Karyono, Si Guru Merah

KARYONO adalah seorang pengajar yang dikejar oleh tragedi pembantaian kaum kiri, pasca-Gerakan 30 September/PKI 1965. Karyono beragama dalam trauma. Kisah cintanya begitu pelik setelah diobrak-abrik kerakusan politik yang membalas dendam.

Karyono adalah seorang guru SMA di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang juga aktif dalam gerakan membela kaum proletar di daerahnya kala PKI berkuasa. Selama aktif menjadi guru, Karyono memiliki seorang istri, bernama Saminah, dan lima orang anak yang harus dihidupinya. Keluarga mereka memilih Islam Abangan sebagai landasan religi. Karyono memilih agama tersebut karena sejalan dengan pandangan politiknya tentang keadilan dalam kebersamaan. Namun, ritual tak begitu digubrisnya. Dia salat hanya jika dia mau.

Politik selalu menemukan kejayaannya jika jeli menunggangi momentum. PKI membangun kekuatan akar politiknya di antara kemiskinan akut Jawa Timur kala itu. Oleh sebab itu, komunis yang mengobarkan jargon ‘membela kaum jelata’ begitu memesona.

Pada masa kejayaan PKI, kehidupan Karyono begitu langgeng dan waskita. Sebagai seorang pengajar yang membagikan ilmu untuk anak-anak miskin Tuban, Karyono begitu dihormati oleh kaum proletar. Dia hidup di dalam budaya kemiskinan yang begitu timpang era Orde Lama, ketika rakyat pedesaan di Jawa Timur terjerembap dalam kemiskinan, sementara para pejabat yang hidup di Jakarta bergelimang kekayaan berlebih.

Betul bahwa Karyono adalah seorang kiri. Akan tetapi, dia tak mengacungkan celuritnya untuk memaksakan sama-rata dan sama-rasa. Tak pernah sepercik pun darah terciprat di tangannya. Dia berpolitik melalui ruang kelas, dengan menanamkan kesadaran pada murid-muridnya, bahwa kemiskinan bukanlah situasi yang patut diajak kompromi, juga bahwa kepemilikan dalam kebersamaan itu adalah pilihan yang paling adil. Pak Guru Karyono tidak pernah menganjurkan pertumpahan darah pada anak-anak didiknya.

***

Semua berjalan baik-baik saja, hingga militer kanan menabuh genderang perang balas dendam untuk kematian enam jenderal dan seorang perwira pertama militer di Jakarta, yang dihabisi dalam tragedi G 30 S/PKI 1965. Gaung permusuhan yang harus dibayar dengan darah itu menyebar rata ke seantero negeri, menyelusup hingga pelosok Tuban, tempat di mana Karyono si guru yang tak paham ada apa di Jakarta, sedang membangun kesadaran tentang sama-rasa sama-rata di kelasnya sana.

Nama-nama merah, yang harus dihabisi tanpa pengadilan, disusun dalam daftar yang begitu rinci. Nama Karyono dan bapaknya termasuk di dalamnya. Tak hanya militer yang mendapatkan hak untuk berpartisipasi dalam pembantaian massal kaum kiri. Organisasi kemasyarakatan atau underbow partai politik yang beraliansi dengan kanan juga mendapatkan hak istimewa tersebut. Orang-orang yang mengaku muslim anti-komunis mengangkat pedang hingga ke pelosok, meneriakkan “Allahu Akbar” untuk membabat nama-nama yang ada di dalam daftar. Tuhan mereka seret dalam kebiadaban nafsu politis.

Dendam selalu mengunci rapat sisi manusiawi. Melepaskan sekonyong-konyong sisi buas manusia. Memang, PKI pernah melakukan pembantaian demi kelanggengan ideologinya. Namun, pembalasan dari kaum kanan berjuta kali lipat lebih sadis daripada pembantaian yang pernah dilakoni kaum kiri.

Pada suatu malam yang begitu miris dan mencekam, Karyono melihat dengan mata-kepala sendiri, bagaimana segerombolan orang berbusana muslim mendobrak rumah bapaknya, meneriakkan keagungan Tuhan, lalu menghujani tubuh tua bapaknya dengan bacokan-bacokan di sekujur kepala hingga ujung kaki. Bapaknya mati oleh cara yang sangat tidak manusiawi. Lalu, terbesit tanya pada Karyono; apakah memang ini yang diperintahkan Tuhan?

Dalam fondasi Islam Abangannya yang begitu labil, Karyono memutuskan untuk kecewa pada agama. Dalam momentum tragis yang dijumpainya pada malam berdarah itu, dia melihat bahwa kasih sayang yang diajarkan Tuhan itu bohong belaka. Orang-orang yang begitu mengagungkan Tuhan itu telah memberinya pesan, bahwa dendam hanya bisa dilunasi dengan darah. Karyono tak pernah setuju dengan itu. Perannya sebagai guru telah memberinya pemahaman, bahwa kebersamaan itu hanya bisa dibangun oleh kasih sayang, bukan dengan pedang yang menghujam.

Pembantaian berlangsung bak parade yang harus dirayakan. Seluruh kawan-kawan kiri Karyono dihabisi dengan cara-cara yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Air sepanjang aliran Bengawan Solo, mulai dari Madiun, Bojonegoro, hingga Tuban, berubah menjadi pekat merah darah. Rakit-rakit ditumpangi kepala-kepala kaum merah yang terpenggal, dilarung, membawa pesan arogansi kemenangan politik kanan waktu itu; bahwa jawara berhak sesuka hati, dan pecundang wajib dihabisi.

Bersama rasa manusianya –yang takut kepada momen kematian sebab misterinya– Karyono ingin menyelamatkan diri. Dia harus pergi dari Tuban. Pada Saminah –yang namanya tak termasuk dalam daftar bantai– Karyono pamit. Istri merelakannya atas nama cinta dan khawatir terhadap nasib suami.

“Selamatkan dirimu, Mas. Dalam situasi seperti ini, tak ada yang lebih kuinginkan daripada keselamatan suamiku.”

“Tapi, Bu…….”

Tatapan mesra seorang istri yang mengkhawatirkan nasib suami, menyingkap ruang remang-remang kamar mereka, menembus mata suaminya, berusaha meyakinkan sang suami bahwa tak ada yang lebih dia inginkan daripada keselamatan sang terkasih.

Malam yang masih kerasan pada puncak kegelapannya menjadi saksi, ketika Saminah yang dipaksakan tegar itu melepaskan pelukan Karyono yang masih ingin hidup. Sang Bapak mencium dengan hati-hati satu persatu kening lima bocahnya yang masih dibuai mimpi.

Dalam dingin dan tatapan sendu-sayu, Saminah melambai pada Karyono. “Semoga waktu memberi kita kesempatan untuk bersua lagi, Mas.”

Untuk beberapa detik Karyono terpaku. Hatinya ditusuk keraguan. Namun, bayangan kematian dengan cara biadab yang mengamuk dalam kepalanya akhirnya menyeretnya melangkah gontai menjauh dari Tuban.

Bersama berat hati Karyono atas nasib anak-anaknya, berpisahlah sepasang suami-istri itu untuk batas waktu yang tak pernah bisa ditentukan, tanpa proses perceraian.

Saminah sendirian membesarkan lima anaknya, dalam kemiskinan setelah harta benda mereka dirampas oleh kaum kanan. Sementara Karyono dibelenggu oleh ketakutan dan rasa bersalah dalam pelariannya.

***

Karyono resmi masuk daftar orang merah yang harus diburu. Dia ingin pergi jauh sekali dari Tuban, meninggalkan rasa sakit dan trauma politik yang penuh dengan amis darah. Yang itu berarti dia juga harus meninggalkan cintanya pada Saminah dan lima anak mereka dengan terpaksa.

Pelariannya dilakoni secara harfiah. Ya, lari, benar-benar lari, menggunakan kaki. Menumpang kendaraan umum, yang rutin dirazia oleh tentara dan kaum kanan-beragama, sama saja dengan menyerahkan kepalanya pada bilah-bilah pedang dan moncong bedil pembenci kaum merah. Dia kabur dari teror kanan di Tuban, menyusuri Pantai Utara Pulau Jawa. Dia susuri jalanan ketika malam telah menghadirkan gelapnya yang paling sempurna. Ketika kegelapan telah dirobek oleh terang pagi dan burung bernyanyi, Karyono memilih untuk sembunyi.

Dia susuri jalur utara itu dengan menyelusup ke hutan-hutan, tanpa selembar pun tanda pengenal. Dia lebih memilih risiko bertemu binatang buas daripada melintas di jalanan dan bersua militer yang, menurutnya, jauh lebih buas daripada makhluk-makhluk tak berakal yang diam dalam hutan itu.

***

Setelah melampaui bilangan beberapa bulan bersama rasa takut, lapar, dan sakit lahir-batin, sampailah langkah kaki Karyono di Jakarta –kota yang dinyatakan telah bersih dari kaum merah. Namun demikian, di mana keberadaannya senantiasa dilacak oleh tentara dan ormas kanan yang masih memelihara dendam. Selama belum ditemukan mayatnya, Karyono masih masuk dalam daftar buron.

Karyono yang sebagai guru SMA di Tuban, beristri dan beranak lima, beragama Islam Abangan, masih diburu.

Identitas lawas begitu menghantui setiap detik Karyono. Dia ingin keluar dari masa lalu, karena itu dia harus melepas seluruh identitas itu. Dia harus menjadi orang lain! Bukan guru, bukan seorang suami atau ayah dari lima anak, bukan seorang Islam. Dia harus menjadi lain dari itu. Trauma permanen dan perih mendorongnya untuk segera menjadi manusia baru. Agar dia tak selalu menjadi orang yang diburu.

Hingga di Jakarta dia menemukan sebuah kartu identitas yang terjatuh, atas nama Sukarman. Fotonya telah kabur, dan itu adalah kesempatan Karyono untuk menggunakannya. Agama yang tercantum di dalam identitas itu Katholik. Belum kawin. Bersama dengan kartu identitas yang masuk ke dalam sakunya, Karyono menjelma sebagai Sukarman; seorang swasta, lajang, Katholik.

***

Bersama status anyar dan usahanya untuk membangun hidup baru, kabur dari trauma, Karyono alias Sukarman rindu pada Saminah dan lima anaknya. Bagaimanakah nasib mereka? Rindukah juga mereka padaku? Namun, dia tiada daya untuk menjemput mereka. Mendapat kabar dari mereka pun tak mungkin kala itu. Bertalu rindu hatinya terbentur pada kenyataan politik yang membawa trauma. Rasa bersalahnya sebagai sosok bapak, yang seperti lari dari kewajiban terhadap anak, membuat tiap detiknya dihantui perasaan tertuntut agar suatu saat kelak membayar lunas pertanggungjawabannya. Karyono hidup dalam dua kecemasan; takut dibunuh dan khawatir pada mereka yang dicintainya, yang jauh di Tuban sana.

Hingga waktu membawa rindu Karyono beralih, setelah dia terlibat perjumpaan dengan Rukmini, seorang perempuan muda yang membawa lari sejarah serupa dengannya. Rukmini adalah seorang guru di Bojonegoro yang juga aktif dalam gerakan kaum merah. Dia juga melarikan diri ke Jakarta setelah keluarganya dibabat habis. Bahkan, kakak Rukmini, Santoso, yang anggota DPR dari fraksi PKI itu, tak jelas nasibnya. Hilang musnah dia setelah pembantaian massal itu. Latar belakang yang sama mengarahkan Karyono dan Rukmini pada jatuh cinta.

Cinta yang tak lantas membuat Karyono lupa begitu saja akan tanggung jawabnya sebagai bapak lima anak dari istri yang tak pernah diceraikannya. Cinta itu tumbuh bersama dengan keperluan pembaharuan status demi lepas dari label buron politik. Namun, tetap ada cinta tulus yang tumbuh bersama Karyono dan Rukmini.

Karyono membagi cintanya untuk Saminah dan Rukmini dengan adil.

Bersama Rukmini, Karyono dikaruniai dua putri. Karyono memutuskan untuk menjadi seorang Katholik asli, bukan sekadar syarat untuk KTP. Pilihan itu diambilnya dengan dua alasan; demi perubahan status agar lepas dari trauma pembantaian, juga rasa kecewa setelah orang-orang ormas Islam itu memenggal kepercayaannya pada kebersamaan dengan pedang yang terhujam ke tubuh bapaknya di malam nahas itu.

Bukannya dia tak percaya pada ajaran Islam, namun dia trauma pada orang-orang yang membawa ajaran itu. Orang-orang yang telah mencemari keindahan religi dengan ambisi yang jauh dari manusiawi.

Dalam mahligai rumah tangganya dengan Rukmini, Karyono senantiasa merawat asa; bahwa suatu saat dia akan membayar seluruh utang tanggungjawabnya sebagai seorang suami dan ayah, yang terpaksa kabur setelah dipecundangi oleh kebiadaban politik.(*)

image

Tofik Pram

Advertisements

2 thoughts on “Karyono, Si Guru Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s