Bisma Termakan Sumpah

NAMANYA Bisma Arif. Ketika sebuah nama direpresentasikan sebagai doa, orangtua semestinya berharap Bisma menjadi pribadi yang bijaksana dalam menghadapi kehidupan, tidak rakus duniawi, seperti karakter Resi Bisma dalam mahakarya Mahabharata itu.

Dalam beberapa hal Bisma memang bijaksana menyikapi hidup. Dia adalah anak yang patuh perintah orangtua dan tertib dalam melakoni pendidikan. Pada agama dia takzim. Hidupnya sangat lurus.

Lazimnya manusia lain, tentu ada sedikit noktah dalam kelurusannya itu. Satu hal yang tak pernah mampu dia rem, yaitu nafsunya pada bakso. Bola-bola daging itu selalu membuatnya lepas kendali. Sensasi kenyal daging dengan gelitik vetsin di lidah itu membuat Bisma menjadi seorang fanatik. Bila saja menduakan Tuhan itu boleh, mungkin dia akan berselingkuh dengan bakso. Mmm, mungkin saja analogi ini sangat hiperbolik. Namun, memang fanatismenya pada bakso sudah keterlaluan, cenderung mengarah pada pengkultusan.

Tak ada hari yang dilalui Bisma tanpa bakso. Teman-teman yang melihat cara dia menyantap bakso, kapan dan di mana saja, sampai heran, apakah Bisma tak mengenal rasa bosan? Ataukah dia tak pernah memikirkan kolesterol yang sangat mungkin menggerogotinya kala tua? Setiap kali ada yang melontarinya pertanyaan demikian, Bisma menjawabnya dengan memesan semangkuk bakso ukuran jumbo, lalu menikmatinya di depan si penanya. “Hanya maut yang bisa memisahkanku dengan bakso,” jawaban Bisma itu menjadi semacam sumpah yang diucapkan dengan yakin.

Pertanyaan teman-teman pun tak dilanjutkan lagi.

Orangtuanya memang memperkenalkan Bisma pada bakso sejak dini. Sejak bayi dia jadi begitu akrab dengan bola-bola daging tersebut. Setiap hari Bisma kecil dijejali itu. Alasannya, orangtua yang sibuk tak punya waktu untuk memasak makanan untuk si kecil, dan bakso adalah solusi paling praktis.

Lama-lama, ketika orangtuanya coba menyajikan menu berbeda, tangis Bisma langsung pecah. Mau tak mau, kembalilah mereka pada menu bakso. Bisma menikmatinya dengan lahap. Hingga dewasa, Bisma makan tiga kali sehari, di mana dua di antaranya dia memilih menu bakso. Untuk sarapan dia memilih menu berganti-ganti. Mungkin itu caranya untuk mengakali rasa bosan.

Sebagai mahasiswa, Bisma adalah cerdas. Dia paling jago menyusun makalah dan presentasi. Dia sering jadi jujugan mahasiswa lain yang kebingungan dengan mata kuliah yang harus mereka selesaikan, sebagai mentor dadakan. Nilai terendah yang pernah tercantum dalam kartu hasil studinya adalah B. Tampaknya, teori yang menyebutkan vetsin bisa mengganggu intelegensi tak berlaku pada Bisma. Buktinya, sejak bayi dia dijejali bumbu masak itu melalui bakso, ketika dewasa otaknya main.

Teori yang menyebutkan lemak dalam daging sapi bisa menyebabkan obesitas jika dikonsumsi berlebih, juga tak bekerja di tubuh Bisma. Setiap saat makan bakso, sejauh itu tubuhnya masih proporsional. Mungkin dua hal itu adalah keistimewaannya. Setiap pribadi biasanya memiliki keistimewaan, yang kadang dianggap tak lazim oleh individu kebanyakan. Seperti relasi Bisma dengan bakso daging bervetsin itu.

Pada suatu hari Bisma galau. Tanda-tanda itu terlihat dari kebiasaannya makan bakso yang semakin gila. Semenjak mimiknya senantiasa menunjukkan gundah, dalam sekali sesi dia selalu melahap tiga mangkuk bakso di warung Cak Man, seperti orang kesetanan saja. Kentara betul dia mengalihkan galaunya itu pada konsumsi ekstra pada bola-bola daging yang begitu dicintainya. Teman-teman semakin geleng-geleng, begitu juga Cak Man. Tapi, buat Cak Man, kegalauan Bisma sama dengan keuntungan untuknya. Geleng-geleng dia itu untuk menyembunyikan senyumnya saja. Empati basa-basi biasa manusia…

Selidik punya selidik, ternyata Bisma sedang kasmaran. Dan, itu adalah cerita kasmaran pertama yang melandanya. Kasmaran pada wanita, maksudnya. Kalau kasmaran pada bakso, itu sudah bawaan bayi.

Seorang perempuan bernama Amba membuatnya tersepona, eh, terpesona. Gadis itu dari fakultas sebelah. Rambutnya panjang bergelombang, mukanya bulat dengan sedikit jerawat aduhai, dan ada tatap sendu di balik kacamata minusnya. Pokoknya, begitu sempurna di mata Bisma. Lebih indah lah dari bakso-bakso pujaannya. Layaknya Dewi Amba yang memesona Resi Bisma.

Tetapi,  Bisma ini bukan Resi Bisma yang bisa mengendalikan hasrat cintanya pada Dewi Amba. Bisma yang ini merasa harus memiliki Ambanya itu. Wajar sebenarnya, karena Bisma tak memiliki Hastinapura yang kerukunannya harus dijaga, seperti Resi Bisma. Sebab itu, dia mengikuti kebutuhan naluriahnya pada Amba, dan memutuskan bahwa itu harus dipenuhi.

Minim jam terbang dalam bidang asmara membuat Bisma tak bisa bermain cantik. Dia menerapkan metodologi pendekatan wawancara dan observasi. Amba sempat dibikin risih dengan pertanyaan-pertanyaan observatif ala Bisma, tentang asalnya, tentang orangtuanya, tentang keluarganya. Bisma itu seperti petugas sensus. Tapi, Amba mencoba memahaminya. Bisma “Bakso” yang begitu terkenal itu memang kondang sebagai pria yang belum pernah dekat dengan wanita. Amba menanggapinya sewajar mungkin.

Namun, ketika pertanyaan Bisma itu terus dibombardirkan di ruang ramai, Amba lama-lama risih juga. Tapi dia tahu, Bisma ingin menyampaikan sebuah pesan pribadi, dan laki-laki itu bingung ketika harus menyampaikannya di depan banyak orang. Amba, yang juga punya perasaan, mencoba untuk mengerti Bisma. Amba punya jam terbang lebih tinggi soal asmara. Sebab itu, dia lebih bisa mengendalikan diri dan situasi. Juga tak ingin membuat malu siapa pun, termasuk Bisma yang sedang canggung. Pengalaman membuatnya bisa lebih bijak. Maka, dia undang Bisma ke rumahnya, sekadar berbincang dengan suasana yang lebih pribadi.

Undangan yang, tentu saja, sangat ditunggu oleh Bisma.  Pada saat yang dijanjikan, bersama penampilan terbaik, Bisma bertandang ke rumah Amba, beriring nyanyian malam yang sejuk meski tanpa hujan. Ada bintang-bintang yang menyorakinya. Semangat Bisma terpompa, serasa dia hendak mendapatkan kemenangan dari Padang Kuru. Pada lepas Isya kala itu, dia lupa sama sekali pada pesona bakso-baksonya.

Sambutan Amba yang ramah juga penuh senyum membuat Bisma kian berbunga-bunga. Sayang betul, gaya bincang-bincang yang dipilih Bisma masih seputar wawancara dan observasi, namun tak juga sampai pada konklusi. Amba merasa punya tanggung jawab untuk mengarahkan Bisma agar benar-benar sampai pada maksudnya. Mungkin, maniak bakso itu perlu penenang, agar kata-kata dalam kepalanya bisa mengalir lancar. Dan, penenang itu tak lain tak bukan, adalah bakso.

Di tengah alur perbincangan Bisma yang tak jelas arahnya itu, melintaslah Mas Rokib dengan gerobak baksonya di depan rumah Amba. Tuan rumah memanggilnya, untuk memberikan suguhan terbaik pada tamunya yang sedang kebingungan. Melihat ada bakso terhidang di hadapannya, Bisma menjadi sedikit tenang. Seperti seorang pecandu yang mendapatkan obat penenang saja.

Bersama Amba dia  nikmati butir demi butir bola-bola daging itu. Dia merasa sangat romantis ketika ada bakso di antara dia dan Amba.

Vetsin dalam bakso urat Mas Rokib memberi ketenangan untuk Bisma. Bersama suap demi suap bakso itu, percakapan lebih mengalir dan terarah. Bisma menemukan momentum. Sebelum suapan baksonya berakhir, dia harus melontarkan pertanyaan paling krusial itu; “Amba, kamu sudah punya kekasih?”

Setelah menelan kunyahannya, Amba menjawab; “Mmm, tiga bulan lagi aku menikah. Usahakan datang ya? Aku akan kirim undangan khusus untukmu.”

Deg…

Amba tersenyum.

Kabar itu datang bersamaan dengan kunyah terakhir bakso urat yang seharusnya belum waktunya Bisma telan. Daging yang belum lumat sempurna meluncur begitu saja ke dalam tenggorokannya, lalu tersangkut di situ.

Egh..!

Bisma tak bisa bernapas! Mukanya merah padam, matanya berair, hidungnya beringus! Sakit sedaknya luar biasa, dibumbui kecewa oleh jawaban yang tak pernah dia duga. Seperti Resi Bisma yang tertembus ratusan anak panah Srikandi saja.

Amba yang ikut panik melihat mimik Bisma memberinya minum. Upaya itu tak berhasil. Daging tersangkut begitu kuat. Satu-satunya jalan harus dimuntahkan. Amba membantu Bisma dengan menggebuk tengkuknya. Setelah tiga kali gebuk, gumpalan bakso urat yang belum terkunyah sempurna itu termuntahkan juga.

Untuk pertama kali sepanjang sejarah hidupnya, tubuh Bisma Arif menolak bakso dengan cara yang menyakitkan. Sakit lahir dan batin, tentunya. Karena dia juga malu, laki-laki hebat kok muntah di depan perempuan pujaan…

Momentum itu juga menyadarkannya, bahwa nama Bisma dan Amba sepertinya tak akan pernah bisa bersatu, setelah momentum yang menyakitkan. Amba senantiasa menjadi kutukan untuk Bisma.

***

Selepas malam itu, Bisma selalu terbayang-bayang wajah Amba pada setiap bakso yang hendak disantapnya. Wajah yang dia damba itu tersenyum, sembari menawarkan undangan pernikahannya dengan pria lain, khusus padanya. Ngilu. Nuansa itu membuat dia merinding. Bagi Bisma, menu wajibnya tersebut telah bertransformasi menjadi psikopat. Lama-lama, dia semacam fobia pada bakso. Tiapkali mendapati bakso, dia trauma. Daging bulat-bulat yang dulu begitu dipujanya kini membuatnya selalu bergidik. Bulat-bulat itu seperti bulat wajah Amba yang aduhai namun menyembelihnya. Akhirul kata, Bisma Arif memutuskan bertalak dengan bakso, demi melupakan Amba.

Cak Man pun kehilangan satu pelanggan potensial.

***

WAKTU berhasil membawa Bisma menjauh dari bakso dan Amba. Tiga tahun berlalu dan dia berhasil lulus kuliah dengan predikat cumlaude. Dia mendapat posisi bagus di sebuah perusahaan prestisius.

Di masa-masa itu dia bertemu Kartika, perempuan muda yang, bagi Bisma, sama menariknya dengan Amba –yang kala itu telah mempunyai satu anak, dari pernikahan yang pestanya tidak dia datangi.

Bisma Arif merasa, Kartika lah yang pas menjadi obatnya. Apalagi setelah dia memastikan belum ada pria lain yang mendiami hati Kartika. Sang pujaan juga menerima cintanya. Berdendang senang hati Bisma Arif. Dia berharap, Kartika benar-benar bisa membuatnya lupa pada Amba, yang sampai saat itu masih sering diingatnya.

“Untuk merayakan kebersamaan kita, mari kita rayakan di rumah makan milik ayahku. Rumah makan itu nantinya akan menjadi milik kita jika kita menikah,” Kartika mengajak Bismanya untuk merayakan momentum kasih mereka, setelah Bisma Arif mengungkapkan isi hati yang dia jawab dengan anggukan senang.

“Baiklah. Mari,” bersama hati yang berbunga, Bisma Arif mengiyakan ajakan Kartika. Mereka berkendara dengan mobil baru Bisma Arif, menuju sebuah alamat.

“Itu dia, parkir mobilmu tepat di depan,” Kartika menunjuk sebuah rumah makan yang tampak besar dan ramai. Pada banner di bagian depan bangunan, tertulis jelas; “Bakso Urat Super Spesial Kartika“.

Deg!

“Hanya maut yang bisa memisahkan aku dengan bakso”?

Celaka duabelas! Bisma termakan sumpahnya sendiri.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s