Setan Tenggelam dalam Lautan Luka Dalam

MEMALUKAN!”

Plak!

Rama meringis menahan sakit yang dihadiahkan oleh tamparan Pak Jaka. Dia menunduk, takut membalas tatap murka ayahnya.

“T…ta…tet…tet…tapi kami melakukannya suka sama suka, ayah….”

Plak!

Untuk kesekian puluh kali tamparan menjawab dalih Rama. Rama tak pernah menyangka kegemarannya bersenggama dengan Andini akan terbongkar dengan cara yang luar biasa memalukan, ketika baru dua bulan dia menjejaki bangku kuliah.

“Mau kamu taruh di mana muka ayahmu ini?!”

PlakPlakPlak!

Nyonya Jaka hanya sanggup duduk beringsut di sudut ruang pemeriksaan Satuan Samapta Polres Metro Jakarta Pusat mendampingi murka suaminya, tertunduk dalam tangis dan malunya. Kenyataan bahwa anak lelaki sulung itu sering meniduri istri orang membuat dunia dan angan-angannya tentang masa depan anaknya remuk seketika itu juga, bersama puluhan plak yang dia dengar ketika telapak tangan suaminya mendarat mulus di pipi Rama.

Rama kian beringsut. Mukanya lebam. Air matanya meleleh. Petugas berusaha menenangkan Pak Jaka yang terlanjur tak bisa ditenangkan.

“Ayahmu ini pejabat! Orang terhormat! Setan mana lagi yang merasuki otakmu itu?!!!”

Plak! Plak! Plak!

 ***

“Jadi……Kamu….?”

“Maafkan aku Ken…………”

Hening dari seberang.

Setan mana yang menggerogoti kepalamu, Andini….?” Suara miris itu terdengar di seberang. Lalu tut… tut… tut… Sambungan telepon terputus.

Andini tercenung. “Silahkan tandatangan di sini, Nyonya. Semoga Anda bisa belajar dari kejadian ini,” petugas Satuan Samapta Polres Metro Jakarta Pusat menyuguhkan selembar surat pernyataan yang  menyebutkan Andini tak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Andini tak pernah menyangka, beberapa anggota Satpol PP dan Polres Metro Jakarta Pusat akan mengetuk kamar hotelnya ketika dia nyaris mencapai klimaks dalam perzinaan dengan Rama. Terbongkarlah sudah semua sandiwaranya; sandiwara keluar kota yang disuguhkannya pada Ken, atau pun sandiwaranya meyakinkan Ken yang curiga sebab ada nuansa Rama –laki-laki muda yang diakui Andini sebagai sepupu jauh itu– di muka Puntadewa, putra pertama mereka.

Aaarrrggghhh, kenapa aku harus larut dalam bujukmu, setan?!!!” jerit batin Andini dalam raung-raung tangisnya, ketika dia tak tahu lagi ke mana akan membawa langkahnya yang gontai. Namun tangis dan sesal tak akan pernah cukup untuk membayar karma hobi berzinanya dengan brondong.

***

Haji Muhajir mengelus dada. Dia hanya bisa memandang iba dua belas pasangan haram yang diangkut dalam razia hotel mesum semalam. Sebagai penasehat spiritual keluarga Pak Jaka, dia sengaja diajak Nyonya Jaka, agar bisa jadi peredam ketika murka Pak Jaka melampaui batas.

Memang, kenyataan bahwa Rama –yang telah tiga kali qatam Alquran dalam bimbingannya—meniduri istri orang membuatnya sangat syok. Dan dia juga paham, eksekusi berat memang sudah seharusnya ditimpakan pada para pezina. Tubi-tubi tamparan dari Pak Jaka itu sebenarnya masih terlalu ringan dibanding hukum rajam yang seharusnya diganjarkan pada Rama.

Astaghfirullah… Bisikan setan pada anak manusia sungguh dahsyat luar biasa….” Haji Muhajir mengelus-elus dada.

***

“Sudahlah, tak perlu kau menangis melankolis seperti itu, Kawan. Bukankah kamu memang diciptakan sebagai bahan kutukan dan muara dari segala prasangka?” Malaikat menepuk-nepuk punggung Setan yang terisak-isak di depan ruang pemeriksaan.

“Iya, aku tahu … Itu memang takdirku… Aku bisa menerimanya… Tapi kenapa manusia itu tak pernah mau berkaca dan makin gemar menuding aku biangnya?! Lama-lama aku risih juga! Aku galau, Kat……. Galau……..” Emosi setan meluap-luap dalam tangis dan curhatnya pada Malaikat. Yang dicurhati memijit-mijit pundaknya. Pukpuk

“Kalau saja aku bisa, akan aku jelaskan langsung duduk perkara sebenarnya pada Pak Jaka, Ken, dan Haji Muhajir itu! Tudingan mereka itu membuatku tertusuk-tusuk… Mereka salah! Semua anak manusia itu berbuat atas inisiatif sendiri! Bukankah kamu tahu, di bulan Ramadan aku dikerangkeng? Kaki tanganku dirantai! Aku tak bisa mendekat, apalagi membisik, membujuk! Manusia juga telah mendapat kabar yang jelas tentang kondisiku itu! Tapi, kenapa masih selalu harus aku yang dituding?!”

Malaikat mengelus dada, geleng-geleng. Lama-lama dia iba juga pada Setan. Tapi, apa mau dikata, manusia itu makhluk paling mulia. Mereka leluasa berbuat sekehendak hati, termasuk menuduh untuk mempersalahkan makhluk rendah seperti Setan, tanpa bukti, untuk kekeliruan fatal yang sengaja mereka lakukan murni berdasarkan inisiatif mereka sendiri.

Malaikat membagikan senyum pada kompetitornya itu, berharap bisa sedikit mengurangi galau Setan yang makin tenggelam dalam lautan luka dalam sesenguknya.

 Oalah, Setan, Setan… Nasibmu…. 

drawception.com

Advertisements

2 thoughts on “Setan Tenggelam dalam Lautan Luka Dalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s