Pengingat: Jurus Dasar Paling Sederhana untuk Menulis

TEKNIK menulis. Saya sering mendapat pertanyaan soal itu dari beberapa sobat, dan saya sering kebingungan bagaimana saya harus menjawabnya. Yang dimaksud teknik menulis itu seperti apa? Jujur saja, saya juga tak paham.

Saya bukan tipikal ‘pengajar dalam kelas’ yang biasa patuh pada mekanisme kurikulum kaku. Saya bukan tipikal orang yang benar-benar patuh dari sisi teknis-mekanis, yang harus melibatkan hubungan sebab-akibat ala sains yang begitu rigidnya, seperti komponen-komponen yang saling berkaitan dalam kerja sebuah mesin. Otak saya tak sanggup bermain di wilayah tersebut. Itu wilayahnya ilmuwan.

Otoritas keilmuan saya juga kurang pas untuk disebut sebagai ‘pengajar literer’, lha wong saya hanya punya gelar Sarjana Sosial bidang Komunikasi, yang jangkauan ilmunya luas banget, mencakupi banyak bidang, mulai dari sosiologi, antropologi, psikologi, sejarah, filsafat, hingga statistik sederhana, yang mana semua bidang itu hanya saya dapatkan dasar-dasarnya saja, untuk kemudian saya eksplorasi sendiri lebih mendalam satu persatu. Tak ada satu bidang pun yang saya kuasai secara spesifik, yang kemudian bisa membuat saya disebut pantas atau punya otoritas keilmuan di bidang tersebut. Tidak, saya bukan seperti itu. Yang saya tahu, dalam hukum sosial tak ada kepastian. Semua hanya soal kompromi yang dibangun secara insidentil, berdasarkan kebutuhan untuk suatu ruang dan waktu tertentu. Tak ada teori berharga mati.

Karena saya bukan orang sains, tapi kadung terlalu banyak sobat yang ‘menduga’ saya tahu teknis (dalam hal teknis-mekanisme ala sains yang begitu rincinya) dalam menulis, sementara saya juga tak mau mengecewakan para sobat yang kadung percaya pada saya, maka saya akan coba memaparkan ‘jurus menulis’ yang saya tahu sejauh ini. Saya menyebutnya ‘jurus’, bukan ‘teknik’, sebab jurus itu lebih fleksibel, sementara teknik itu kaku. Saya hanya percaya bahwa cara terbaik untuk memahami teori adalah mempraktikkannya.

Baiklah, sidang sekalian. Kira-kira, seperti inilah tips sederhana menulis ala saya, yang tidak saya sajikan dalam bentuk pointer-pointer, karena menurut saya bentuk itu teknis banget dan membuat orang ‘takut’. Mohon dicatat, yang saya paparkan di bawah ini bukan ilmu baru. Saya hanya mengingatkan saja, mungkin kebanyakan dari kita sudah lupa….

Di tahap paling awal, jurus paling mendasar yang perlu adalah mengingat kembali pelajaran yang dulu pernah kita dapat di sekolah dasar, yaitu pelajaran tentang apa itu kalimat dan strukturnya. Kalimat, adalah bangunan pesan yang terdiri dari susunan kata-kata yang membentuk sebuah makna, dibuka dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Masih ingat kan, Sob? Mudah-mudahan saja masih.

Setelah ingat apa itu kalimat, untuk bisa menulis kita perlu juga mengingat jenis-jenis kalimat, antara lain;

Kalimat singkat, yaitu kalimat yang hanya terdiri dua unsur pokok dalam kalimat, subjek (bahasan/poin utama dalam kalimat) dan predikat (kata kerja).

Kalimat lengkap, kalimat yang mengandung seluruh unsur pokok terbentuknya sebuah kalimat, yaitu subjek, predikat, dan objek (pelengkap subjek), atau diakronimkan dengan SPO. Dalam beberapa hal, juga dilengkapi keterangan (SPOK), bisa berupa keterangan tempat atau waktu.

Kalimat lengkap bisa tersaji dalam dua bentuk, tergantung dari posisi subjek kalimat tersebut, yaitu kalimat aktif dan kalimat pasif. Dari sisi penulisan, kedua sifat dalam kalimat itu dibedakan dengan penempatan subjek dan objek serta kata kerja ke- dan di-. Kata kerja itu hanya menegaskan posisi subjek, yaitu sebagai pemberi (bergerak) atau penerima (diam).

Kalimat majemuk, kalimat panjang yang tersusun dari dua atau lebih kalimat singkat atau lengkap. Kedua kalimat tersebut bisa hanya dipisahkan dengan tanda koma atau ditambahkan dengan kata keterangan penghubung untuk perbandingan (sementara, sedangkan, jika, kendati, walaupun, dsb) maupun penegas untuk keterangan waktu (kemudian, selanjutnya, setelah itu dsb) setelah tanda koma.

Kalimat majemuk terdiri dari tiga bentuk, yaitu setara sejajarsetara bertingkat, dan berlawananMajemuk setara sejajar adalah dua kalimat singkat/lengkap yang membahas dua hal/tema yang ada di dalam posisi sama, baik itu dari sisi subjek, predikat, objek, maupun keterangan. Majemuk setara bertingkat adalah dua kalimat yang membahas satu atau dua subjek, di mana posisi subjek antara kalimat pertama dan kedua berbeda, sedangkan sifat subjek atau predikat pada kalimat kedua menguatkan pertama, tidak berlawanan. Majemuk berlawanan adalah dua kalimat yang membahas satu atau dua subjek maupun objek yang berada dalam posisi berlawanan, terutama dalam predikat.

Soal bentuk tulisan atau artikel itu adalah: berita, opinifeatures atau esai untuk materi non-fiksi; cerita pendek, novelet, atau novel untuk fiksi (roman, fiksi sejarah, fiksi ilmiah); serta sajak, puisi, dan prosa yang bisa hidup di wilayah fiksi maupun non-fiksi atau ‘mengawinkan’ keduanya.

Untuk berita dan opini umumnya menempatkan unsur penting di pembuka tulisan, menggunakan bahasa yang telah baku sesuai dengan ejaan terbaru, struktur kalimat yang digunakan adalah kalimat lengkap dan majemuk, sasarannya adalah kognisi pembaca. Untuk features dan esai umumnya gaya bebas, semua unsur penting –terutama dari sisi afeksi– di mana antara kalimat/paragraf satu saling menguatkan dengan kalimat/paragraf lainnya, bisa menggunakan bahasa baku maupun prokem, sasaran utamanya adalah afeksi audiens.

Untuk cerita pendek, novelet, novel, sajak, puisi, prosa gaya menulis bebas sebebas-bebasnya, baik dari sisi tema, pilihan diksi, maupun struktur kalimat, mengikuti alur dan gerak imajinasi penulis. Sasaran dari tulisan ini adalah kognisi sekaligus afeksi audiens, namun umumnya masuk melalui jalur afeksi. Di penulisan jenis ini, banyak digunakan kalimat singkat dengan tujuan lebih ‘menggedor’ mental audens. Tidak ada pagar ide maupun teknis yang tegas dalam bentuk tulisan ini.

Semua jenis tulisan itu, pada dasarnya, tersusun dari kalimat-kalimat yang pemahaman bentuk elementernya sama saja; yaitu kalimat singkat, kalimat lengkap, dan kalimat majemuk. Yang membedakan hanya subjek dan misi yang diusung oleh sebuah tulisan. Jika sebuah tulisan menyasar kognisi, gaya yang dipilih umumnya tertib, sesuai hukum baku kalimat, untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat dari kalimat satu dengan kalimat lain secara linear. Sedangkan yang menyasar afeksi, gaya dan strukturnya ‘bebas murni dan konsekuen’.

Oh iya, nyaris lupa; sebaiknya kita perlu benar-benar memahami perbedaan kata depan dan kata kerja -terutama soal ‘ke’ dan ‘di’– juga kata-kata atau diksi mana yang baku, mana yang telah jadi serapan, dan mana yang prokem. Juga mungkin perlu memahami perbedaan antara kata ganti, terutama soal beda makna diksi ‘kita’ dengan ‘kami’.

Ya sudah, demikianlah. Menurut saya, cuma itu teknis dan pengetahuan dasar menulis. Saya juga tidak memaksa siapa pun untuk mengamini.

Semua bentuk tulisan itu bisa dikembangkan sesuai ide, gaya, dan minat bahasan masing-masing penulis. Perkara bentuk tulisan, tema atau topik yang diangkat, gaya penyajian, itu semua tergantung masing penulis berdasarkan bingkai pengalaman dan minat terhadap objek atau disiplin ilmu yang ditekuni. Apa yang kita tulis itu berdasarkan apa yang kita baca, baik itu membaca teks maupun situasi, lalu bagaimana kita menafsirkannya.

Intinya satu, ingat resep jamu komplit menulis yang pernah saya bagi, kan? Ya, betul, intinya percaya diri, bebas tapi sopan, dan banyak-banyak membaca. Membaca itu sangat perlu untuk menambah referensi yang akan kita ramu menjadi fondasi atau variasi tulisan. Tanpa banyak membaca, ide-ide kita akan terjebak dalam labirin stagnasi.

Tidak perlu kebingungan mau menulis ‘dengan gaya apa’ atau ‘menulis untuk golongan apa’. Tak perlu terjebak dalam ‘pengkotak-kotakan’ aliran gaya penulisan. Menulis itu proses membebaskan. Ketika kita menganyam sebuah tulisan dengan perasaan yang benar-benar penuh dan tulus, niscaya gaya menulis akan terbentuk dengan sendirinya.

Terlalu terpesona, apalagi takut pada pagar-pagar disparitas aliran atau gaya penulisan, atau terlalu tertuntut untuk mengamini pun mengikuti gaya tulisan tertentu, itu sama saja kita membatasi diri sendiri dan menghambat kemampuan kita untuk berkembang. Sebab, kita akan menjadi kaku dan ketakutan ketika dituntut untuk menafsirkan sebuah hal secara lebih luas.

Hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan siapa saja yang hendak menulis itu bukan soal gaya, aliran, atau golongan, tapi adalah; menulis itu untuk apa, siapa, dan kenapa kita menulis. Menulis adalah aktivitas yang memiliki tujuan. Sementara tujuan antara satu penulis dengan penulis lain itu tak selalu sama.

Tulis menulis itu adalah dunia yang fleksibel, tidak ada rumus baku yang berlaku selamanya, namun selalu bergerak mengikuti metamorfosa zaman. Buktinya, bentuk karya sastra maupun penulisan berita selalu berubah dari masa ke masa bukan? Karena keistimewaan fleksibilitas dunia menulis itulah sampai saat ini tidak ada orang yang menyandang gelar sarjana khusus di bidang tulis menulis. S.Lis alias Sarjana Menulis itu tak akan pernah ada, hehehe…

Penulis yang bijak dan kredibel itu adalah penulis yang doyan membaca, yakin pada karyanya, sadar apa yang ditulis, tahu  kenapa dia menulis, menghargai perbedaan, serta tidak menghujat.

Sekian dan terima kasih.   

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s