Foto Dalam Dompet Ruth

“JIKA menyimpan secuil masa lalu itu adalah dosa, kelak surga akan sepi!”

“Aku tahu, aku tahu! Tapi, haruskah begini caranya?! ”

“Lalu apa yang kamu inginkan?! Aku harus bagaimana?! Aku menyimpannya untuk belajar, seperti orang lain yang masih menyimpan beberapa jejak mereka. Agar kekeliruanku di masa lalu itu tak datang lagi menyakitiku!”

“Ah, alasan!!!”

“Kamu tak mau mengerti! Kamu mungkin juga tak…………”

“Tak apa? Melupakan masa lalu? Sudah! Aku sudah melakukannya sejak kita bertemu dan setuju untuk jatuh cinta!” Bima memotong kalimat Ruth yang belum tuntas. “Aku telah menghapus semua kenanganku, dan tempat yang telah aku sterilkan itu hanya aku isi dengan kamu!”

Ruth terdiam.

Selembar foto pria muda yang terlampir di dalam selipan dompetnya tak sengaja didapati Bima, ketika Ruth mempersilakan Bima mengambil sendiri kartu kredit di dompet Dolce Galbananya, sebab Bima perlu melakukan sebuah pembayaran, tetapi dompetnya tertinggal. Itu bukan foto saudara Ruth, sebab Ruth tidak punya saudara laki-laki.

Pelayan resto salah tingkah ketika menyajikan daftar menu di tengah sepasang kekasih yang sedang kalap itu. Napas Bima dan Ruth  seperti saling memburu. Namun, senyum Ruth, yang meski kentara betul tampak dipaksakan, membuatnya yakin dia telah melakukan hal yang benar.

Sampanye. Porsi jumbo,” Bima langsung memesan, tanpa melihat daftar menu maupun menatap muka pelayan yang sedang salah tingkah. Ruth meneliti daftar menu itu sesaat. “Lemon squash. Ekstra manis,” katanya, sembari melemparkan lagi senyum untuk pelayan itu, dengan kadar yang masih ala kadarnya.

Pelayan buru-buru mencatat pesanan, meninggalkan senyum sepantasnya, lalu buru-buru kabur ke pantry.

“Siapa dia..?” Bima memburu.

Ruth masih terdiam. Dia buang pandangannya pada pertunjukan musik di panggung mini resto itu. When I Fall In Love milik Nat King Cole terlantun mendayu-dayu bersama karakter suara bass sang vokalis. When I fall in love, it will be forever…

“Ruth….” Bima berusaha menurunkan tensinya, demi memancing hadirnya sebuah jawaban.

Ada dua tetes air jatuh dari sepasang mata indah Ruth. Kepalanya masih tertunduk. Belum ada respons.

“Ruuuuttttthhhhhh……” Bima kian memburu. Yang dipanggil mengangkat kepala, menatap lelakinya.

“Aku ingin kau tahu, Ruth, aku rasakan sakit ketika kudapati foto itu. Kamu masih memberikan tempat pada pria lain di ingatanmu, ketika aku telah mengisi lima belas bulanmu?” Bima menuntut.

Ruth masih menatap Bima. Masih dengan diamnya. Dan pandangan nanar.

“Muka pria itu mirip denganmu. Keluargaku di Jawa bilang, ketika wajah seorang pria dan wanita serupa, sementara mereka tak ada ikatan saudara, berarti mereka jodoh. Wajah ayah dan ibuku mirip.” Cemburu mengamuk di dada Bima.

“Kamu tak akan bisa menerima penjelasanku,” akhirnya Ruth buka suara, dengan terbata-bata.

Bima terkesiap. Dia merasa sudah bisa menduga arah penjelasan perempuannya.

“Kenapa baru sekarang? Kalau kau berterusterang sedari awal jika kau masih mendambanya, kita tak perlu sejauh ini!” Bima berasumsi dalam emosi yang mulai menjadi lagi. Dia merasa ditelikung.

Ruth menghela dalam-dalam, lalu mengembus pelan.

“Ketika kita mulai hubungan ini, bukankah kita sepakat untuk saling tidak mengetahui masa lalu…?” Ruth mencari pembenaran di tengah situasinya yang terpojok. “Karena kita sedang membangun sebuah perjalanan ke depan, maju, bukan sedang mundur… Bukankah kita sepakat, bahwa lebih baik kamu tidak mengetahui masa laluku, begitu pula sebaliknya…?”

“Bukankah kita sudah setuju, bahwa keputusan itu kita ambil karena seringkali kita tidak siap menerima masa lalu pasangan kita, yang mana itu bisa meruntuhkan segala kebahagiaan yang telah tertiti, sebab kita dihantui kesalahan-kesalahan yang telah berlalu?” Ruth mencoba mengingatkan Bima pada komitmen mereka.

“Ya, aku tahu, tetapi…….”

“Pantaskah ada tetapi dalam sebuah komitmen?” gilliran Ruth memotong Bima. “Bukankah aku juga tak pernah tahu masa lalumu? Bukankah aku juga tak pernah menanyakan itu?”

Bima tercenung. Dia buang tatapannya ke luar jendela. “Foto itu mengingatkanku pada rasa sakit yang telah lama aku buang,” Bima berdalih. “Kau panggil rasa sakit yang sudah lama aku lempar jauh-jauh, Ruth….”

“Kamu tidak mengerti situasinya………”

“Karena kamu tidak pernah menjelaskan!” Bima memotong kembali.

“Baiklah, jika itu yang kamu mau!!!” emosi Ruth terpancing. Dia buka dompetnya, kasar, dia tarik selembar kartu tanda penduduk, masih kasar. Diempaskannya kartu identitas itu di depan Bima.

“Kamu lihat baik-baik! Lihat foto yang kau temukan itu! Lihat foto di KTP!” Ruth memerintah.

Bima mengikuti instruksi Ruth. Muka yang sama ada di dua foto tersebut. Ruddy Heru Santoso. Pria. Lajang. Ketika Bima masih bertanya-tanya, siapa dia, dengan cemburu yang kian bergemuruh, datang lagi selembar KTP di hadapannya.

“Bandingkan….” Ruth kembali memberi instruksi. Di KTP terakhir tertulis: Ruth Herawati Santoso, perempuan, lajang. Tanggal lahir sama dengan KTP pertama.

Deg

Bima terpaku….

“Kalau kamu membicarakan rasa sakit masa lalu yang terpanggil, baiklah, aku juga akan membicarakan itu! Aku ikuti maumu! Komitmen kita sudah terlanggar, baiklah, kita robohkan sekalian! Mari kita ulas tuntas cerita-cerita tentang sakit masa lampau, jika memang itu maumu!”

Napas Ruth kian memburu. Dia tatap tajam Bima, yang sedari tadi menatapnya bersama prasangka.

“Diva, Zee, Amara, juga Shinta telah membuatku seperti ini! Perempuan-perempuan itu menghujaniku dengan rasa pedih! Mereka hanya rakus pada kekayaan Ruddy Heru Santoso! Mereka tak pernah mencintaiku! Yang mereka tahu hanyalah, Ruddy yang harus mengongkosi mereka belanja, ke salon, atau jalan-jalan ke luar negeri! Mereka tak pernah mau mengenal Ruddy sebagai pria yang juga butuh dicintai!”

“Aku benci perempuan! Mereka makhluk yang gagap memahami cinta!” bersama emosi Ruth, pecahlah kembali tangisnya.

Bima terpaku. Bergetar tangannya yang memegang dua KTP itu. Memorinya terbolak-balik, menghadirkan kembali rasa sakit yang menggeruduk.

“Perempuan itu makhluk yang tak pantas dicintai! Tapi, aku manusia, aku juga butuh cinta! Pada siapa? Aku kalut, hingga akhinya aku sadar, bahwa lama-lama aku lebih nyaman bersama pria! Tapi, bukankah norma memandang jijik hubungan asmara sesama jenis? Namun, aku tetap butuh itu! Aku butuh cinta! Tapi aku juga takut pada norma!”

“Tahukah kau, dalam ambivalensi sendiri yang nyaris menyeretku dalam depresi, aku memutuskan untuk mengganti bentuk selangkanganku dan menyuntikkan implan di dadaku! Aku membentuk bulu mataku selentik mungkin! Aku memanipulasi pita suaraku! Aku memperhalus kulitku dan memperlentik jemariku! Bulu-buluku tercerabut semua dari tubuh! Itu semua adalah proses yang sangat sakit! Hampir seluruh tabungan hasil kerja kerasku bertahun-tahun, yang aku simpan untuk pernikahan dan rumah tanggaku kelak, aku kuras habis di Thailand !!!”

“Semua demi apa? Demi cinta yang aku butuhkan! Cinta yang bisa aku reguk tanpa aku harus dihantui kutukan norma!!!” emosi Ruth meledak. Kali itu dia tak bisa mengendalikan letup suaranya.

Life music yang sedang melantunkan When I Fall In Love sampai harus terjeda. Personel band itu tercengang. Tamu-tamu lain menatap pasangan itu bersama tanya-tanya.

Hening dalam resto.

“Aku berharap banyak padamu, Bima…” Ruth menurunkan volume. “Tapi kenapa kau rusak semuanya dengan membicarakan masa lalu…? Aku sengaja menyimpan foto itu, sebagai monumen jejak-jejakku, untuk mengingatkanku, bahwa dalam bentuk kelamin itu aku pernah merasakan sakit yang keterlaluan… Sekaligus untuk selalu mengingatkanku, bahwa manusia berkelamin seperti dalam foto itulah yang bisa memberiku cinta…”

Isak-isak Ruth menjadi-jadi. Sementara tamu-tamu lain kembali pada menunya masing-masing. Itu bukan urusan mereka.

“Tapi, Bima, malam ini kamu menamparku, membuktikan padaku bahwa persepsiku salah sama sekali. Kedua jenis kelamin itu ternyata sama saja! Hanya bisa menuntut, merampas, tanpa pernah sudi memberi! Bahkan, hanya memberikan kesepahaman pun kalian tak pernah sudi…” Ruth menutup muka dengan dua tangannya yang berjari lentik. Ada dua leleh air mata menerobos sela jari-jemarinya.

Musik panggung kembali beraksi, melantunkan I Strated a Joke milik Bee Gees, yang didaur ulang dengan cantik oleh Faith No More.
 
Bima tak lagi punya kata. Dia letakkan dua KTP Ruddy alias Ruth. Kepala dan dadanya berkecamuk, membungkam mulutnya yang tak lagi bisa berlisan.

Dia berdiri perlahan. Ditinggalkannya Ruth yang sedang menenggelamkan diri dalam tangis dan kecewanya. Dua hati yang sama-sama kecewa selalu berhasil membunuh cinta.

Pelayan datang membawa sampanye yang diminta Bima dan lemon squash pesanan Ruth. Dia bingung untuk kedua kalinya, karena salah satu tamunya sudah tak lagi di kursinya.

“Letakkan saja….” instruksi Ruth di antara sisa-sisa isak itu meyakinkan si pelayan, bahwa dia telah melakukan hal yang benar.

I started a joke, wich started the whole world crying… But I didn’t see, that the joke was on me… Oh, no….. Sang vokalis kembali berlantun.

Ruth menikmati sampanye jumbo yang dipesan Bima, bersama kursi kosong di depannya. Dan tatapan kosong untuk gelas-gelas lemon squash yang berkeringat.

                                                                  ***

Andai kamu tahu, Ruth… Kamu adalah perempuan pertamaku. Aku sangat berharap kamu bisa menyembuhkanku, setelah Arya, David, Raymond, dan Ganjar meremukkan kehidupan asmaraku di masa lalu….

Bima mengayun gontai, di antara gemuruh malam metropolitan yang dia rasa sedang menertawainya.

image
3.bp.blogspot.com

   

Advertisements

2 thoughts on “Foto Dalam Dompet Ruth

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s