Rasan-Rasan Penulis (Kultural-Militan)

Dalam pelukan hujan yang manis ia mabuk menulis ditemani dingin dan kopi dan rezeki yang tak pasti.” 

Joko Pinurbo

JIKA Anda hidup di Eropa, Amerika, atau Jepang dan hidup sebagai penulis –cuma penulis, tanpa institusi resmi tapi bisa masuk ke dalam institusi apa pun, bukan wartawan, bukan staf humas, bukan sekretaris– Anda akan mendapatkan posisi terhormat dan disegani. Apalagi Anda sudah menghasilkan buku, tambah top, karena Anda akan dihargai sebagai seseorang yang telah menghasilkan karya, dan yakin bakal tinggal di apartemen atau mansion.

Tapi, kalau Anda memilih untuk menjadi penulis di Indonesia, yakin Anda akan terus dicocor pertanyaan begini, “Sampean itu kerjanya apa to?” Pertanyaan ini pasti rutin menyambangi Anda, hampir setiap hari, terutama dari tetangga kanan-kiri dan orang-orang yang baru mengenal Anda.

Hehehe… Saya ngomong begini sebab saya merasakan sendiri bagaimana ketika memilih hidup sebagai seorang penulis. Pertanyaan itu rutin mengisi hari-hari saya yang indah. Orang-orang yang keheranan karena sering melihat saya ‘enak-enakan’ di rumah, dan hanya sesekali waktu keluar untuk mencari bahan tulisan atau wawancara, selalu menanyakan itu.

Sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu sederhana kan? Saya jawab; “penulis” saja, seharusnya urusan selesai. Sama dengan jawaban “PNS”, “manajer di perusahan anu”, “direktur perusahaan itu”, “karyawan ini itu”. Sama kan? Kalau menurut saya, yang mendefinisikan kerja itu adalah upaya berkarya dalam suasana yang menyenangkan, ya sama saja.

Tapi, bagi kebanyakan orang di sekitar kita, jawaban “kerja jadi penulis” itu akan melahirkan pertanyaan lanjutan yang akan terus memburu. Seperti; “oh, wartawan..?”. Kalau kita jawab iya (karena ketika wartawan itu didefinisikan secara harfiah sebagai orang yang menyebarkan berita, baik lisan maupun tulisan –saya merasa seorang penulis yang juga menyebarluaskan informasi melalui tulisan–, jawaban saya itu bisa dibenarkan) pasti terus diuber dengan pertanyaan “wartawan media apa?”. Kalau kita jawab dengan; “Bukan, bukan wartawan di media, tapi penulis lepas, nggak kerja di media”,  kita akan diburu lagi dengan pertanyaan; “Lha terus kalau bukan wartawan nulisnya di mana?” bersama tatapan curiga. Rempong cyin… Seperti diinterogasi KPK…

Ini cilaka. Mindset kebanyakan awam di negeri ini selalu mengidentikkan menulis itu dengan wartawan. Yang kerja di media, maksudnya…. Seolah, menulis itu cuma hak wartawan yang tergabung dalam media mainstream, yang punya institusi, yang bisa petentang-petenteng dengan ID card, blusukan seenaknya sendiri di institusi-institusi, dan teriak-teriak soal kebebasan pers, tapi tahunya cuma nulis 4W-1H (Maaf, saya sangat dengan terpaksa mencantumkan “w”-nya hanya 4, sebab berita sekarang itu mulai lupa dengan unsur “why“, atau penjelasan lebih spesifik tentang hubungan sebab-akibat yang rinci, yang bisa menceritakan sebuah objek pemberitaan secara utuh.)

Ya, saya memang pernah nyemplung di dunia media. Tapi tidak lama, sebab saya tak kerasan. Sebab, dari kecil saya dididik untuk menyajikan informasi secara utuh, bukan secara parsial karena kepentingan-kepentingan di balik pintu dapur redaksi. Dan hilangnya unsur “why” itu membuat saya risih. Sebab itu, saya memutuskan untuk pensiun dini, lalu nyemplung di dunia tulis-menulis non-media yang memberikan saya lebih banyak kesempatan untuk lebih akrab dengan si “why“.

Ketika kita menulis tanpa dirusuhi banyak kepentingan lain, hanya untuk kepentingan membebaskan jiwa kita, syukur bisa mengusung semangat untuk merangkai wacana yang sehat, berdampak luas, dan mengajak si “why” terlibat di dalam karya, kita akan lebih bebas. Tak seperti ketika saya menulis sebagai wartawan dulu, di mana ketika akan mengangkat sebuah isu yang hendak berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, langsung kena teguran keras, sebab isu itu ternyata bisa merugikan pejabat ini atau pengusaha itu. Walah, kebanyakan aturan…

Menulis, bukankah itu proses yang membebaskan? Tempat kita menuangkan segala ide dan keresahan intrapersonal yang disebabkan berbagai macam variabel dalam kehidupan ini. Disajikan apa adanya, logis, bisa mengurai permasalahan dan menyajikan konklusi, bagus lagi bisa menghibur, dan karya itu bisa diterima dan dipertanggungjawabkan secara luas dan objektif, mengingat kita hidup tak lepas dari norma dan etika. Bebas tapi sopan, begitu lho maksud saya…

Dengan cara pandang seperti itulah saya memutuskan untuk menjadi seorang penulis dan editor lepas, tapi masih dalam kendali manusiawi saya sendiri. Maksudnya, lepas, tapi tidak lepas kendali, gitu lho

Nah, keputusan saya itu akhirnya dipandang kebanyakan orang itu “aneh”. Saya tampak seperti pengangguran. Saya tak pernah terlihat pergi ngantor, bangun tidur seenaknya sendiri, lebih banyak nongkrong di warung kopi, tapi bisa mencukupi kebutuhan hidup, malah sesekali bisa membeli kebutuhan tersier.

Tak jarang juga ada yang tanya, dengan cara hidup itu, saya dapat duit dari mana? Bagaimana saya menghidupi diri? Nah, orang seperti ini nih yang agak gimana gitu. Masa’ ngurusin rezeki orang lain? Wong saya yang menjalani saja santai, kok orang lain yang repot…

Ya, itu karena ketakpahaman awam Indonesia tentang dunia tulis menulis saja. Mereka tak sadar, bahwa sepanjang masih ada orang membaca, teks-teks wacana terus diproduksi –dan bukan hanya media mainstream saja yang punya hak untuk itu– penulis atau editor lepas, terutama yang telah terjamin kualitas dan tanggung jawab karyanya, akan hidup. Jangan salah lho ya, jadi penulis itu juga harus punya keterampilan khusus, seperti orang-orang yang kerja di kantoran itu.

Seorang penulis diwajibkan piawai untuk memilih dan menyusun diksi, juga memberi rasa lezat untuk kalimat-kalimat. Seorang penulis juga dituntut untuk peka dan jeli membaca situasi, agar tulisannya tidak urakan yang menjurus norak. Ini bukan soal gaya –karena setiap penulis itu punya gaya masing-masing dan penulis yang mengintimidasi gaya penulis lain itu adalah penulis yang tidak etis–, tapi tentang pesan yang diusung. Dan, tentunya, yang paling utama, untuk bisa jadi penulis yang bisa dipertanggungjawabkan karyanya, ya harus rajin membaca –baca buku maupun situasi.

Yang penting itu berkarya, berusaha semampu kita sembari mengamalkan ilmu yang kita punya, menjalin silaturrahim yang sehat dengan produsen wacana yang tak harus media mainstream –seperti penerbit (major maupun minor), penggiat baca-tulis kreatif, maupun agensi publikasi–, Tuhan pasti menghidupi seorang penulis. Lagi pula, ketika penulis itu bebas kepentingan politis-ekonomis, alias tidak terikat dalam institusi apa pun, kesempatan untuk bersilaturahim dengan siapa saja dari lembaga apa pun semakin luas, dan itu artinya makin banyak pintu rezeki yang bisa dibuka.

Memang sih, kadang sempat juga deg-degan tiap kali sepi job, persis seperti yang digambarkan Joko Pinurbo dalam pembuka tulisan ini. Akan tetapi, urusan rezeki itu kan sudah ada yang ngatur. Soal ini, saya ingat wejangan salah satu kiai saya di Tulungagung sana; “Paling utama itu berkaryalah sebaik yang sampean bisa. Amalkan ilmu. Urusan rezeki, Gusti Allah itu Maha Kaya, Maha Pemurah…”. Atau, jika dalam bahasa Ranchodas 3 Idiots itu; kejarlah kemuliaan (ilmu), maka kemewahan akan mengejarmu.

Paling penting karya tulis terus lahir –kalau lagi sepi job, ya ngeblog sembari berbagi, ilmu teramalkan, insya Allah, semesta alam akan memelihara kita.

Amin.

Tofik Pram

Advertisements

2 thoughts on “Rasan-Rasan Penulis (Kultural-Militan)

  1. Aamiin!

    Sukses menjalani hidup sebagai penulis mas. Salah satu upaya mencerdaskan bangsa melalui bahasa tulisan. *terpecut untuk bisa menyajikan tulisan yang layak* 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s