Resep Jamu Komplit untuk Menulis

Assalamualaikum Warohmah Wabarokah…

Wilujeng, sederek? Syukron…

Jadi begini; beberapa kali saya menerima curhat dari beberapa teman dan adik-adik yang pengen nulis, tapi urung terus menulis. Ada saja alasannya. Padahal, tulisan mereka pada dasarnya oke. Itu bukan cuma saya lho yang berpendapat, tapi banyak teman-teman penulis mengamini kalau tulisan mereka layak baca dan bersahabat dengan mata juga logika –setelah saya bagi karya mereka pada teman-teman lain yang jam terbangnya sudah tinggi, tinggi sekali, seperti naik-naik ke puncak gunung…

Tapi, masalahnya, mereka seringkali drop. Dari seabrek dalil yang dikemukakan pada saya, bersama otak saya yang baru sembuh setelah dihajar demam sporadis semalaman, saya menyimpulkan; masalah paling mendasar mereka itu adalah nggak pede, ujung-ujungnya mengkeret takut.

Daripada saya harus menjelaskan satu persatu masalah itu –mulai dari mengusut dasar problematika sampai menyajikan solusi– saya rangkum saja resep sederhana untuk membunuh krisis pede dan ketakutan dalam menulis itu.

Maaf kalau kadang cangkem saya ini agak sudrun dalam memberikan solusi. Soalnya, saya paling nggak bisa ngerti sama orang-orang yang pesimistis, apalagi yang sampai-sampai secara tak sadar sedang “membunuh dirinya sendiri”. Cangkem saya yang sering ngawur ini, demi langit dan Bumi, sebenarnya membawa niat baik. Saya ingin mengusir “setan” yang menakut-nakuti mental sampean itu dengan “setan” lain dari cangkem saya. Setan dilawan setan, begitu lho maksud saya. Sampean paham? Sukur ngalkamdulillah

Takut. Ini masalah paling mendasar dan ruwet yang sebenarnya diciptakan sendiri oleh orang yang merasakan takut. Tolong diperhatikan ya, takut itu perasaan yang sampean ciptakan sendiri. Takut itu adalah hama yang malah dengan sengaja sampean tanam sendiri. Bayang-bayang ketakutan, atau hama dalam jiwa itu, tumbuh semakin subur jikalau sampean memberi kesempatan pada hama takut itu untuk tumbuh subur. Soal ini, belajarlah pada pak tani bagaimana cara mereka menangani gulma. Tahu kan? Ya dibabat saja. Bunuh rasa takutmu sendiri.

Baiklah, saya coba uraikan, apa saja biasanya setan-setan yang bikin sampean semua takut, sekaligus jampi-jampi buat menangkalnya.

Pertama, biasanya sampean takut berkarya itu karena tak pernah siap menerima pendapat miring atau kritik dari orang lain tentang karya sampean. Jika ini masalahnya, hal pertama yang perlu sampean lakukan adalah; maaf, coba ngaca, apakah sampean masih manusia? Atau minimal masih merasa sebagai manusia? Kalau iya, belajarlah menerima kritik, sejauh itu membangun. Manusia itu kan jelas tak bisa lepas dari kekeliruan. Kritik itu datang untuk mengingatkan sampean.

Kalau sampean tidak siap menerima kritik, berarti kesalahan ada di diri sampean sendiri, bukan pada orang lain. Mungkin sampean terlanjur keblinger, merasa huebat sebagai malaikat, atau malah ngerasa jadi Tuhan yang Maha Benar. Kalau memang begitu coba ngaca… Ngaca… Kalau bayangan sampean masih terpantul di kaca, ya berarti sampean bukan malaikat, apalagi Tuhan. Sebab itu, terimalah kodrat sampean sebagai makhluk yang tak luput dari salah. Justru berterima kasihlah pada mereka yang menyampaikan kritik.

Kalau sampean tetap tidak bisa menerima kenyataan bahwa bayangan sampean masih bisa dipantulkan cermin, cobalah sesekali ngobrol sama psikiater. Sepertinya sampean punya masalah serius… Hehehe…

Soal menerima kritik, tenang, ada jurusnya. Jika kritik itu datang, cobalah tanya ke si pengritik itu, kenapa dia mengkritik. Uber dia sampai pada penjelasan yang bisa sampean terima, kalau perlu sampai ke ujung dunia (halah…). Kalau dia tidak bisaΒ  memberikan penjelasan yang bisa sampean terima dengan akal sehat dan hati nurani yang luhur, apalagi sampai ada kata “pokoknya” dari dia, wes mending sampean tinggal pergi saja, tak usah didengarkan. Itu kiritik mudharat.

Saya berani taruhan potong kuku, orang yang mengeluarkan kata “pokoknya” itu biasanya orang yang tak bisa memberikan solusi. Orang-orang seperti itu, biasanya, kerjaannya cari-cari kesalahan orang lain. Tipikalnya fasis yang sangat narsis. Menurut saya, jika komunikasi dengan orang seperti ini dilanjutkan, hukumnya haram. Orang-orang seperti itulah yang membunuh semangat berkarya, nggak ridho lihat orang lain berkembang.

Kritik yang sehat itu biasanya datang sepaket dengan solusi. Kalau tak ada solusi dari kritik, anggap saja sampean ngomong sama manuk emprit, lalu tinggalkan orang itu, biar dia ngoceh sendiri, dan carilah teman diskusi yang lebih manusiawi. Kalau orang seperti ini masih saja ngeyel nguber sampean, ada doanya kok; shummun, bhukmun, umyun… Nanti dia lak ngabur. Hehehe…

Kedua, jangan sekali-sekali merasa rendah diri. Kalau sampean terus-terusan merasa rendah, lama-lama minder, dan itu bakal jadi sindroma kepiting bagi diri sampean sendiri. Tapi ya jangan keblinger dengan menempatkan diri lebih tinggi. Yang sedang-sedang sajalah…

Sebenarnya tidak ada orang lebih pinter itu. Yang ada itu orang yang lebih berani; berani mencari tahu sehingga dia tahu lebih banyak hal. Seringlah berdiskusi dengan orang-orang seperti itu. Sampean bisa belajar menjadi berani dari dia, sekaligus nyolong ilmunya. Itulah satu-satunya pencurian yang dihalalkan, nyuri ilmu. Jangan takut untuk berpendapat. Tapi, kalau berpendapat mbok ya jangan ngawur

Kalau semua resep itu sudah sampean coba, tapi sampean masih galau mau menulis, perlu sampean ketahui, menurut wejangan Eyang Pramoedya Ananta Toer, menulis itu proses yang membebaskan. Membebaskan manusia dari rasa takut. Membebaskan manusia dari ganjalan dan uneg-uneg, dengan menumpahkannya melalui tulisan.

Pendapat tulis itu bisa disalurkan dalam banyak bentuk. Kalau sampean ragu untuk beropini murni dalam tulisan, karena ragu dengan otoritas keilmuan formal sampean sendiri, ya bercerita saja lah, dengan gaya bebas, sembari selipkan opini di dalam tulisan cerita itu. Yang penting logis, dan bisa diterima hati nurani yang luhur. Negara kita menjamin kebebasan berpendapat kok

Kalau semua itu sudah sampean coba, tapi masih saja takut nulis, biasanya ada dua permasalahan; sampean kurang banyak membaca, untuk itu sampean perlu lebih banyak membaca, atau sampean dikutuk. Kalau alasan terakhir yang terjadi, maaf, dengan sangat menyesal saya hanya bisa mengusulkan, coba sampean taubatan nashuha atau sering-sering mandi kembang.

Sekian dan wassalam warohmah….

image

Tofik Pram

Advertisements

16 thoughts on “Resep Jamu Komplit untuk Menulis

  1. Hehehehehhehe ini resep nulis yg lain dari yg lain sepertinya….yg pernah sya denger…itu dari konsep menjabarkan 5 w 1 H,dll….yg bersifat bagaimana mengembangkan teoritis dlm penulisan….atau aku yg ga terlalu banyak baca ya(jd malu)but….aku suka tulisan ini…karna alasan mendasar kadang2(pengalaman pribadi)suka merasa ga bakal diterima duluan…makasih bung tofik…senang akhirnya berjodoh dengan anda:)

    • Alhamdulillah tulisan saya ada faedahnya, hehehe. Kadang kita terlalu gemar memperumit hal yang sebenarnya sederhana. Kuncinya cuma berani berpikir sederhana dan mau rendah hati menerima kritik kok. Soal teori bla, bla, bla, itu bakal mudah kalo hal2 mendasar yg sering dilupakan itu sudah dibenahi. Salam. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s