Gaun Baru di Malam Syahdu

MAS Pandu itu suami idaman. Aku puji dia bukan lantaran dia adalah suamiku yang wajib aku puja dari sisi subjektifku sebagai istri. Tapi, secara harfiah dan objektif, dia memang luar biasa. Banyak perempuan mengakui. Dia pengertian, sabar, pekerja keras. Beruntunglah aku yang dipilihnya jadi istri. Aku yakin, banyak istri-istri lain yang iri padaku.

Pengertian dan sabarnya itu sangat berguna sekali untuk aku. Sebab……….

Mmm… Sebab apa ya…?

Oh iya! Maaf, aku ini pelupa. Sangat parah. Untuk hal-hal sepele pun aku sering lupa. Apalagi ketika dalam situasi, di mana aku harus tergesa-gesa. Pengertian dan kesabaran Mas Pandu sangat berguna sebagai pengingatku.

Aku ceritakan momen yang sempat aku catat. Suatu hari aku kesiangan. Celaka, hari itu ada rapat penting yang akan menentukan masa depan karirku! Aku tak boleh terlambat! Aku sendiri lupa ada momen itu, kalau saja Mas Pandu tak mengingatkan aku.

Aku mandi tergesa, berpakaian tergesa-gesa, berdandan buru-buru. Sebelum berangkat, Mas Pandu kembali mengingatkan aku, mungkin ada yang yang masih lupa. Aku periksa kembali isi tasku; makalah presentasi, dompet, parfum, sisir, bedak, dompet, ponsel, notes, bolpoin, kupastikan lengkap. Mas Pandu langsung mengantarku, dengan mobil berkecepatan tinggi, karena dia sendiri terlambat ke kantor gara-gara menungguku. Untung Mas Pandu sabar.

Aku masuk ruang pertemuan dua detik sebelum rapat dibuka. Untung saja. Kupersiapkan mental. Aku mendapat giliran pertama untuk presentasi. Aku pastikan semua materi bisa aku ingat, karena aku benar-benar yakin telah mencatatnya detail. Mencatat semua pekerjaan adalah ciri khasku. Mejaku paling sesak sekantor, karena banyak catatan terserak di sana-sini. Itu upayaku melawan lupa…

Aku melangkah yakin menuju depan. Begitu berdiri di hadapan hadirin sekalian, ya Tuhan, aku mendadak lemas. Bukannya aku tak siap dengan materiku. Tapi….

Aku lupa memakai bra….

Untung saja semua yang datang di rapat itu fokus pada layar proyektor dan whiteboard. Mereka tak begitu memperhatikan dadaku. Untung saja…

***

DI salah satu Sabtu sore aku terlalu asyik bercumbu dengan Mas Pandu. Sebagai pasangan baru yang belum dikaruniai momongan, kami menghabiskan sore di libur kami untuk bermesraan menyambut senja di halaman belakang. Kami seperti sepasang kekasih yang baru jadian.

Hingga telepon rumah kami berbunyi, dan Mas Pandu menjawabnya. “Ma, kamu kok nggak bilang ibumu datang hari ini? Dia udah tujuh jam nunggu kita jemput lho… Dia di Gambir sendirian. Katanya telepon ponsel kamu nggak kamu jawab?”

Astaganaga! Aku lupa! Kemarin ibuku mengabari hari ini datang dari Surabaya! Aku lupa memberitahu Mas Pandu… Ponsel? Ya, Tuhan… Benda itu di mana ya..?     

Kami jemput ibu yang cemberut luar biasa. Delapan jam dia menunggu, apalagi Pondok Indah ke Gambir perlu sejam. Macet. Mas Pandu berusaha menghiburnya. Sepanjang perjalanan hanya ada omelan ibu dan cengar-cengirku. Untung Mas Pandu sabar…

Sampai di rumah, langsung kuseduh kopi untuk ibu. Semoga kafein membuatnya lebih tenang. “Heh,  kamu itu mau bunuh aku ta Rin?” Astaganaga lagi! Aku lupa lagi! Ibu kan punya darah tinggi akut…

***

AKHIR pekan itu datang kejutan dari Mas Pandu. Kerja kerasnya sebagai manajer pemasaran sebuah perusahaan automotif membuahkan hasil menggembirakan. Capaiannya melebihi ekspektasi. Dia mendapatkan bonus mobil SUV terbaru dari perusahaan.

“Ma, nanti malam jam delapan ada undangan makan malam sekaligus bicara bisnis dengan klien dari Jerman. Ini jamuan penting. Kalau sukses, aku bisa dipromosikan. Kamu ikut. Jangan lupa lho ya. Dicatat baik-baik. Pasang pengingat di mana saja,” pesan Mas Pandu itu akhirnya aku atur sebagai reminder. Aku juga memastikan ponselku tidak akan ke mana-mana. Maaf ya kalau aku norak, aku mengikat ponselku dengan tas…

Celakanya, Jakarta sore akhir pekan itu macet sekali! Mas Pandu mendapat dispensasi dari kantornya, jadi dia bisa pulang lebih awal. Aku harus pulang naik taksi. Di beberapa titik, tumpukan kendaraan tidak bergerak. Beberapa kali taksiku harus ‘ngetem‘ karena tak punya haluan. Aku diburu waktu, sementara Mas Pandu terus menerus bertanya di mana posisiku.

Situasi membuatku panik. Sangat panik. Situasi seperti ini tak aku sukai! Aku pasti akan melupakan sesuatu! Kalau pun iya, semoga saja tidak fatal, yang bisa merusak perjamuan Mas Pandu… Aku tahu suamiku penyabar. Tapi, aku tak tahu lagi jika pertemuan penting itu rusak gara-gara aku, apakah dia masih tetap sabar atau… Ah, semoga baik-baik saja.

Pukul enam tiga puluh petang aku baru sampai rumah. “Tolong agak cepat ya, Ma. Jangan sampai kita terlambat. Orang Eropa tidak pernah kompromi dengan jam karet,” Mas Pandu menyambutku dengan ‘pengingat’, yang membuat aku harus semakin panik dan cepat-cepat. Jarak dari rumah ke restauran itu sekitar 45 menit. Itu jika tidak macet. Sementara kami hanya punya waktu  90 menit.

Mas Pandu sudah siap sejak pukul enam. Rupanya, dia juga membelikan aku gaun baru, agar malam itu istrinya tampak istimewa dan sempurna. Selain sabar, Mas Pandu itu romantis…

Ah, nanti saja cerita soal romantisnya Mas Pandu. Aku langsung mandi saja, ala kadarnya. Tak perlu lama-lama di kamar mandi. Aku berdandan seadanya, asal cepat. Kurang dari setengah jam, aku siap. Tapi… Aku merasa ada yang kelupaan.

Apa ya..?

“Siap, Ma?”

Yuk, Pa.”

“Yakin nggak ada yang kelupaan?”

Mmm… Nggak kayaknya.”

“Bra?”

“Sudah.”

Mas Pandu meneliti wajahku. Bedak, lipgloss, eye shadow, blush on, semua lengkap di wajahku. Tatanan rambut oke, kendati sederhana. Tubuhku sudah wangi  dengan guyuran Yves St Laurent. Kuperiksa isi tas, lengkap.

Tapi, jujur saja, aku merasa ada hal fatal yang aku lupa. Tapi apa…?

“Kamu sepertinya bingung. Masih ada yang lupa?” Mas Pandu mengingatkan kembali semua hal yang kuperlukan. Komplit. Aku menggeleng. “Yakin?” Mas Pandu memastikan, kujawab dengan anggukan.

Kami berangkat, dengan mobil baru kami yang masih berpelat nomor putih. Tapi.. Demi surga, aku merasa ada yang lupa! Tapi apa…?

Demi wajahku yang cantik, aku sudah coba mengingatnya keras, tapi tak berhasil! Waktu jamuan penting itu, yang makin mepet, mendominasi memoriku.

Mas Pandu mengemudi penuh konsentrasi. Sementara aku terus berusaha mengingat-ingat, apa yang terlupa itu? Perasaanku teraduk-aduk. Demi Tuhan, aku makin panik! Nyaman mobil baru tak kurasakan lagi. Aku harus berhasil mengingatnya! Apakah itu…?

Aku tak berhasil ingat, tapi aku merasakan firasat buruk…

Jalanan padat merayap, tapi tak macet. Untunglah. Tapi situasi itu tetap membuatku panik. Aku benar-benar yakin ada yang lupa. Perasaanku makin teraduk berkecamuk!

Brrrrrrrrtttttttttttttttttttttttttt….!!!

Mas Pandu spontan menoleh. “Ma…?”

Ah, aku baru ingat! “Maaf, Mas. Aku lupa, seharusnya tadi pup dulu….”

Restauran tinggal tiga ratus meter lagi. Waktu menunjukkan pukul 19.50. Bagian bawah belakang gaun baruku basah, tembus ke jok mobil baru Mas Pandu, menyebarkan bau aduhai

Untung Mas Pandu…

***

BUKANKAH orang lupa itu tidak bisa dihukum?  Jadi, aku harap pengertianmu kalau aku lupa kelanjutan cerita di mobil baru Mas Pandu. Seingatku, Mas Pandu itu penyabar. Tapi, entahlah, mungkin ada hal yang aku lupakan tentang dia. Yang jelas, sejak malam itu, suamiku jadi tak pernah lagi mengingatkan aku. Entah kenapa, aku juga lupa.

Oh iya, maaf, aku lupa juga, tadinya mau kuberi judul apa ceritaku ini. Jadi, harap maklum jika judulnya tak sama dengan isinya.

image

   

Tofik Pram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s