Pamayu Hayuning Bawana

KATANYA, dunia ini panggung sandiwara. Manusia-manusia yang lahir itu membawa perannya masing-masing. Katanya juga, peran yang dijalankan itu tercermin dari nama masing-masing orang. Katanya begitu…

Baiklah, namaku Harjuna Shakti Mandraguna Pamayu Hayuning Bawana. Kalau peran setiap orang diukur dari namanya, mestinya kalian bisa membayangkan seberapa hebat peran yang harus aku tanggung bukan? Sebagai Harjuna, si ksatria ganteng yang saktinya luar biasa, sebagai pamayu hayuning bawana, penjaga kedamaian di muka Bumi! Wuih, aku saja ndredeg tiap mengingat tanggung jawab dari namaku itu…

Tapi, kalian tak usah bingung bagaimana memanggilku. Aku punya nickname yang cukup gampang diingat kok; Jaja. Soal nama lengkap dan panggilan, itu semua adalah bentuk kompromi antara bapakku yang Jawa tus, nyel, dengan mamaku yang mojang Priangan asli. Nama panjang Jawa, panggilan Sunda… Adil toh?

Sedikit intermezo, aku memang pantas disebut Harjuna karena aku berwajah ganteng. Setidaknya itu kata mamaku, yang selalu merasa bangga telah menurunkan gen bagus rupa padaku…

Skip.

Kembali ke laptop. Katanya, peran itu bisa dilihat dari nama. Jika melihat namaku yang berat, peran yang harus aku lakoni itu berat juga. “Kamu harus bisa jadi penengah, Le. Kamu harus bisa jadi pria berkharisma yang bisa menjadi pelipur dalam semua suasana. Begitu to, Ma?” begitu Bapak sering menasehatiku, lalu minta persetujuan Mama, yang dijawab, “Sok, atuh…”

Baiklah, katanya dunia itu panggung sandiwara. Aku punya peran yang harus aku jalankan. Jaja harus jadi pamayu hayuning bawana!

Suratan rupanya membawaku pada peran yang cukup berat. Pergaulan membawaku masuk dalam dunia hitam lingkaran pemakai narkoba. Eits, jangan buru-buru suuzon. Dosa. Aku nyemplung dalam pergaulan itu bukan untuk larut. Tapi aku harus jadi penengah ketika kawan-kawanku yang sedang mabuk obat gendeng itu nyaris bikin keributan.

Mmm… Baiklah, aku ngaku. Aku sempat mencicipi ganja dan sabu-sabu. Tapi, sumpah, cuma sekali dan aku langsung kapok. Pakai gitu-gituan tak ada faedahnya sama sekali.

Aku pernah mencoba menghisap ganja. Efeknya? Malas, ketawa-ketiwi tanpa musabab, persis wong edyan! Kalau efeknya habis, plonga-plongo kayak rusa saba kota. Sebagai manusia yang masih punya rasa malu, aku memutuskan untuk tidak jadi menggauli ganja.

Aku juga pernah coba-coba pakai sabu-sabu. Byuh, sumpah, kagak ade enak-enaknye! Mata tak mau diajak istirahat. Maunya badan gerak terus. Keringat menggerojok seperti Grojogan Sewu di Tawangmangu. Kalau tak ada kegiatan, sementara masih on, seringkali melakukan hal yang sama sekali nggak penting, dan lama-lama bikin malu.

Contoh, pas make itu, saking bingungnya mau apa, seluruh isi rumah malam-malam aku bersihkan. Kalau itu, lumayan lah, masih ada efek baiknya. Tapi, urusan rumah selesai, tubuh dan otak ini masih belum mau rehat. Karena tak tahu mau apa lagi, akhirnya malam itu aku menghitung jumlah bintang di langit. Ini bukan perumpamaan, tapi ngitung beneran! Satu, dua, tiga……. dua ratus….. tujuh ratus lima puluh satu…. Faedahnya apa coba?

Pas efeknya sudah hilang, badan rasanya seperti disetrika sepasukan gajah yang ikut bertempur di Padang Kuru dalam maha-laga Mahabharata!

Sebagai orang yang masih ingin punya akal sehat dan tubuh yang perlu istirahat, aku memutuskan tidak jadi bersilaturahim dengan sabu. Cukup dan terima kasih. Mensana in corpore sano!

***

Katanya, dunia itu panggung sandiwara, dan setiap orang punya peran. Mungkin peranku memang pelipur, seperti kata Bapak. Aku tak akan mungkin bisa menjalankan peran itu jika aku larut dalam barisan pemakai. Sialnya, sepertinya, peranku itu tak jauh-jauh amat dari dunia narkoba. Mungkin ini hukuman untuk dosaku, yang pernah coba-coba nyicip barang haram…

Suatu malam, tiba-tiba ponselku bernyanyi. Kulihat layar, Gendon yang menelepon. Dia itu preman di kotaku dulu, tapi bisa ‘jinak’ di hadapanku. Mungkin itu pengaruh dari namaku yang sangat berkharisma itu. Harjuna kan disungkani banyak orang.

Dia itu maniak sabu. Jarang tidur. Makanya, tak heran jika dia telepon malam-malam. Aku dimintanya datang ke sebuah pagelaran wayang kulit semalam suntuk di sebuah tanah lapang. Katanya, dia habis nyabu dan butuh teman nonton wayang. Kata Bapak, aku harus mau membantu siapa saja, demi kedamaian di muka Bumi. Mengingat wejangan itu, dengan mata masih kriyip-kriyip ngantuk, aku njujug ke TKP. Tanggung jawab pelipur….

Sampai di lapangan yang dimaksud, Gendon tampak menonjol. Gimana nggak nonjol, semua orang duduk krukupan sarung, dia berdiri. Bersedekap tangannya, pandangannya lurus ke depan. Matanya jarang kedip. Sepertinya dia sedang serius menyimak lakon yang diangkat oleh si dalang. Meski dia mengganggu pandangan penonton lain, tak ada yang berani menegurnya. Preman.

Begitu tahu aku datang, dia tampak senang. Dia senyum sekejap untukku, lalu buru-buru kembali mengalihkan tatapan pada pertunjukan wayang. Sumpah, mukanya serius sekali, seperti sedang benar-benar menghayati cerita yang sedang mengalir. Aku yang ketinggalan cerita, tanya; “Ini lakonnya apa?”

“Embuh! Aku sendiri nggak paham!” Gendon menjawab dengan mimik serius.

Glodyak!

Berjam-jam dia berdiri, konsentrasi  menatap panggung, tapi nggak paham?! Ya TuhanSekejam itukah methapetamin menghajar otaknya..?

Wooooiiiii….! Pak Dalaaaaannnnggggggg! Ulangi dari awal!!! Aku nggak paham ceritanya!!!” teriakan Gendon tiba-tiba mengoyak kekhusyukan pertunjukan.

Para niyaga menghentikan lantun gamelan. Sinden bungkam, Pak Dalang hampir mencolot dari duduknya.

Wah, ini bisa jadi masalah! Kalau tidak dituruti, Gendon bisa ngamuk. Tapi untuk dituruti, itu tak mungkin, Pak Dalangnya yang bisa-bisa ngamuk.

Sebelum Gendon dilempar gong, buru-buru kupegang tangannya, kugelandang dia menjauh dari kerumunan. “Sudah, sini, aku ceritakan sendiri lakon wayang tadi!” Nah, di sinilah aku jadi pelipur. Demi menjaga keamanan situasi dan kondisi, kudongengkan salah satu lakon wayang yang aku ketahui, yang jelas beda sama sekali dengan lakon yang diangkat Pak Dalang. Tak masalah, wong Gendon juga tak tahu saja.

Aku ndalang tanpa wayang, privat, khusus untuk Gendon. Namanya saja dia habis nyabu, nyerocos terus tanya bagian-bagian yang dia tak pahami. Dan aku harus dengan sabar meladeni pertanyaannya, yang kebanyakan nggak penting banget itu. Seperti; biasanya Bimasena itu pakai celana dalam merek apa? Sabar yo Ngger… Sabar…..

Ya sudahlah. Dunia itu panggung sandiwara. Semua orang punya peran. Malam itu aku menjalankan peran sebagai pamayu hayuning bawana….

Urusan Ganden selesai. Tapi, peranku sebagai Harjuna Sakti Mandraguna Pamayu Hayuning Bawana tak akan pernah usai.

Gendon berlalu, datanglah Tenyom, rekan sejawat Gendon dalam dunia per-sabu-an. Gendon telepon aku lagi. Kali itu, efek sabunya sudah habis. Badannya lemas, tidak bisa apa-apa. Dia minta aku datang ke rumahnya, karena ada sedikit masalah dengan Tenyom yang dia tak bisa atasi. Duh… Masalah lagi….

Ternyata Tenyom yang numpang nyedot sabu di rumah Gendon sedang parno. Jabang baby…! Tahu, apa masalah Tenyom? Tak ada hujan, tiada angin, Tenyom yang nyedotnya kebanyakan tiba-tiba mendamprat kuli bangunan yang sedang bekerja sekitar 350 meter dari rumahnya. Katanya, dia merasa mendengar kuli bangunan itu sedang ngerasani alias ngomongin dia! Dari jarak 350 meter…? Alamak…. Kejamnya paranoid….

Untung saja dia tidak dikepruk batako sama kuli yang dilabraknya. Wong orang nggak salah apa-apa kok tiba-tiba dihujat. Pak Kuli kebingungan sekaligus dongkol. Aku mewakili Tenyom yang merasa benar itu minta maaf pada Pak Kuli, lalu kugiring monyet itu pulang kandang.

***

Dunia ini panggung sandiwara, semua orang punya peran, termasuk seorang Harjuna Shakti Mandraguna Pamayu Hayuning Bawana alias Jaja. Dua momen tentang Gendon dan Tenyom itu hanya secuplik dari serentetan panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnngggggggggggggggggg kisah-kisah kelakuan orang-orang seperti mereka yang harus aku lipur. Aku sungkan menceritakan semuanya padamu. Selain aku capek mengetik, aku tak mau membuatmu terharu menyimak beratnya lakonku di panggung sandiwara ini. Kalau kaca bisa pecah, kayu juga bisa patah, Jaja tak pernah menyerah.

Sudahlah, kalau kalian orang yang merasa masih memiliki harga diri, sungkan, dan malu, nasehatku sebagai pamayu hayuning bawana adalah; say no to drugs! Bikin malu diri sendiri. Bikin repot orang lain. Dan, kalau kalian iseng-iseng lalu terjerumus, bisa jadi kalian akan menambah panjang lakonku. Kumohon, jangan… Cukup sudah cobaanku selama ini…

Terima kasih jika kalian sudi untuk mengerti. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s