota itu bisa berdiri jumawa, mereka tak pernah mendapat tempat di dalamnya. Gedung-gedung itu durhaka, memandang rendah Pak Agus yang ikut membantu proses kelahirannya. Bahkan dia mengusir Pak Agus dari sekitarannya.

Awalnya Pak Agus berontak. Dia ingin mendapat tempat di Jakarta karena merasa punya andil besar di situ. Tapi, waktu dan tata krama kapital mendesaknya mundur sangat jauh.

Awalnya dia tak diterima. Tapi, apa dayanya melawan keangkuhan kapital? Akhirnya, waktu mengajarinya bagaimana cara nerimo.

Dia berhasil meredam marah atas penolakan itu. Intuisinya berusaha untuk maklum, bahwa hukum sosial-kapital Jakarta dan sekitarnya hanya memandang status dan modal seseorang, bukan pada andil konkretnya. Persyaratan administrasi itu mutlak untuk mendapatkan sebuah pengakuan. Dan Pak Agus tak pernah punya persyaratan itu.

Pak Agus pun pulang kampung bak tentara kalah perang, sekitar delapan tahun sebelum tulisan ini disusun. Dia menikah dan punya dua anak.

***

TANPA Pak Agus sadari, tanpa perlu duduk di kelas dan mendengarkan casciscus pengajar yang membosankan, dia menuai banyak ilmu dari kehidupannya. Dia paham arsitektur secara teknis, bukan sekadar konsep teoritis. Dengan bekal keterampilannya itu dia menjalani kehidupannya hingga kini.

Jika ada yang butuh renovasi rumah, seperti Bapak waktu itu, Pak Agus selalu mendapat tempat nomor satu. Rekomendasi penuh. Hasil kerjanya teruji.

”Ya percaya to. Lha wong moles gedung di Jakarta saja jadi, apalagi cuma rumah tipe 36 kita ini,” canda Bapak, ketika saya sempat bertanya seberapa paten hasil polesan Pak Agus.

Dan, hasilnya betul-betul memuaskan. Yang membuat saya terenyuh, ketika kontrak tukang dan kuli lainnya diputus Bapak karena dana kami untuk membayar tenaga ternyata kurang, Pak Agus tetap bersedia merampungkannya, gratis. Kami hanya menyuguhkan kopi, jajanan dan sebungkus rokok Djarum 76 padanya. Pak Agus bersedia membereskan sisanya, tentunya dengan bantuan saya dan Bapak. Bagaimana pun dia bukan Superman.

Dengan semangat ’45 saya terjun langsung ke dunia kerja Pak Agus. Sekali-sekali ingin merasakan sendiri seberapa berat kewajiban seorang tukang atau kuli.

Dan…

Ketika saya menyentuh langsung sekop, cangkul, cetok, serta mengaduk pasir dan semen, saya baru mahfum, betapa berharganya orang-orang seperti Pak Agus. Berat nian tugas yang sejauh ini dia lakoni, setidaknya menurut tolok ukur saya. Badan saya rasanya pegal semua. Ampun. Mengerjakan pekerjaan yang belasan tahun dilakoni Pak Agus itu harus pandai-pandai mengatur tenaga, di mana itu ada tekniknya. Pak Agus paham itu, saya tidak. Pak Agus lancar bebas hambatan, saya keok.

Sial, saya merasa harus malu. Dengan status pendidikan tinggi, posisi lumayan bagus di pekerjaan waktu itu, ternyata ketika harus turun langsung mengerjakan sesuatu yang lebih konkret, berguna untuk orang lain, seperti membangun rumah, saya tak bisa apa-apa. Kalah jauh dari Pak Agus yang hanya lulus SMP.

Lalu saya membayangkan, bagaimana jadinya rumah kami kalau tak ada orang seperti Pak Agus, kendati kami punya uang untuk membangunnya? Tak  cukup dengan simsalabim, uang tak akan bisa berdiri sendiri menjadi rumah!

***

SORE itu menyongsong bersama letih amat sangat yang memeluk saya. Matahari mulai menggeliat malas, siap-siap beradu di balik Gunung Lawu yang sore itu tampak sangat cantik dalam bungkusan nilanya. Tangan saya gemetar hebat karena terlalu capek mengayun sekop dan cangkul sepagian hingga sore.

Di kala istirahat, saya menyempatkan diri berbincang dengan Pak Agus. Dia nyalakan sebatang Djarum 76 dengan tangan kekarnya yang tanpa sedikit pun gemetar. Sementara saya yang masih muda ini serasa sulit sekali menyulut rokok saya. Tangan tak henti-hentinya bergetar. Pegal. Sampai akhirnya Pak Agus lah yang memantikkan api untuk rokok saya.

Setelah tiga isap, saya membuka perbincangan kami. ”Pak Agus punya keterampilan hebat, kenapa tak mencoba kembali ke Jakarta? Banyak proyek di sana. Tenaga-tenaga terampil seperti sampean pasti sangat dibutuhkan. Pasti laku. Apalagi sampean kan punya jam terbang tinggi di sana. Pasti dapat banyak duit…” otak kapitalis saya mulai mengompori Pak Agus.

Yang saya kompori menanggapi santai, sambil tersenyum memamerkan gigi-gigi depannya yang sangat cokelat.

”Ah, tempat saya bukan di sana, Mas. Kampung ini sudah memberi saya semuanya; rumah petak, istri, dan anak-anak. Sudah cukup. Yang penting nerimo, hidup rasanya tentrem. Ndak kepingin macem-macem. Ndak pengen banyak uang, yang penting cukup dan bisa kumpul keluarga.”

”Di kampung semua orang seperti saudara. Guyub. Ndak ngonjo-ngonjo seperti Jakarta sana. Tetangga saja ndak kenal. Sering sikut-sikutan. Sesama teman sendiri juga gepuk-gepukan.”

”Biar kata saya ikut mbangun Jakarta, cukup lah jatah dan peran saya di sana. Mungkin Gusti Allah memang hanya memberi saya peran untuk ikut membangun. Biarlah orang lain yang menikmati. Itu rezeki mereka.”

Saya hanya terdiam mendengar alasannya yang dipaparkan dengan nada yang begitu tenang itu. Saya serasa diingatkan kembali pada sebuah kesadaran tentang hidup dan kehidupan.

”Saya merasa adem ayem di sini. Coba kalau di Jakarta, ndak bakalan aku bisa ngobrol sama piyantun pinter seperti sampean ini. Iya to? ” celetuknya, sembari mengembuskan asap 76-nya itu. Pelan. Dan nikmat.

Asap itu sedikit menyerempet muka saya. Aroma kretek dalam 76-nya yang menyengat itu saya rasakan sebagai tohokan yang langsung membuat saya knock out. Saya tak bisa bangun lagi untuk menyodorkan pertanyaan padanya.

Ah, hanya karena berpendidikan tinggi, Pak Agus menyebut saya pintar? Wah, dia benar-benar menelanjangi saya. Dia, yang andilnya luar biasa besar dalam membangun kemegahan Jakarta itu, lebih tahu diri, tak pernah menuntut lebih dari Ibukota dan memilih hidup bersahaja di kampung. Dia berbicara tentang kebersahajaan di depan pribadi pongah yang selalu menuntut ketika belum bisa memberikan apa yang dia punya pada orang lain dan dunia, seperti saya.

Ah

Gelap mulai beringsut datang. Magrib bersiap hadir. Untung saja. Muka saya yang ditampar oleh rasa malu bisa sedikit tersamarkan.

Di jalan depan rumah melintas Katirah si tukang jamu. ”Monggo Pak Agus… Wah, penak tenan yo 76 e. Nyedote sampek jeru banget ngono…” celetuk sapa Yu Katirah yang begitu guyub.

”Betul! Manteb, Yu…,” sahut Pak Agus, sembari mengacungkan ibu jari tangan kanannya. Lalu dia dan Yu Katirah bertukar tawa.

Suasana sore itu membuat tangan saya yang pegal kian bergetar. Saya seperti didudukkan di dalam kelas sore oleh seorang guru yang berpengalaman membangun peradaban Jakarta secara langsung, juga sukses membangun hidupnya dengan pola pikir yang sangat bersahaja.

Rokok saya jatuh. Spontan saya memungutnya. Bergegas, tak tenang sama sekali. Gerak sepele pun ’Jakarta banget’, serba terburu-buru. Saking terburunya, rokok yang jatuh bukannya terambil, tapi malah tersentil jari telunjuk saya, menggelinding jauh. Saya mengejar rokok yang menggelinding itu.

Pak Agus melirik sekilas pada saya, tersenyum, lalu memalingkan pandangan ke jalan. Dia isap Djarum 76-nya dalam-dalam, lalu mengangguk-angguk ramah ketika Mbah Sur menyapanya.

 

Madiun, 14 Agustus 2009

Sebuah Catatan yang Terselip

kotakhatidyahpitaloka.blogspot.com

Advertisements

2 thoughts on “Pak Agus Membangun Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s