Yoen Kecil Mencari Bahagia

GUBRAK!

Yoen kecil tersentak. Suara buka paksa satu-satunya pintu di depan rumah, atau tepatnya gubuk, memaksa matanya yang masih lengket untuk segera terbuka dalam sekejap.

Di luar gerimis. Bapaknya datang, masuk rumah dengan kebiasaannya; mulut berbau alkohol dan berita kekalahannya di meja judi remi, dibungkus dalam kemarahan membabi-buta.

Mimpi-mimpi bocah 7 tahun yang masih sedikit terikat di dalam benaknya perlahan mulai retas. Yoen harus kembali pada kenyataan. Melepaskan elusan ibu yang tak pernah dikenalnya, lalu kembali pada makian bapak yang butuh pelampiasan.

Pelampiasan. Hal yang sangat manusiawi sekali ketika energi tak tersalurkan. Sigmund Freud benar tentang itu. Tapi Yoen tak kenal Freud. Dan dia menerima sikap bapaknya itu sebagai sebuah kebiasaan.

“Yooooeeeeeeeeennnnnnn!!!!” teriakan Mat Kasim di tengah kampung kumuh Surabaya Utara, yang berornamen gubuk-gubuk kecil berdempetan, mengoyak-koyak mimpi-mimpi kaum kere, yang sedang berupaya meraup uang dalam imajinasi tidurnya.

Terutama mimpi Yoen kecil.

Seperti sudah terprogram otomatis, tanpa aba-aba lebih lanjut dari Mat Kasim, Yoen bergegas bangkit dari ranjang reotnya, lalu kaki kecilnya membawanya lari ke dapur sempit. Tujuannya adalah sebuah teko yang penuh karat di bagian luarnya. Dia ambil gelas kaca di dalam rak yang sangat berdebu. Dengan tenang. Lalu dia tuang air masak sisa semalam ke dalam gelas itu.

Dia lakukan itu dengan tenang. Tak tergopoh-gopoh. Tak seperti anak kecil yang umumnya bisa sampai kencing berdiri ketika orangtua emosi. Dia tenang. Situasi yang sudah biasa adalah alasannya untuk tenang, dan meredakan refleksnya agar tak terlalu merespon berlebihan.

Juancuuuuukkkkkk!!!! Lama sekali kamu Yoen!” umpatan lanjutan Mat Kasim membuat suasana kampung semakin sedap.

Cangkemmu Mat!!!” sahutan teriakan muncul dari gubuk sebelah. Teriakan lelaki seumuran Mat Kasim, yang jelas sangat terganggu. Sebuah respon wajar dari stimulus yang tak wajar. 

Mat Kasim terdiam. Entah merasa bersalah, entah tak lagi punya energi untuk mengumpat.

Yoen datang dengan segelas air. Direbutnya gelas itu sebelum tangan kecil Yoen mengulurkannya. Sebagian air tumpah ke tangan Yoen. Si kecil hanya menatap ekspresi bapaknya dengan tatapan tanpa ekspresi.

Tenggorokan Mat Kasim menenggak air yang masih diragukan kematangannya itu dengan rakus. Tegukan terakhir meluncur mulus ke dalam kerongkongannya yang masih haus. 

“Ambilkan lagi,” Mat Kasim mendorong gelasnya dengan kasar ke arah Yoen. Yoen menerima sorongan kasar itu. Masih dengan tenang. Dia kembali ke dapur. Tuang kembali teko berkarat. Isinya tak lebih dari setengah gelas, air yang kematangannya diragukan, bercampur dengan kerak.

Yoen kembali, disorongkannya gelas itu dengan biasa pada Mat Kasim.

Juancuk! Habis airnya?” Mat Kasim menghardik.

“Iya, Pak.” Yoen menjawab apa adanya.

“Kenapa tidak kau masak air lagi?”

“Minyak tanahnya habis.”

Juancuk!!!” Mat Kasim tenggak air setengah gelas yang kotor itu. Lalu, prak, dibantingnya gelas kosong ke lantai. Gelas itu pecah. Sebagian pecahannya mengenai betis kecil Yoen. Dia hanya bisa meringis, terlalu takut untuk mengaduh. Lalu dikemasinya pecahan gelas.

Mat Kasim empaskan tubuh mabuknya ke atas ranjang reot.

***

MARILAH menuju kebahagiaan.” Muazin mengumandangkan azan Subuh di masjid kampung sebelah.

Kebahagiaan? Yoen membatin dan mencoba untuk terus mencari definisi dengan imajinasi bocahnya.

Apakah itu? Di manakah itu?

Yoen mengabaikan pertanyaan itu. Dia bersiap menyambut matahari bersama bapaknya yang terkapar mabuk dalam kemarahannya. Dengan tatapan kosong yang dilemparkannya begitu saja menerobos gerimis pagi dari jendela yang setengah terbuka.

***

KOKOK ayam jantan yang lapar bersahutan di sekitaran kampung kumuh ini. Mengambil peran sebagai nyanyian pagi yang selalu terdengar tak merdu. Mencoba menghibur ribuan hati yang terlanjur kering, berbaur dalam kampung yang berdiri tanpa harapan itu.

Yoen kecil ada di tengah-tengah kampung yang bercerita dengan sahih tentang drama kaum marjinal era Orde Baru. Dia buka satu-satunya jendela di gubuk yang setiap pagi disesaki aroma alkohol. Sangat menyengat. Tapi, itu adalah aroma yang sudah sangat biasa di dalam gubuk Mat Kasim.

Semua orang tahu. Setiap butir debu di dalamnya juga tahu. Udara pengap yang menyelusup melalui dinding triplek gubuk itu juga tentu paham. Dipan, meja, kursi, lemari yang semuanya reot juga tahu.

Yang jelas, Tuhan juga sudah pasti tahu, dan Dia membiarkan umat-Nya yang tak pernah mau mengubah dirinya sendiri. Terpuruk seperti Mat Kasim.

Yoen pun harus hidup di dalamnya. Lahir sebagai anak Mat Kasim dalam sebuah rencana Illahiah yang belum bisa dijangkau nalar kecil Yoen.

Yang Yoen tahu, hari itu adalah waktunya sekolah. Sama seperti anak-anak seusianya; 7 tahun. Fase pendidikan formal yang tak pernah mendapatkan atensi sungguh-sungguh dari bapaknya yang doyan mabuk.

Yoen mandi. Berpakaian seragam yang dicucinya seminggu sekali dan tak pernah disetrika. Lusuh dan kusam. Tapi hanya itu seragam merah-putih bekas yang dipunyainya. Hasil belas kasihan dermawan kampung sebelah, yang pemberiannya dianggap sebagai sebuah penghinaan oleh Mat Kasim. Tapi, Yoen tetap menerimanya dengan sembunyi-sembunyi.

Lama-lama Mat Kasim membiarkan Yoen menerimanya. Kasim sebenarnya sadar diri tak mampu memenuhi kebutuhan itu. Tapi, ego kelelakiannya sebagai seorang bapak tidak mengizinkan dia untuk mengakui kebutuhan itu di depan si pemberi. Dia tak mau tampak seperti pengemis.

Kendati mentalnya sendiri adalah mental pengemis.

Usai berpakaian, sepasang kaos kaki usang dikenakan Yoen dengan semangat. Sepasang sepatu hitam mungil merk Bata, yang didapatkannya dengan status bekas di Pasar Loak Gembong, melengkapi aksesorisnya berangkat ke sekolah.

Dengan segala atribut yang serba bekas, Yoen kecil mencoba menyusun sebuah rencana baru untuk hidupnya yang kusam gara-gara ulah Mat Kasim.

Ya, rencana yang sebenarnya cukup sederhana. Rencana untuk mencoba mendapatkan sesuatu yang indah di dunia ini, yang akan dijadikannya bekal untuk mendefinisikan sekaligus mempraktikkan istilah yang selama ini menjadi pertanyaan besar untuk otak kecilnya; bahagia.

Bahagia seperti ayam-ayam yang berkokok di pagi hari. Seperti burung-burung dengan kicauannya yang bersahutan di atas padatnya tumpukan kendaraan bermotor di sekitaran Jalan Sidotopo. Seperti jangkrik yang selalu bernyanyi di sekitaran rumahnya. Seperti senyum bocah-bocah seusianya yang selalu bersama orangtua mereka, yang adegan itu rutin dilihatnya dalam televisi milik tetangga. Seperti kecebong yang riang berenang ke sana ke mari di dalam got depan rumahnya.

Seperti semua hal bagus menurut panca indera Yoen, tapi belum pernah dialaminya.

Yoen punya rencana untuk itu. Sebab itu, dia sekolah dalam kondisi yang sekenanya.  Dunia modern punya aturan formalitas sebagai syarat untuk mendapatkan kebahagiaan global; status, titel, ijazah. Dan Yoen punya rencana untuk mendapatkannya. Berangkat dari perkampungan kumuh dan statusnya sebagai anak pengayuh becak yang doyan mabuk dan judi.

***

“SUDAH sarapan, Yoen?” Bu Katik menyapa dengan nada bersahabat, ketika Yoen kecil baru saja keluar rumah dengan berjingkat, dan menutup pintunya pelan-pelan, agar Mat Kasim tak terbangun dan marah-marah dengan pusingnya yang masih mengikat.

“Belum, Bu,” Yoen menjawab apa adanya dengan suara berbisik, lalu membuka gigi-giginya yang menguning karena jarang disikat dengan pasta gigi.

Bu Katik melemparkan lirikan ke dalam rumah. Memastikan Mat Kasim masih tertidur pulas. “Ayo sini, Yoen, sarapan dulu bareng Winda.” Tetangga yang tinggal di dua rumah sebelah timur gubuk Yoen itu memang baik.

Yoen bimbang. Menolak rezeki adalah tindakan yang bodoh. Sementara ketika harus menerimanya, dia kembali berhadapan dengan kemungkinan ditampar Mat Kasim karena dikira minta-minta makan pada tetangga.

Seperti kejadian minggu lalu. Ketika mie rebus dari Bu Katik baru sesuap masuk ke mulutnya, Mat Kasim yang melihatnya mendompleng tetangga langsung mengumbar amarahnya atas nama gengsi seorang bapak yang merasa bisa menghidupi anaknya sendiri. Tarikan kasar dan tamparan keras mendarat mulus ke pipi Yoen.

Psikologi behavioris sedang bermain dalam jiwa Yoen dan memberinya kebimbangan antara terima atau tolak tawaran baik Bu Katik. Behavioris yang mengajarkan, ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik. 

Belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. Dengan memberikan stimulus, anak akan mereaksi dengan respons. Hubungan situmulus –  respons ini menimbulkan kebiasaan-kebiasaan otomatis pada belajar. Pada dasarnya, kelakuan anak terdiri atas respon-respos tertentu terhadap stimulus-stimulus tertentu. Dengan latihan-latihan pembentukan maka hubungan-hubungan itu akan semakin menjadi kuat. Inilah S-R Bond Theory.

Dan stimulus masa lalu dari Mat Kasim lah yang jadi pijakan referensi Yoen, yang melahirkan kebimbangan antara dua kebutuhan Yoen; lapar dan rasa takut.

“Sudahlah, ayo sini cepat. Bapakmu belum bangun kok. Kamu lapar di sekolah nanti,” Bu Katik, lengkap dengan senyum ke-ibu-annya berusaha meyakinkan Yoen.

Lapar adalah kebutuhan manusiawi yang harus dipenuhi. Tanpa belajar pun Yoen sadar itu. Rasa lapar dan senyum baik Bu Katik meyakinkannya menerima mie rebus tanpa kuah dilengkapi sawi dan telur mata sapi itu.

Dia makan dengan gembira bersama Winda, kakak kelasnya di sekolah yang sama. Puasa sejak kemarin siangnya terbayar lunas pagi itu. Dia nikmati sulur demi sulur mienya. Dia resapi dengan sangat protein dan lemak yang dikandung telur mata sapi yang disuapkannya potongan demi potongan kecil ke mulut kecilnya. Sarapan pagi itu dia tuntaskan tanpa harus kaget-kaget mendengar teriakan Mat Kasim.

Perut terisi, otak siap untuk menari. Senyum kecil menghiasi mimik Yoen kecil pagi itu. Energi yang bisa membantunya menjalani satu tahap dalam rencananya mencari kebahagiaan.

Riang dia ayunkan langkah ke sekolah bersama dengan Winda dan tiga kawan lainnya. Hanya seragam Yoen yang lusuh. Semua bersih mengkilap, licin setelah dilindas setrikaan.

Mereka melintasi rumah Yoen yang masih tertutup dan pengap. Dengkuran keras Mat Kasim terdengar oleh serombongan anak itu. Teman-teman Yoen tertawa kecil setelah refleks mereka mendefinisikan suara itu lucu. Sementara Yoen hanya datar.

Dia sudah terbiasa dengan kelucuan dalam hidupnya. Serentak bocak-bocah itu berlari kecil, berhamburan menuju sekolah di seberang jalan raya pucuk gang kumuh.

***

TUHAN menciptakan keindahan tanpa mengenal tempat. Seperti keindahan pada si kecil Yoen.

Yoen memang dekil. Yoen kumal. Yoen melarat. Yoen tersiksa oleh perilaku Mat Kasim. Yoen terlalu sering merasa lapar.

Tapi…

Yoen memiliki mata lebar yang indah. Yoen memiliki sorot pandang yang tajam dan meluluhkan. Yoen adalah pemilik muka tirus. Yoen pemilik bibir tipis dan simetris. Hidung Yoen sangat muncul. Lesung pipi melengkapi komposisi bagus dari mukanya. Tubuh Yoen dibungkus kulit sawo matang yang eksotis, yang sedikit tersamarkan karena hanya menggunakan sabun murahan untuk membilasnya dalam mandi.

Banyak orang menyadari itu. Mungkin hanya Mat Kasim yang tak (mau) menyadarinya.

Berjuta sayang, semua titik-titik keindahan Yoen itu tersamarkan oleh pakaian lusuh tanpa disetrika yang selalu dikenakannya setiap hari.

***

“YOEN pacarmu siapa? seorang bocah laki-laki dari luar kampung yang belajar sekelas dengan Yoen, tiba-tiba melontarkan pernyataan itu.

“Ah, aku tidak punya,” jawab Yoen, tersipu, sambil malu-malu.

“Jadi pacarku saja.” Si bocah lelaki menawarkan tempat di hatinya untuk si kecil Yoen. 

Yoen semakin tersipu. Karena dia juga mendefinisikan si bocah lelaki itu ganteng. Setidaknya, komposisi fisiknya masuk dalam kategori selera Yoen kecil.

Sepertinya ada dua senyawa feromon yang sedang bekerja. Senyawa kimiawi yang mendefinisikan individu dan lingkungan untuk kemudian melahirkan rasa suka, rasa cinta, atau ketertarikan pada lawan jenis.

Hipotalamus otak mengirimkan pesan agar seorang lelaki tertarik pada wanita, begitu pula sebaliknya. Dan hipotalamus bocah-bocah kecil pun sudah bisa mendefinisikan romantisme manusia yang berbeda kelamin, ketika mereka baru beberapa hari mengenakan seragam kemeja putih-celana pendek merah.

Perasaan tertarik kepada lawan jenis memang sesuatu yang tak memerlukan pembelajaran. Untuk bisa merasakannya pun tak ada ketentuan pola waktu tertentu. Senyawa feromon bekerja otomatis tanpa perlu melalui proses behavioris.

Itu bisa lahir sewaktu-waktu. Kapan saja, pada siapa saja. Termasuk pada bocah SD. Karena rasa suka tak perlu masuk ke jenjang kurikulum. Dan tak perlu batasan umur untuk bisa merasakannya.

Rasa cinta adalah fitrah yang muncul ke pemukaan melalui  dorongan naluri yang tak bisa ditawar lagi. Itu terjadi pada siapa saja.

Semua orang, mulai dari orok yang baru lahir sampai para renta yang sudah berdiri di ujung usia, berhak untuk merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis, yang kemudian didefinisikan sebagai cinta, yang ujung-ujungnya adalah naluri untuk mempertahankan upaya eksistensi umat manusia melalui kebutuhan biologis melahirkan keturunan, agar sejarah umat manusia tak hanya berhenti pada satu periode waktu saja. Agar umat manusia selalu bisa berkuasa di muka Bumi dan menjadi pusat alam semesta yang menguasai segalanya di jagat raya. Agar semesta, yang oleh Tuhan banyak diisi keindahan ini, tetap berjalan sebagaimana mestinya. Agar semesta tetap berada dalam keseimbangannya.

Yoen memang cantik. Teman-teman wanitanya mengakui.

Teman-teman lelakinya banyak yang tak henti-hentinya menggoda, menikmati kecantikan yang dikemas dalam wajah kecil Yoen. Gurunya mengamini. Tetangganya mengangguki.  Hanya Mat Kasim yang tak menyadari, karena terlalu sibuk memburu sisi kelam dunia dan menafikkan keindahan di sekitarnya.

***

YOEN pulang sekolah setiap pukul sepuluh pagi. Setiba di rumahnya yang pengap, dia harus berperan sebagai weker untuk Mat Kasim. Sudah waktunya bapaknya bangun.

Sudah waktunya Mat Kasim berusaha mencari nafkah dengan menggenjot becaknya. Sekenanya. Sepertinya lebih tepat bukan nafkah. Tapi modal untuk dibawanya kembali ke meja judi. Mungkin hanya sekitar lima belas persen penghasilannya yang pulang ke rumah, untuk mencukupi sedikit kebutuhan, yang selalu tidak berhasil tercukupi. Dan untuk makan sehari sekali. Sisanya lari ke tangan rivalnya dalam arena judi remi.

Mat Kasim jarang, bahkan nyaris tidak pernah, dihampiri keberuntungan dari judi kartu itu. Hampir seluruh waktunya sepulang dari judi selalu dipakainya untuk marah melampiaskan kekalahannya. Lalu lari ke bergelas-gelas cukrik, minuman kelas kambing khas Surabaya yang bisa mengoyak-koyak organ dalam. Yang lebih pantas disebut methanol daripada alkohol. Yang selalu mengobarkan api biru setiap kali dipantik. Tapi dirasa Mat Kasim sebagai media yang paling cocok untuk melampiaskan kekesalannya.

Di samping dampratan rutin untuk Yoen, tentu saja.

Yoen paham itu. Tapi sebagai anak dia masih berupaya untuk berbakti pada bapaknya. Nalurinya mengatakan demikian. Meski dia tak pernah mendapatkan pembelajaran tentang itu dari Mat Kasim. Mungkin fitrahnya yang membimbing Yoen untuk melakukan itu.

Walau bagaimana pun, Yoen sangat menyayangi Mat Kasim. Karena hanya pria tanpa orientasi itulah orang terdekat yang dia punyai di dunia saat ini.

“Pak,” pelan Yoen kecil menyentuh lengan bapaknya yang miring ke kanan.

Tak ada reaksi. Hanya erangan tidur sebagai ungkapan nyata dari mimpi yang masih bekerja di alam tidur Mat Kasim.

“Pak, Bapak..” Yoen mengulang. Masih belum ada respon.

Yoen diam. Dia haus, tapi tidak ada air masak di rumahnya.

Walau bagaimana pun juga, dia harus berhasil membuat bapaknya bangun. Kalau tidak, dampratan ekstra harus didapatkannya di samping dampratan rutin tiap menjelang Subuh.

“Pak..” Kali ini suaranya dikeraskan, namun getaran sentuhannya ke tubuh Mat Kasim belum ditingkatkannya. Tak mempan.

“Paaaakkkkkkkk….!” Suaranya diperkeras, didukung dengan sentuhan yang lebih bertenaga. Tubuh tidur Mat Kasim bergoyang. Lalu respon dari bapak pemabuk dan penjudi itu langsung bekerja.

“Hoe, juancuk! Kamu itu mau bunuh aku?!” Respon pertama Mat Kasim untuk Yoen di detik-detik awal alam sadarnya.

Tapi itu sudah biasa untuk Yoen. Tak apalah, yang penting tugasnya sebagai jam weker sudah dilaksanakannya dengan baik.

Mat Kasim menguap. Aroma alkohol masih kerasan dalam embusan napasnya. Aroma rutin ruangan pengap gubuk Mat Kasim di waktu Dhuha. Yoen masih berdiri diam di samping ranjang, menunggu bapaknya benar-benar bangun.

Mata Mat Kasim terbuka sempurna. Menatap langit-langit rumah yang sudah ambrol di sana-sini. Menguap lagi. Menggeliat, yang disambung dengan bunyi ranjang yang mulai reot. Lalu pandangannya beralih ke Yoen yang berdiri kaku di samping ranjangnya. Tanpa reaksi.

Aaaaaahhhhhhhhhh… Sambil menguap tubuh Mat Kasim bangkit.

Duduk sebentar dia di sisi ranjang. Tangan kirinya mengelus-elus bagian belakang kepala. Meringis, seperti menahan pening yang belum pergi. Tidur lima jam belum cukup ampuh untuk membuat kepalanya kembali normal.

“Jancuk.” Keluhan rutin Mat Kasim.

Lalu dia berdiri, berjalan gontai menuju dapur. Melewati Yoen yang berusaha untuk melihat muka bapaknya yang awut-awutan dengan takut-takut. Tapi tatapan anaknya diabaikan Mat Kasim. Diraihnya teko. Tenggorokannya yang dikeringkan alkohol minta dibasahi. Dia angkat teko, dan dirasanya terlalu enteng.

“Oh, iya. Juancuk, air habis.” Dibantingnya teko itu. Yoen kaget sedikit. Tapi dia masih berdiri di tempatnya.

Dia ke sumur. Pilihannya hanya minum air mentah. Tapi itu dilakukannya. Sekaligus cuci muka. Yoen sendiri sudah lupa kapan terakhir kali bapaknya mandi.

Mat Kasim kembali masuk rumah dengan wajah yang agak segar. Ditatapnya Yoen, masih dengan diam. Cara komunikasi rutin antara bapak dan anak yang tinggal di dalam gubuk Mat Kasim itu.

“Pak…”

“Hm…”

“Tadi bu guru tanya..”

“Apa?”

“Aku belum bayar SPP empat bulan.”

“Terus?” Mat Kasim bertanya enteng, masih tanpa ekspresi sambil mencari pakaian ganti di dalam lemari.

“Katanya disuruh membayar.”

“Berapa?”

“Dua belas ribu.”

“Bilang nanti kalau ada uang.”

“Kapan, Pak?”

“Sudah, bilang begitu saja! Nanti kalau ada uang ya dibayar!” Mat Kasim menjawab pertanyaan tentang kepastian waktu itu dengan emosi yang meledak.

Yoen mengkerut.

“Kalau nanti malam aku menang judi, besok dilunasi semua.” Janji yang jelas-jelas tidak bergaransi.

Yoen hanya diam.

Mat Kasim melangkah keluar rumah. Yoen mengantarkannya dengan tatapan, masih di tempatnya berdiri ketika membangungkan Mat Kasim.

Juancuk!!!” Kencang teriakan sebagai respon dari dua ban becaknya yang gembos, yang didengar Yoen dari dalam. Selanjutnya seperti suara becak diempas-empaskan, lalu pergi dengan jalan dituntun, masih dengan nada pengiring berupa umpatan terus menerus dari Mat Kasim, hingga di kejauhan.

Yoen beranjak dari tempatnya berdiri. Mengumpulkan semua pakaian kotor yang terserak hampir di seluruh ruangan. Membawanya ke sumur. Dimasukkannya dalam bak.

Yoen mulai mencuci.

***

AZAN Duhur mengumandang di langit kampung ketika rutinitas Yoen mencuci baju rampung.

Ketika Duhur berkumandang, warna alam menguning. Warna ini memengaruhi perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga memiliki pengaruh terhadap hati. Kuning juga punya rahasia yang berkaitan dengan keceriaan seseorang. Mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan salat Duhur berulang-ulang kali akan menghadapi masalah dalam sistem pencernaannya serta berkurang keceriaannya.

Beribu sayang, Yoen memilih untuk menganggap kumandang azan, yang mengajak seluruh umat menjalankan salah satu bagian dari lima waktu itu, sebagai selingan setiap tengah hari. Sama seperti seruan yang mengalun setiap fajar, sore, petang, dan malam.

Yoen belum pernah mendapat pelajaran bagaimana merespon ajakan yang dikumandangkan sahut menyahut itu. Karena itu, Yoen belum tahu apa keceriaan yang bisa didapatkannya melalui salat Duhur. Soal pencernaan, faktor makan yang tak teraturnya, dan selalu ketinggalan Duhur, membuatnya sering mengalami masalah dengan mual dan mulas.

Setiap kali azan berkumandang, pada dasarnya Yoen seperti terbelai. Nuraninya bermain sendiri, seperti ada energi ilahiah yang mengajaknya. Seperti ada yang mengayunkan tangan untuk mengajaknya bergabung dalam barisan saf yang menghadap kiblat, tunduk dan tafakur di depan Penguasa Semesta Alam.

Hanya saja dia tidak tahu bagaimana caranya. Beragama memang kebutuhan naluriah, tapi perlu proses pembelajaran untuk menjalankannya. Menjalankan dengan sebenar-benarnya, bukan hanya rutinitas yang bisa dilihat banyak orang mengusung nama kepantasan saja. Atau sok saleh.

Haiyalalfalah. Marilah menuju kebahagian.

Lantunan yang terdengar Yoen ketika cucian terakhir baru saja selesai dijemur. Saat itu dia memang sedang menuju kebahagiaan; bahagia karena tugasnya mencuci setumpuk pakaian kotor selesai juga. Bahagia karena bisa tidur siang sejenak, sebelum harus menjalani rutinitas sore.

“Yoen, ayo ke masjid.” Bu Katik dengan mukenanya melintas di samping rumah Yoen, tempatnya menjemur pakaian.

Yoen menengok ke sumber suara. Bu Katik yang baik melempar senyumnya dan melambai mengajaknya. Yoen tidak merespon dengan gerakan tubuh. Hanya kepalanya yang mengangguk pelan.

“Saya masih mencuci baju, Bu.”

Bu Katik tahu, jawaban Yoen itu adalah alasan sekenanya yang bisa dia lontarkan saat itu. Dia tahu, Yoen kecil belum siap ke masjid.

“Ya sudah, lain kali saja ya.” Bu Katik masih tersenyum, dan berlalu.

Yoen mengangkat ember retaknya yang ditampal lakban ke dalam rumah.

Dari masjid terdengar suara iqamat. Qot qomatisholah, qot qomatisholah. Salat akan didirikan, salat akan didirikan.

Jamaahnya yang tak banyak membentuk barisan satu saf. Sementara Yoen mengempaskan tubuh kecilnya yang lelah ke atas ranjang, di dalam gubuk pengap Mat Kasim.

***

ALLAHUAKBAR, Allahuakbar

Panggilan penunjuk saat Asar itu masuk dengan tepat ke telinga Yoen. Saat yang dipercaya umat Islam, ketika malaikat turun ke Bumi untuk kedua kalinya dalam sehari itu setelah Subuh.

Ilmu pengetahuan, yang masih dilandaskan pada hukum agama itu, memiliki penjelasannya sendiri yang memperkuat indikasi turunnya malaikat yang dilambangkan sebagai pertanda baik itu.

Saat Asar, warna energi alam menjadi oranye. Warna itu memiliki pengaruh signifikan terhadap kondisi prostat, uterus, ovary, testis, dan sistem reproduksi secara keseluruhan. Warna oranye alam juga memengaruhi kreativitas seseorang. Orang yang kerap tertinggal waktu asar akan menurun kreativitasnya. Organ-organ reproduksi juga akan kehilangan energi positif dari warna alam tersebut.

Prof Riset Dr I H Osly Rachman, MS menjelaskan itu semua dalam buku ilmiahnya; The Science of Shalat. Sangat ilmiah dan bisa diterima nalar sebagai sebuah kebenaran sains yang objektif.

Tiga jam dia tertidur. Sudah cukup untuk Yoen. Saatnya coba mencicipi sedikit faedah oranyenya warna alam itu. Asar dimanfaatkannya untuk berkreativitas, mencari tambahan penghasilan, untuk mencukupi hidupnya dan Mat Kasim.

“Ini, Yoen, jatahmu.” Bu Katik yang baru saja pulang dari masjid, dan belum sempat melepas mukenanya, menyerahkan baskom berisi penuh gorengan pada Yoen.

“Iya, Bu.” Yoen menerimanya. Dan di dalam baskom itu dia melihat harapan.

Setidaknya, setiap sore ada duit empat ribu yang bisa dia bawa pulang, dengan catatan separuh isi baskom itu laku terjual. Aktivitas tiap sore yang tak pernah diketahui oleh Mat Kasim. Aktivitas yang dilakoni Yoen karena tawaran jasa baik Bu Katik, yang naluri keibuannya berbicara ketika melihat seorang bocah terlunta-lunta. Ingin menyayang dan membantu, tanpa harus mendidik Yoen menjadi pengemis yang hanya bisa menengadahkan tangan.

Yoen dan Bu Katik seperti terlibat dalam hubungan jalan belakang. Atau istilah kerennya backstreet. Merahasiakannya dari Mat Kasim, dengan alasan tak mau membuat si pemabuk itu marah dan merasa terhina, karena dikira tidak mampu menghidupi anaknya. Meski sebenarnya itu yang terjadi, tapi Mat Kasim berusaha mengingkarinya. Harga dirinya sebagai lelaki dan kepala keluarga, yang sebenarnya sudah sejak lama tak dipunyainya, mendorongnya untuk selalu menampilkan kesan perkasa dan bertanggung jawab. Padahal semua orang tahu bagaimana Mat Kasim. Sampai debu-debu di kampung pun juga tahu.

Tapi Mat Kasim memang selalu hidup dalam bayangan gelap. Dan dia membawa Yoen dalam kegelapan yang diciptakannya, sehingga Yoen yang merasa terpanggil oleh lantunan azan dan terpukau putihnya mukena itu tak berani untuk memenuhi panggilan itu.

***

WARUNG itu berdiri tepat di depan musala. Yoen adalah petugas pengirim pasokan gorengan dari Bu Tatik ke warung milik Bu Susi. Yoen senang mengantar ke situ, karena Yoen selalu melihat pemandangan yang sangat dia sukai; anak-anak sebayanya berbondong-bondong berangkat mengaji.

Selepas Asar adalah waktu yang dipilih para ustadz dan ustadzah untuk mendidik anak-anak dalam taman baca Alquran di musala itu. Bacaan doa sebelum belajar. Bacaan dari buku iqra dan juz’ama dari para siswa yang terpatah-patah, lalu diluruskan pembimbingnya. Itu semua adalah simponi yang membuat Yoen merasa tenang.  Karena itu, dia selalu menunggui gorengan yang disajikannya itu habis hingga menjelang Magrib, sembari mendengarkan hiburan yang menerobos dalam hingga ke relung hatinya. Yang hanya bisa dia rasakan, tapi takut dinalarnya. Karena, dia selalu teringat pesan Mat Kasim; Tidak ada gunanya sembahyang dan mengaji itu.

Yoen memilih patuh pada orangtua.

Alunan waktu di warung itu dinikmati Yoen dengan diam dan menikmati lantunan dari musala seberang. Bu Susi sudah biasa melihat itu. Dan dia membiarkan si kecil menikmati irama ilahiah itu dengan caranya sendiri.

***

WARNA alam telah berubah menjadi merah. Magrib.

Pada waktu itu, kerap terdengar nasihat orangtua agar anak tidak berada di luar rumah. Nasihat tersebut ada benarnya, karena saat Magrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Atau energi negatif dalam bahasa ilmiahnya. Jin dan iblis amat bertenaga karena mereka beresonansi atau ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan salat. Itu lebih baik dan lebih aman karena pada waktu ini banyak interferens atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama, atau hampir sama, dan dapat menimbulkan fatamorgana yang dapat merusak penglihatan kita.

Magrib itu dagangan Bu Tatik ludes, laris manis. Yoen pulang membawa baskom kosong dan laba. Beranjak dia dari warung Bu Susi, diiringi suara azan. Suara yang oleh hati kecilnya sesungguhnya berat untuk ditinggalkannya.

Karena pulang ke rumah sama artinya kembali pada kesuraman. Meski dia membawa tujuh ribu rupiah karena dagangan yang diantarkannya ludes. Yoen kembali menuju malam, untuk menanti besok yang harus dijalaninya seperti hari ini.(*)

image

Tofik Pram

Advertisements

One thought on “Yoen Kecil Mencari Bahagia

  1. I was extremely pleased to uncover this site. I wanted
    to thank you for ones time for this particularly wonderful read!!
    I definitely loved every bit of it and i also have you book marked to look at new stuff in your website.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s