Menyelisik Jejak Racun di Tubuh Munir

PhotoFunia-3817344

MUNIR SAID THALIB adalah tragedi yang terjeda dalam sebuah tanda tanya.

Munir mencuat sejak dia tampil di garda terdepan pembela hak asasi di Indonesia, pasca ribut-ribut reformasi. Terakhir dia menjabat sebagai Direktur Eksekutif Imparsial, sebuah lembaga pemantau hak asasi manusia.

Namanya melambung sejak dia menggawangi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), lembaga yang berjuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa akhir pemerintahan Orde Baru. Seruannya yang berisik itu membuat orang-orang tertentu terusik.

Di era reformasi, banyak aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Komandan Jenderal (Danjen) kesatuan elit itu adalah Prabowo Soebijanto. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Prabowo dan diadilinya anggota Tim Mawar.

Munir, kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 itu ditemukan meninggal dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, 7 September 2004. Cerita itu masih menjadi  sebuah lakon yang sebenarnya belum tuntas, tapi telah dipaksakan untuk tuntas.

Adalah pilot Maskapai Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto, yang akhirnya menjadi penutup yang tidak memuaskan dalam kisah ini. Dia sudah menjalani vonis 20 tahun penjara –setelah Pengajuan Kembali/PK ditolak– karena terbukti menjadi eksekutor.

Siapa aktor utama kematian Munir? Inilah yang masih membuat publik bertanya-tanya.

Sejak awal Munir ditemukan tewas, nama Pollycarpus sudah disebut-sebut terkait dengan kejadian itu. Pilot pesawat Airbus 330 yang sudah 19 tahun berkarir di Garuda ini diketahui beberapa kali mencoba menghubungi Munir sebelum keberangkatan aktivis HAM itu ke Belanda –untuk melanjutkan studi S2 bidang hukum di Universitas Utrecht, Belanda.

Sejak Tim Pencari Fakta kematian Munir dibentuk oleh Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Nomor 111/2004 tentang Pembentukan Tim Pencari Fakta atas Kematian Munir –yang ditandatangani pada 23 Desember 2004–, polisi langsung mengarahkan teropong ke arah Pollycarpus. Seolah, timbul kesan pelakunya sudah diketahui, sebenarnya. Bahkan sebelum tim dibentuk.

Apalagi, konon, ada seorang saksi mengatakan sempat melihat Polly dan seorang penumpang pria duduk mengobrol bersama Munir di dekat kedai kopi, ketika pesawat transit di Bandara Changi, Singapura.

Munir didapati meninggal di atas langit Rumania, hanya 2 jam sebelum pesawat Garuda jenis Boeing 747 bernomor penerbangan G-974 mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam, Belanda. Nyawanya melayang akibat racun arsenik yang menggerogoti tubuhnya dengan cepat.

Dokter dan tim Lembaga Forensik Belanda (NFI) Amsterdam, yang mengautopsi jenazah Munir, menemukan timbunan racun warangan dalam darahnya. Kandungan itu mencapai 3,1 miligram per liter. Padahal, ambang batas yang bisa ditoleransi tubuh manusia hanya 1,7 miligram per liter. Di lambungnya masih tersisa 465 miligram lagi yang belum tercerna. Setelah masuk lambung, racun sebanyak itu hanya butuh waktu beberapa jam untuk membunuh Munir.

Kematian ini menjadi geger publik. Terlebih, sosok Munir dikenal sebagai pejuang HAM.

Tim yang dibentuk Presiden ini mengadakan rapat pertama dengan tim penyidik kasus Munir dari Mabes Polri pada pertengahan Januari 2005, siang hari di lantai 2 Gedung Reserse Mabes Polri, ruang 205. Tim pencari fakta diketuai Brigjen (Polisi) Marsudhi Hanafi, Kepala Biro Perencanaan Administrasi Reserse, Mabes Polri. Sedangkan tim penyidik diketuai Kombes (Polisi) Oktavianus Farfar. Agenda rapat adalah mendengarkan pemaparan penyidik tentang kemajuan penyidikan kasus Munir dan menyusun program kerja.

Berdasarkan undangan, yang diminta hadir dalam pertemuan itu adalah Asmara Nababan, Bambang Widjojanto (YLBHI), Hendardi (PBHI), Munarman (YLBHI), Usman Hamid (Kontras), I Putu Kusa (Kejaksaan), Smita Notosusanto, Kemala Tjandrakirana (Komnas Perempuan), Nazarudin Bunas, Retno Marsudi, Arif Haves Oegroseno, Rachland Nashidik, dan penulis sendiri dr. Abdul Mun’im Idries.

***

Ihwal keterlibatannya dalam tim, Mun’im Idris, dalam buku Indonesia X-Files bercerita:

“Ketika diketahui Munir tewas 2 jam sebelum mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam, Belanda, saya mendapat kontak dari NCB Mabes Polri. Seorang polisi memberitahukan bahwa Munir tewas. Polisi tadi meminta agar saya bisa melakukan autopsi untuk mencari penyebab kematian Munir.”

“Saya bilang bisa, gampang. Karena mayat kalau tewas di moda transportasi, seperti pesawat, pasti diformalin. ‘Dokter siap-siap, ya. Saya siap-siap menanti kedatangannya di Jakarta’. Sambut polisi tadi.”

“Tetapi dalam hal ini, istri Munir, Suciwati, tidak mengizinkan untuk dilakukan kembali autopsi terhadap Munir. Karena itu saya tidak jadi melakukan autopsi. Tetapi beberapa waktu kemudian, sekitar 1 atau 2 minggu, saya kembali menerima telepon dari seorang polisi.”

“Dalam percakapan telepon ini, si polisi menyebutkan bahwa Munir tewas karena keracunan arsenik. Sontak saya bilang bahwa pelakunya sangat pintar. Sebab, kasus keracunan semacam itu terjadi tidak sampai 10%. Biasanya bunuh diri. Untuk kasus pembunuhan sangat jarang. Saya jelaskan bahwa si pelaku pintar mencari racun yang termasuk ideal untuk membunuh (ideal poisioning), yaitu arsenik karena tidak ada rasa, bau, dan warna.”

“Polisi yang menelepon itu meminta saya untuk ikut ke Belanda karena kurang 1 dokter. Atas pertimbangan profesional, saya menolak ajakan itu. ‘Kenapa, dokter?’ tanya si polisi. Saya menjelaskan bahwa jika saya berangkat, itu sama halnya dengan pembodohan dan pemborosan karena sudah tahu penyebab kematian Munir adalah arsenik.”

“Artinya, penyebab kematian sudah diketahui. Yang belum diketahui sampai saat ini ialah cara kematian (manner of death). Cara kematian itu bisa secara wajar karena penyakit, bisa kecelakaan karena terhirup akibat pencemaran, bisa juga pembunuhan (homicide).”

“Menurut analisis saya, kalau racun itu masuk dari pencemaran akibat makanan sea food (makanan sejenis ini banyak juga yang mengandung arsenik) yang dibagikan di pesawat, itu tidak mungkin. Karena hanya Munir yang tewas. Sementara penumpang lain tidak. Analisis kedua, kalau bunuh diri juga tidak mungkin. Sebab, Munir ke Belanda hendak melanjutkan pendidikan. Masa bunuh diri?”

“Artinya, tinggal pembunuhan yang mungkin. Penyebab kematian sudah  diketahui. Tinggal cara kematian yang belum jelas. Tetapi, polisi tadi terus membujuk saya agar mau ikut ke Belanda. Esoknya saya dibujuk lagi. Kata mereka, ‘Lumayan, dok, 10 hari kita dapat uang saku’. Saya jawab, ‘Memang saya kuli. Tidak!’ Karena saya tidak mau, mereka mengajak dokter forensik lain. Mereka pergi ke sana.”

“Kepergian polisi tadi ke Belanda mengundang pertanyaan. Karena itu, belum genap seminggu mereka ke Belanda, salah seorang petugas Kejaksaan Agung atau Mahkamah Agung berbicara bahwa polisi gegabah. Kata petugas itu, ‘Kan, sudah ada aturan. Kalau dibuat ahli lain (hasil forensik), untuk legalitasnya cukup diparaf dan distempel KBRI’.”

“Kejanggalan kematian Munir juga terlihat dari penjelasan tentang bagaimana arsenik itu bisa masuk ke tubuh Munir.  Berdasarkan laporan dari tim yang berangkat ke Belanda, arsenik itu dimasukkan ke minuman jus. Menurut saya, itu sangat tidak mungkin. Sebab, arsenik itu mudah larut di air panas (hangat) bukan di air dingin.”

“Tetapi tim yang berangkat membuat skenario sendiri bahwa arsenik itu dimasukkan ke minuman jus. Itu kan dingin, arsenik akan mengendap, kelihatan. Jadi kalau ingin larut harus di air panas atau hangat. Tetapi itu yang dipakai.

“Kemudian berdasarkan skenario tim tadi, sifat kerja arsenik (on set of action) disebutkan 90 menit. Dalam analisis saya, dalam 30 menit sebenarnya sudah keluar gejala keracunan itu.”

“Kemudian saya ditelepon seorang wartawan radio swasta. Dia tanya, ‘Dokter sudah tahu belum? Dokter benar-benar tidak tahu? Kemarin waktu sidang kabinet, Presiden SBY sudah mengeluarkan Keppres Nomor 111 tentang Pembentukan Tim Pencari Fakta. Nama dokter ada di situ,’ ujar si wartawan.”

“Saat pertemuan tim untuk pertama kalinya, saya melihat pertemuan itu tidak serius menangani kasus Munir. Indikasinya, di kepolisian ada spesialisasi tugas, seperti untuk masalah narkoba, korupsi, dan lain-lain akan ditangani oleh pejabat yang relevan untuk masalah-masalah itu. Sementara pertemuan pertama itu dipimpin oleh Direktur Tipikor (Tindak Pidana Korupsi). Ini kan nggak nyambung dengan kasus pembunuhan.”

“Jika menggunakan skenario 90 menit (yang diutarakan tim yang pertama berangkat ke Belanda), asumsi hitungan waktunya bisa ditarik mundur. Munir berangkat ke Belanda pada malam hari dengan menggunakan pesawat Garuda nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam. Pada pukul 21.30 WIB seluruh penumpang pesawat Garuda dipersilakan petugas bandara naik ke pesawat.”

“Saat akan memasuki pintu pesawat, Munir bertemu Pollycarpus yang dalam penerbangan tersebut sebagai extra crew, yaitu kru yang terbang sebagai penumpang dan akan bekerja untuk tugas lain. Mereka bertemu di dekat pintu masuk Kelas Bisnis.”

“Sebagai penumpang kelas ekonomi, Munir sebenarnya akan lebih dekat dengan tempat duduknya bila masuk melalui pintu belakang. Diawali percakapan dengan Polly, Munir akhirnya duduk di kursi kelas bisnis, nomor 3K. Kursi 3K adalah tempat duduk Polly, sementara milik Munir adalah 40G. Pesawat tunggal landas pada pukul 22.02 WIB.”

“Sekitar 15 menit setelah tinggal landas, pramugari menawarkan beberapa pilihan makanan dalam kemasan yang masih panas. Di kursi 3K, Munir memilih mi goreng. Setelah itu Munir memilih jus jeruk. Setelah 1 jam 38 menit terbang, pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura pukul 00.40 waktu setempat.”

“Zona waktu Singapura satu jam lebih awal ketimbang WIB. Awak kabin memberi penumpang waktu untuk jalan-jalan atau kegiatan apa saja di Bandara Changi selama 45 menit.”

“Karena keluar dari pintu bisnis, Munir lebih cepat mencapai Cafe Bean. Usai singgah di kedai itu, Munir kembali menuju pesawat melalui gerbang D42 untuk penerbangan Singapura-Amsterdam. Sementara Pollycarpus hanya sampai Singapura. Pesawat tinggal landas dari Changi pukul 01.53 waktu setempat.”

“Sebelum pesawat mengangkasa, Munir meminta obat Promag kepada pramugari. Sang pramugari meminta Munir menunggu sebentar karena pesawat akan tinggal landas dan seluruh awak kabin harus duduk di tempat masing-masing. Kira-kira 15 menit kemudian, setelah pesawat di ketinggian aman, pramugari membangunkan Munir yang saat itu sedang tidur.”

“Dia bertanya apakah Munir sudah mendapatkan obat yang dia minta. Munir menjawab belum. Pramugari malah menawarkan makanan dan ditolak oleh Munir yang justru minta teh hangat. Dari situ Munir sering ke toilet. Dia merasa menderita muntaber.”

“Sekitar 2 jam sebelum pesawat mendarat, pukul 05.10 GMT atau 12.10 WIB, Munir tertidur dalam posisi miring menghadap kursi, mulutnya mengeluarkan air liur tidak berbusa, dan telapak tangannya membiru. Ternyata Munir sudah meninggal.”

“Dalam pandangan saya, gejala awal keracunan merujuk ke pesawat, tempat kejadian perkara (TKP) eksekusi. Fakta inilah yang muncul pada pengadilan pertama yang berakhir dengan bebasnya Pollycarpus. Tetapi, kasus Munir masih berkabut.”

“Saya kembali ditelepon seorang perwira polisi untuk kembali membantu mencari penyebab kematian Munir. Tetapi, saya tetap tidak mau melakukannya.”

“Saya kemudian dipanggil untuk sebuah pertemuan dengan polisi di Hotel Nikko, Jakarta. Tujuannya untuk mencari TKP. Ini lain lagi dalam pandangan saya. Makanya saya mau membantu. Apalagi saya punya hitungan berdasarkan skenario 30 menit tadi.”

“Mulailah saya menganalisis hitung-hitungan waktu sejak keberangkatan hingga tewasnya Munir. Ia naik pesawat dari Indonesia yang tinggal landas sekitar pukul 22.02 WIB dan sampai ke Changi, Singapura. Saya tandaskan, kita hanya mengurut jalur di mana kira-kira ada satu tempat minuman-minuman yang menyediakan kopi atau teh hangat.”

“Lalu ketemulah 1 tempat, yakni Café Bean. Saya yakin di situlah TKP-nya. Setelah ditetapkan TKP-nya, tinggal mencari saksi mata. Ada beberapa pelajar yang melihat Munir mampir di Café Bean bersama Pollycarpus.”

“Saya juga melihat pada pesawat Garuda yang dinaiki Munir dari Bandara Soekarno Hatta. Sebelum berangkat, penerbangan beberapa kali ditunda (delay). Ada apa?”

“Saya pernah ditelepon Kabareskrim Mabes Polri yang saat itu dijabat Bambang Hendarso Danuri (BHD). Saya dipanggil ke Mabes Polri. BHD bicara singkat. Kata dia, ‘Dokter, ini untuk Merah Putih (Indonesia)’. Saya tanya, ‘Lho, kenapa Pak?’ Lalu dia menjelaskan, ‘Kalau kita tidak bisa masukkan seseorang ke dalam tahanan sebagai pelaku, dana dari luar negeri tidak cair. Karena dia tokoh HAM. Kemudian obligasi (surat-surat berharga) kita tidak laku, Dok’.  ‘Oh, begitu,’ ujar saya.”

“Pak Bambang Hendarso menanyakan lagi, ‘Jadi, bagaimana?’ Kemudian saya menggunakan skenario analisis saya bahwa gejala awal keracunan arsenik akan terjadi setelah 30 menit. Dalam penelusuran tersebut, selama 5 hari saya terpaksa menginap di hotel dan berpindah-pindah.”

“Dalam 2 hari saya pindah-pindah hotel di Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. Kemudian terakhir di Hotel Shangri-La. Lalu, saya dibantu oleh 2 kolega, seorang dokter dari Medan, dan ahli toksikoli dari Universitas Udayana, Denpasar, Bali, untuk melakukan pembahasan.”

“Saya meyakini bahwa waktu 30 menit itu bisa merupakan gejala awal bagi Munir untuk keracunan. Di mana Munir mengeluh sakit maag, lalu dia minta obat. Saya yakin bahwa yang dialami Munir bukan sakit maag, tetapi gejala awal keracunan arsenik. Kita tarik jam sekian dan di situ mengarah ke TKP di Café Bean. Kemudian beberapa jam setelah dia muntah-muntah kita tarik lagi ke situ. Sampai 2 jam sebelum landing, kita tarik lagi ke situ. Jadi, kita kunci bahwa TKP di Café Bean. Dengan siapa dia ada di situ. Jadi ada hitung-hitungannya.”

“Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apa latar belakang pembunuhan itu? Saat di hotel, saya juga membawa buku tentang keracunan pada kasus-kasus kriminal. Dari situ saya membagi 3 TKP, yakni: perencanaan, eksekusi, dan saat wafat.”

“Sekarang TKP perencanaan, saat itu Munir sedang mengadakan serangan kepada ABRI (TNI) mungkin karena pembelian senjata. Diputuskanlah harus dihabiskan. Kemudian caranya bagaimana? Merujuklah pada keterlibatan Maskapai Garuda yang telah mengeluarkan surat penugasan kepada Pollycarpus.”

“Cuma anehnya, surat untuk Polly itu untuk teknisi bukan untuk pilot. Padahal, Polly tidak punya keahlian itu, dia pilot. Itu menjelaskan adanya kejanggalan-kejanggalan dan keterlibatan Garuda. Berdasarkan versi Indra Setiawan (saat itu menjabat Direktur Utama Garuda), Pollycarpus ditugasi mencari tahu soal insiden Boeing 747 jurusan Singapura-Amsterdam beberapa waktu sebelum Munir tewas itu. Pesawat berbadan besar itu mengalami masalah karena roda pendaratnya macet dan pesawat terpaksa membuang bahan bakar dalam jumlah besar yang menyebabkan Garuda rugi.”

“Jika benar ini tugas resmi perusahaan, setidak-tidaknya ada 3 pertanyaan penting yang menghendaki jawaban pasti. Pertama, mengapa seorang pilot Airbus 330 yang dikirim, dan bukan pilot Boeing 747 yang tentu lebih menguasai pesawat jenis itu? Kedua, kalau urusannya roda pesawat yang macet, ini tentu wilayah kerja teknis, lalu mengapa bukan mekanik yang dikirim?”

“Ketiga, ini yang terpenting. Untuk mengecek urusan roda pesawat, juga bahan bakar yang terpaksa dibuang, perlu waktu tak hanya sekejap. Yang benar-benar aneh, Pollycarpus tiba malam hari dan hanya berada 4 atau 5 jam di Singapura, untuk kemudian kembali dengan pesawat paling pagi ke Jakarta. Pertanyaannya, mungkinkah pengecekan dilakukan di tengah malam selagi otoritas Bandara Changi lelap tidur? Lalu, bisakah urusan tak sederhana itu dicek hanya dalam 5 jam?”

“Kejanggalan sebenarnya sudah bisa dilihat saat di Bandara Soekarno-Hatta di mana dari sekian banyak CCTV, hanya dua yang aktif. Operatornya sedikit. Perencanaan sudah ketahuan, TKP eksekusinya sudah ketahuan. Dari perencanaan itu ada keterlibatan Garuda.”

“Persoalan sudah demikian jelas. Mengapa surat perintah yang dikeluarkan untuk teknisi, padahal Pollycarpus itu pilot? Orang terpaku pada pesawat yang ditumpangi dari Jakarta. Mengapa delay terus? Ternyata hal itu terjadi karena sedang menunggu pesawat Garuda dari Singapura. Pesawat tersebut berisi Pollycarpus. Jadi dia persiapkan dulu di sana. Dalam pandangan saya, Munir sengaja digiring ke Café Bean dan di situlah arseniknya diberikan.”

”Sementara Tim Pencari Fakta bentukan SBY dikasih waktu 3 bulan kemudian diperpanjang 6 bulan. Itu cukup untuk menghilangkan barang bukti dan segala macam yang lain. Tetapi, berkat bantuan dari ahli toksikologi Universitas Udayana, bisa dipecahkan arseniknya.”

“Pemeriksaan bukan dilakukan di Indonesia, secara diam-diam dokter ahli tadi mengirimnya ke laboratorium swasta di Amerika Serikat. Arsenik itu dipecah valensi 3 dan valensi 5. Itu menjelaskan gejalanya. Dokter bisa mengunci dari proses 30 menit.”

***

Pada akhirnya, kematian Munir memang masih menjadi tanda tanya. Punya urusan apa Pollycarpus menghabisi Munir? Kalau memang dia ‘ditugaskan’, oleh siapa? Jawabannya masih tersembunyi di balik halimun misteri yang masih saja menggelayut di awang-awang negeri ini.

Hingga kini.

Dari Buku

dr. Abdul Mun’im Idris: Indonesia X-Files

Advertisements

31 thoughts on “Menyelisik Jejak Racun di Tubuh Munir

  1. menghayal ternyata yg di racunin bukan munir,cuma mirip ajah #salah sasaran???!!! munir yg asli lg belajar di belanda,gk ketauan wleee..

  2. menghayal : yg bunuhnya tiap malem dihantui arwah kembaran munir trus saking stresnya dya minum kopi yg udh dicampur arsenik..#jreeengg karma noh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s