Lucky Untung Subejo

Namaku Lucky Untung Subejo. Suangar to? Bapakku percaya bahwa nama itu adalah sodokan doa untuk anaknya. Dari tiga kata pengisi kolom nama KTP-ku itu, tentunya kau bisa menebak apa maksud bapakku kan? Betul! Apa pun itu jawabanmu.

Nama belakangku itu, sepertinya, adalah pelanggeng dinasti Bapak. Betul, nama bapakku Subejo. Bapak mencantumkan nama Lucky di depanku itu, katanya, biar aku tak tampak ndeso-ndeso banget. Bapakku itu, biar agak ndeso tapi mengikuti pergulatan zaman. Nama Untung diselipkan supaya maksud doanya lebih ampuh. Bukankah tiga kali doa itu lebih cespleng daripada doa yang hanya dipanjatkan sekali saja?

Tapi…

Ngomong-ngomong soal nama dan harapan, sepertinya doa yang dititipkan Bapak pada namaku itu tak semustajab doa yang dipanjatkan Mbah Kakung pada nama Bapak.

Bapak itu orang yang selalu beruntung. Dia lahir di tengah keluarga sangat sederhana, hanya satu strip di atas garis kemiskinan. Maaf, bukan bermaksud untuk merendahkan, Bapak adalah orang yang jauh di bawah pandai. Tapi beliau itu jujur dan beruntung. Jujur karena didikan Mbah Kakung, kalau beruntung mungkin karena Gusti Allah mengijabahi doa Mbah Kakung.

Bapak pernah berkisah, di sekolah nilainya selalu jeblok. Setiap kenaikan kelas Bapak selalu Siaga 1. Rapornya yang selalu kebakaran itu selalu mengancamnya tinggal kelas. Untungnya, Mbah Kakung yang suaaabbbaaarrr itu selalu memotivasinya agar dia selalu berusaha dan melakukan sebanyak-banyaknya hal baik. “Dengan berbuat baik pada siapa saja, itu bisa membantu kesulitanmu di sekolahmu, Le. Gusti Allah ora sare, semua kebaikan dan usahamu pasti terbalas,” begitulah wejangan Mbah Kakung pada Bapak.

Tapi, aku curiga, wejangan Mbah Kakung itu bukan melulu upaya Mbah Kakung untuk memompa semangat Bapak. Tapi lebih pada upayanya untuk berdamai dengan takdir, dan berusaha menerima kenyataan bahwasanya anak laki-lakinya itu ber-IQ akar rumput. Si Mbah sepertinya sedang ngadem-adem hatinya sendiri, sembari berharap doa untuk nama anaknya itu mujarab.

Terlepas dari kecurigaanku, yang jelas wejangan Mbah Kakung dijalankan benar oleh Bapak. Dia baik dan sopan pada guru-gurunya. Saking sopannya, Bapak adalah satu-satunya siswa yang mencium tangan gurunya tiap kali si guru masuk kelas.

Bapak juga siswa yang manut. Pekerjaan rumahnya selalu dikerjakan, meski waktu dikoreksi salah semuanya. Tiap ulangan Bapak juga tak pernah mencontek, meski nilainya selalu membuat guru-gurunya miris dan Mbah Putri menangis.

Tapi, sikap sopan, penurut, dan usaha Bapak yang tak kenal lelah membuat guru-gurunya simpatik. Tiapkali sebelum ulangan, biasanya Bapak mendapat bimbingan khusus. Alhamdulillah, perlahan namun pasti, Bapak mulai bisa mendongkrak nilainya, meski tetap saja di bawah enam. Kebaikan Bapak itu juga yang akhirnya memberinya kunci jawaban dari setiap ulangan. Guru yang terharu pada kesopanan Bapak yang memberikan itu. Maka dari itu, meskipun berada jauh di bawah pintar, Bapak tidak pernah tinggal kelas. Trik itu dijalankan sejak Bapak kelas 1 SD sampai lulus SMA.

Benar kata Mbah Kakung, Gusti Allah ora sare…    

Untuk menguliahkan Bapak, ekonomi Mbah Kakung tidak memungkinkan. Sebenarnya bisa saja dicari-carikan uang. Tapi, mungkin saja, Mbah Kakung mikir lagi, karena IPK dan titel sarjana itu tidak bisa ditebus dengan mencium tangan dosen –seperti trik Subejo ketika menyelesaikan sekolahnya di Delanggu itu.

Setelah Bapak lulus SMA, Mbah Kakung menitipkan Bapak pada adiknya yang sedikit beruntung di mBekasi sana. Biar Bapak dicarikan kerja. “Mudah-mudahan jalannmu lancar, dapat kerja enak, dan pulang bawa istri cuantik ya, Le,” doa Mbah Kakung dan Mbah Putri mengiringi kepergian Bapak.

Bapak sebenarnya mau berangkat naik kereta dari Solo. Tapi, dia ketiduran di stasiun, dan ketinggalan kereta jurusan Jakarta. Akhirnya dia naik bis. Setelah oper di Semarang, Cirebon, dan Kampung Rambutan, sampailah Bapak dengan selamat di Bekasi.

Bapak selamat, tapi tidak untuk semua penumpang kereta yang batal ditumpangi Bapak. Lha wong kereta itu tubrukan dengan kereta dari Jakarta di Stasiun Batang, gara-gara penjaga perlintasan rel belum menyalakan lampu lantaran sibuk dengan mencret-mencret setelah makan nasi basi –gara-gara tidak ada yang memasak untuknya setelah istrinya dibawa kabur tukang kredit panci. Tak ada satu pun penumpang di dua kereta itu selamat. Inalillahi wainaillaihirajiun…    

Paklik Bapak di Bekasi awalnya bingung, Subejo ini mau dikasih kerja apa? Keterampilan dia nggak punya. Akhirnya, satu-satunya jalan, Paklik mengongkosi Bapak untuk kursus mengemudi. Kalau sudah piawai, mau dititipkan ke temannya yang juragan angkot.

Bapak memang tidak pandai. Tapi, dia ternyata punya bakat nyetir. Tuhan Maha Adil. Tak perlu lama belajar, dia sudah mahir. Dia pun dengan cepat tercatat sebagai salah satu sopir angkot di Bekasi.

Suatu malam, seusai narik, Bapak melintasi jalur sepi. Dalam kondisi setengah ngantuk, Bapak dikagetkan seekor kucing yang tiba-tiba mak bedunduk menyeberang jalan. Bapak yang kaget setengah mampus, dan percaya mitos nabrak kucing itu bisa bawa sial tujuh turunan, membanting setirnya ke kanan.

Saking gugupnya, Bapak salah injak. Seharusnya ngerem, dia malah ngegas! Grasak! Mbrusuk dia di di semak-semak dengan kecepatan tinggi. “Aaaaaaarrrrrrgggggghhhhhhhhhh….!” ada suara pria di depan angkotnya, dan angkot Bapak langsung berhenti. 

Bapak mengira dia menabrak orang. Buru-buru dia turun. Begitu pintu terbuka, tiba-tiba dia ditubruk sesosok perempuan berbaju putih berambut panjang! Astaghfirullah! Allahu Akbar! Kaget Bapak setengah mati! Jalanan sepi, terdengar teriakan, tahu-tahu ada perempuan baju mutih menubruknya dengan pelukan! Jangan-jangan ini kuntilanak yang mau nyucup!

“Kamu kuntilanak???!!!” ketakutan dan kekagetan Bapak membuatnya melontarkan pertanyaan yang tak masuk akal sama sekali. Masa’ kuntilanak ditanya….

Untunglah, itu bukan kuntilanak. Itu perempuan asli. Dia menubruk Bapak untuk minta perlindungan sekaligus mengucapkan terima kasih karena diselamatkan dari upaya perkosaan.

Bapak sempat plonga-plongo. Oalah, ternyata, di balik semak yang digasak Bapak itu, ada sebuah upaya pemerkosaan. “Lha yang mau merkosa sekarang di mana to, Mbak?” dengan polosnya Bapak bertanya.

Masih dengan satu tangan memeluk Bapak, masih dengan sesengukan, perempuan itu menunjuk bagian ban depan kanan angkot Bapak.

Masya Allah… Ban depan angkot Bapak ternyata menggencet bokong terbuka seorang laki-laki. Dia tidak bergerak. Setelah angkot dimundurkan, dan laki-laki itu dibalik, masya Allah, maaf, zakarnya ternyata pecah! Pria itu mati. Astaghfirullah… Perempuan itu tak putus-putusnya mengucapkan terima kasih pada Bapak.

Ternyata, malam itu adalah awal momentum yang membuktikan ampuhnya doa Mbah Kakung dan Mbah Putri untuk Bapak, mudah-mudahan dapat kerja enak dan pulang bawa istri cantik ya Le… 

Setelah malam itu, Bapak langsung terkenal, karena dengan gagah berani menyelamatkan putri tunggal pengusaha angkutan yang terkenal di Jakarta. Apalagi, pria yang buah zakarnya dipecah Bapak oleh lindasan tak sengajanya itu ternyata adalah pemerkosa paling diburu se-Jakarta Raya. Korbannya sudah banyak. Koran-koran memberitakan dia. Mbah Kakung dan Mbah Putri di kampung sana sampai mbrebes mili oleh aksi heroik anak lanang.

Perempuan yang tak sengaja telah diselamatkan Bapak itu Cuantiknya subhanallah… Namanya Rarasati Anggaswangi Kusumaning Ati. Dia biasa dipanggil Atik.

Alasan jatuh cinta seorang perempuan itu tak melulu terjebak pada fisik dan isi dompet seorang pria. Karakter tangguh dan sikap ngayomi biasanya lebih menjadi alasan perempuan untuk titip hati pada lelaki. Dan itulah yang ditangkap Atik dari Subejo, terlepas bagaimana situasi sebenarnya. Atik punya dua alasan untuk mencintai Subejo; karena uang bukan lagi masalah untuk dia, dan dia terlalu sering disakiti pria-pria tampan yang cuma mau uang bapaknya.

Menikahlah Rarasati Anggaswangi Kusumaning Ati dan Subejo. Sikap sopan dan penurut Bapak membuat Kakek sayang sekali padanya. Hingga sebelum meninggal, Kakek mempercayakan usaha angkutannya pada Bapak –yang selain karena jujur, Bapak punya pengalaman sebagai sopir.

Belajar dari perjalanan hidupnya, Bapak percaya, semua yang dia dapatkan sampai saat ini adalah berkah dari doa Mbah Kakung. Karena itu, dia percaya bahwa doa orangtua pada anak, yang dititipkan dalam nama, itu bakal mustajab.

Hingga lahirlah Lucky Untung Subejo. Layaknya orangtua waras di dunia, tentu dengan nama itu Bapak berharap aku bisa mendapatkan lebih dari yang dia dapatkan. Tidak sekadar bejo, tapi lucky, untung, dan bejo. Beruntung pangkat tiga.

Doa Bapak terkabul? Ah, aku rasa jalan hidupku standar saja, tidak penuh keberuntungan seperti Bapak kok. Aku tidak pernah diselamatkan dari kendaraan yang mau celaka, atau harus menabrak pemerkosa yang paling diburu untuk mendapatkan pasangan cantik dan kaya. Aku juga tak perlu mencium tangan guruku untuk bisa naik kelas.

Satu-satunya keberuntunganku, mungkin, karena aku kebetulan dilahirkan di tengah keluarga kaya raya di Jakarta, serba berlebih, tidak seperti Bapak yang lahir dari keluarga pedagang batik sederhana yang nyaris miskin di Delanggu.

Tapi, dalam hal lain, aku tak seberuntung Bapak kok. Semua hal kudapatkan dengan cara wajar, dan memang itu sudah seharusnya kudapatkan. Bahkan, aku tak beruntung ketika gagal masuk perguruan tinggi negeri. Aku hanya kuliah di kampus swasta paling tersohor di Indonesia. Aku kira, kuliahku itu bukan karena keberuntungan saja. Karena aku memang layak mendapatkannya. Bapakku mampu mengongkosi, dan aku mampu menjalani. Itu wajar.

Kuliahku bebas hambatan setelah aku pacaran dengan perempuan cantik, anak dekanku yang kebetulan saja kenal baik sama Bapak. Perempuanku itu sempat diburu banyak pria, tapi aku juaranya. Aku mendapatkan cintanya dengan usaha, bukan keberuntungan. Ya, memang sih, pacarku mau denganku meski mukaku standar, karena bapakku orang kaya. Tapi itu hal yang wajar kan? Itu bukan keberuntungan, kalau menurutku. Aku dihormati kawan-kawanku karena bapakku kaya, itu wajar bukan? Keberuntungan lain dari kewajaran kan?

Jikalau keberuntungan itu masih didefinisikan sebagai momen yang terjadi di luar yang ‘seharusnya’ –di luar kewajaran atau prediksi– dan kau runtut kisah singkat kehidupanku yang kubagi untukmu itu, apakah kau melihat doa Bapak dalam namaku itu jauh lebih mustajab daripada doa Mbah Kakung untuk namanya? Maksudku, apakah memang aku selalu dinaungi keberuntungan, jauh lebih bejo dari Subejo?

Ah, menurutku Subejo itu masih jauh lebih beruntung dari Lucky Untung Subejo kok. Kau punya definisi yang sama denganku soal ‘keberuntungan’ kan

Dan, mmmm….

Semoga pertanyaanku itu tidak membuatmu berpikiran aku ini adalah anak yang kurang pandai bersyukur, seperti yang sering dituduhkan Bapak padaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s