Debut

PAGI masih sangat muda. Bentangan cakrawala memamerkan biru langit yang ternoktah di sana-sini. Bagaskara yang disela mega-mega sisa musim hujan makin asyik dengan geliat malasnya. Ultraviolet enggan menunjukkan sejatinya sebagai penyengat kulit manusia-manusia yang kian resah dikerjai zaman.

Bengawan Solo mengalun tenang. Begitulah yang tampak di permukaan. Namun, bunyi lirih arus yang menderas di bawah permukaannya, samar-samar namun ajeg tertangkap kuping, memancing persepsi siapa pun yang berdiri di tepinya untuk mendeskripsikan irama itu sebagai bisikan alam tentang misteri yang mendadak hinggap di pagi setengah hati itu.

Arus itu sedikit malas ketika meminggirkan mayat dengan penampakan membusuk dan bau anyir menusuk yang membawa selimut tanda tanya. Aroma tubuh yang entah berapa hari telah ditinggal pergi sukmanya itu memperkosa indera pembauan siapa saja di tepi kali itu. Tak terkecuali orang-orang baru dalam Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota M. Seperti Tito.

Jeroan Tito teraduk-aduk, matanya yang belok kian melotot, keringat menetes rutin dari keningnya ketika dia dan unitnya harus menjemput jenazah yang ditemukan oleh seorang warga yang hendak buang hajat, ketika tubuh tanpa ruh itu sedang mengambang-ambang di sungai. Sebagai pendatang baru di dunia penyelidikan dan penyidikan, Tito masih perlu banyak penyesuaian, sebelum bisa menyamai ‘kesaktian’ para senior yang menganggap bau mayat adalah aroma yang wajib mereka sedot secara rutin.

Lalat dan belatung di sekujur tubuh mayat perempuan yang tertaksir sekitar 30 tahunan itu menjadikan tubuh tanpa nyawa tersebut lebih eksentrik. Sekuat tenaga Tito menahan agar nasi goreng spesial ramuan istrinya, yang masuk perutnya melalui seremoni sarapan pagi itu, tak tumpah keluar.

“Dasar bocah baru,” Bachtiar, yang punya satu contreng lebih banyak di pangkat bintaranya dari Tito, meringis sinis ala kadarnya mendapati gestur juniornya yang salah kaprah. “Saatnya kamu turun, Tito. Berkenalanlah dengan tubuh membusuk itu. Kau harus akrab dengannya.”

Bachtiar menepuk punggung Tito. Duh, tak terelakkan lagi…

Hoek! semburatlah nasi goreng spesial itu. Keluar lagi dari mulut Tito dalam keadaan nyaris utuh. Kuning telur mata sapi yang belum sempat tergiling lambung turut balik kucing. Semburat sempurnanya jatuh tepat di bokong mayat.

Iptu Aris, perwira pertama yang memimpin tim ke lokasi penemuan spontan menoleh ke sumber muntahan. Pelototannya tajam menusuk Tito yang pucat bagai mayat yang baru ditemukan.

Tambah pucatlah muka si anak baru. Kekhawatiran Tito sekonyong menyeruak: jangan-jangan aku merusak barang bukti? Kalau iya, itu berarti cacat fatal di saat debutnya. Dia khawatir akan menjadi sasaran amuk pertama Iptu Aris, perwira yang sejauh pengetahuannya lebih sering memilih manghambur-hamburkan senyum daripada letupan emosi itu.

Aris adalah perwira pertama yang cukup bersinar. Isi kepalanya encer, mentalnya bagus, santun dalam bersikap, dan kombinasi positif itu hidup dalam usianya yang baru menginjak 30 tahun. Semua masukannya untuk pimpinan selalu menjadi atensi utama.

Banyak bintara yang ingin bekerja di bawah komandonya. Tapi, tak sembarangan yang bisa untuk itu. Aris memilih sendiri anak buahnya. Bintara yang menarik minat si bintang muda adalah orang-orang terpilih. Tito, yang akhirnya bisa tercatat sebagai anak buah Aris, tentu harus menjaga momentum keterpilihannya dalam unit istimewa itu dengan sebaik mungkin.

Tapi, muntahannya di bokong mayat itu membawa pantulan ketakutan Tito, bagaimana jika akumulasi kemarahan Iptu Aris yang tak pernah tertumpahkan itu harus tumpah-ruah kepadanya? Pasti jauh lebih dahsyat dari gabungan bau muntahan Tito dan jasad yang membusuk itu. Lebih tak enak lagi ketika dia harus dikembalikan lagi ke Sabhara, satuan yang baru saja ditinggalkannya. Satuan yang harus selalu berseragam dan banyak nganggurnya itu.

Tito memang polisi. Tapi dia selalu enggan mengenakan seragam cokelatnya. Dia juga enggan jika harus banyak menganggur. Karena itulah, dengan segala susah payah dan parade promosi kemampuannya, dia ’jual diri’ di depan Iptu Aris. Sampai akhirnya dia berhasil memikat Aris, hingga bertugas di bawah komando si inspektur pagi itu.

Ketakutan Tito mendadak hanyut terbawa arus sungai yang bermisteri itu, ketika pelototan Iptu Aris tak berlanjut pada makian. Tapi, malah bermetamorfosa menjadi senyum yang ambivalen. Sedikit gelengan kepala Aris membahasakan pemakluman. Anak baru memang selalu begitu. Dan Tito bukanlah anak baru pertama yang harus dibawahi oleh Aris.

Gaya Aris khas permainan psikologis seorang perwira yang seharusnya; tenang, tak sembarangan meletupkan emosi. Aris melirik Bachtiar –yang berdiri masih dengan cengir setengah mengejeknya pada Tito– menyampaikan pesan tanpa kata pada anak buahnya itu agar memberi pelatihan singkat pada adik bintaranya.

“Mendekatlah pada mayat itu. Hirup aromanya dalam-dalam. Tahan di rongga hidungmu selama lima detik. Lalu embuskan pelan. Kau akan mendapati bau nasi goreng istrimu di situ,” Bachtiar pun memberikan masukan untuk adiknya itu.

“Benar seperti itu caranya?” pertanyaan polos anggota baru terlontar dari Tito.

“Kalau yang bicara orang baru, kamu boleh ragu. Tapi, pantaskah kamu ragu pada senior? Percayalah pada pengalaman,” Bachtiar memastikan dengan senyum yang lebih terkesan serius.

Tito hendak mempraktikkanya. Ketika Tito mendekat, mayat itu pas dibalik, menunjukkan muka yang belum begitu rusak namun mulai menjurus ke busuk. Muka yang masih bisa dikenali.

Belum sempat Tito menjalankan instruksi Bachtiar, muntahan keduanya berhambur menyusul.

Hoek! Kali itu jatuh tepat di muka mayat.

***

 ”AKU dengar kamu berminat masuk unitku?”

“Siap, Ndan! Mohon izin!”

”Kenapa kamu ingin gabung reserse?”

”Saya ingin lebih banyak pengalaman dan lebih optimal menjalankan tugas saya sebagai polisi, pelindung dan pengayom masyarakat.”

”Bukankah di Sabhara juga bisa?”

”Siap, betul, tapi menurut saya kurang banyak tantangannya. Saya ingin terlibat langsung dalam pengungkapan dan penanganan kasus kejahatan.”

”Untuk itu, kamu bisa apa? Apa yang kamu punya?”

”Siap! Saya hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik.”

Hmmm…” Aris mengangguk-angguk seperti memahami Tito, si bintara baru yang dilihatnya mulai tak kerasan dengan kebiasaannya wajib berseragam setiap hari dalam satuan Sabhara itu. Polisi muda yang idealis.

”Aku memang perlu anggota lagi dalam unitku.”

Paparan terakhir Aris langsung menghadirkan mimik penuh harapan di muka Tito.

”Tapi, apa kamu benar-benar siap?”

“Mohon maaf, siap yang bagaimana, Ndan?”

”Reserse kriminal tak seindah yang mungkin kamu bayangkan.”

Tito bersiap menyimak.

”Reserse kriminal harus cerdik dan cantik. Tugasnya tak hanya memberantas penjahat dan mengungkap kasus. Paling penting, satuan ini adalah garda terdepan untuk membangun reputasi korps.”

”Siap! Saya bersedia belajar!”

Optimisme di sorot mata Tito membuat Aris tertarik untuk mencoba anak baru yang masih polos itu. Kepolosan dan ambisi adalah dua bahan baku terbaik bagi seorang pimpinan untuk membentuk bawahan sesuai dengan minat dan keperluannya. Aris melihat dua syarat itu dalam sorot mata Tito.

Terdengar ketukan di ruang Aris. ”Masuk,” si empunya ruang mempersilakan.

Sesosok bintara yang juga masih muda, hanya beberapa tahun di atas Tito, menyeruak ke dalam ruangan Aris. ”Mohon maaf, Ndan…”

”Hei, Bachtiar. Bagaimana perempuan itu?”

”Mohon maaf. Dia masih menangis terus dan bersikeras menemui Kapolres, Ndan. Dia juga mengancam akan bicara pada wartawan tentang kematian suaminya. Dia tak percaya dengan berita keberhasilan yang kita rilis.”

Hmmm…”

”Selanjutnya, Ndan?” Bachtiar memasang ekspresi yang sangat mengharapkan instruksi berikutnya.

Tito hanya diam di antara perbincangan komandan dan anak buah itu. Dia tak paham apa yang sedang dibahas.

”Beri dia minuman. Harus hangat. Ingat, hangat. Biar dia lebih tenang. Lalu antar dia pulang. Janjikan padanya, Kapolres akan menemuinya besok,” Aris memberikan instruksi yang diharapkan. Ada tekanan khusus saat Aris menginstruksikan hangat.

”Siap, delapan enam…!” Bachtiar langsung berlalu pergi.

Dari dalam ruangan Aris, Tito lamat-lamat menangkap suara perempuan yang sedang kalap. Tapi dia tak tahu duduk perkaranya. Yang dia dengar, perempuan itu bernama Darti, istri seorang residivis pencurian kendaraan bermotor bernama Jono, yang terpaksa ditembak mati karena melawan anggota reserse kriminal yang hendak mengamankannya. Setidaknya begitulah cerita tentang Jono yang Tito baca di surat kabar.

Namun, seniornya di Sabhara berbisik-bisik, sebenarnya ceritanya bukan itu. Jono yang ditembak mati itu bukanlah maling. Kasus pencurian memang sedang meresahkan Kota M. Konon, pelakunya bernama Jono. Tapi sebenarnya yang diburu bukanlah Jono yang dibedil itu. Ada Jono lain yang ternyata sangat cerdik. Dia licin bak belut berlumur oli. Reserse dihajar frustasi sebab tak juga berhasil membekuknya, sementara si buron adalah atensi utama dari Kapolres. Solusi pun diambul; dicarilah Jono yang lain.

Itu semua upaya Iptu Aris untuk menjaga reputasinya, agar jangan sampai bintangnya yang sedang terang semerbak mendadak redup sebab gagal menangkap maling motor. Beberapa bulan lagi dia akan dipromosikan sebagai Ajun Komisaris Polisi. Dia tak ingin jalannya menuju itu terhambat gara-gara kalah cerdik dari maling motor bernama Jono.

Tito tak paham bisik-bisik itu. Tito tak paham soal ’Jono yang lain’. Tapi, keterangan itu membuatnya kian tertarik untuk masuk ke dalam dunia reserse kriminal.

Rasa ingin tahunya menyeruak kian menjadi. Tentu saja, selain sebagai bentuk kejenuhannya akan kewajiban berseragam saban hari. Tito sendiri sering mengungkapkan minatnya bergabung dalam satuan reserse pada rekan yang kebetulan mendapat tempat di bagian yang diinginnya. Dan, harapan Tito rupanya sampai juga ke telinga Aris sang inspektur.

Hingga dia pun dipanggil di ruangan Aris untuk interviu singkat.

”Baiklah,” Aris melanjutkan setelah diam beberapa saat, ”Sebab aku melihat kamu sungguh-sungguh, aku akan memberimu kesempatan. Hari ini juga aku akan ajukan mutasimu ke pimpinan. Kalau kamu beruntung, tiga hari mungkin sudah turun, bertepatan dengan awal bulan.”

Gembira dan syukur langsung menyeruak begitu Tito mendapat garansi itu. ”Siap, Ndan! Terima kasih!” spontan dia jabat komandannya. Yang dijabat hanya tersenyum.

”Ingat, reserse harus cerdik dan bermain cantik.”

Instruksi ini tak dipahami Tito, tapi dia yakin akan bisa memahaminya dengan cepat.

”Untuk awal penyesuaian, kamu temani Bachtiar mengantar perempuan itu pulang. Sekalian mulailah lebih akrab dengan anggota sesama unitmu nanti.”

”Siap Ndan!”

***

SEPANJANG perjalanan mata Tito berusaha mengintip muka Darti yang belepotan air mata itu melalui spion. Tanya-tanya masih bermain-main di dalam kepalanya. Bachtiar duduk di kursi belakang mendampingi perempuan itu.

Raung Darti memang telah berhenti, berubah menjadi sedu sedan kecil. Mungkin ini efek minuman hangat yang diberikan Bachtiar, seperti yang diinstruksikan Aris. Perwira itu memang cerdas, pikir Tito. Aris tahu apa yang harus dilakukan di tengah situasi pelik, seperti menghadapi Darti yang terus menuntut bertemu Kapolres itu. Dan, apa pasal hingga Darti sedramatis itu, Tito tak pernah tahu.

“Pak, tolong agak cepat. Perut saya mulas,” kata Darti pada Tito. Tanpa mengiyakan, Tito menginjak pedal gas lebih dalam.

Darti diturunkan di depan sebuah rumah di pinggiran bantaran kali. Begitu perempuan itu berlalu, Bachtiar pindah duduk ke samping Tito, lalu menelepon seseorang. ”Siap, delapan enam…” hanya itu kata Bachtiar. Telepon dia tutup, lalu Bachtiar tersenyum pada Tito. Yang disenyumi menduga itu adalah sambungan telepon untuk komandan Bachtiar, untuk melaporkan segalanya telah beres. Delapan enam

Bachtiar menghela napas panjang, dahinya mengernyit sebentar seperti sedang berusaha mengingat sesuatu. Lalu dia menyunggingkan senyum lagi, setelah memastikan cangkir bekas teh hangat yang disuguhkan pada Darti telah dicuci bersih dan plastik kecil bungkus arsenik itu telah dia siram ke dalam toilet.

***

BEGITU turun dari mobil yang mengantarnya pulang, mulas yang berkolaborasi dengan mual menghajar Darti makin menjadi. Awalnya dia pikir mual itu hanya efek samping dari kehamilan pertamanya yang baru masuk tiga bulan. Tapi, lama-lama dia sadar, mulasnya kali itu tak wajar. Minta ampun.

Dia langsung lari ke jamban bambu yang terpancang di atas kali belakang rumahnya. Bersama dengan mual dan mulas itu, pikirannya kembali teraduk-aduk oleh kejadian sepekan sebelumnya.

Jono yang waktu itu baru pulang dari narik ojek tiba-tiba didatangi beberapa orang berpakaian preman. Darti mengira mereka debt collector, sebab memang sudah tiga bulan Jono menunggak kreditan motor yang dipakainya ngojek itu. Mereka tak punya duit. Pemasukan sedang seret.

Ternyata, bukan juru tagih yang datang. Serombongan pria itu mengaku sebagai polisi. Mereka membawa surat perintah penangkapan Jono. Tuduhannya; otak pencurian kendaraan bermotor yang paling meresahkan. Jono berusaha berontak, begitu pula Darti. Darti yakin suaminya bukanlah maling.

”Nanti saja, dijelaskan di kantor polisi,” kata salah seorang petugas yang menjemput Jono, tenang, dengan senyum. Darti ingat betul, petugas itu adalah petugas yang sama dengan yang mengantarkannya barusan dan membuatkannya minum di kantor polisi tadi. Briptu Bachtiar.

Malamnya Jono diamankan, pagi harinya Darti menjenguk di tahanan. Suaminya menemui sembari berjalan terpincang-pincang. ”Jempol kakiku digencet dengan kaki kursi agar aku mengaku sebagai maling,” adu Jono pada istinya, sembari menahan nyeri. Mata kirinya lebam, bekas pukulan yang hadir bertubi. Pasangan miskin itu tak tahu berbuat apa lagi. Sewa pengacara? Jelas mereka tak mampu. Bayar kreditan motor saja mereka tak sanggup. Mereka ingin membela diri, sayang Darti dan Jono tak tahu caranya.

“Kandunganmu baik-baik saja kan?” dalam kesakitannya Jono masih mengkhawatirkan si jabang bayi. Darti mengangguk perlahan, sembari mengusap air mata dengan lengan bajunya.

”Aku akan coba mikir di rumah, bagaimana caranya membuktikan sampean tidak bersalah, Pak…”

Darti berusaha mengambil sebagian derita suaminya, yang didapat setelah semalam berstatus tahanan itu.

Bersama gontai, lunglai, dia pulang.

Tiga hari setelah penangkapan Jono, Darti yang masih bingung mencari solusi terperanjat ketika membaca kabar di koran kuning itu; ”Residivis Curanmor Ditembak Mati.” Berita itu bercerita tentang drama penangkapan seorang maling paling diburu yang melawan saat hendak ditangkap. Hingga akhirnya, menurut berita koran itu, si penjahat terpaksa ditembak tepat di dada. Ada foto senjata tajam di dalam koran, yang dalam keterangan foto disebutkan bahwa itu adalah senjata yang digunakan si penjahat untuk melawan petugas.

Orang yang disebut penjahat dalam koran itu adalah… Jono… Darti tidak mendapat pemberitahuan perihal kematian itu. Dia tahu itu justru dari surat kabar.

Bersama perasaan yang teraduk, mual, muak, berontak, marah, sedih, Darti datang ke kantor polisi menuntut keadilan. Tapi dia tak mendapatkannya. Dia hanya mendapatkan secangkir teh hangat dan janji akan dipertemukan Kapolres dalam waktu dekat.

Di jamban itu, bayangan-bayangan tentang kehilangan yang menyakitkan sebab kematian suaminya yang tak wajar membuat isi perutnya kian teraduk. Kepalanya berputar kian cepat bak kincir angin.

Baru saja dia jongkok, tiba-tiba semuanya berputar kian cepat. Busa tiba-tiba saja menyembur dari mulutnya yang belum sempat memekik. Byur… adalah bunyi terakhir yang bisa didefinisikan indera pendengar Darti, sebelum semuanya mendadak gelap.

 ***

BARU sehari surat perintah mutasi ke satuan reserse kriminal turun, Tito harus melakoni debut dengan berjumpa mayat perempuan yang nyaris busuk. Begitu mayat dibalik, muntah keduanya pagi itu kembali menghambur tak terbendung.

Tito yakin muka yang nyaris membusuk itu milik Darti –perempuan yang tiga hari sebelumnya meraung-raung menuntut keadilan di Mako, berkukuh hendak bertemu Kapolres, lalu diantarnya pulang bersama Bachtiar! Ingatan tentang fakta itu membuat Tito mual, lebih mual daripada sengatan bau mayat.

Aris tersenyum. Bachtiar juga. Matari bersembunyi makin dalam ke balik mega-mega yang mengelam dan siap menumpahkan tangisnya untuk Bumi.

 

chemistry.about.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s