Filosofi Nasgor

LIHATLAH Ratri. Bahwa sepiring nasi goreng ini mengajarkan kita makna kehidupan dan cinta.”

Ratri  memperhatikan sepiring nasi goreng dengan taburan acar dan bawang goreng yang disodorkan Salman itu. Di luar gerimis. Kepulan asap nasi goreng yang baru matang membuat aromanya mendominasi ruang antara Ratri dan Salman. “Harum?” Ratri mengangguk.

“Coba kau hirupi aroma itu sedalam mungkin, selama kamu sanggup.” Ratri kembali mengikuti petunjuk lelakinya.

Sedetik, dua detik… Tiga puluh detik…

Semenit… “Aaahhh… Aku bosan menghirupnya,” kata Ratri.

“Itulah hidup, Ratri. Yang harum tak selamanya harum. Manusia selalu sampai pada rasa bosan.”

Ah, Ratri paham. Dia mengangguk lagi.

“Maka dari itu, kamu perlu sesekali menghirup apak, agar harum tetap punya haknya untuk tetap menjadi harum.” Anggukan mengerti kembali menggerakkan kepala Ratri.

“Sekarang, mari kita nikmati nasi ini, pelan-pelan…” Salman menyuapkan nasi goreng untuk Ratri, lalu ganti untuk mulutnya sendiri. Berdua mereka menikmatinya, mengunyah sambil saling menatap. Begitu makanan tersuap, ada nikmat di lidah. Gigi-geligi mengunyahnya perlahan, sembari membiarkan lidah mengeksplorasi rasanya.

Setelah nasi tertelan, Salman menarik napasnya perlahan. Ratri masih menatapnya terpesona.

“Kenikmatan hidup itu tidak hadir dalam bentuknya yang tunggal, Ratri. Kenikmatan itu dibentuk oleh banyak unsur. Seperti kenikmatan yang dihadirkan nasi goreng ini. Ada pedas cabai, asin garam, gurihnya bawang, sedapnya bumbu masak, manisnya kecap, asamnya saus. Ada manis nasi, lezat potongan ayam dan telur, sedikit segar dari acar. Ketika rasa-rasa itu datang sendiri-sendiri, akan terasa membosankan. Namun, ketika mereka melebur menjadi sebuah rasa baru, mereka menghadirkan kenikmatan. Dan kenikmatan itu akan terasa lebih sempurna ketika kita membaginya atas nama cinta, Ratri. Seperti kenikmatan sepiring nasi goreng yang kita bagi ini.”

Ratri menatap kagum pada Salman. Pria itu dirasanya begitu bijak tentang banyak hal. Pada kencan pertamanya yang begitu sederhana itu, Ratri merasa tak salah memilih Salman sebagai pendamping.

“Seperti kita, Ratri. Ketika Salman dan Ratri  hanya sebagai individu yang sendiri-sendiri, kita akan kerap dilanda bosan dan sepi. Namun, ketika Salman dan Ratri bertemu, berpadu, dan bercinta, hadirlah kenikmatan itu. Seperti kenikmatan yang kita bagi sekarang. Sepi, gerimis, Salman dan Ratri…”

Kalimat terakhir membuat Ratri tiba-tiba merasa harus memeluk Salman. Dia tubruk lelakinya itu. Air matanya meleleh. Terharu dia pada cara Salman memaknai segala sesuatu.

Mereka biarkan pelukan melebur keduanya dalam cinta, bersama rintik-rintik syahdu di luar….

***

“Mas, Mas. Udahan makannya? Saya tungguin dari tadi. Lama-lama mati beku saya….”

Salman dan Ratri gelagapan. Mereka melepaskan pelukan.

“Oh, maaf, Bang. Sebentar lagi ya. Baru sesuap….”

Ha?! Udah sejam baru sesuap?! Itu nasgor dimakan apa buat sesajen ya???” Abang Nasgor sinis, Salman nyengir, Ratri salah tingkah.

“Saya nunggu di luar, keujanan. Sepi lagi. Situ enak dua-duaan. Saya? Nungguin sepiring aja, sampe gemeteran..,” Abang Nasgor tampak sewot. Bajunya basah, bibirnya pucat. Dia benar-benar kedinginan.

“Saya ini jualan nyari duit, Mas… Bukan buat nungguin orang pacaran di pos kamling… Sampe malam gini baru sepiring laku, lamaaaaaaaaaaaa lagi. Hadeeeehhhhh…..”

Sebenarnya dari awal Ratri bertanya-tanya, kenapa Salman mengajaknya bercumbu di pos ronda di kencan pertama mereka? Pesan nasgor cuma sepiring lagi.

Tapi, filosofi Salman tentang kesederhanaan itu memukau Ratri, membuat perempuan itu semakin jatuh cinta, dan mengiyakan saja ajakan pria yang baru malam itu mengencaninya.

Salman nyengir dengan begitu sempurnanya. Sementara Ratri bingung dan malu. “Ya udah, Bang, maaf. Tolong dibungkus saja ya…”

“Harusnya dari tadi, dong! Saya kan nggak perlu lama-lama keujanan di luar sono! Sejam gini harusnya udah dapet banyak pembeli saya, bukannya nungguin orang pacaran di pos kayak gini…” Si Abang langsung menyambar piring nasgor yang masih penuh, untuk membungkus isinya.

Setelah Abang Nasgor pergi, Salman berusaha mengendalikan kembali situasinya dengan Ratri. Tentu saja, masih dengan rayuan. “Ratri, itulah kehidupan bercinta. Kadang ada gangguan di antara kemesraan kita. Tapi, itu tak berarti apa-apa jika kita benar-benar percaya pada cinta…”

Ratri mengangguk lagi. Dia tenang kembali setelah dibuai rayuan Salman lagi.

“Dan, sebagai sepasang kekasih, bukankah sudah seharusnya kita saling melengkapi dan menutupi kekurangan masing-masing? Seperti bumbu-bumbu dalam nasi goreng itu, saling melengkapi satu sama lain untuk menghadirkan kenikmatan.”

Ratri menatap mesra wajah Salman.

“Karena itulah inti dari hubungan cinta kasih… Kita bersama dalam suka maupun nestapa. Ketika kamu nelangsa, aku ada untuk membuatmu tersenyum. Begitu pula sebaliknya, bukan..?”

“Iya, Mas…” Mata Ratri berkaca-kaca lagi. Ternyata dia gampang terharu.

Mmm, maka dari itu, sekarang tolong kamu bayarin dulu ya… Aku lagi bokek nih……………” 

Salman pamer gigi, Ratri terdiam.

Seluruh keterharuan Ratri sedari tadi mendadak batal. Kampret!!!

image

Tofik Pram

Advertisements

4 thoughts on “Filosofi Nasgor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s