Merdeka Bersama Sastra ala Venezuela

SALAH satu jurus paling ampuh Hugo Chavez untuk mengikat cinta dari Venezuela adalah rajin mengajak rakyatnya membaca. Membaca wacana yang riil, nyata, konkret, agar Venezuela tahu permasalahan yang terjadi, untuk selanjutnya dicari solusinya. Chavez menanamkan kesadaran sosial pada Venezuela melalui karya-karya sastra yang membawa napas realisme sosialis.

El Commandante adalah pemimpin yang suka membaca. Dari barisan kata-kata yang berderet rapi di dalam sebuah buku itulah dia tahu ada yang salah dengan dunia yang didiaminya. Kesalahan itu, menurut dia, dibiarkan langgeng dan akut dalam periode yang terlalu lama.

Melalui buku pula Chavez menuai banyak inspirasi, di mana kemudian wangsit itu diusungnya sebagai motivasi, metode, dan tujuan perjuangannya untuk membebaskan Venezuela dari cengkeraman kapitalisme.

Sampai kematiannya, 5 Maret 2013, Chavez masih suka menyimak karya sastra, terutama karya-karya yang mengembuskan napas sosialisme. Paham yang menurut Chavez mengajarkan tentang manusia-manusia yang harusnya bahagia, tentang manusia-manusia yang harusnya tak diinjak, tentang manusia-manusia yang berbagi, juga memberi.

Salah satu inspirasi dituainya dari karya sastrawan Prancis Victor Hugo, Les Misserables. Dalam sebuah obituari Jon Lee Anderson, seorang New Yorker yang beberapa kali menemui Chavez, terpapar jelas pemahaman evolusi politik Sang Komandan. “Aku bertanya mengapa dia (Chavez) memutuskan mengadopsi sosialisme,” tulis Anderson. “Dia mengakui, dia datang ke sana (sosialisme) terlambat, lama setelah sebagian besar dunia telah meninggalkannya. Tapi dia juga mengatakan bahwa mereka (sosialis) telah dijodohkan untuknya, setelah dia membaca novel epik Victor Hugo Les Miserables. Selain itu, juga setelah dan mendengarkan Fidel (Castro). ”

El Commandante menghabiskan banyak waktu mengutip dan menganalisis novel sosial Hugo, yang berisi tentang kisah celaka di Prancis itu; tentang si anak yatim Cosette, Fantine si pelacur, dan terutama Jean Valjean – pria melarat yang harus menjadi narapidana, hanya gara-gara mencuri roti untuk kemenakannya yang sangat kelaparan, yang kemudian menjadi penyelamat banyak orang.

Setelah melahap karya sastra yang berlatar belakang peralihan rezim Monarkhi Prancis ke paham republik Robespiere itu, Chavez berpendapat, Perancis sangat mirip dengan Venezuela, juga Amerika Latin secara keseluruhan.

Dalam salah satu konferensi persnya di Paris, 2007 lalu, Chavez bertanya pada pers Negeri Anggur tersebut; “Anda ingin bertemu Jean Valjean? Pergi ke Amerika Latin. Ada banyak Jean Valjean di Amerika Latin. Banyak. Saya tahu beberapa. Anda ingin tahu Fantine? Ada banyak Fantine di Amerika Latin. Di Afrika juga. Anda ingin tahu Cosette kecil dan semua yang lain? Anda ingin tahu Marius? Mereka semuanya ada di Amerika Latin. ”

Dia ingin menunjukkan bahwa ketidakadilan pada abad ke-17 yang dipaparkan Victor Hugo dalam sastranya itu masih hidup hingga kini. Ketimpangan itu hadir dalam wajah yang lebih ramah, tapi lebih mengerikan dalam hal daya musnah. Dan biang borok ketaksetaraan itu adalah Kapitalisme Barat, yang menurut dia, telah melahirkan banyak anak yatim, pelacur, dan pencuri roti yang masuk bui, seperti yang digambarkan oleh Victor Hugo.

Memuji Novel Hugo adalah cara Chavez untuk menunjukkan kesadaran sosialnya yang tumbuh karena pengaruh karya sastra. Kesadaran itu tak hanya dia tunjukkan ketika di Prancis, tapi jauh sebelumnya sudah dia didikkan pada rakyat Venezuelanya.

Chaves sering menerbitkan buku untuk membela kebijakan sosialisnya, untuk mengingatkan masyarakat bahwa pemerintahnya dikhususkan untuk kelas bawah. Orang-orang yang menghabiskan sebagian besar hidup mereka dalam kesengsaraan total seperti Victor Hugo, menurut Chavez, akan melakukan hal yang sama dengannya.

Namun warisan sastra ala Chavez, seperti sisa gaya pemerintahan lain, tidak datang tanpa kritik. Di bawah pemerintahannya, klub buku sering ditunggangi menjadi pernyataan politik. Kebiasaan Chavez itu sempat menjadikan para pecinta buku yang sebenarnya ingin bebas politik, gerah.

Salah satu bentuk politik buku Chavez adalah, ketika dia menyerahkan sebuah buku berjudul America Latin: The Open Vena pada Barack Obama. Tujuannya untuk membuka mata Mr Presiden tentang kelakuan paham kapitalismenya, karena buku besutan Eduardo Galeano itu menggambarkan rinci kenyataan bahwa Latin adalah negara yang sedang diperkosa Eropa dan di Amerika dengan metode eksploitasi habis-habisan.

Buku-buku yang dikendari Chaves untuk kepentingan politisnya disebut buku-buku Chavistas. Semuanya terjajar rapi di perpustakaan Venezuela. Buku yang termasuk dalam golongan Chavistas, antara lain, Manifesto Komunis Karl Marx dan buku Miguel de Cervantes Don Quixote –sebuah novel yang dipercaya Chavez bisa “memberi semangat juang untuk memperbaiki dunia”. Juga, tentu saja, Les Misserables termasuk dalam daftarnya.

Buku-buku itu dipercaya Chavez membawa misi untuk memperkuat sosialisme abad 21, paham politik yang sangat dipujanya. Chavez ingin agar buku-buku itu bisa dibaca siapa saja. Dia meletakkan buku dalam jangkauan setiap orang, termasuk sastra anak-anak. Dia ingin membangun kesadaran sosialisme, kebersamaan, kesetaraan, pemerataan, dan berbagi pada anak-anak sejak mereka mulai belajar mengenal dunia.

Barat menyebut politik buku ala Chavez itu sebagai “skuadron buku yang berpatroli wilayah publik”. Setiap skuadron memakai warna berbeda untuk mengidentifikasi jenis mereka. Contoh, merah mempromosikan autobiografi, sementara hitam membahas buku tentang ‘perlawanan militan.’

Yang pasti, dari semua upayanya itu, termasuk menggunakan skuadron buku, Chavez bermaksud membuka kesadaran Venezuela, dan dunia pada tataran lebih luas, bahwa kesengsaraan itu adalah musuh utama kemanusiaan. Bahwa manusia berhak bebas dari penindasan. Dan, strateginya itu manjur.

Sastra realisme sosial menunjukkan kekuatan sesungguhnya di Venezuela. Sastra berhasil mendidik rakyat Venezuela agar melek sosial, yakin pada kemanusiaan, keadilan, dan kemandirian. Sastra realisme sosial telah membebaskan Negeri Telenovela dari tirani. Kesadaran sosial yang digerakkan melalui sastra menuntun Venezuela dalam kemerdekaan ekonomi dan budaya.

Lalu, apa kabar sastra realisme sosial di Indonesia? Semoga kau masih baik-baik saja, Kawan…

Hugo Chaves

Catatan:

Dikutip dari prakata buku Hugo Chavez, Malaikat dari Selatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s