Hegemoni

image (1)

KAMU akan….. Aku takut kamu….”

Gelap membebat pikiran Ratna bersama kecamuk rasa takut yang makin gesit berkelebat. Lampu penerangan jalan di sepanjang kampung sudah dimatikan. Malam melampaui puncaknya, berjalan mengendap-endap menuju subuh.

Di teras tanpa penerangan itu, sorot Idris mencoba menerobos gelap untuk mempertemukan pandangannya dengan mata Ratna. Beberapa kalong kelaparan berkelebat sedikit merobek kensunyian dengan bunyi kepakan kecilnya ketika berburu buah-buah yang ranum di pohon. Klepak, klepak, klepak….

”Itu hanya ketakutan, tanpa alasan.” Idris menjawab dingin, sembari menatap mata Ratna dalam-dalam. Dia sodorkan senyum untuk istrinya yang ketakutan gara-gara sesuatu yang, menurut dia, sangat keliru.

”Tapi, kamu….”

”Aku tak pernah mencuri, merampok, apalagi memperkosa atau membunuh. Kenapa aku harus khawatir? Kamu tentu kenal aku, hidupku aku lalui dengan berbagai macam pengetahuan dan pemahaman etika juga kemanusiaan.”

”Kebijakan politik kita memandang buruk orang-orang bertato… Apakah kamu tidak mengikuti berita itu?” Ratna masih mencoba menjelaskan alasan ketakutannya.

”Tentu aku membaca. Justru sebab aku membaca, aku menggambarkan tato di lengan kananku. Citra yang dibentuk berita-berita itu membawa masyarakat dalam pembacaan yang keliru. Aku ingin berusaha mengubah pandangan picik itu, bahwa tato bukanlah simbol kejahatan! Tato tak konotatif. Mereka yang memandang tato buruk itu lah manusia-manusia buruk sebenarnya, yang memelihara pola pikir kotor! Aku tak pernah punya catatan kriminal, dan demi langit juga Bumi, aku tak pernah punya niat menjadi seorang kriminal. Aku akan membuktikan bahwa orang bertato bukan berarti penjahat!” ada beringas dalam paparan Idris yang setengah berbisik.

”Iya, iya… Tapi, Dris….”

”Sudahlah, Ratna. Tak ada yang berubah dariku. Aku tetap Idris, suamimu yang kamu kenal betul. Aku tetap Idris yang mencintaimu. Apakah cintamu akan berkurang hanya karena ada gambar burung phoenix yang menggeliat indah di lenganku ini?”

”Tidak, Dris. Aku tidak sedangkal itu. Tapi, sebagai istrimu, apakah aku tak pantas merasa takut?”

”Ratna… Sayang… Sudahlah… Aku tak akan kenapa-kenapa. Aku hanya seorang sarjana yang mulai resah melihat situasi. Aku hanyalah cendekiawan seni rupa yang sedang berusaha mengembalikan sejarah seni pada khitahnya. Pada pemahamannya yang tepat.”

Ratna menatap suaminya. Sorot mesra datang beriringan rasa takut. Teras di sebuah rumah kawasan Jakarta Selatan itu ditelungkup oleh kubah dinihari yang kian mendekat. Sunyi tanpa derik jangkrik, sesekali dibelah deru mesin motor berkecepatan tinggi, dipacu manusia-manusia yang mengawali hari dengan terburu-buru. Setelah itu, senyap kembali dengan takzim.

”Rajah tubuh adalah salah satu bentuk kebudayaan paling lama di dunia. Bahkan lebih lama dari kebudayaan yang dibangun agama Ibrahim, Ratna. Rajah tubuh sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi, sebelum kepentingan politik, yang seringkali menunggangi religi dan kesopanan itu rewel seperti sekarang. Tato ditemukan untuk pertama kalinya pada sebuah mumi yang terdapat di Mesir.”

Kisah Idris dalam bisikan itu meluncur dari mulutnya yang tiba-tiba mendekat di kuping Ratna. ”Oh, iya?” Ratna mulai tertarik pemaparan Idris. Sepertinya dia sedikit lupa pada cemasnya. Dia dekatkan badannya dengan Idris. Mereka menyatu dalam pelukan.

Idris mengangguk, dan tersenyum. Sepertinya, dia merasa berhasil memupus takut pada Ratna dengan ceritanya. ”Tato, seperti berbagai macam tanda di dunia lainnya, ada untuk membawa makna. Membawa pesan. Tato dibuat untuk memberikan suatu kebanggaan tersendiri bagi si empunya, dan simbol keberanian dari si pemilik tato.”

”Seni rajah juga dipercaya sebagai simbol keberuntungan, status sosial, kecantikan, kedewasaan, dan harga diri. Di Borneo, yang kini kita kenal dengan Kalimantan itu, penduduk asli wanita menganggap tato adalah simbol yang menunjukkan keahlian khusus. Di China, pada masa zaman Dinasti Ming, kurang lebih empat abad silam, wanita dari Suku Drung membuat tato di wajah dan pantatnya sebagai tanda keturunan yang baik.”

Idris menjeda sejenak. Dia menarik napas, memutar ingatan. Ratna masih kagum dan kian merapatkan kepalanya di dada Idris. Suaminya memang sosok yang sangat tahu apa yang didalaminya sebagai seorang sarjana yang mendalami bidang seni rupa. Ketakutannya mulai beringsut pergi, diambil alih oleh rasa ingin tahu terhadap pengetahuan baru yang dia dapatkan usai salat tahajud berjamaah sembari menanti subuh itu.

”Di Indian, melukis tubuh dan mengukir kulit itu dilakukan untuk mempercantik, membawa misi estetika, dan menunjukkan status sosial. Suku Mentawai memandang tato sebagai suatu hal yang sakral dan berfungsi sebagai simbol keseimbangan alam Kamu jadi tahu bukan, Ratna, bahwa tak ada pesan konotatif jika kita mau menelusuri sejarah tato?”

Ratna mengangguk-angguk. Dia memejamkan mata, coba meresapi paparan suaminya. Bersama dengan hangat yang dia rasakan dari dada penuh cinta milik Idris.

”Sayang, kini, di negeri ini, makna keindahan tersebut dibawa jauh melenceng oleh kepicikan dan paranoia politik. Kekuasaan dengan semena-mena mengkonversi makna tato sebagai simbol kejahatan. Mereka murtad pada sejarah! Tugasku sebagai sarjana seni rupa, sekaligus seorang cendekiawan yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kesucian ilmu pengetahuan, adalah meluruskan kembali salah-kaprah pemahaman. Ada ilmu yang harus aku amalkan!” ada api-api dalam bisikan Idris.

Ketika Idris mulai membara, Ratna tahu bahwa ada peran yang harus dia jalankan sebagai kekasih. Dia hela kepalanya dari dada Idris, ditatapnya sang suami. Sayu.

”Iya, aku tahu, Idris. Aku mengenalmu. Aku tahu suamiku  adalah seorang idealis. Suamiku jengah pada politik Orde Baru. Suamiku ingin keadaan yang jauh lebih baik. Tapi, seberapa kuat idealismemu itu melawan teror dan hegemoni…” ketakutan Ratna sepertinya datang kembali. Itu terdengar jelas pada nada suaranya.

”Ketakutan seperti yang kamu rasakan itu, Ratna, adalah salah satu bentuk keberhasilan hegemoni kekuasaan menebarkan teror. Masyarakat dijejali doktrin-doktrin keliru yang memaksa mereka untuk tunduk. Antonio Gramschi memaparkan itu semua dengan jelas. Yang dikuasai harus selalu patuh pada penguasa! Rakyat dipaksa menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, dan harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka!  Inilah yang dimaksud Gramci dengan hegemoni. Menguasai dengan “kepemimpinan moral dan intelektual” secara konsensual. Cih!”

Ketika Idris mulai berorasi, Ratna hanya bisa mengamini, sembari mencari sela yang tepat untuk masuk dan meredam bara dalam idealisme Idris. Ratna kenal betul suaminya. Idris benar-benar menghayati peran yang pernah dijalankan oleh Idris a.s, nabi yang dijuluki sebagai asad al-asad, singa dari segala singa, karena keberanian dan kegagahannya. Idris juga orang yang mempelajari banyak ilmu, di samping seni rupa –persis seperti Idris utusan Tuhan.

”Agar abadi dan langgeng, kekuasaan membangun perangkat, aparat, yang tentunya mampu melakukan tindak kekerasan. Yang bersifat memaksa. Kekuasaan membutuhkan perangkat bernuansa law enforcemant. Hukum, militer, polisi, ditunjuk untuk menjalankan itu. Cara kekerasan yang diambil. Penguasa melalui aparatnya mencari pembenaran untuk setiap tindakan mereka, yang bertujuan untuk menciptakan ketakutan pada masyarakat. Salah satunya adalah membolak-balik pemahaman tentang tato, agar mereka bisa seenaknya sendiri main bedil orang bertato yang dituduh jahat, lalu membuangnya di karung dengan tangan terikat! Itu perbuatan biadab!”

”Ketika ketakutan sudah tercipta dengan sempurna, hegemoni bisa bermain kian leluasa. Seperti itulah gaya rezim untuk membuat kita semua takluk, takut, lalu mereka leluasa memainkan nasib rakyat! Ketakutan itu diciptakan agar kita tak berani mempertanyakan kezuhudan birokrasi! Agar kita selalu amin saja tiapkali diperlakukan dengan cara yang sebenarnya tidak bisa diterima akal sehat!”

Idris kian berapi, Ratna masih menatapnya sembari berusaha mencari celah.

”Tahu maksud mereka, kan? Agar penguasa leluasa mengeksploitasi kita! Menyantap pajak, yang kita bayarkan dengan uang yang kita dapat dari keringat dan air mata kita! Kamu lihat kan, para penjilat pantat istana itu bersih semua badannya, tak ada yang bertato! Tapi perbuatan mereka? Cih! Mereka seenaknya sendiri makan subsidi! Orang takut mempertanyakannya! Tahun 1980 baru berawal, sementara BBM melambung kian tinggi! Bayi-bayi tak mendapat asupan susu karena orangtua mereka tak mampu beli! Para durjana itu melemparkan kesalahan mereka pada orang kecil bertato, menuduh mereka penjahat yang mengacaukan ketertiban, sementara mereka dengan seenaknya sendiri tertawa-tawa dalam pesta cocktail sementara kita pusing memikirkan bagaimana cara untuk membeli beras!” emosi Idris meninggi. Sepi dinihari itu seperti terkejut. Ratna mengkerut.

”Kamu tahu, bahwa sejarah sering diputarbalikkan demi artikulasi kekuasaan busuk yang sudah kadung melembaga? Kamu tahu banyak cerita-cerita tentang masa lalu yang disensor di sana-sini, hanya untuk kepentingan menjaga legitimasi?”

”Sudahlah, Idris… Kamu selalu begitu. Selalu saja mengarah ke situ…” Ratna mulai berusaha menyela dengan seluruh yang dia bisa. Tapi…

”Ketahuilah, Ratna, hidup adalah pilihan. Dan aku telah memilih. Sebelum kita menikah, bukankah kamu pernah mengatakan sudah sangat mengenalku? Sangat lama bukan? Apakah dua tahun pacaran kita belum memberimu keterangan yang cukup tentang aku?”

”Iya, tapi…”

”Kenapa baru enam bulan pernikahan kita kamu seperti merasa asing?” nada Idris meninggi ketika dia merasa tak mendapat dukungan dari Ratna.

”Bukan asing, Idris! Tak wajarkah jika seorang istri khawatir terhadap nasib suaminya?!” Ratna meletup. Lalu menangis.

Idris, kali itu, merasa harus mengalah. Dia memang teguh pada ideologi, tapi dia lebih teguh lagi pada cintanya yang mengharuskan tanggung jawab. Cinta pada Ratna, istrinya. Ideologi adalah ambisi. Sementara cinta adalah tanggung jawab.

Diraihnya pelan pinggang Ratna, dihelanya pelan agar merapat kembali ke tubuhnya. Yang diraih pasrah, jatuh dalam pelukan lelaki dengan tato barunya tersebut. Ratna menenggelamkan diri dalam pelukan Idris, di naungan kegelapan yang dingin, serasa begitu sasmita.

Ratna mencintai Idris karena beberapa alasan. Pertama, Idris adalah sosok pria yang selalu mengingat setiap detail tanggung jawab yang harus diembannya, di mana setiap detailnya pasti dia selesaikan sedetail-detailnya. Dia adalah pria yang cermat menentukan pilihan dan seorang yang amanah. Pendidikan agama yang kuat di lingkungan pesantren sejak kecil membentuk rasa penuh tanggung jawab terhadap dirinya sendiri maupun umat, pada pribadi Idris. Semua itu didukung kecerdasan mumpuni yang hidup di dalam otaknya.

Idris selalu berusaha untuk meluruskan pemahaman yang keliru. Termasuk salah satunya pemahaman tentang tato itu. Dia sarjana seni rupa, tahu apa makna harfiah tato melalui sejarah yang dipelajarinya dengan cermat. Dan dia tahu, bahwa pemahaman yang dibangun media di awal tahun 1980-an itu tentang tato sangat keliru. Karena itu, dia ingin melawan pemahaman tersebut. Caranya; dia menggambarkan tato di lengan kanannya, tato burung phoenix, mitos yang melambangkan keperkasaan dan perlawanan berapi-api.

Sadar sosial yang ditanamkan padanya sejak kecil telah membawanya pada aktivitas politik kemahasiswaan. Kebiasaan itu berlanjut hingga dia lulus dan menjadi pengajar seni rupa di salah satu institut di Jakarta. Bersama aktivitas intelektual seninya, dia masih aktif dalam pergerakan melawan hegemoni. Dia aktif membela hak-hak orang-orang yang digilas ketakadilan hukum dan politik. Dia memandang semua manusia punya hak untuk hidup layak. Dia memandang sebuah pelanggaran harus diselesaikan dalam sebuah proses pengadilan.

Idris juga mulai menggalang kekuatan di antara seniman dan penggemar rajah tubuh untuk melakukan sebuah aksi turun ke jalan, memprotes kebijakan Komando Keamanan dan Ketertiban yang mengoperasikan penembak-penembak misterius mereka untuk menghabisi orang-orang bertato –dengan anggapan bahwa mereka itu pasti penjahat jalanan yang ’meresahkan masyarakat’. Cis! Masyarakat yang mana? Rencananya, konon, telah tercium aparat. Beberapa sobat, juga Ratna, telah memperingatkannya. Tapi, kabar dan peringatan itu tak lantas meruntuhkan mental Idris untuk membuktikan bahwa ada pemahaman keliru yang sengaja didoktrinkan pada masyarakat. Dia merasa punya tanggung jawab yang harus diselesaikan.

”Jika usaha pemberantasan kejahatan dilakukan hanya dengan main tembak tanpa proses pengadilan, itu tidak menjamin adanya kepastian hukum dan keadilan. Padahal, kedua masalah tersebut merupakan tuntutan hakiki yang diperjuangkan orang sejak zaman Romawi Kuno. Jika cara-cara seperti itu terus dilakukan, lebih baik lembaga pengadilan dibubarkan saja. Jika ada pejabat, apa pun pangkatnya dan kedudukannya, mengatakan tindakan main dor-doran itu benar, aku tetap mengatakan hal itu salah…” kali  itu paparan Idris meluncur tanpa letupan emosi.

”Iya, Idris, Sayang… Sudahlah… Kamu harus menenangkan pikiranmu…”

Idris menghela napas, berusaha meredam kecamuk dalam dadanya, yang selalu mencuat tiapkali dia mendapati ketidakadilan supremasi hukum, yang ujung-ujungnya ternyata hanya upaya manipulatif demi memberi makan tikus-tikus politik.

Ratna bangun dari pelukan suaminya, lalu memegang pipi Idris dengan kedua telapak tangannya. Ditatapnya Idris, untuk membunuh emosi suaminya yang tiba-tiba menghambur di dinihari itu. Idris merasakan hangat dan cinta dari istrinya. Emosinya takluk. Dia larut dalam kehangatan Ratna.

Kecupan mesra dari Ratna untuk bibirnya membuat hati Idris semakin adem. Subuh tinggal sejengkal lagi. Memang, di dua pertiga malam terakhir, dia dan Ratna kerapkali menghabiskan waktu untuk menanti Subuh bersama, dan membicarakan banyak hal tabu yang dibicarakan di ruang ramai. Tabu, bukan lantaran benar-benar tabu, tabi ditabukan oleh hegemoni sebuah agenda politik.

”Kamu perlu secangkir teh hangat….” Dengan senyum, Ratna menyuguhkan pengertiannya sebagai seorang istri yang memahami betul suaminya. Sekaligus membuktikan bahwa tuduhan Idris padanya, yang mengira dia menganggap Idris telah bermetamorfosa menjadi orang asing, itu salah.

Idris membalas dengan senyum. Mengangguk mesra. Dihirupnya dingin dinihari menuju terang yang semakin menusuk itu.

Ratna berdiri, menatap mesra suaminya. Ada kebanggaan padanya kala dia sadar bahwa suaminya adalah pria yang tak takut membela nurani. Pria yang tahu betul setiap keputusannya. Pria amanah dan bertanggung jawab.

Namun, hadir bersama rasa bangga itu, ada ketakutan. Takut Idris akan mengalami nasib seperti mayat-mayat misterius dalam karung dengan tangan terikat, yang ditemukan di kali, sawah, tepi jalan, bahkan laut itu. Kata berita, mayat-mayat bertato itu adalah penjahat jalanan yang meresahkan masyarakat. Tapi desas-desus yang berkembang menyebutkan, mereka belum tentu penjahat. Beberapa kali perkara salah tembak, atau tepatnya asal bedil, terjadi. Operasi penembak misterius itu seperti membawa misi bukan hanya melawan penjahat jalanan. Tapi, lebih pada untuk ’membersihkan’ penghambat laju lenggang kangkung rezim berkuasa. Dan yang dijadikan sasaran utama adalah pria-pria dengan rajah tubuh.

Dan kini, Idris bertato sebagai simbol perlawanan….

Ah, Ratna berusaha mengusir ketakutannya, sembari berharap ketakutannya itu tak akan pernah menjadi kenyataan. Meracik secangkir teh untuk suaminya dirasanya lebih penting.

Dia bawa tubuhnya menuju dapur rumah kontrakannya dengan langkah-langkah kecil. Tehine dalam secangkir minuman hangat yang dilarut oleh dua sendok bubuk teh, dan satu sendok teh gula adalah penenang paling sempurna untuk Idris. Ratna mengaduk minuman itu dengan senyum-senyum senang. Ada bangga dalam hatinya sebagai seorang perempuan yang bisa mengerti Idris –suami yang sangat idealis tapi senantiasa mencintainya tanpa hegemoni.

Dor!

Letupan di tengah sunyi itu membuyarkan konsentrasi Ratna dalam mengaduk teh. Suara itu demikian dekatnya. Jangan-jangan….

Dia lempar begitu saja sendoknya, bergegas menuju teras.

Idris tak ada!

Dia nyalakan lampu teras. Masya Allah

Dia tak mendapati Idris di sana. Dia hanya melihat beberapa percik darah di kursi dan tembok depan rumahnya.

Idriiiiiiiiiiiisss……!!!” raungannya membelah dinihari itu, disusul oleh kumandang lantunan puja-puji pada Tuhan di surau belakang rumah.

***

PAGI itu terasa culas, sehari setelah hilangnya Idris. Teras rumahnya muram tanpa penghuni, meninggalkan sisa-sisa percikan darah yang mengering. Ratna yang tergoncang hebat dipulangkan oleh orangtuanya ke Tangerang.

Penjaja koran berkeliling kampung, berteriak-teriak menjajakan dagangan; ”Mayat korban petrus ditemukan di Ciliwung…  Mayat korban petrus ditemukan di Ciliwung…”

Menurut keterangan sumber berita, pria tanpa identitas itu ditemukan dalam karung, mengapung di kali Ciliwung, sekitaran Tebet. ”Korban adalah salah satu pelaku tindak kejahatan jalanan yang paling diburu karena mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Dia diduga melawan aparat saat hendak diamankan, karena itu terpaksa ditembak” tulis wartawan koran era awal 1980-an itu dengan serampangan, mengutip pernyataan aparat kepolisian yang tak kalah ngawur.

Di halaman depan surat kabar terpampang foto hitam putih, menggambarkan seorang pria, tangannya terikat, dan ada satu lubang peluru di kepalanya.

Ada gambar tato burung phoenix di lengan kanan mayat pria itu.*

petrus-penembak misterius
life-a-big-mystery.blogspot.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s