Dua Pekan Aroma Kenanga

GELAP kali itu hadir malu-malu dan enggan. Ada angin berayun membawa serta irama sepasang hati yang sedang ingin tertaut. Aroma kenanga menyeruak dengan begitu mabrur. Semerbak yang mengambil tempat di antara Sena dan Rarasati, menggoda dua hati yang dipagut utang rindu.

“Aku mempercayakan hatiku padamu, Sena…” Rarasati menggelayutkan begitu saja pagutan tangannya, menggelung manja di leher Sena.

“Begitu pula aku, Raras. Itulah kenapa aku di sini, demi kesenyapan ini, untuk kita yang seharusnya…. Ah….” Sena putus kalimatnya sendiri. Dibalasnya pelukan Rarasati. “Sejujurnya, aku merindukan hangatmu, Raras…”

Rarasati memandangi lekat-lekat sepasang tatapan kosong dalam bola mata Sena. Ruang hampa dalam tatapan itu membawa rindu yang begitu megahnya.

“Maafkan aku, Sena….” lalu air mata Rarasati mulai menitik, membawa serta rasa bersalah yang mulai mencakarnya.

Hei, hei… Tak ada yang perlu minta maaf untuk sebuah ketetapan takdir, Raras… Justru berbahagialah kita, karena dalam situasi seperti ini, Tuhan telah menunjukkan pada kita bahwa keagungan cinta itu nyata. Kita masih bisa merasakan cinta. Berbahagialah kita, karena kita telah memilih untuk tidak terjebak dalam dangkalnya cinta ragawi. Kita masih bisa membayar rindu dalam kesenyapan seperti ini, karena kita telah mempercayakan sepenuhnya cinta kita pada hati…” sebisa mungkin Sena menenangkan kekasihnya yang mulai dihinggapi rasa bersalah. Dihadiahkannya sebuah senyum untuk Rarasati.

“Ah, Sena….” keduanya diam. Masih dalam pelukan yang terasa ganjil. Angin meniup dedaunan kering, jatuh, lalu mempersembahkan bunyi gesekan dengan tanah, mengambil sela di antara kesunyian itu untuk beberapa detik. Sepoi sedang bedendang dalam bisikan.

Aroma kenanga kian menjadi. Sepoi beralih rupa menjadi semilir yang begitu takzim. Tembang malam bersama orkestra serangga dan burung-burung dunia gelap merekatkan taut pelukan dua makhluk yang makin bergelayut-gelayut. Malam itu menuju pagi dengan malasnya.

Lamat-lamat masjid yang tak jauh itu mulai mengumandangkan puja-puji untuk Penguasa Takdir.

“Waktu kita hampir habis, Sena. Aku berharap kamu masih selalu bersabar, seperti Sena yang kukenal belum lama itu. Kelak akan kupersembahkan hangatku yang kamu rindukan itu, hanya untukmu…”

Sena diam dalam senyum. Ditatapnya Raras dengan sorot rindu yang belum tuntas. Selama tujuh hari berturut perjumpaan dalam senyap itu dirasanya belum cukup. Setelah hari itu, mereka tak akan bisa bersua hingga batas waktu yang belum diketahui namun telah ditetapkan. Sena dan Rarasati harus berdamai dengan takdir.
“Maafkan aku, Sena….”

“Ah, Raras. Sudahlah…. Tak ada yang harus dimaafkan… Tak ada satu pun manusia yang sudi mempersilakan leukhimia menggerogoti tubuhnya. Begitu pula kamu…..”

Tatapan Raras kian mesra. Haru biru bergemuruh dalam kalbunya, ketika dia akhirnya mendapatkan cinta yang benar-benar dari seorang pria, sebagai wanita yang dipasung oleh sakit parah dan dicegat maut yang kian mendekat. Ketika Teto, pria yang selama dua tahun mengaku mencintainya itu, memilih kabur, membiarkannya dalam nyeri dan sepi, saat mendapati kenyataan sel darah putih mendominasi tubuhnya, Sena datang, memberinya pelukan terhangat, ketika hitungan mundurnya mendekati habis.

Beberapa saat lagi Imsak berkumandang.

“Yang harus kita syukuri, Raras, cinta yang bebas dari rewelnya nafsu telah memberikan kita kesempatan untuk menikmatinya, kendati pun ada keterpenggalan ruang dan waktu di antara kita. Cinta yang jauh dari birahi memberikan kita kenikmatan yang menembus batas dimensi…”

Senyap untuk beberapa saat. Kenanga kian menyeruakkan aromanya ketika pelukan mereka lepas bersama lunglai dan enggan.

“Untukmu, Raras….” Sena mempersembahkan segenggam kenanga; bunga-bunga yang aromanya begitu digandrungi Rarasati. Bunga-bunga itu menemani Raras yang terkulai lemah di rumah sakit itu, selama sepekan penuh. Harum dan meresap. Kenanga itu adalah Sena dan cintanya; pengejawantahan dari damai yang mengantarkannya menuju pulang.

Raras menerima persembahan Sena bersama senyum yang mengemas harapan, bahwa dia yakin, suatu saat dia dan Sena akan berbagi kehangatan. Seperti sepekan itu, sebelum leukhimia menyudahi urusan duniawinya sepekan sebelum malam itu.

Dua pekan itu penuh kenanga, yang aromanya bercerita tentang Sena dan cinta. Sepekan untuk wadag Rarasati, sepekan lagi untuk sukmanya.

Raras memandang Sena yang mulai menjauh, mengayun langkah enggan menuju gerbang keluar areal pemakaman umum. Dihirupnya segenggam kenanga itu dalam-dalam, lalu ditaburkannya untuk tanah makamnya yang masih merah.

***

Azan Subuh berkumandang Syahdu; “Marilah menuju kebahagiaan…

Sena mampir ke masjid yang tak jauh dari makam. Diambilnya air wudhu, bersujud dalam jamaah, lalu bertafakur, berucap syukur untuk kemegahan rasa yang dianugerahkan Sang Maha Cinta padanya.

Cinta yang datang tiba-tiba pada Rarasati, pasiennya yang sedang dirajam patah hati dan direnggut perlahan namun pasti oleh leukhimia. Cinta duniawi yang hanya dia cicipi sepekan. Cinta yang sempat disesalinya, sebab dirasanya datang terlambat, hingga akhirnya dia sadar bahwa Sang Maha Pengasih memiliki perhitungan-Nya sendiri, perhitungan sempurna tanpa cacat, tentang saat yang tepat untuk memberikan nikmat pada umat yang percaya pada cinta-Nya.

Sepekan yang memberinya kesempatan untuk mempersembahkan kenanga, yang tumbuh subur di taman kecil di belakang rumahnya itu, pada tubuh Rarasati yang masih bernapas. Dan sepekan lagi untuk Rarasati yang dijumpainya dalam bentuk sukma. Dua pekan bersama kenanga.

Kenanga, bunga yang tak pernah diduganya ternyata sangat disukai oleh Rarasati.

“Dokter, dari mana kenanga-kenanga itu? Lama aku tak menghirupi aromanya. Aku menyukai bunga itu, namun aku tak tahu di mana bisa memetiknya.” Pertanyaan Rarasati yang sedang pucat pasi itu, ketika Sena yang rajin membawa kenanga untuk pengharum alami kantornya, mampir untuk memeriksa perkembangan kondisi Rarasati sembari membawa se-tas plastik kenanga, adalah awal dari kemegahan cinta yang hadir tiba-tiba. Sena hanya akan jatuh cinta pada wanita yang bisa menerima kenyataannya sebagai pria penyuka bunga, terutama kenanga. Pria yang kerap dipandang feminin dan dicibir. Tak hanya sekali-dua Sena disakiti perempuan-perempuan penyuka gairah dengan cibiran ‘banci’ itu. Apalagi dia memilih kenanga, yang aromanya begitu magis. Dia dipandang aneh, seperti dukun.

Sena belum pernah bertemu dengan perempuan yang diimpinya, hingga sepekan sebelum kematian Rarasati itu. Kenanga telah mempertemukannya dengan hati Rarasati. Kenanga mewakilinya bercerita tentang wangi cintanya pada Rarasati.

Puji syukur pada Penguasa Semesta Alam, untuk cinta tanpa nafsu badani, yang nikmat, yang menembus batas dimensi. Tanpa izin-Nya, pertemuan tujuh hari setelah kematian Rarasati itu tak akan pernah ada.

Sena yakin, Sang Maha Cinta menyimpan cinta itu untuknya dan akan mengganjarnya dalam bentuk yang paling kudus dan sempurna, ketika masanya nanti telah tiba. Waktu dan cinta hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang memilih sabar, tawakal, dan menolak takluk pada materi.

Sena menunggu masa itu tiba, bersama rumpun kenanga yang tumbuh berseroja di taman kecilnya.
       

Advertisements

2 thoughts on “Dua Pekan Aroma Kenanga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s