Di Lapak Bawang

1

SATU tetes hujan pagi itu, dengan nakalnya, menerobos sela genteng rumah Bambang. Terjun bebas dia, mencocor mulut penghuninya yang masih menganga membagikan aroma alkohol untuk seluruh isi ruang pengap ukuran 3×3 meter itu.

Tik…

Uhuk, uhuk!

Mata Bambang yang masih berat, karena umbar-umbaran menenggak alkohol yang lebih mirip methanol itu hingga masjid kampungnya mengumandangkan Imsak, dipaksa terbuka.

Hari itu telah sampai pada pukul sembilan pagi. Hujan telah menjamahi tanah sejak tiga jam sebelumnya. Sebuah pagi yang damai di sekitaran pasar sayur yang tak pernah sepi dari tarik ulur makhluk-makhluk ekonomis.

***

Siapa tak kenal Bambang?

Tanyakan pada seluruh orang di dalam pasar itu, mereka pasti tahu Bambang. Bambang adalah pria pertengahan 30 dengan kharisma konotatif yang membuat seisi pasar takluk oleh kebuasannya. Tak ada nyali yang sudi berhadapan dengan gertaknya yang mirip-mirip bunyi truk tronton yang tersambar kereta cepat dan kepalannya yang sebesar bola bowling itu.

Konon, kala bayi dia dibuang orangtuanya, yang datang entah dari mana, ke pasar sayur itu, pada suatu pagi. Dia ditemukan terbungkus dalam kardus, di dekat tumpukan sampah sayur, oleh seekor anjing kudisan milik raja pasar terdahulu, yang namanya juga Bambang. Bambang Bacok julukannya. Bambang senior memang paling hobi main bacok.

Bambang Bacok, yang baru saja mengamuk gara-gara kalah judi dan pelacurnya dibawa kabur orang lain, yang bingung mencari anjing kudis kesayangannya, mendapati peliharaannya sedang menjilati bayi yang masih merah. Dan, entah kenapa, tak ada satu pun orang yang tahu alasannya, Bambang senior yang sadis itu mendadak melankolis melihat bayi merah menangis.

Tentu tak ada yang berani bertanya soal sentimentilnya Bambang Senior. Mau dibacok?

Dipungutnya orok itu, diadopsinya tanpa proses administrasi, dan dinamai Bambang Junior. Mungkin dia terinspirasi oleh George Bush atau Robert Downey yang menamai anaknya sama dengan nama bapaknya.

Bambang Junior dibesarkan bareng empat ekor anjing kudisan. Mereka dididik dengan cara yang persis serupa. Hidup itu hanya untuk makan dan bertarung, begitulah doktrin Bambang Bacok. Bambang kecil sengaja digembleng dan diharapkan menjadi suksesor Bambang Bacok, jika suatu saat nanti dia purna tugas. Sekaligus demi keberlangsungan dinasti Bambang di pasar sayur itu.

Bambang Junior resmi meneruskan tampuk kekuasaan ayah ideologisnya di kala masih sangat muda, umur 18 tahun jika tak salah. Itu karena Bambang Bacok yang belum waktunya pensiun mati menyeramkan, akibat komplikasi sipilis dan rabies –setelah digigit anjingnya sendiri. Bambang Junior mendapat warisan rumah kontrakan –yang lebih mirip hak milik. Sebab, pemiliknya tak pernah berani menagih sewa.

Punya kekuasaan penuh di saat usia masih sangat muda membuat Bambang lepas kendali. Hobinya meremukkan belulang orang lebih mengerikan daripada hobi bapak angkatnya yang main bacok. Kepalannya, sumpah, sama persis dengan bola bowling, baik besarnya maupun kadar kerasnya.

Siapa tak keder melihat Bambang?

Sekujur tubuhnya, mulai leher hingga betis, penuh ornamen tato. Rajah tubuh yang, sepertinya, berangkat dari niat yang salah.

Seperti gambar di leher kanannya. Seharusnya ada mawar yang menempel di situ. Namun, dalam penampakannya, lebih pantas disebut kubis. Ada gambar tribal di lengan kanannya, yang lebih pantas disebut akar tunggang.

Pembuatnya adalah seniman amatir yang buka galeri di sekitaran pasar. Sebenarnya, karyanya tak jelek-jelek amat. Rajahnya menjadi aneh di tubuh Bambang karena dua sebab. Pertama, karena sebenarnya penampakan kulit Bambang, yang hitam kusam itu, kurang pantas untuk ditinggali tato. Kedua, karena tato itu dibuat ketika sang seniman di bawah tekanan. Sebuah karya yang berproses bersama rasa takut kerap melahirkan bentuk yang kalut. Contohnya tato-tato Bambang itu.

Mungkin, ketika dalam proses merajah leher kanan Bambang dengan bunga mawar itu, imajinasi yang bermain di kepala sang seniman adalah kepalan tangan si pasien. Atau sayur-sayuran dalam pasar. Maka, tumbuhlah kubis untuk titik yang seharusnya ditempati mawar merekah. Percayalah, berkarya dalam imajinasi yang kacau itu berbahaya.

Untungnya, Bambang yang tak paham keindahan seni bisa menerima mawar yang menyamar sebagai kubis itu. Yang penting terlihat makin sangar, terlepas dari bentuk gambar. Si seniman pun tak harus berurusan dengan bola bowling yang menyamar dalam kepalan Bambang.

Siapa tak kenal Bambang?

Dengan aroma naga mulutnya yang identik dengan embusan alkohol itu –dan pasta gigi tak bisa menghilangkannya, atau mungkin juga dia tak pernah gosok gigi— semua orang menangkap sosok Bambang sebagai pribadi yang mengerikan. Raja tega. Tak kenal belas kasihan. Tak punya otak, hanya mempercayai kepalan tangannya untuk menyelesaikan semua urusan. Sebab itulah semua pedagang memilih untuk menyisakan dua ribu untuk Bambang setiap hari, di samping retribusi resmi harian dari Pemda yang besarnya sama.

2

SETELAH sedak, Bambang menuju kamar mandi penuh lumut untuk cuci muka seperlunya. Dia nyalakan batang rokok yang tinggal separuh. Diisapnya dalam-dalam, untuk memastikan matanya telah melek benar.

Dia tatap tetes-tetes air langit yang sedang bermain riang hari itu. Matanya menelusup jauh di sela rintiknya. Dia merasakan degup ketika memandanginya. Semakin dalam dia memandang, semakin berdentum jantungnya.

Ada apa denganku?” gumam Bambang, sok menirukan salah satu lirik lagu Peter Pan, di sela kepulan asap rokok yang menerabas keluar melalui gigi-giginya yang cokelat. Sepertinya dia memang tak pernah gosok gigi.

Dia embuskan napas kuat-kuat, lalu bangkit menyahut jaket kulit untuk membungkus tubuhnya, meminimalisir godaan gerimis yang sedang genit. Dia harus ke pasar untuk memberikan kepastian rasa aman pada seluruh pemilik lapak, sekaligus menarik iuran harian untuk jasanya itu.

Langkahnya pagi itu terseret gontai. Membelah gerimis yang tak henti-henti mengerjainya. Kalau saja dia bisa, mungkin sudah dihajarnya habis serombongan air yang jatuh dari langit itu.

***

Satu persatu lapak dia telusuri untuk memungut dua ribu rupiah dari tiap pemiliknya. Tak ada satu pun yang terlewatkan. Dimulai dari lapak sayur Pak Sarno di ujung timur, arah dari mana Bambang datang.

“Matamu merah sekali, Mbang. Belum tidur?” kata Pak Sarno, sembari menyerahkan selembar duaribuan pada si penguasa pasar.

Yang ditanya menjawab sekenanya tanpa menatap si penanya; ”Iya bos. Habis Subuh tadi baru tidur. Si Doel dan Jati ngajak pesta semalam. Doel senang, dia akhirnya punya anak lelaki”.

Pak Sarno sebenarnya menyadari, beberapa saat belakangan Bambang lebih sering menunduk. Entahlah, ada apa dengan si preman. Pak Sarno juga enggan bertanya. Segan, tepatnya. Bambang mengucek mata yang dirasanya masih pedas. Gerimis tak bisa menghilangkan kepedasannya. Malah menambah.

Oalah, ya sudah,” respon Pak Sarno singkat. Lalu dia meneruskan melayani pelanggannya yang berpayung.

Sepertinya iuran untuk Bambang itu diserahkan Pak Sarno dengan ikhlas. Seperti orangtua yang memberi uang jajan untuk anaknya. Mungkin, karena tarikan dari Bambang itu rutinitas. Tak ada yang canggung dengan sebuah kebiasaan. Hanya pedagang baru saja yang merasakan dagdigdugder ketika untuk pertama kalinya Bambang menyambangi. Tapi itu hanya di awal. Lama-lama terbiasa juga.

Memang, selalu ada debar di saat pertama. Setelah itu, semuanya jadi biasa. Dinamika jiwa yang diberikan semesta pada manusia, mungkin. Perlu sedikit sensasi di awal sebuah proses pembiasaan.

Gerimis pagi itu sepertinya menghadapkan Bambang pada sebuah kerikuhan mahapelik. Karena itulah, dia melangkah gontai sedari rumah. Sepertinya, dia berangkat memunguti iuran itu dengan setengah niat. Sepekan terakhir Bambang seperti itu. Ada yang aneh. Tapi, tentu saja tak ada yang berani bertanya padanya. Siapa tak kenal Bambang? Raja tega. Berani tanya, berani cidera.

Dia selusuri merata semua lapak. Sudah dua puluh pedagang dia satroni pagi itu. Ketika nyaris sampai di lapak Bawang milik Sri, pedagang yang baru sepekan membuka lapak di dalam pasarnya, telapak kaki Bambang yang dialasi sendal selop butut itu seperti terpaku di tanah pasar yang basah. Ada perdebatan seru dalam diri Bambang: terus atau tidak? Dia khawatir, kalau dia lewati lapak itu begitu saja tanpa pungutan, dia membunuh rasa keadilan. Pilih kasih dalam memungut iuran. Harga dirinya sebagai penguasa dan pengayom bisa runtuh. Kredibilitasnya bisa hancur.

Tapi, kalau harus mampir ke lapak Sri, keberanian Bambang mendadak ludes. Tersedot jauh bersembunyi ke telapak kakinya, lalu dihisap oleh tanah basah, bersama gerimis pagi. Sepertinya, kulit cokelat, rambut panjang yang diikat ala ekor kuda, dan suara Sri yang melengking merampas keberaniannya.

Bambang tak begitu tahu Sri. Yang dia tahu, Sri adalah pedagang yang baru seminggu membuka lapak di situ. Dia datang dari sebuah kampung di Jawa Tengah, dan coba berpacu dengan pemburu rezeki lain di Ibu Kota. Kalau tak salah, Sri itu dari Crocodile Forget. Boyolali….

Sri mendapat warisan lapak bawang dari Mak Warsi, yang memilih untuk pulang ke desa dan bertani. Bambang juga tak tahu ada hubungan apa antara Sri dan Mak Warsi. Katanya, Mak Warsi itu masih ada hubungan kerabat dengan ibunya Sri. Informasi itu tak dia dapat langsung dari sumber utama. Dia mendengar dari keterangan pedagang lain.

Sedangkan seisi pasar bermufakat untuk menahbiskan Sri sebagai perempuan paling bohai. Mukanya manis, bodinya mantap. Janda kinyis-kinyis lagi.

Tiap kali derap langkah sangar Bambang nyaris tiba di lapak Sri, dia mendadak menjadi vampir yang takut bawang. Yang bawang putih itu, di mata Bambang seperti jimat penolak bala, yang mengusir jauh-jauh setan yang hidup dalam dirinya. Sedangkan yang merah, sepertinya Bambang melihat itu adalah stroberi merah menyala yang selalu membuatnya bergidik!

Sedikit rahasia Bambang yang mungkin perlu kamu ketahui; dia punya masalah serius dengan stroberi. Lubang-lubang kecil di permukaan buah itu, dalam bayangan dia, seperti borok rabies bapaknya. Dia selalu bergidik jika mengingatnya. Tapi, jangan kamu beritahu dia aku sudah memberitahumu. Bisa remuk aku nanti.

Kembali ke Bambang. Gestur anehnya seminggu itu berhasil menghadirkan bisik-bisik pedagang: ada apa dengan Bambang? Tapi, tentu saja, tak ada yang berani bertanya.

Siapa tak kenal Bambang?

Terakhir kali, orang yang menanyakan ketaklaziman padanya harus rela jadi pasien rumah sakit karena patah tulang. Bambang dua kali keluar-masuk bui karena kasus kekerasan, salah satunya berpartisipasi dalam menghilangkan nyawa orang.

Siapa berani melawan Bambang?

Siapa? Sejauh itu, semua orang sepertinya segan terlibat konfrontasi dengan otot-otot kekar Bambang yang didukung penuh nyalinya yang ngawur.

Tapi…

Sepertinya Sri berani melawan Bambang. Buktinya, dia berhasil menyelamatkan uang empat belas ribu rupiah yang seharusnya dia bayarkan sejak seminggu membuka lapak di situ, dari kantong Bambang.

Apa Sri tak kenal Bambang? Sampai dia begitu bernyali nekat menolak pungutan Bambang. Tak takut lapaknya diberesi?

Ah, tentu saja dia kenal. Bambang kan terkenal.

Semua pedagang baru selalu diperkenalkan pada sosok Bambang oleh para seniornya. Biasanya, penggambaran awal tentang Bambang yang dihadirkan pada pendatang baru itu adalah; “Turuti saja permintaannya. Jangan macam-macam, atau lapakmu akan terbelah jadi dua puluh lima, dan semua belahannya itu akan menancap di kepalamu.” Indah kan protokolernya?

Setelah prakondisi, biasanya si empunya nama baru datang langsung untuk urusan administrasi harian yang harus dibayarkan. Tapi, kenapa Sri luput dari urusan itu? Apa yang dilakukan Sri?

Beberapa pedagang sempat bertanya pada Sri, apa resep janda mati dengan dua anak itu, sehingga dia begitu saktinya bisa selamat dari jangkauan Bambang. Si perempuan 32 tahun yang ditanya tentu saja geleng kepala karena bingung.

”Saya juga ndak tahu, Pak. Wong saya juga sudah menyiapkan dua ribu tiap hari, tapi ndak pernah diambil. Yo wes,” jawab Sri polos, ketika Pak Suroso –pedagang tahu tempe yang lapaknya bersebelahan dengannya– bertanya heran padanya, ketika tiga hari Sri membuka lapak tapi selalu selamat dari terkaman Bambang.

Bahkan, ada yang bersuuzon menyebut, Sri mengganti setorannya dengan tidur bersama Bambang. Status jandanya dan posisi Bambang yang, sepertinya, sangat butuh bersetubuh itu membuat prasangka itu kian liar.

Sri mengklarifikasi ghibah itu dengan nada tinggi, dalam logat Jawanya yang kental;

Cangkemnya itu lho! Saya ini tahu agama. Ngerti tata krama! Lagian, saya ndak kenal dia! Sumpah demi Pak-Mbokku!”

Yang jelas, Sri tidak berusaha menghalau Bambang dengan bawang-bawangnya. Karena Bambang masih leluasa berkeliaran di bawah sinar matahari.

Dia bukan vampir, meski ada persamaan antara Bambang dan vampir; suka mengisap. Satunya suka darah, satunya suka uang pedagang.

3

SEPERTI kelaziman seminggu belakangan, dari lapak Mak Sipen di kiri lapak Sri, Bambang meloncat langsung ke lapak tahu Pak Suroso. Dia lewati lagi dua ribu rupiah dari Sri, tanpa menoleh sekejap pun ke lapak, alih-alih menatap si empunya.

Sri lama-lama penasaran sendiri. Dia rikuh karena menjadi bahan gunjingan pedagang yang iri pada keselamatannya. Apalagi Sri dari Jawa Tengah, wilayah dengan kebudayaan yang masih kagum pada sungkan. Dia tak ingin yang lain iri.

”Mas, Mas, aku belum bayar seminggu lho. Ini Mas!” teriak Sri dari belakang bawang-bawangnya, sembari menyodorkan selembar sepuluh ribuan dan dua lembar dua ribuan pada Bambang yang sedang mungut di lapak Pak Suroso. Masih dengan logat jawanya yang kental. Medok.

Yang dipanggil tak acuh, malah bergegas. Cepat-cepat Bambang pungut jatahnya dari Pak Suroso, dan berlalu begitu saja membelah gerimis, setengah berlari, dan…

Gedebuk! Terperosok dia di sebuah lubang kecil. Jatuh menjengkang. Buru-buru dia bangkit, dan meneruskan larinya sambil sedikit terpincang, tanpa menoleh kanan dan kiri.

Tak ada yang berani menertawakannya. Setidaknya tertawa lepas. Tapi, dalam batin, yakin semua tertawa. Tawa tertahan yang datang sepaket dengan perut yang melilit kaku. Jarang-jarang Bambang berpose seperti itu.

Sri melongo, sambil masih memegang uang empat belas ribunya.

4

SEPERTI biasa, terminal akhir Bambang adalah warung kopi Mak Aci, di ujung barat pasar. Seperti biasa juga, segelas besar kopi hitam pahit sudah siap untuknya. Dari warung Mak Aci, Bambang mengkonversi pungutannya dalam bentuk kopi.

Kopi itu sepertinya cukup meredamkan amarah pada kekonyolannya sendiri barusan.

”Kemarin aye didatangi orang pemda, Mbang. Dia minta goceng sehari,” Mak Aci mengadu pada si penguasa, sembari menyuguhkan kopi.

Lho, biasanya kan cuma dua ribu Mak?”

“Bukan, ini bukan yang resmi. Lain lagi. Katanya kalau kagak mau bayar, mereka bisa ngusulin Pemda untuk penggusuran paksa di sini.”

He? Orangnya kapan ke sini lagi, Mak?” Bambang bertanya balik. Matanya mendelik.

”Ini tadi barusan pergi Mbang. Besok ke sini lagi, katanya. Aye udah bilang bayar ke elu, tapi dia kagak peduli. Dia malah nantang mau ketemu elu.”

Bambang makin mendelik.

Sialan! Besok aku datang lebih pagi Mak. Kurang ajar! Belum kenal Bambang!” si preman emosi. Dia merasa tertantang  dan dilecehkan. Khas perangainya keluar lagi, setelah sempat tumpas di depan lapak Sri tadi.

Dia seruput kopi Mak Aci, untuk meredakan sedikit marah dan malunya. Lalu, dia keluarkan pemutar musik dari saku jaket kulit kumalnya. Dia pasangkan headset di kedua kupingnya. Diputarnya lagu yang mendadak ada dalam daftar putarnya seminggu terakhir, sejak Sri membuka lapaknya.

Jangan berkata tidak bila kau jatuh cinta
Terus terang sajalah buat apa berdusta
Cinta itu anugerah, maka berbahagialah
Sebab kita sengsara bila tak punya cinta
Rintangan pasti datang menghadang
Cobaan pasti datang menghujam
Namun yakinlah bahwa cinta itu kan membuatmu mengerti akan arti kehidupan
Marilah sayang, mari sirami
Cinta yang tumbuh di dalam diri
Marilah sayang, mari sirami
Agar merekah sepanjang hari….

Alunan Arti Kehidupan dari Doel Sumbang mengambil alih irama rintik yang jatuh di atas tenda warung kopi Mak Aci dari kuping Bambang.

Siapa tak kenal Bambang?

Ah, sepertinya tak ada yang kenal Bambang; sebagai manusia yang juga punya dagdigduder. Yang dipaksa bertekuk di hadapan lapak bawang milik Sri yang semlohai.

5

BOYOLALI, 32 tahun yang lalu.

Pakne… Si Tole saiki neng endi ya…. Wes sak piro gedhene…?” Sumiati sesengukan di balai bambu di depan rumah. Di gendongannya ada seorang bayi perempuan yang terlelap. Wagino hanya menerawang, melepas pandangan kosong untuk persawahan yang telah dibungkus dengan rapinya oleh malam.

Gelap itu menyeret mereka dalam penyesalan masa lampau. Wagino dan Sumiati pernah melakukan kecerobohan luar biasa.

Pertemuan tak sengaja di Jakarta dua tahun sebelumnya, antara Wagino si pesuruh sebuah kantor dan Sumiati si pembantu, membawa keduanya pada hubungan yang menerabas norma. Hingga lahirlah seorang bayi laki-laki yang belum sempat mereka namai.

Panik dan ketakutan, mereka memutuskan untuk pulang ke Jawa Tengah, mohon restu menikah dari orangtua masing-masing. Membawa bayi hasil hubungan haram, itu jelas tak mungkin. Norma adat akan merajam mereka habis-habisan. Dititipkanlah bayi itu pada Warsi, teman Sumiati, pemilik lapak bawang di pasar itu.

Warsi dipilih karena Wagino dan Sumiati percaya dia bisa dipercaya. Warsi dan Sumiati bersahabat sudah lama. Dia adalah  janda tiga anak yang sudah pengalaman merawat bayi.

“Tolong dijaga beberapa bulan. Kami akan menikah di kampung, setelah itu kami akan mengambil kembali bayi ini. Tolong rahasiakan dari semua orang. Kami malu…” pinta Sumiati. Warsi menjawab dengan anggukan. Wagino memberinya uang sebagai ongkos perawatan.

Sejoli itu pulang untuk minta restu menikah. Untunglah, persetujuan bisa didapat cepat dari orangtua masing-masing mempelai. Menikahlah mereka dalam kemasan pesta desa yang sangat sederhana.

Ada lega di hati Wagino dan Sumiati. Mereka berhasil menyembunyikan dosa dari orangtua. Setelah pesta usai, mereka kembali ke Jakarta, untuk menjemput si Tole yang dititipkan pada Warsi.

Belalak dan cemas hinggap pada wajah Wagino dan Sumiati ketika Warsi dengan takut dan rasa bersalah menceritakan bahwa si kecil hilang. Semua gara-gara Bambang Bacok, si preman pasar, yang ngamuk sambil mengacung-acungkan golok, merusak lapak-lapak dalam pasar, pada di suatu pagi. Gara-garanya sepele, karena dia kalah judi, sementara lonte langganannya yang bisa dikasbon telah disambar orang lain. Warsi yang ketakutan pada keselamatannya sendiri kabur meninggalkan lapak bawangnya, lupa pada si kecil yang ditidurkannya dalam kardus, dekat lapak yang tak jauh dari sampah sayur.

Ketika dia ingat kardus berisi bayi titipan itu, dia kembali untuk mengambilnya. Apa daya, yang dicari sudah tak ada di situ.  Si kecil tak jelas di mana rimbanya….

Waktu melipat rapi momen kehilangan itu dalam memori Wagino dan Sumiati. Keduanya senantiasa dihantui rasa bersalah; sebagai orangtua yang lepas dari tanggungjawab. Kelahiran bayi perempuan, dua tahun setelah itu, tak mampu melipur beban dosa mereka.

“Kita hanya bisa pasrah dan berdoa, Bune… Semoga si Tole ditemukan orang baik-baik, dan dirawat baik-baik. Semoga dia menjadi laki-laki kuat di tengah Jakarta yang keras itu….” kalimat itu rutin dilontarkan Wagino untuk menenangkan istrinya, sekaligus menghibur dirinya. Dia tahu, kesalahan itu tak akan bisa tertebus oleh apapun.

Wagino melepaskan tatapannya dari gelap sawah di kejauhan, mengalihkannya pada bayi merah dalam gendongan Sumiati. Ada sendu-haru dalam sorot matanya. Dielusnya lembut kepala si Genduk. Didekatkannya kepalanya, diciumnya kening di bayi.

Nduk… Sri… Semoga suatu saat nanti kamu bisa ketemu kangmasmu, yo… Kalau kalian dipertemukan, jadilah saudara yang saling menyayangi… Hanya padamu Bapak dan Ibu berharap bisa menebus dosa…,” bisik Wagino pada Sri kecil.

Sri menggeliat. Ada senyum di wajah bayinya, seperti menjawab harapan bapaknya. Sumiati makin tenggelam dalam sedu-sedannya, teriring ejekan jangkrik yang bernyanyi riang di antara batang-batang padi yang mulai menguning, dibungkus gelap yang telah mencapai posisi terbaiknya.

Krik… Krik… Krik…

Advertisements

2 thoughts on “Di Lapak Bawang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s