Prahara Kopi

denisuryana.files.wordpress.com

“KAMU itu ndak menghargai aku sama sekali, Mas! Blas!

Emosi Narsiyem berhamburan meledak-ledak begitu Parmin menyeruput kopi tubruk racikannya dan otomatis langsung mempertontonkan ekspresi senewen. Menurut Narsiyem, muka Mas Parmin meruntuhkan kebanggaannya. Kriyip-kriyip muka suaminya itu seperti menolak kenikmatan kopi, yang menurut Narsiyem luar biasa sedep itu.

“Aku ini sudah berusaha sekuat tenaga biar bisa menyajikan kopi terbaik buat sampean. Sampean selalu merengut setiap aku buatkan kopi. Kurang manteb, kurang manteb terus sampean bilang! Sampean selalu mendoktrin saya kalau kopi paling cespleng itu kopi tubruk, nggiling sendiri tambahi beras. Sampean tahu sendiri susahnya nyari biji kopi, apalagi tukang selep (penggiling) kopi di nDepok ini!  Iya kalau di Nganjuk sana, sak harat-harat. Saya sampai pencilakan, kepontalan kayak orang main akrobat nyari biji kopi dan selepan sampai mBogor sana. Seharian saya nyari itu, keringetan, kepanasan, biar pas pulang suamiku ndak merengut lagi gara-gara kopinya kurang manteb! Pulang sudah mau Magrib, turun dari angkot nyungsep saking buru-burunya, dengkulku berdarah ndak peduli, langsung aku ngracik cepet-cepet biar pas pulang sudah bisa sampean nikmatin, satu sendok peres kopi tambah satu sendok munjung gula kayak porsi yang sampean instruksiin ke aku!  Tapi, eeehhh, bukannya sampean gembira, bangga, istrinya sudah berkorban demi membahagiakan suami, malah mukanya ngenyek kayak gitu! Tersinggung aku! Kurang opo, Mas, aku ini kurang apa….???”

“Bukan… bukan gitu, Dik….”

“Bukan gitu apanya?! Wong muka sampean jelas ngenyek aku itu! Ndak menghargai blas! Menghina!”

“Bukan itu maksudku….”

“Bukan itu apanya?!”

“Kopimu ini sudah manteb, Dik.. Malah terlalu manteb...”

Lha sudah manteb kenapa mukanya masih kayak gitu??? Kayak nelen potas!”

Lha kopimu ini asin tenan e…”

Deg!

***

Saudara, saudari, manusia itu kan lak ya cuma bisa berusaha, tapi tetep Tuhan yang menentukan. Yang penting usaha. Dan ikhlas.

Wong manusia itu gudangnya khilap. Gitu to, Mbak Narsiyem?

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Prahara Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s