Jam Makan Siang

WAKTUNYA makan siang.

Sesuap nasi, secuil telur, dengan ekstra bumbu kepulan asap solar metromini dan bekas injakan lalat-lalat masuk ke mulut si Otong. Hap. Dia mengunyahnya dengan senyum. Suci menjilati sisa-sisa nasi yang masih menempel di jemarinya, yang tak ikut masuk dalam mulut kecil Otong. Terlalu sayang untuk dibuang, meski itu cuma sebutir, batinnya.

Si Buyung, yang kira-kira umurnya belum genap setahun setengah itu, lelap dalam gendongan Suci yang sedang menyuapi kakaknya. Bising mesin kendaraan dan gerah yang hinggap di Jakarta siang itu tak mengusik kenyamanan mimpi-mimpi kecil si Buyung. Dia pulas dibungkus selendang cokelat tua lusuh yang menggantung di pundak ibunya.

Si Otong, setelah habis makanan di mulutnya, menyungggingkan cengir untuk ibunya yang menjilati jari. Dia membayangkan kucing-kucing liar di tepi jalanan Jakarta, yang menjilati sisa-sisa makanan pengunjung warung. Pemandangan itu rutin dilihatnya dua bulan terkahir. Bocah lima tahun itu membandingkan ibunya dengan kucing. Imajinasi bocah yang wajar dalam kenakalannya.

Suci tak memperhatikan cengir anak terbesarnya itu. Dia berpaling pada di Upik yang menunggu suapan yang sama seperti Otong. Si Upik menanti giliran sembari memainkan sebuah boneka kecil yang buntung tangannya. Entah dia pungut dari mana mainan itu.

“Upik, aaak, Nak,” Suci memanggil anaknya dengan suara yang sedikit keras, mencoba mengambil ruang di tengah deru-deru mesin kendaraan yang beradu pacu di perempatan Pancoran itu, agar resonansinya sampai ke gendang telinga Upik. Yang dipanggil membuka mulut, tanpa mengalihkan pandangan dari boneka buntung yang asyik dimainkannya. Suapan mendarat di mulut kecilnya. Ada debu dan asap yang ikut tersuap.

Otong mengambil sebungkus es teh yang tinggal separuh, yang tersandar di tiang halte Pancoran. Ada banyak debu yang mengambang-ngambang di dalam tehnya. Tapi, Otong tidak peduli. Dia sedot saja minuman itu untuk mendorong sedikit makanan yang tersangkut di tenggorokannya.

“Sisakan untuk adikmu, Nak,” Suci memperingatkan si Sulung agar berbagi.

Mendapat komando itu, si Otong langsung menyetop sedotannya, lalu dia sodorkan es teh yang tinggal sedikit itu ke mulut adik perempuannya yang berumur tiga setengah tahun tersebut. Si Upik menyorongkan bibirnya untuk menangkap sedotan warna hijau muda itu, dan mengisap minuman dalam plastik itu secukupnya. Lalu dia asyik kembali pada mainan buntungnya. Sementara Otong menaruh es teh yang tinggal sepersedotan itu di samping ibunya. “Nih, buat Ibu.”

Yang ditawari sisa minuman hanya tersenyum. Lalu Suci mengumpulkan butiran-butiran dalam bungkus nasi yang masih tersisa –sebungkus nasi yang dibagi untuk dua anaknya, dan sedikit sisa untuknya. Dia mendapatkan sesuap kecil. Lumayan. Dia habiskan teh yang tinggal seteguk itu. Perutnya masih bernyanyi lapar, dia tak peduli. Yang penting, Otong dan Upik sudah terisi penuh perutnya.

Setelah suap penutup untuk mulutnya sediri itu, Suci meremas bungkus nasi dari kertas minyak tersebut, menjilati lagi jarinya, lalu mengelap jemarinya yang basah oleh ludah dan minyak dari masakan itu ke kertas yang telah teremas. Begitu dia yakin jemarinya telah bersih, dia empaskan kertas itu ke dalam tong sampah di sebelah halte.

Dia pandangi bergantian; Otong yang asyik memandangi kendaraan yang melintas –lalu cengar-cengir senang memamerkan gusi atasnya yang sepi dari gigi itu, ketika melihat kenek metromini dan kopaja berteriak-teriak menaik-turunkan penumpang–, Upik yang memainkan boneka dengan sedikit celometan imajinatifnya, dan si Buyung yang masih saja lelap di bawah terik Jakarta itu.

Ada tanggung jawab yang harus diselesaikannya, setelah makan pagi dan siang yang digabung dalam sekali waktu itu. Otong dan Upik kangen bapaknya, yang setahun lalu lalu pamit kerja ke Jakarta, lalu tak jelas ke mana rimbanya. Semestinya Buyung juga kangen, tapi dia belum bisa membahasakannya. Baru enam bulan si bontot lahir, si bapak sudah merantau.

Suci bingung. Dia tak tahu ke manakah suami yang pernah dan dia harapkan masih mencintainya itu. Tak ada kabar sama sekali, sementara utang di kampungnya, Nganjuk, kian menumpuk. Suaminya tak pernah berkirim kabar, alih-alih uang. Alasan kepergian suaminya, Rusdi, adalah karena tak tahan dikejar-kejar penagih utang. Rusdi berniat hijrah dan menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Penghidupan sebagai petani bawang di kampungnya tak pernah memberinya harapan.

Terakhir kali Rusdi berkirim kabar melalui pesan singkat, menerangkan bahwa dia tinggal di daerah Pancoran, sebulan setelah kepergiannya. Dia meninggalkan nomor yang bisa dihubungi, jika sewatu-waktu istri dan anaknya kangen. Dia mengaku telah mendapatkan pekerjaan enak.

Sebelum-sebelumnya hampir setiap hari dia berkirim pesan, dan seminggu sekali telepon. Tapi, setelah pesan terakhir itu, tak ada lagi kabar yang bertukar. Pesan dari Suci tak pernah terbalas, telepon tak pernah tersambung, sementara Otong dan Upik merengek ingin bertemu bapaknya. Suci memilih untuk menyimpan nomor itu. Sembari berharap suatu hari pesannya terbalas dan teleponnya tersambung.

Setahun berlalu, rindu Suci dan anak-anaknya pada Rusdi kian bertalu. Berbekal utang tetangga dan sebuah ponsel murahan untuk mencoba menghubungi Rusdi, Suci nekat membawa tiga anaknya ke Jakarta. Sampai dia di Pancoran, dijelajahinya seluruh wilayah itu. Tapi, tak pernah jua dia temukan yang dia cari.

Nomor yang ditinggalkan Rusdi tak pernah berhasil dihubungi. Tak ada tujuan sanak di Jakarta. Tiap malam mereka berpindah dari satu masjid ke masjid lain. Sampai bekalnya habis, sampai akhirnya ponsel yang jadi satu-satunya harapan dia untuk bisa melacak Rusdi pun terjual untuk makan dia dan anak-anaknya.  

“Buk, nanti kita makan telur lagi kan?” Otong yang masih berdiri di trotoar tepi jalan itu berharap ibunya mengiyakan.

Suci tak bisa mengiyakan. Dia ingat, uangnya tinggal tiga ribu rupiah. Dia juga ingat, tak ada lagi yang bisa diuangkan. Suci hanya tersenyum, yang bagi Otong senyum itu berarti iya.

Otong kembali pada keasyikannya memandangi lalu lalang kendaraan yang kian padat di jam istirahat itu. Makin dekat dia dengan badan jalan. Upik sudah terlelap di pangkuan ibunya yang bingung, di halte itu.

“Tong, agak minggir, Nak, jangan dekat-dekat jalan,” Suci khawatir melihat Otong terserempet. Yang diperingatkan hanya menengok sambil cengar-cengir pamer gusi atasnya yang tak bergigi.

Brak!

“Bapaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk…….!!!!!!!”

Otong berteriak menyebut bapak yang dirindukannya, ketika dia terpelanting, setelah sebuah Toyota Alphard menyerempet separuh badannya yang masuk badan jalan.

Prak! Benturan keras kepalanya di trotoar membungkam mulut kecilnya. Ada darah yang mengalir. “Bapak……” masih ada sisa erangan dari bibirnya. Setelah itu, sepi.

“Otoooooooooooooonnnnnnnggggggggg….” Suci berteriak panik. Kalap dia.

Upik terbangun bingung.

Buyung  pecah tangis bocahnya karena kaget.

Toyota Alphard itu menjauh.

Orang-orang yang ingin melihat kejadian itu membuat perempatan Pancoran macet total. Tak ada polisi berjaga.

***

Di dalam Toyota Alphard.

Rusdi panik. Bosnya yang terlalu lama menunggu dia menjemput, sebab ada janji makan siang di Hotel Sultan, marah-marah luar biasa.

Siang itu dia terlalu lama dia bercinta dengan Romlah. Sampai lima ronde. Panasnya Jakarta siang itu membuat suasana  bercinta mereka lebih panas. Sebagai sopir, Rusdi sering jenuh jika harus berlama-lama menunggu bosnya. Dia mencoba mencari kesibukan sendiri. Dan dia bertemu Romlah, janda cerai tanpa anak yang dada dan pantatnya membuat dia lupa jika ada Suci, Otong, Upik, dan Buyung yang merindukannya.

Ketakutannya pada bos membuat Rusdi memacu kendaraannya edan-edanan di tengah keramaian Jakarta yang hendak makan siang.  Ketergesaannya membuat dia sampai lupa mengenakan kembali celana dalamnya, yang dibuang Romlah entah ke mana, ketika si janda sedang dirasuki birahi tinggi.

Sampai perempatan Pancoran, traffic light menguning menuju merah. Alih-alih mengurangi kecepatan, Rusdi malah menginjak gasnya lebih dalam, lalu dia banting kemudinya ke kiri untuk menghindari antrean kendaraan yang memilih tertib. Dia tidak melihat seorang bocah laki-laki sedang berdiri di tepi trotoar.

Suara brak yang sempat dia dengar, bagi Rusdi, tak semengerikan amuk bosnya yang menunggu keterlambatannya.

Rusdi mengabaikannya.

 

image

Advertisements

6 thoughts on “Jam Makan Siang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s