Malam Pertama

ASMANA taubat. Karena itu, dia menikahi Laksmi.

Asmana ingin menghentikan petualangannya dari ranjang ke ranjang bersama sederet kupu-kupu malam itu. Pasalnya sederhana; dia mulai dihantui ketakutan pada sipilis dan AIDS. Karena itu, dia mencari cara bagaimana agar persetubuhan lebih praktis dan higienis.

Asmana menjauhi semua bunga ranjangnya dan menikahi Laksmi yang manis dan kinyis-kinyis.

***

Bagi Asmana, bersetubuh itu kebutuhan pokok. Persepsi itu dia yakini sejak mimpi basah mulai menyambangi tidur remajanya. Dia adalah seorang sex addict. Kelenjar induk di bawah otaknya terlalu cepat memproduksi hormon perangsang, yang mendorong testisnya bangkit dengan cepat dan sering. Sebenarnya, dorongan itu bisa dikendalikan, jika si pemilik hasrat mau. Namun, Asmana memilih mengikutinya.

Sebetulnya, fisik Asmana yang bagus, ditambah kepiawaian menggombal, bisa memikat perempuan mana pun untuk ditiduri. Apalagi dia anak orang kaya. Bermiliar sayang, sebagai lajang, kebutuhan itu tak bisa disalurkannya sewaktu-waktu. Perempuan yang pernah dikencani Asmana bukan perempuan murahan. Ini mungkin ‘nasib sialnya’. Ada tiga perempuan yang pernah dia kencani. Semuanya cantik dan sukses membuat Asmana ereksi. Tapi, Arimbi, Supraba, dan Kunti menjaga rapat mahkotanya masing-masing. Mereka hanya mau bersetubuh di malam pertama pernikahan.

Hubungan mereka selalu putus sebab si perempuan merasa risih karena Asmana selalu merongrong mereka minta ‘tanda jadi’ alias bersetubuh dulu sebelum nikah. Si perempuan merasa terhina, diakhirilah hubungan mereka. Sial, pikir Asmana.

Bagi Asmana, sex must go on, seperti dia mencukupi kebutuhan makan. Masturbasi dia ogah. Kata dia, tidak ada seninya. Bikin tangan pegal-pegal lagi. Satu-satunya pilihan adalah, dia memilih ‘jajan’.

Duit Asmana banyak. Bapaknya pengusaha. Hooorrrang kayyyaaah, kata Srimulat. Setelah lulus kuliah, dia mendapat posisi bagus di perusahaan bapaknya. Duit banyak dan status lajang bahu membahu mendukung minat besar Asmana pada persetubuhan di luar nikah. Dia beli jasa perempuan-perempuan penyewa aurat.

Asmana menjadi petualang. Namun, dia tak asal gasak. Dia harus main cantik demi prestisenya. Dia hanya berburu kupu-kupu kelas atas, yang lebih terjamin mutu pelayanan juga keamanannya. Dia berburu di kampus-kampus dan perkantoran. Penampakannya yang enak dipandang mempermudah proses berburunya. Perempuan-perempuan cantik berstatus mahasiswi, sekretaris, marketing, humas, staf ahli, sampai PNS berhasil dia tiduri. Bahkan, dia juga meniduri kekasih dari seorang pria yang memilih menjaga keperjakaan hingga malam pertama tiba. Terlalu

Cara dia berkencan layaknya orang pacaran pada umumnya. Dia dan kencannya menjalin janji bertemu di suatu tempat, atau menjemput kupu-kupunya di rumah. Dia  juga pamit baik-baik pada orangtua perempuan yang dicabutnya. Kupu-kupu kelas atas memang cantik menjalankan peran mereka. Biasanya, orang serumah atau lingkaran dekat mereka pun tak ada yang tahu bahwa mereka adalah penyedia jasa aurat.

Juga tak ada yang tahu kebiasaan Asmana mengumbar libido itu, saking rapinya permainannya. Kalau sampai bapaknya tahu dia doyan ‘jajan’, hancurlah masa depannya. Kedudukannya di perusahaan bisa dicabut. Bapak Asmana adalah pria edisi lawas yang masih sangat menjunjung norma.

Sekali tempur, biasanya, Asmana kuat sejam. Untuk durasi itu, dia harus membayar minimal dua juta, atau lebih, tergantung harga pasaran ‘ayamnya’. Dia tak mau memakai perempuan yang harganya di bawah dua juta. Berisiko, katanya. Lama-lama, motoriknya membentuk kebiasaan yang berjalan otomatis; usai bercinta, dia membayar. Seks dan dompet selalu dalam satu paket dalam benak Asmana. Seks itu harus dibeli, tak ada urusannya dengan cinta.

***

Semua kenikmatan dunia itu fana, begitu pula nikmat petualangan seks Asmana. Lama-lama bosan juga dia, ketika persetubuhan hanya untuk berburu ejakulasi, dan harus membayar dalam jumlah banyak untuk kenikmatan beberapa saat. Apalagi, sipilis dan AIDS juga mulai mengintai konsumen kupu-kupu kelas eksekutif. Dua kenalannya sesama konsumen kelas atas harus mengerang-erang menahan malu setelah dihajar sipilis. Sedangkan satu kenalannya lagi memilih kabur ke Belanda setelah divonis positif AIDS.

Beberapa kali anak buah bapaknya juga sempat memergokinya jalan bareng perempuan dan gonta-ganti. Kabar itu sampai di telinga bapaknya. Asmana diinterogasi. “Kalau sampai kamu main perempuan, aku tidak mau lihat muka kamu lagi di perusahaanku! Kamu itu lahir dari perempuan, hargailah mereka! Kalau kamu bermain-main dengan mereka, kamu bakal kualat!” Ancaman ini tentu membuat Asmana berpikir seribu kali ketika hendak meneruskan kebiasaannya ‘bermain kupu-kupu’.

Asmana takut, karena penyakit juga ancaman bapaknya. Dia ingin taubat. Dia berjanji akan menahan sekuat tenaga hentakan libidonya, dan hanya akan disalurkan kembali untuk perempuan yang dia cintai, di malam pertama mereka. Karena itu, dia harus mulai belajar untuk bisa jatuh cinta. Cinta betulan, bukan sekadar hura-hura untuk memenuhi kebutuhan selangkangan saja.

Hingga dia bertemu Laksmi, sekretaris baru perusahaan induk yang dipimpin bapaknya. Perempuan itu datang dari salah satu kota besar di Jawa Tengah. Santun tutur katanya, kenes bicaranya, lembut lagak-lagunya. Sepertinya dia perempuan baik-baik, jika dilihat caranya berpenampilan dan bertutur. Asmana pun jatuh cinta, sembari berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjamah Laksmi hingga malam pertama mereka. Demi masa depan dan kehidupan seksual yang lebih baik, dia mantap ‘berpuasa’.

Selama tiga bulan mengencani Laksmi, godaan terus mengerjainya. Asmana harus berusaha ekstrakeras untuk menahan libido yang semakin meledak-ledak. Pasalnya, dia selalu membayangkan tubuh Laksmi yang indah di balik bajunya yang selalu rapi dan tertutup. Uniknya, dalam kesopanan Laksmi, Asmana justru melihat pemancing gairah yang paling megah di situ, di mana sensasi yang terpancar darinya jauh lebih wah daripada semua kupu-kupu yang dikenalnya. Tampaknya, perempuan suci yang tertutup lebih menarik untuk Asmana. Bikin penasaran. Apalagi, Asmana ‘puasa’ hampir enam bulan. Mana tahan…

Cukup tiga bulan pacaran, Asmana melamar Laksmi. “Sebaiknya kita cepat-cepat menikah, untuk menghindari zina. Tak bagus pacaran terlalu lama,” kata Asmana dengan nada bijak, yang langsung diamini Laksmi. Keduanya menikah. Bapak Asmana senang, karena ternyata anaknya tak ‘senakal’ yang dia kira.

***

MALAM pertama itu datang juga.

Di kamar pengantin bertabur aroma melati, Laksmi malu-malu dalam kebayanya yang masih komplit. Sementara Asmana menatap mesra istrinya, bersama nafsu yang kian menderu. Yang dipandang semakin salah tingkah, seperti belum pernah dipandangi pria. Wangi melati, kamar yang sunyi, nuansa magis pernikahan, di bawah cahaya temaram, adalah nuansa ketika Laksmi menanggalkan kebayanya dibantu sang suami. Masih dengan malu-malunya yang membuat Asmana makin gemes. Setelah adegan cumbu yang malu-malu itu, Asmana resmi ‘berbuka puasa’.

Lima puluh lima menit, tiga kali klimaks, di antara desah dan keringat….

Ah, Laksmi boleh juga. Memerawani perempuan ternyata tak sesulit yang kukira, pikir Asmana. Tak ada sensasi kesulitan yang ditemuinya kala penetrasi pertama, seperti yang dibilang teman-temannya.

Mungkin, karena jam terbangku terlalu tinggi, pikirnya. Asmana sendiri belum pernah merasakan perawan, sebab perjakanya hilang pada lubang yang tak berselaput dara.

Tak masalah, penting puas.

Ah…..

Dan…..

Jreng, jreng!

Kebiasaan itu berlangsung lagi; Asmana membuka dompet, mengeluarkan dua juta, lalu mengempaskannya di samping tubuh istirnya yang masih telanjang.

Sial!

Rutuk terlontar tertahan lirih di ujung lidahnya, kala kesadarannya mengingatkan. Sulit memang mengubah kebiasaan ‘seks dan dompet itu satu paket’. Asmana berbuat kesalahan fatal!

“Mas…?” Asmana merasa ada nada keheranan dari istrinya.

Dia diam. Bingung. Bungkam. Makin pucat. Kali itu ditambah keringat dingin. Dia membayangkan Laksmi tahu kebiasaan ‘jajannya’ dulu dan kecewa. Pernikahannya akan hancur. Bapaknya yang terhormat tentu murka. Dia akan kehilangan jabatan. Sial

Hening …

Laksmi memunguti uang dua juta yang tercecer di samping tubuhnya. Dia dekati Asmana. Ditepuk bahu suaminya, pelan. Yang ditepuk makin pucat. Asmana tak berani memandang wajah istrinya. Mati aku….

“Mas…..”

Asmana makin berkeringat…

“Saya diskon 50%…. Untuk merayakan malam pertama kita….” Laksmi mengembalikan sejuta pada suaminya.

Yang tak pernah disadari Asmana, ada sekitar duapuluh Om-Om dalam daftar telepon Laksmi. Dan yang dilupakan Asmana, ‘kupu-kupu’ itu cantik, dari sisi fisik maupun intrik.

           

Advertisements

3 thoughts on “Malam Pertama

  1. Hi, i think that i noticed you visited my web site so i got
    here to go back the favor?.I am trying to to find issues to
    improve my web site!I guess its ok to use some of your ideas!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s