Sang Pelacur

”INI koran terakhirmu yo, Yoen. Mulai besok aku tidak lagi jadi agen koran. Berat. Aku mau usaha baru lagi, tapi tidak di sini.” Aksen yang keluar dari mulut Pak Djoko halus. Timbul kesan dia ingin menyampaikan berita buruk itu penuh kehati-hatian agar tak ada yang sakit hati.

Yoen terdiam sebentar, berusaha mencerna keputusan PHK dari Pak Djoko yang merasa bangkrut itu, sembari dia ambil koran jatah terakhirnya. Menghitung jumlahnya. Mengambilnya. Lalu berlalu pergi tanpa merespons apa yang disampaikan Pak Djoko. Sementara si agen koran yang bangkrut hanya memandang Yoen, yang perlahan-lahan mulai menjauh, lalu hilang di tikungan gang.

Badai ekonomi 1997 memporak-porandakan situasi seluruh negara ini, mulai dari yang paling top hingga ke level kere di akar rumput. Yang kere semakin kere. Kerusuhan membuat roda investasi di dalam negeri macet. Distribusi uang hanya sampai pada kalangan menengah. Yang di bawah kian terengah-engah.

Sembari menjajakan koran, Yoen berusaha menerima keputusan Pak Djoko. Ada nyinyir di dalam hati remaja sebatang kara itu. Ada lagi lubang nafkah yang menganga, yang selama ini berhasil dia tutupi dengan keuntungan menjadi pengecer Pak Djoko. Sebagai makhluk dengan naluri pemenuhan kebutuhan ekonomi, Yoen cemas dengan keadaannya sekarang. Terlebih sore sebelumnya, PHK serupa lebih dulu dia dapatkan dari Bu Tatik, si juragan gorengan, yang juga merasa bangkrut.

Singkat kata, mulai besok, Yoen nihil penghasilan. Dia mulai cemas. Sembari berharap dia, pagi itu akan datang perubahan yang memberinya kesempatan untuk melanjutkan kehidupan ekonominya. Dia sangat berharap. Dengan amat sangat sungguh-sungguh. Berharap kekuasan semesta alam yang kerap dia rasakan, namun belum berhasil dia definisikan, mendengarkan harapannya.

Dalam situasi seperti ini, hanya kepada semesta lah dia berharap.

***

Lampu merah, saatnya mencari untung.

Yoen tempelkan koran-koran dagangannya di kaca-kaca mobil yang terhenti. Satu persatu mobil dia telusuri, tak ada yang terlewati. Dia berharap, hasil hari itu cukup untuk menjaminnya dalam beberapa besok, sembari dia berpikir apalagi yang bisa diperbuatnya untuk besoknya lagi.

Matahari siang itu seperti begitu menyeringai pada upaya keras Yoen yang didorong keputusasaan itu. Ada nyinyir dalam sengat panasnya, menerobos ke dalam pori-pori kulit hitam Yoen, lalu mampir ke hatinya membawa ejekan.

Tapi Yoen tak peduli. Dia yakin ada kekuatan besar yang akan mendukung dia dan usahanya.

Hingga dia sampai pada sebuah sedan keluaran terbaru. Dari luar kaca film, Yoen menempelkan korannya. Dia berharap sodorannya akan dijawab dengan uang senilai banderol koran.

Kaca terbuka. Seorang pria, pertengahan 40-an, menatapnya. Bukan dagangan yang dilihat, tapi muka Yoen yang hitam cantik itu. Terus ditatap lekat. Dan, jiwa remaja Yoen membisikkannya untuk tersipu. Malu dia, ditatap seorang pria dewasa. Itu adalah pengalaman pertamanya.

”Namamu siapa?”

Pertanyaan yang tak pernah disangka Yoen, tapi spontan dijawabnya; “Yoen, Pak”.

Orang itu mengeluarkan uang, membayar korannya. ”Rumahmu di mana?” Dengan polosnya Yoen menyebut alamat sekaligus penunjuk jalannya.

Hmmm, ambil saja kembaliannya. Kamu cantik.” Lalu lampu hijau menyala, sedan itu melaju meninggalkan Yoen yang masih dalam keterbengongannya.

***

Bacaan Quran jelang Magrib mengajak hati orang-orang yang beriman untuk berdendang mengikuti iramanya. Nadanya terdengar lebih surgawi ketika alunannya diiringi tirai senja yang mulai jatuh perlahan memungkasi panas siang hari itu. Matahari yang begitu garangnya mulai menunjukkan malu-malunya; seolah menyesal telah menyengat manusia dengan terik nakalnya.

Langkah Yoen yang gontai membawa tubuhnya pulang ke gubuk setelah menyerahkan setoran terakhirnya untuk Pak Djoko. Dirasanya cukup untuk dua besok. Dan, itu memberinya waktu untuk memutar otak bagaimana cara menyambung besok ketiganya.

Azan Magrib berkumandang. Yoen merasakan adem. Tapi dia masih belum berani menjawab panggilan itu. Kendati peralihan spektrum warna hari itu begitu menggetarkan relungnya.

Dia empaskan tubuhnya di korsi rotan dalam gubuknya yang lembab dan terjerembap di sudut kampung itu. Dia lepas pikiran melayang-layang, sembari menikmati puja-puji pada Tuhan selepas Magrib di masjid kampung. Dengan itu, dia merasa tenang. Ketenangan yang masih juga belum bisa didefinisikannya. Tapi bisa begitu dirasanya sangat.

Galau Yoen buyar oleh sebuah ketukan. Bunyi itu sama sekali tak biasa mampir di pintu gubuknya. Bersama heran, dia bawa tubuhnya untuk menjawab ketukan itu.

Pintu dibuka perlahan. Dia terhenyak.

Ada bapak yang beli korannya tadi pagi di depan pintu. Dengan senyum ramahnya, yang membuat Yoen –remaja perempuan yang tinggal sendiri itu—tak merasakan takut pada kehadiran seorang pria asing.

“Boleh saya masuk?”

Nada yang ramah, dan membuat Yoen mempersilahkannya begitu saja. Untuk pertama kalinya sejak kematian Mat Kasim, bapaknya, ada seorang pria dewasa masuk ke dalam gubuk Yoen.

Begitu sang tamu duduk, Yoen langsung lari ke belakang untuk merebus air membuat kopi. Ah, minyak tanahnya habis.

Sepertinya si tamu tahu kesulitannya. ”Sudah, nggak perlu repot. Saya Cuma sebentar.” Dan Yoen duduk menemuinya.

Beberapa detik ruang antara Yoen dan tamunya kosong dari kata-kata.

”Kamu sendirian?” malah si tamu yang membuka percakapan. Yoen menjawab dengan anggukan. “Bapakku mati belum lama. Dibacok orang gara-gara tidak bisa membayar utang,” terangnya polos.

Giliran si tamu yang mengangguk-angguk, hanya untuk menunjukkan simpati.

“Kamu jualan koran tiap hari?” sembari melontarkan pertanyaan itu, si tamu melemparkan pandangan menyelusupi seluruh ruang dalam gubuk kecil Yoen itu.

“Iya, Pak. Tapi besok sudah tidak lagi, agen saya tutup. Katanya bangkrut.”

“Lalu, kamu mau dapat uang dari mana?”

Yoen diam. Jelas pertanyaan itu tak bisa dijawabnya. “Saya belum tahu.”

Jawaban Yoen itu tiba-tiba menghadirkan sumringah dalam raut si tamu, yang tersamarkan di balik remang-remang ruang gubuk Yoen.

“Kamu mau kerja?” si tamu mengajukan tawaran.

Mendapat tawaran yang tak pernah diduganya, Yoen mengalami senang yang dibungkus kebingungan. “Kerja apa, Pak?”

“Kerja enak. Kamu bisa dapat duit banyak.”

“Tapi saya hanya lulus SD pak. Saya bodoh. Tidak mungkin saya bisa mendapatkan kerja enak.”

“Siapa bilang? Kamu punya modal kok. Wajah kamu cantik.” Kata yang juga sempat didengar Yoen pagi tadi dari mulut yang sama itu membuatnya semakin bingung. Karena, sejauh yang Yoen tahu, kerja dengan hasil besar itu hanya bisa didapatkan mereka yang pintar, bukan cantik. Biar cantik tapi bodoh, setidaknya menurut Yoen saat itu, tetap tak bisa memberikan uang yang banyak.

Tapi, kata si tamu, dengan cantik saja bisa mendapatkan banyak uang. Bagaimana mungkin?

“Kalau kamu ingin tahu, saya menawarimu ikut saya. Saya akan mengajarimu bagaimana cara mencari uang banyak dengan wajah cantikmu.”

Sepertinya si tamu tahu pertanyaan yang sedang bermain di dalam benak Yoen. Tapi, justru jawaban itu membuat Yoen makin bingung.

Di luar azan Isya lamat-lamat berkumandang.

”Sudah, begini saja. Saya punya niat baik mengajak kamu kerja. Saya tidak perlu ijazah kamu. Nanti saya ajarkan kamu cara mendapatkan banyak uang dari kecantikanmu itu.”

Entahlah, ajakan si tamu yang menyela suara azan Isya yang lamat-lamat itu seperti menghadirkan kepercayaan pada diri Yoen. Dia merasa orang itu tidak berbohong. Padahal, sebelumnya dia tak bisa lekas percaya orang, apalagi yang baru dikenalnya. Tapi, entahlah juga, kali ini hatinya seperti berbisik untuk mengiyakan ajakan itu. Kata hati juga tak pernah bohong.

”Kalau kamu mau, kamu kemasi pakaianmu. Kamu ikut saya ke rumah. Di sana jauh lebih baik daripada gubukmu yang lembab ini. Saya berjanji akan memberikan kamu pekerjaan dan kehidupan yang lebih bagus dari sekarang. Kamu perempuan cantik yang berhak untuk memdapatkan itu semua,” retorika si tamu, dengan nada suaranya yang begitu meyakinkan –khas pria yang lembut– itu semakin membuat Yoen yakin bahwa dia harus menerima ajakan tersebut.

”Tapi, saya bodoh. Bagaimana kalau saya tidak bisa menerima pelajaran dari bapak, dan saya tidak bisa menjadi seperti yang diharapkan?” Sebenarnya Yoen sedang berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Karena, pada dasarnya, dia tertarik dengan tawaran itu.

Siapa tak mau dapat duit banyak? Apalagi, selama lima belas tahun hidupnya, Yoen tidak pernah sama sekali merasakan apa itu banyak duit. Cuma memegang saja dia tak pernah. Membayangkan juga dia tak berani.

“Saya yakin kamu bisa. Yakin sekali.” Si tamu berusaha terus meyakinkan Yoen.

Azan Isya selesai. Hanya ada keheningan antara Yoen dan tamunya. Yoen merasakan dorongan, tapi dia terhalang masalah kepercayaan dan kemampuan pada diri sendiri.

Dia coba beranikan diri sesekali melirik ke tamunya, dan tatapan si tamu memberinya keyakinan.

“Bagaimana?”

Seperti ada dorongan, dengan sendirinya Yoen menjawab dengan anggukan. Lalu dia ke belakang, mengemasi beberapa bajunya yang lusuh. Si tamu mendapati itu.

“Sudah, tak perlu kau bawa bajumu. Kita beli yang baru. Baju-baju itu sudah tak pantas,” si tamu menyela.

Yoen pun menurut. Ikut dengan sendirinya.

Di antara sepi kampung yang ditinggal warganya untuk salat Isya berjamaah itu, Yoen melangkah keluar rumah. Dia kunci gubuknya diam-diam, dan mengikuti si tamu, tanpa meninggalkan sepatah pun pesan untuk kampungnya, untuk hidup yang diyakininya lebih baik.

***

UNTUK pertama kalinya sepanjang hidup, Yoen benar-benar melihat rumah.

Bukan gubuk, benar-benar rumah. Tempat bernaung yang layak ditinggali. Yang jauh dari aroma pengap. Yang bisa membawa seseorang yang diam di dalamnya untuk tidur tenang dan menikmati mimpi secara utuh.

Yoen memasukinya bersama dengan degup-degup yang dibentuk oleh kesenangan. Itu adalah sebuah rumah khusus, yang dia kira, adalah milik Pak Tamu. Tapi, Pak Tamu tidak pernah tinggal di situ. Yoen diam bersama dengan beberapa perempuan muda lain. Beberapa seumurannya, kebanyakan lebih tua darinya.

“Nah, Yoen, mulai malam ini kamu tinggal di sini bersama saudara-saudaramu dan kakak-kakakmu. Mereka yang akan mengajari kamu bagaimana cara mendapatkan uang dengan kecantikanmu itu.” Pak Tamu menyambut Yoen di rumah sendiri, dan memperkenalkan dia dengan mereka yang jauh lebih dulu ada di situ.

Yoen merasakan kenikmatan yang asing. Namun, tetap saja nikmat yang dirasakannya. Dia mengalami titik balik yang tiba-tiba; dari seorang penjual koran di perempatan yang digoda oleh genit matahari, yang harus pulang kelelahan membawa harapan yang nyaris kalah ke dalam sebuah gubuk pengap, menjadi seorang perempuan yang mendadak tinggal di rumah megah, dingin, dan mengenakan pakaian bagus.

Transformasi frontal yang tak pernah dibayangkan Yoen, namun sekonyong-konyong berhasil mengubah kebiasaan murungnya menjadi senyum yang meluap-luap.

“Kalau kau bisa bekerja dengan baik, Yoen, kau akan memiliki rumahmu sendiri. Tak lama lagi,” Pak Tamu terus menerus meniupkan harapan-harapan yang kian mendorong kesenangan Yoen membuncah dan meruap-ruap. Seperti tsunami.

***

SETELAH melalui malam pertamanya bersama tidur yang sangat nyenyak, bangun pagi Yoen dibuka dengan keterheranan. Dia mendapati sebuah pemandangan yang sama sekali baru. Ketika dia dapati “saudara dan kakak-kakaknya” berbusana sangat minim, dan menjawab banyak telepon yang datang bertubi dengan genitnya. Pemandangan yang sama sekali lain.

“Hai, Yoen, kalau kamu ingin mandi, ambillah handuk baru. Di dalam lemari kamarmu.”

Yak, dimulailah serangkaian kebingungan itu.

Ketika Yoen membuka lemari untuk mengambil handuk, dimulailah keterbengongan pertamanya. Selama lima belas tahun dia hidup, di mana sebagian besarnya di bawah rezim Mat Kasim, belum pernah sederet pakaian memenuhi lemari, tak ada satu pun yang lusuh, dan wangi semua. Dia kebingungan, bahkan tercekat di depan lemari, alih-alih mengambil handuk. Sampai akhirnya, salah satu “kakak” yang memahami respons psikologis frontalnya mengambilkan handuk yang dia maksud.

Keterkejutan berlanjut ke kamar mandi. Dia tak menjumpai ember plastik besar berlumut di situ. Dia tak menemui gayung. Yang dia pijak porselen bersih mengkilap, bukan lantai tanah telanjang yang sering becek. Dia seperti memasuki alam lain begitu menjejak kamar mandi.

Dia semakin kebingungan mendapati bathub, yang baginya adalah bak mandi yang terlalu besar dan pendek. Dia juga tak mendapati sumur pompa untuk mengisinya. Untunglah, “kakak” dan “saudaranya” mengerti, dan membimbingnya agar bisa bersahabat dengan dunia kamar mandi baru itu.

Awalnya semua lancar. Dia mulai tahu cara mengoperasikan “peralatan ajaib” dalam kamar mandi itu. Pembibingnya meninggalkan dia sendiri di dalam. Awalnya semua dirasa akan baik-baik saja, sampai terdengar jerit Yoen dari kamar mandi, yang membuat orang-orang menghambur masuk.

Ternyata dia terlalu berlebihan menyalakan tombol air panas untuk shower yang mengguyur tubuhnya.

***

SELEPAS ritual konyol, “saudara” dan “kakak-kakak”nya mulai meriasnya. Terjadi transformasi frontal dari si lusuh Yoen yang mendadak menjadi Cinderella.

Kecantikan yang selama lima belas tahun tersembunyi di balik baju-baju lusuhnya mendadak muncul dengan formasi paling lengkap. Pak Tamu benar-benar jeli mendapati potensi dalam diri Yoen.

Setelah cantik fisiknya muncul dengan sempurna, dimulailah proyek untuk mempercantik sikapnya. Dengan saudara juga kakak sebagai mentor. Dan materi untuk pendidikan awalnya itu membuat Yoen syok; dia diperkenalkan pada buku dan video porno!

Awalnya, dia merasa risih melihat adegan pria dan wanita telanjang bulat dan bersetubuh dengan liar itu. Tapi hanya awalnya, karena naluri akhirnya membuat Yoen untuk menikmati adegan itu.

“Nanti kamu akan sering-sering seperti itu,” kata salah satu “kakak”nya. Yoen terheran. “Maksudnya?”

“Nanti, perlahan-lahan akan menjadi seperti kami. Kami akan membimbing kamu, sayang,” kata sang “kakak” dengan begitu perhatiannya, seperti benar-benar sedang membimbing seorang adik membawa pencerahan.

Yoen hanya menurut. Karena, mungkin, itu caranya untuk hidup lebih baik. Siapa orang yang tak ingin hidup makmur? Begitu pula Yoen.

Selanjutnya Yoen secara intens menerima banyak masukan tentang dunia yang akan digelutinya; dunia yang menyenangkan, menurut “kakak-kakaknya”. Sembari terus menerus dia menonton video porno, berbagai materi tentang apa yang harus dilakoninya nanti terus digerojokkan padanya.

Sembari itu, Yoen juga sering menyaksikan “kakak” atau “saudaranya” menjawab telepon, lalu berdandan seberahi mungkin. Dandanan yang pasti berhasil memancing libido laki-laki manapun. Lalu mereka keluar, dan baru kembali tiap dinihari. Seperti kupu-kupu cantik, yang berkeliaran menghinggapi bunga-bunga di taman malam metropolitan. Sebuah peradaban yang tak pernah tidur untuk memburu angan-angan dan kesenangan. Sampai orang-orang di dalamnya lupa membedakan, apa itu mimpi dan apa kenyataan. Garis pemisah antara keduanya telah tereliminir. Ya, di tengah metropolitan yang meruakkan samudera ambisi juga kegembiraan libidinal itu.

Yoen, lama-lama, mulai terbiasa dengan pemandangan di dalam rumah. Dia mulai bisa memahami apa yang diajarkan oleh seniornya. Di awal dia memang agak terhenyak. Wajar, karena dia mengalami sebuah transformasi yang begitu mendadak dan gemuruh.

“Tak lama lagi akan banyak telepon yang berdering memanggilmu, Yoen. Bahkan, mungkin lebih banyak dari telepon yang kami dapat selama ini,” kata seorang “kakak”.

Yoen hanya tersenyum. Dia mulai bisa menikmati kehidupan barunya itu. Sepertinya, itu semua memberi dia kesenangan. Semakin banyak referensi yang dia dapat tentang dunia yang bakal dilakoninya nanti. Dalam sebuah keinginan yang muncul bersama proses waktu, timbul hasrat untuk segera praktik lapangan. Yoen penasaran, sekaligus tak sabar membayangkan banyaknya duit yang akan dia dapat, seperti yang biasa dipamerkan “kakak” dan “saudara”nya tiap pulang di dinihari itu.

Dia memang merasakan senang. Tapi Yoen merasa ada yang kurang sejak tinggal di dalam rumah itu; dia tak pernah lagi mendengar masjid mengumandangkan azan.

Tapi, bayangan tentang kehidupan senang yang akan dia dapat dari kehidupan dalam rumah itu, lama-lama membawanya lupa pada lantunan puja-puji pada Tuhan, yang biasanya sangat dia nikmati itu.

***

“KAMU sudah siap, Sayang?” Pak Tamu, dengan ramahnya yang khas, melontarkan pertanyaan bersahabat itu. Pak Tamu, yang untuk kemudian dia panggil dengan sebutan “papi”. Biar lebih akrab, katanya.

Satu bulan berkelebat dengan cepat, sejak Yoen pindah rumah itu. Sebulan bersama ukiran-ukiran yang digambarkan “kakak” dan “saudara-saudara” dalam mental dan tubuhnya yang dulu lusuh. Sebuah proses yang cukup untuk membentuk sebuah pribadi lengkap yang siap berkecimpung dalam gempitanya remang-remang surga dunia yang akan membanjirinya dengan banyak uang.

“Mudah-mudahan, Pi,” Yoen telah terbentuk menjadi pribadi yang riang, setelah pergaulan sebulan dengan “kakak” dan “saudara-saudara”nya. Di dalamnya ada nada percaya diri.

“Bagus. Aku tahu kamu mampu. Aku tahu dari pertama aku melihatmu di perempatan itu,” Papi mengenangkan. Yoen hanya tersipu. Memang, benar yang dikatakan papinya itu; tidak sulit untuk menerima pelajaran di rumah itu. Jauh lebih sulit mencerap pelajaran dari dalam kelas.

Mungkin dia dulu sulit belajar karena hawa gubuk pengap yang didiaminya. Begitu tinggal dalam bangunan yang lebih dari pantas disebut rumah, dia menjadi seorang dengan otak yang mudah menerima materi.

Yoen berdandan dengan nyaris sempurna malam itu. Menurut Papi, itu wajib dia lakukan, karena malam itu akan menentukan cerah atau tidak karirnya nanti. Dan Yoen, setelah doktrin sebulan dalam rumah baru, tahu apa yang akan terjadi malam itu. Dia sudah mendapat banyak referensi dari video porno.

Meski ada sedikit takut, dan keraguan, bisakah mempraktikkan teori yang dia rasa bisa dipahaminya dengan sempurna itu, harapannya untuk kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik membuat dia memantapkan diri.

Sedan Papi membawanya menuju sebuah hotel bintang lima, di kawasan Surabaya Pusat.

***

“Bagaimana, Pak. Sempurna?” Papi memamerkan Yoen pada seorang pria paruh baya, berbadan tegap, menurut Yoen ganteng juga matang, yang kemudian dia kenal sebagai Pak Toro. Yang ditanya mengangguk-angguk. Sepertinya dia puas.

Dia tatap Yoen, dengan sorot yang begitu menundukkan perempuan minim jam terbang seperti Yoen –yang harus berdandan cantik untuk orang asing malam itu.

“Baiklah, Yoen. Pak Toro ini orang baik. Kamu temani dia. Jangan sampai Pak Toro kecewa. Sungkan saya, hahaha..” kata Papi, disambut Yoen dengan senyum senang.

Yoen merasa debutnya akan berjalan baik. Karena, yang dia temani adalah laki-laki yang secara penampakan tidak mengganggu seleranya. Sepertinya awal langkah yang bagus.

Basa-basi singkat. Lalu, besama gandengan Pak Toro, Yoen menuju lift, untuk menuju salah satu kamar eksekutif, untuk malam yang tak pernah dilupakan Yoen.

Dalam kamar hotel mewah yang baru pertama kali seumur hidup dimasukinya.

Bersama alunan musik evergreen romantis yang bersenandung lamat-lamat.

Aroma lavender yang agak menusuk, tapi membuat imajinasi menjelajah ke alam keindahan.

Bisikan-bisikan mesra Pak Toro yang lembut mampir di kupingnya, ketika tubuh tegap si pria paruh baya menindihnya di atas ranjang kingsize. Tindihan pertama Yoen.

Tindihan yang awalnya dirasanya berat. Yang sempat membuatnya sesak napas dalam sekejap. Yang sempat menahan keyakinannya, terus atau tidak.

Namun, bayangan gubuk kumuh di masa lalu, yang ingin ditinggalnya minggat jauh-jauh, dan isi dompet yang tak pernah kering, juga rumah megah mewah yang akan dia miliki sendiri –demi membalaskan dendam ekonomi masa kecilnya– membuang rasa berat itu. Dia memutuskan untuk menikmatinya.

Di luar jendela kamar, hujan sedang turun dalam sayunya, ketika dari mulut lima belas tahun Yoen terluncur sealunan rintih tertahan; kala mahkotanya ditukar dengan lima juta rupiah.

***

DUA tahun adalah bilangan yang sekejap saja, dalam persepsi manusia-manusia yang sibuk dengan kegembiraan malam mereka. Kepuasan untuk memburu pucuk libidinal membuat orang-orang melupakan alunan waktu. Kenikmatan-kenikmatan temporer yang harus dibayar dengan mahal dan cepat itu membawa mereka pada rotasi masa yang ikut berlari cepat.

Dalam kerlap-kerlip malam metropolitan, segala hal berputar dengan begitu lekas-lekas, lalu meninggalkan banyak hal yang kemudian tak berbekas. Seperti sapuan semilir angin di musim penutup hujan, yang langsung hilang meranggas begitu saja ketika kemarau mengambil tempatnya.

Di antaranya tebaran birahi-birahi pria pemuja seksualitas, dalam arti penetrasi sesaat, yang harus dibayar mahal; dengan uang, pun hancurnya sebuah ikatan rumah tangga. Karena, kepuasan batin hanya didefinisikan sebagai bertambahnya saldo rekening, pun perjumpaan dua jenis kemaluan yang hanya bisa dinikmati selama beberapa menit.

Kebahagiaan-kebahagiaan sesaat, dari orang-orang pembawa definisi yang tersumbat oleh kehendak-kehendak singkat yang begitu sesat. Dunia yang melahirkan banyak bangsat-bangsat yang tak habis-habisnya bersenang-senang menuju sekarat. Lalu menghadirkan kebahagiaan yang tak nikmat, tumpul, dan berkarat.

“Luar biasa kamu,” Om Sam menyunggingkan senyum yang mengejawantahkan sebuah kepuasan yang memang luar biasa. Tubuhnya berkeringat. Dia hanya mengenakan cawat.

Sementara Yoen di sebelahnya hanya menutupi tubuh bagus 17 tahunnya dengan selimut putih. Di sebuah apartemen yang murung dalam kemegahannya.

Yoen membalasnya dengan senyum. Diambilnya rokok beraroma mentol di tas yang tergeletak di meja samping ranjang. Dipantiknya, dan diisap perlahan. Dia terobos tabir tipis asap yang menari-nari di mukanya, untuk sebuah pandangan ke luar jendela kamar di lantai 17 itu.

Tak terasa, dua tahun sudah sejak Pak Toro membeli mahkotanya seharga lima juta. Tepat di tanggal itu. Semacam acara peringatan hari kematian yang sakral, yang harus dirayakan.

Tapi, kali itu bukan Pak Toro yang kekar menindihnya. Tapi Om Sam yang kerempeng, namun ada tenaga kuda yang terbungkus di dalamnya. Yoen nyaris menyerah dalam pertarungan malam itu. Untung, Om Sam sadar diri dan menyudahi agresinya.

Pak Toro yang kekar dan si kerempeng Om Sam hanya sebagian dari puluhan pria tajir yang pernah mengajaknya berpesta birahi. Bermacam-macam tipikal laki-laki pernah berjibaku dengan Yoen. Kurus, tegap, gendut, atletis, bujang lapuk, bapak-bapak, om-om, pria beristri banyak, seorang kekasih yang perempuannya memilih untuk melepas perawan di malam pertama, seorang suami yang istrinya menopause, seorang suami yang istrinya kurang atraktif di ranjang. Atau Cuma sekadar pria berumah tangga biasa yang mendadak ingin menikmati menu lain di luar rumah.

Semua pernah mencicipi Yoen. Perempuan yang tahu bagaimana cara memuaskan pria-pria yang belum pernah merasakan orgasme hingga pucuk. Dengan cantiknya. Dengan atraksinya di ranjang. Dengan geliat dan kerling nakalnya.

Yoen adalah ratu malam yang paling diburu.

Dari kantong mereka semua, Yoen tak perlu lagi tinggal dalam rumah bersama, yang didatanginya dua tahun sebelum malam itu. Dia bangun sendiri rumah megahnya di kawasan elit Surabaya Selatan. Dalam dua tahun, dari gubuk lembab di Surabaya Utara, menjadi gedung mewah di Surabaya selatan. Transformasi yang begitu cepat dari penyedia jasa aurat.

Itu semua karena kecerdasan Yoen. Keterampilan, lebih tepatnya. Lebih satu derajat di atas kecerdasan. Karena, cerdas belum tentu terampil, tapi terampil pasti cerdas. Tentu bukan keterampilan yang terolah di dalam kelas. Di sekolah Yoen goblok. Dia punya keterampilan sendiri yang diasahnya secara alami mengikuti dorongan naluri. Dan, setidaknya, dia berhasil di dunianya itu.

Berhasil secara duniawi.

Berhasil dalam dunia yang dipandang sesat oleh banyak orang, karena hanya memburu orientasi nikmat sesat yang cuma sesaat. Dan lebih banyak mudarat yang didapat.

Yoen dan Om Sam membiarkan keheningan meningkahi sisa-sisa desah napas mereka. Di antara pejam nikmat yang dibuat-buat Om Sam, dan kepulan asap rokok yang ditembus pandangan keluar jendela.

Hening.

Senyap.

Profan.

Sesekali suara AC yang kadang berdecit.

Dan….

GUBRAK!

Suara yang tiba-tiba memecah kesunyian membuat lamunan dua sejoli terlarang itu ambyar. Keduanya terperanjat.

“Bajingan! Ternyata ini rapat-rapatmu itu? Seminggu empat kali rapat ternyata umbar-umbaran syahwat kau dengan lonte!” seorang perempuan, seumuran Om Sam, tiba-tiba menyeruak masuk tanpa mereka sadari. Di belakangnya seorang petugas keamanan apartemen dengan safari hitamnya dan wajah yang kikuk, juga malu-malu, mengulum senyum yang tak kalah kikuk.

Sementara pelotot si wanita yang marah seperti menjelaskan, tinggal sesenti lagi bola matanya bakal copot. Padam merah mukanya meniadakan warna putih kulit wajahnya. Merah total. Semburan umpatannya membuat suasana apartemen yang sempat melankolis erotis itu mendadak menjadi lebih sedap.

“M..ma..ma..mah..” terbata-bata Om Sam itu tulus sekali, tak ada kesan dibuat-buat. Seluruh tubuhnya yang hanya dibalut cawat mendadak pucat.

Sementara Yoen, dengan tergopoh-gopohnya yang berdosis tinggi, mencoba mencari penututup tubuhnya yang telanjang. Dia kenakan cepat-cepat celana dalam, jeans slimfit, dan kausnya, tanpa bra.

Ini adalah penggerebekan pertama yang dialami Yoen. Kejadian yang tak pernah diduga, karena Om Sam tak pernah menyadari bahwa istrinya –yang curiga dengan jadwal rapatnya yang semakin sering—diam-diam menggandakan kartu kunci apartemen mereka itu. Pekan itu empat kali mereka berkencan.

“Lonte! Berapa kau kuras duit suamiku? Hai pria bajingan, berapa anggaran untuk rapatmu ini?!” emosi membuat mulut istri Om Sam mendadak kehilangan tata krama.

Yoen tak ingin terlibat lebih dalam. Dia sahut tas yang sudah diisi Om Sam dengan tiga puluh lembar seratus ribuan itu, lalu lari bergegas, berpapasan dengan istri Om Sam, menghambur menuju pintu. Beruntung bisa dia hindari upaya si wanita yang sedang murka itu yang ingin menjambak rambutnya.

Yoen kabur. Branya tertinggal.

Dan dia tak berani membayangkan lagi bentuk Om Sam yang kurus setelah insiden malam itu. Jelas dia sedang dilipat oleh murka istrinya yang sakit hati itu. Kemarahan neraka pun tak bisa menandingi seorang perempuan yang disakiti.

Yoen, dengan gopoh-gopoh yang sangat, telepon taksi dengan ponselnya. Dia lintasi begitu saja ruang lobi dengan rambut yang masih acak-acakan dan baju yang belum terkenakan dengan sempurna. Membiarkan resepsionis dan pengunjung yang bingung dengan tatapan heran mereka.

***

INSIDEN memalukan malam itu melengkapi keresahan yang sebenarnya telah menghajar Yoen beberapa bulan terakhir. Ya, keresahan yang dia sendiri bingung dari mana muasalnya, dan tak tahu alasan apa untuk galaunya itu.

Dia mengalami kerinduan yang begitu statis mengiris. Setelah dua tahun sepak terjangnya, berbekal status ratu malam itu, dalam kesendirian di rumah mewahnya, dia merasakan sebuah kerinduan yang amat sangat.

Dia ingin mengadu. Dia merasa banyak hal yang sangat salah di dua tahunnya itu. Penggerebekan barusan memperkuat asumsinya tentang kesalahan yang terus dia ulangi dengan sengaja, atas nama kesenangan-kesenangan singkat.

Dia sedang merasa dituntut untuk lebih matang sebelum waktunya. Dia merasa mendapat tanggung jawab dan kehendak yang datang tergesa-gesa, sementara pada dasarnya jiwa Yoen belum siap. Dia bimbang, mengambang dalam gamang. Dia butuh pijakan. Dia ingin mengadu. Dan keinginan itu menghadirkan rindu.

Rindu pada siapa? Saudara? Orangtua? Kekasih? Mereka adalah orang-orang yang tak pernah dipunya Yoen lagi. “Saudara” dan “Kakak” di rumah penampungannya dulu tak pernah dirindukannya. Pribadi-pribadi yang hanya berburu kesenangan sendiri tidak pantas dihampiri rindu. Lalu, apa yang dia rindu?

Dia hanya tahu, bahwa dia merasa rindu itu ada. Teramat sangat. Lekat. Mengikat. Membuatnya tercekat.

Rindu pada sesuatu yang harus.

Harus yang bagaimana? Yoen selalu menyerah ketika diharuskan menjawab itu.

”Kita ke mana, Mbak?” pertanyaan sopir taksi yang sudah berjalan sekitar 300 meter tapi tak tahu tujuannya itu, memecah lamunan Yoen.

Yang ditanya terhenyak. Jawaban tak langsung terlontar. Dia coba mencari-cari tujuan yang pas. Dia masih belum ingin kembali ke rumah mewahnya. Dia masih ingin mencari sedikit petunjuk untuk menjawab keresahannya.

“Mbak…?” pak sopir yang ikut bingung itu mencoba kembali memanggil penumpangnya.

“Sidotopo, Pak,” spontan Yoen menjawab itu. Karena, untuk sementara, tiba-tiba dia menyimpulkan; dia ingin pulang. Resahnya itu sebenarnya ajakan untuk pulang, dia rasa. Dia butuh ketenangan. Hura-hura dua tahunnya bersama puluhan lelaki itu menjauhkannya dari damai. Dia rasa begitu.

Dan kembali ke rumah mewahnya itu, baginya adalah singgah.

Dia rindu Sidotopo; kampung yang pernah memberinya ketenangan dalam gubuk kumuhnya itu. Ketenangan yang dia tinggalkan diam-diam pada suatu malam.

Dinihari itu membawa taksi yang ditumpangi Yoen menyusuri kampung yang dua tahun sudah dia tinggal minggat. Masih seperti dulu. Di luar taksi gerimis turun. Menghadirkan gericik miris dalam hati Yoen.

Taksinya mendekati rumahnya yang dia tinggal begitu saja. Ada haru yang membeku ketika dia makin dekat.

Haru itu jadi saru ketika didapatinya gubuknya itu telah berubah menjadi lahan kosong. Dengan tiang jemuran yang dia rasa milik keluarga Bu Tatik; perempuan baik hati yang selalu menyediakan dia mie rebus tiap pagi, namun tak mendapatkan pamitnya ketika pergi.

Haru malam itu hadir bersama kenangan yang mengiris. Yoen ingin pulang. Tapi ke mana? Dia sudah tak punya rumah.

Gedung megah yang ditinggalinya itu tak sanggup memberinya definisi sebagai rumah, yang bisa memberinya kenyamanan yang lumrah. “Kita berhenti di mana, Mbak?” sopir taksi yang masih saja kebingungan oleh sikap penumpangnya, lagi-lagi melontar tanya.

Rambat waktu mulai mencolek Subuh. Satu-satunya pilihan adalah kembali ke rumah megahnya yang berdiri kesepian dalam kemewahannya.

Yoen menyebut alamat, yang membuat sopir taksi makin bingung; dari utara, tujuan mereka sebenarnya jauh di selatan sana. Tapi, Pak Sopir tak boleh komplain.

Bersama kemudi taksi yang ikut gundah karena sopirnya yang mendadak kikuk itu, lamat-lamat masjid kampung mengumandangkan puja-puji pada Tuhan.

Alunan merdu itu masuk dengan sendirinya ke gendang telinga Yoen. Dia mendadak terhenyak. Dia tarik napas dalam-dalam. Matanya terpejam, dadanya yang tanpa bra berdetak-dentum, meresapi keajaiban semesta yang tiba-tiba datang. Lama suara itu tak pernah dia dengar. Pagar tinggi dan tembok bagus rumah megahnya selalu menolak kedatangannya.

Dia mulai tahu apa yang dirindukannya.

Dia tahu.

Sepertinya.

***

“YA?”

“Yoen?”

“Siapa ini?”

“Bram.”

“Bram siapa?”

“Aku butuh teman malam ini.”

Sesaat terdiam.

“Dari mana kau dapat nomorku?”

“Temanku adalah penggemarmu.”

Yoen hanya tersenyum kosong, dan tentunya ekspresi itu tak bisa dilihat Bram dari seberang. “Sebentar.”

Suara di seberang diam.

Yoen mengambil catatan kecil di laci meja lampu sisi tempat tidurnya. Dibolak-baliknya, dicari lembaran kosong. Diambilnya bolpoint.

“Jam berapa?”

“Kau mau jam berapa?”

“Enam petang?”

“Magrib belum selesai.”

“Setengah tujuh? Pas.”

Yoen mencatat. “Baiklah.”

“Aku jemput di rumah?”

“Aku tak pernah bersedia dijemput.”

“Lalu?”

“Tunjungan Plaza dua lantai tiga.”

“Hmmm. Baiklah.”

“Ada teman yang butuh kau temani malam ini.” Bram melanjutkan.

“Memang itu tugasku.”

“Hahaha…” Bram menyahut dengan tawa.

“Baiklah, sampai nanti.” Yoen menutup ponsel.

Pukul setengah dua belas siang. Cukup untuk tidur enam jam setelah malam yang melelahkan dengan Om Rio. Lalu terbangun oleh panggilan telepon asing, yang pemiliknya mengaku bernama Bram.

Ah, ternyata yang dia jawab itu adalah panggilan ke-tujuh belas. Ada enam belas panggilan tak terjawab dengan nomor yang sama. Ada juga pesan singkat berisi perkenalan diri yang belum terjawab.

Malam itu sungguh melelahkan. Om Rio adalah pria yang suka berkesplorasi. Yoen jadi bahan eksperimen. Dampak dari istri yang menua dan semakin dingin di ranjang. Klimaks Om Rio selalu tertunda. Atau tercapai dalam situasi yang tidak ideal sama sekali.

Tapi, itulah konsekuensi dari profesi. Tugas untuk menyalurkan kesenangan yang tertunda. Sebagai perempuan, sebagai makhluk biologis, yang bisa dinikmati banyak pria-pria petualang seksualitas.

Yoen menatap ke luar jendela yang tirainya tak pernah ditutup. Langit agak berawan, tapi secara umum sangat cerah.Mungkin seperti itulah hidup, kadang tersapu mega, tapi sebenarnya sangat cerah. Tinggal bagaimana si pelakon memaknainya. Dan menjalaninya.

Dibolak-baliknya kembali buku catatan kecilnya. Setiap lembar terisi dengan jadwal pertemuan. Artinya, tidak pernah ada hari libur untuknya. Awal, pertengahan, atau akhir pekan sama saja. Selalu ada janji bertemu dengan orang-orang baru yang hanya perlu mengenalnya di atas ranjang. Para petualang itu. Ada yang masih terus berkomunikasi dan memosisikan diri mereka sebagai kenalan resmi. Atau bahkan penggemar.

Tak jarang dampratan dari istri atau kekasih yang marah. Tapi itu terbayar dengan berlembar-lembar uang lima puluh dan seratus ribuan yang rutin dia bawa pulang setiap dini hari. Itu adalah menu biasa. Terlalu biasa malah.

Sebenarnya dia hampir lelah. Tapi dia tidak boleh merasakan itu. Karena hidup harus tetap berlanjut.

***

KUMANDANG azan dari masjid di perumahan itu. Duhur telah tiba.

Yoen tutup buku catatannya. Masih dengan kaos longgar tanpa bra, dan celana dalam genitnya, dia turun ranjang.

Masuk ke kamar mandi.

Cuci muka. Sikat gigi.

Wudhu.

Diambilnya mukena yang selalu tersimpan rapi di dalam lemari.

Ditutupnya seluruh aurat.

Menghadap dia tafakur di tengah siang yang cerah itu, berusaha untuk mengenal lebih dekat makna kesabaran.

Dan menghindari amarah untuk menuju kehidupan yang penuh berkah. Suatu saat nanti. Karena Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar.

***

“MARILAH menuju kebahagiaan…”

image

lads-mag.com

Advertisements

2 thoughts on “Sang Pelacur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s