Dar, Der, Dor!

DAR! DER! DOR!

Tiga peluru menembus dada dan perut seorang pria yang oleh polisi disebut residivis alias penjahat kumat dan tak mau taubat. ‘Begundal’ itu mati. Sementara dua ’penjahat’ lainnya dilumpuhkan dengan tembakan persis di betis sebab ’berusaha kabur’.

Wartawan desk kriminal diundang oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim). Salah satu anggota Unit Kejahatan dan Tindak Kekerasan (Jatanras) Satreskrim membagikan selembar kertas berisi rilis keberhasilan polisi menembak mati ’penjahat berbahaya yang meresahkan masyarakat’. Kertas itu berisi nama, usia, dan alamat asal si tertembak mati, rekam jejak kejahatannya, dan kronologis terjadinya penembakan versi polisi.

Kepala Unit Jatanras dengan gestur bak seorang pahlawan yang baru saja menyelamatkan orang banyak dari ancaman paling membahayakan hidup mereka, menjawab setiap pertanyaan wartawan tentang proses penembakan itu dengan rinci dan logis, untuk memperjelas keterangan yang sudah tersaji dalam bentuk rilis.

Katanya, orang itu ’terpaksa’ ditembak mati karena melawan petugas ketika hendak diamankan. Dua peluru yang menjebol dada dan sebutir lain yang menembus perut itu seolah menyampaikan pesan bahwa orang itu terpojok ketika hendak tertangkap, lalu ngawur, menyerang polisi dengan cara berhadap-hadapan langsung, sehingga peluru pun terpaksa menembus bagian depan badannya.

Inti dari cerita dalam rilis itu, si ‘penjahat’ yang ‘terpaksa’ ditembak mati itu salah, dan si polisi yang menembak gagah membela diri sesuai prosedur penangkapan dengan ’benar’. Sedangkan dari dua ‘penjahat’ yang dibedil kakinya, polisi ingin menyampaikan pesan bahwa aparat adalah penembak jitu yang bisa membidik tepat bagian belakang betis dua ‘bandit’ yang dalam posisi berlari. Tembakan itu pas kena di bagian tengah betis.

Propaganda Kepala Unit Jatanras itu langsung dikutip oleh para juru warta yang diundang. Yang dari portal berita langsung mengunggah kabar tersebut saat itu juga, yang dari televisi mengambil gambar bukti hasil kejahatan yang diamankan dan barang bukti senjata tajam yang –katanya—digunakan untuk melawan petugas, untuk kemudian disetor ke produser dan diolah sebagai berita yang membanggakan korps cokelat. Begitu pula dengan wartawan surat kabar, mengolah berita itu dengan sudut pandang polisi-sentris.

Kemudian, yang publik tahu, apa yang disajikan oleh media itu adalah sebuah ’kebenaran’ tentang tentang tindakan tegas bagi pelaku kejahatan. Publik mendapat satu lagi bentuk jaminan rasa aman sebab berkurang lagi penjahat yang meneror jalanan. Di sisi lain, kabar itu sekaligus sebagai pembelajaran bagi ’penjahat’ lain agar lebih sopan jika tak ingin timah panas menembus tubuh mereka. Berita itu untuk menimbulkan efek jera.

 ***

 UNDANGAN untuk kepentingan membangun wacana ’yang memberikan rasa aman pada masyarakat’ itu rutin saya dapatkan sepanjang saya meniti karir sebagai wartawan desk hukum dan kriminal di sebuah surat kabar di Surabaya, sepanjang tahun 2002-2005, dan sebagai wartawan desk daerah sebuah surat kabar nasional sepanjang 2006.

Di masa-masa awal kewartawanan saya yang masih awam, saya –terus terang saja—selalu gembira ketika mendapatkan undangan seperti itu. Saya punya berita yang bisa saya tulis, kemungkinan menjadi berita kepala di halaman hukrim bahkan halaman muka, yang itu artinya saya selamat dari serapah redaktur. Benak awam saya juga mendefinisikan bahwa rilis dan keterangan polisi itu adalah ’sebuah kebenaran yang tak perlu diragukan lagi’.

Hingga akhirnya, sekitaran tahun 2004, ketika masih setia dengan desk hukrim saya di Surabaya, saya mendapati sebuah momen yang mengusik rasa ingin tahu saya. Berawal ketika saya yang sedang nongkrong di salah satu instansi kepolisian di Surabaya mendapati petugas Unit Jatanras menggelandang dua orang pria. Kata polisi, mereka itu bandit jalanan. Saya langsung sumringah, karena kala itu kebetulan saya lagi sepi isu, dan dengan tertangkapnya orang itu setidaknya saya punya satu berita yang bisa saya setorkan ke redaktur.

Namun, ketika saya bertanya ihwal penangkapan tersebut, kepala unit yang saya hubungi menjawab, ”Sabar, besok ada rilis yang lebih dahsyat.” Sebagai wartawan ’yang tertib tata krama’ sebuah pos, saya hanya bisa mengangguk. Teman-teman wartawan senior dari media lain yang mangkal di pos yang sama juga meyakinkan saya agar lebih sabar, karena ’besok ada berita seru’.

Ketika hari mulai menuju Magrib, saya memutuskan beranjak saja dari kantor polisi itu, kembali ke kantor menuju ke kantor bersama beberapa berita yang isunya maksa banget sebagai syarat kepantasan wartawan yang ingin balik kandang. Supaya selamat dari cabik-cabik redaktur. Sebelum saya pergi, dor, dor, dor, jelas saya mendengar tiga kali letusan. Saya yakin sumber suara itu dari ruang unit Jatanras, tempat di mana dua orang tadi diamankan.

Keesokannya, saya mendapat telepon dari salah satu anggota unit Jatanras kantor polisi yang sehari sebelumnya saya sambangi. Katanya, ada rilis bagus. Bergegas saya mendatangi undangan itu. Naluri kewartawanan saya bekerja otomatis.

Lalu digelarlah rilis tersebut dengan cerita tentang dua penjahat yang ditembak mati sebab berusaha menyerang petugas yang hendak menangkapnya dengan senjata tajam di lokasi penangkapan. Saya tanya, di mana mayat kedua penjahat itu? Polisi bilang ada di ruang jenazah RSU dr Soetomo Surabaya. Saya yang penasaran dengan bentuk orang yang ditembak mati itu langsung ngeloyor ke tempat yang disebut.

Alamak… Ketika petugas kamar mayat membuka penutup jenazah ‘penjahat’ yang dimaksud, saya yakin mengenal mereka! Haq, kedua ’bandit’ yang ditembak tepat di dada itu adalah dua pria yang sehari sebelumnya saya lihat digelandang ke kantor polisi dalam keadaan hidup dan segar bugar! Namun, sehari setelahnya, mereka sudah terbujur kaku di kamar jenazah dengan dua peluru bersarang di dada masing-masing.

Dan saya pun tahu untuk apa suara letusan senjata api di kantor polisi yang saya dengar sebelum pulang kandang itu. Sekaligus paham maksud jawaban “sabar, besok ada rilis yang lebih dahsyat” Kepala Unit Jatanras ketika saya minta informasi tentang pria yang digelandang dalam keadaan hidup itu.

Anggota Jatanras yang menggelandang dua penjahat itu bertemu dengan saya di kamar mayat. Dia hanya nyengir. ”Perintah Komandan, Bos…” katanya, nothing to loose. Ya sudah, delapan enam….

Sejak saat itu, hingga detik ini, saya memutuskan tak percaya lagi pada cerita tentang kegagahan polisi yang menembak mati penjahat. Dalam beberapa kali guyonan dengan anggota, saya sempat menyeletuk; “Latihan nembak berapa lama, Bos? Kok bisa jitu banget nembak betis penjahat yang lari dari jarak jauh?”

Jawaban mereka; “Bos, kalau kami bisa nembak sejitu itu, Rambo sudah kami tantang adu tembak, hahaha….”. Hmmm…. Lapan anam…    

Setelahnya saya jadi lebih sering mendengar letusan-letusan senjata api di dalam kantor polisi. Saya kian akrab dengan dar, der, dor. Setiap kali menuliskan berita rilis tentang aksi koboi para polisi, saya hanya bisa mengulum senyum yang dibungkus rasa bersalah; sebab saya telah terlibat dalam perancangan sebuah skenario bohong yang terstruktur dan massif.

Saya merasa telah ikut ’menghukum penjahat-penjahat’ yang dieksekusi tanpa diadili lebih dulu itu. Sebab, semua yang saya tulis sebagai wacana itu hanya dari versi polisi. Saya tak mendapat keterangan langsung dari ’para penjahat’ itu, benarkah cerita pak polisi tentang mereka? Orang mati tentu tak bisa berceloteh. Jangankan yang mati, yang ‘hanya’ ditembak kakinya pun tak boleh banyak ngomong.

’Kegemaran’ polisi itu kadang juga mendapat dukungan penuh dari wartawan sendiri. Ketika saya mendapat tugas di Kabupaten P, salah satu daerah di Jawa Timur, saya mendapat undangan untuk sebuah rilis penangkapan ’penjahat’ yang katanya anggota sindikat pencurian burung-burung mahal, dari Polres setempat. Saya datang bareng wartawan lain, baik itu dari portal, televisi, radio, atau surat kabar.

Ketika ’penjahat’ yang dimaksud digiring keluar, wartawan lain, terutama dari televisi, langsung kecewa. Kata mereka, itu kurang sip. Kalau ingin berita naik di televisi, perlu visual yang lebih heboh. ”Dibolongin saja dulu, Bos, pasti naik,” celetuk salah satu kontributor televisi nasional pada pak polisi. ”Oh, gitu… Oke,” Pak Polisi yang butuh reputasi mengamini penuh percaya diri.

Digelandanglah penjahat tersebut ke sebuah kebun tebu yang tak jauh dari Mapolres. Dor! dor! lalu kembali digelandang ke hadapan wartawan dengan kondisi betis berlumuran darah ditembus timah panas. Berita yang muncul; maling burung didor karena berusaha melarikan diri. Pak polisi pun mendapat poin plus dan apresiasi dari komandan di pusat yang menyimak berita dari pelosok daerah itu. Sementara kontributor televisi nasional tersebut mendapat upah untuk beritanya yang naik tayang.

Yah, begitulah yang sebenarnya terjadi, Saudara dan Saudari. Setelah saya memutuskan hengkang dari dunia media yang sarat kompromi dengan sumber-sumber ’kompeten yang sarat kepentingan’ dan skenario manipulatif KW sejuta itu, sejak akhir 2010, saya hanya bisa nyinyir tiapkali mendapati berita Residivis Jalanan Ditembak Mati atau Teroris Ditembak Mati dalam Penggerebekan di portal berita, televisi, atau surat kabar-surat kabar itu.

***

DALAM sebuah wawancara untuk keperluan penulisan sebuah buku memoar dengan dokter Mun’im Idris, ikon dokter forensik yang sering dilibatkan dalam ’pembentukan fakta’ terkait proses kematian tubuh-tubuh penting –mulai dari kematian Marsinah, Nasrudin Zulkarnaen, sampai Nordin M Top– April 2013 lalu, saya semangkin paham setelah mendapat petuah berharga dari Pak Dokter; ”Tegakkan hukum hingga langit runtuh itu cuma masturbasi. Itu semua hanya soal kompromi, untuk protect society.”

Protect society seperti apa? Entahlah. Yang pasti, menurut Mun’im, kadang perlu sebuah kematian untuk menciptakan ’suasana kondusif’.

Fragmen di kantor polisi itu hanya secuil contoh kecil wacana ’KW’ yang saban hari menggerojok publik. Banyak wacana tentang ’fakta-fakta’ lain yang dibentuk dengan metode ’dar, der, dor’, baik harfiah pun kiasan.

Tak percaya? Tanyakan saja pada mereka yang suka bisik-bisik di balik pintu dapur redaksi, parlemen, maupun birokrasi, atau pada para ’politisi santun’ itu.

Advertisements

4 thoughts on “Dar, Der, Dor!

  1. dunia media macam politik. penuh intrik dan bikin miris hati. pemakluman-pemakluman yang harus dituruti. Semua berdalih soal kebutuhan. entah kebutuhan siapa yang didulukan.. Bahkan di dunia media yang bahas soal gaya hidup pun demikian, terlalu banyak skenario! Saya juga memutuskan untuk mundur teratur daripada hatinya capek *jadinya curhat* :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s