Hikayat Sufi: Peringatan Khidir

ASHABUL hikayat, Khidir datang ke sebuah kota. Kepada penduduk kota itu dia memperingatkan bahwa di suatu saat yang tak lama lagi akan terjadi suatu bencana hebat. Bencana hebat itu, menurut Khidir, adalah berubahnya kemurnian air setelah terkena sinar matahari yang juga telah berubah kemurniannya. Penduduk kota itu bisa menjadi gila jika meminum air tersebut. Khidir tidak menjelaskan kapan persisnya musibah itu akan terjadi. Dia hanya mengatakan ‘di suatu saat yang tidak lama lagi’ pada penduduk.

Seorang sufi yang arif, begitu mendengar wasiat Khidir, langsung berusaha sekuat tenaga menyimpan air bergentong-gentong ke dalam gua agar tidak terkena sinar matahari. Sedangkan seluruh penduduk kota lainnya memilih untuk abai pada peringatan Khidir. Sufi tersebut hanya minum air yang tak terkena sinar matahari di dalam gua, meski dia harus berjalan jauh untuk itu. Dia melakukan itu semua demi tidak menjadi gila.

Hingga suatu ketika peringatan Khidir menjadi kenyataan. Seluruh penduduk kota yang meminum air, yang terkena sinar matahari, mendadak menjadi gila masal. Tentu saja kecuali sufi yang minum air dari dalam gua.

Betapa kagetnya si sufi begitu kembali ke kota, sebab seluruh penduduk yang gila masal itu malah menuduhnya gila. Bahkan, seluruh penduduk kota itu beramai-ramai menuding si sufi itu telah mempelajari ilmu gaib yang membuat pikiran dan jiwanya tidak waras alias gila.

Orang sufi yang arif itu, dengan segala kebingungannya, mencoba menjelaskan pada seluruh penduduk, keluarga, dan kerabatnya di kota tentang situasi yang sebenarnya. Tapi percuma, si sufi tetap dituding gila karena semua perilaku dan omongannya tetap tidak bisa dimengerti oleh seluruh orang yang tinggal di kota itu. Hingga akhirnya seluruh penduduk memberi si sufi itu gelar: darwis majnun.

Sang sufi, yang sebelum masa gila masal itu selalu dipuji-puji dan dihormati seluruh penduduk, jadi terguncang. Lama-lama dia justru bimbang dengan apa yang diwasiatkan Khidir; jangan-jangan peringatan itu justru sebaliknya dan memang aku yang gila?  Lalu, serta merta dia pergi ke dapur dan meminum air yang sama, seperti yang diminum penduduk kota lainnya.

Baru seteguk sufi itu minum, dia langsung menjadi gila. Tetapi, penduduk kota justru menyambutnya dengan sukacita dan menganggapnya telah sembuh dari pengaruh ilmu gaib. (Disadur bebas dari: Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu)

Menyimak kisah tersebut, saya jadi ingat wejangan Si Mbah, yang dikutip dari pujangga besar Raden Ngabehi Rangga Warsita atau Ronggowarsito: “Di zaman edan, barang siapa yang ndak mau ikut edan, malah dianggap edan.

Arus besar ‘kegilaan’ telah menafikan kebenaran hakiki yang kian jauh tersembunyi di dalam palung hati, lalu dilupakan, ketika manusia-manusia memilih untuk takluk-tunduk pada tuntutan nafs materi-duniawi yang bersifat massif. Sebagian besar umat terjebak jauh dalam tipuan-tipuan materi, seperti riwayat kisah sufi Syaikh-i-Akbar ini;

Pada suatu siang ada seekor anjing mendekati seorang sufi. Anjing itu menggeser-geserkan kepalanya pada jubah sang sufi. Tanpa babibu, sufi itu langsung mengambil sebalok kayu dan menghajar anjing itu hingga babak belur.

Anjing itu lalu mendatangi Syaikh-i-Akbar dan melaporkan perihal penganiayaan yang menimpanya. Syaikh-i-Akbar bertanya pada anjing itu, kenapa mendekati sang sufi. Si anjing mengatakan bahwa dia tak menduga sama sekali bahwa sufi itu akan menghajarnya, sebab dia beranggapan bahwa setiap sufi yang memakai darwis adalah orang suci yang penuh dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.

Anjing itu terperangkap oleh penglihatan inderawi yang keliru, di mana dia menganggap bahwa seorang sufi yang berpakaian darwis pastilah seorang sufi yang bijak dan penuh kasih sayang. Anjing itu adalah simbol dari orang yang cenderung melihat sesuatu dari bentuk luar sehingga menyesatkannya.

Jadi, sebenarnya siapa yang gila?

Semoga kita termasuk dalam golongan umat yang senantiasa sudi untuk berpikir dan berzikir.

Amin.

haqq

Tofik Pram

Advertisements

3 thoughts on “Hikayat Sufi: Peringatan Khidir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s