Demi Waktu

“Alasan kita di sini adalah,
karena aku ingin kau tahu kalau aku cinta kau.”

1

PUKUL setengah tiga dinihari.

Nanti adalah hari yang harus dimulai pukul 7 pagi. Di luar sepi; seperti kesendirian sebuah roti panggang di dalam microwave. Pengap dan sepi.

Tapi ada Gendari menari-menari dalam imajinasi.

Raga Bhre terpanggang di dalam kamar kos 2×3 meter yang hanya berisi kasur apek, lemari butut, satu unit komputer yang seharusnya sudah waktunya masuk gudang, dan harapan yang tak tahu akan dibawa ke mana lagi.

Juga ada banyak bayangan tentang Gendari. Perempuan cantik yang membuatnya menari-nari, sekaligus nyeri.

Juga beberapa nyamuk yang iseng menggoda ketaknyamanan Bhre.

Di tengah Surabaya yang kian sempit dan, ah, terlalu banyak kata bermakna konotatif untuk menggambarkan kota ini.

Sepi. Pengap.

Layar monitornya masih membisu dan stag. Stagnasi yang sangat miris. Bhre adalah sebuah harapan liar yang terbungkus dalam raga yang sangat terbatas. Foucault dengan fasih mengajarkannya akan keadaan tersebut.

Tapi…

Bhre tetaplah manusia yang kerapkali menolak keterbatasan. Juga adalah sosok lelaki yang sedang menuju kematangannya, dan memilih untuk tidak lekas percaya dengan siapa pun. Termasuk Foucault dan intelegensinya, yang hampir semuanya dilalap Bhre melalui banyak buku, yang dengan alasan yang begitu kabur sangat disukainya, namun semua isi ditolaknya.

Kehendak berkuasa adalah mazhab yang begitu dikagumi Bhre. Hasrat itu mengalahkan batas-batas yang ditentukan oleh tubuh. Yang oleh si Pembual Michel Foucault itu disebut media untuk mengontrol hasrat manusia di dalam sebuah penjara panoptikon.

Ah, bullshit!

Makalah di dalam layar yang mulai menguning itu belum berkembang. Tuntutan kurikulum sebuah perguruan tinggi swasta, tempat Bhre memilih melanjutkan pendidikan tinggi karena sebuah pilihan yang salah, mengharuskannya menyelesaikan makalah tentang Politik Komunikasi yang harus terkumpul nanti pukul 7 pagi. Syarat untuk mengisi kartu hasil studinya agar tak kosong di salah satu mata kuliah. Kekosongan yang bisa membuat semua rencananya tentang masa depan kacau balau.

Kacau balau seperti rencana cintanya pada Gendari.

Jarinya coba kembali menari mengikuti perintah otaknya. Buntu.

Aaaaaaarrrgggghhhhhhh.!!!

“Sial, kenapa harus Gendari bermain-main di kepalaku di saat genting seperti ini?!” Rutukan yang hanya berhenti di dada Bhre.

Tumpukan buku referensi di sekelilingnya tidak memberi jawaban yang pas, sesuai dengan kehendak hatinya. Kicauan Harrold Laswell, Jurgen Hubermars, Neil Postman, Bill Kovach, hingga Jalaluddin Rakhmat, bagi Bhre tak ubahnya kicauan burung di pagi hari; hanya merdu sekejap, setelah siang beranjak dengan panasnya, dia menghilang. Setelah itu? Nihil!

Demi apa semua ini, gerutuannya memecah dinihari yang mulai bermetamorfosa menjadi dingin itu. PC-nya menjawab dengan dengungan. Kasurnya menjawab dengan bau apek. Lemari dan buku-bukunya tak memberi jawaban.

Dari jarak sekitar tiga ratus meter dari rumah kosnya, lantunan ayat-ayat suci Alquran berusaha menghiasi dinihari itu. Berusaha untuk menyelipkan kemerduan di tengah gelap yang kaku.

Tapi…

Bhre punya benteng untuk menolak itu.

Dia memilih kekosongan dalam kebimbangannya. Karena Bhre tidak percaya apapun.

“Maka, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?” Lantunan salah satu ayat yang diulang berkali-kali dalam Quran surah ke-55 itu dijawab Bhre dengan menutup telinga menggunakan bantal dan membiarkan komputernya menyala begitu saja.

Surah yang berhasil membuat Jacques Yves Costeau, seorang ahli oceanografi dari Perancis yang sering nampang di channel Discovery, masuk Islam tersebut masih mentah untuk Bhre.

Dari muazin masjid itu; Salat jauh lebih baik daripada tidur.

Bhre memilih untuk lelap. Membawa Gendari dalam mimpinya.

Mimpi yang ngilu, tentu saja.

2

SIAL!

Rutukan menjadi pembuka hari Bhre yang terlambat. Pukul 06.30 pagi. Matanya masih berat, kepalanya sangat pusing, efek langsung pola tidur yang tak teratur dan ketakmampuan menyelesaikan tugas sebagaimana mestinya. Hanya tujuh belas setengah yang rampung dari tiga puluh halaman targetnya.

Dengan ketergesa-gesaan yang sangat jelas, dia jejalkan saja disket yang belum tentu bebas virus itu.

Klik kiri atas, tab file.

Save as.

3 1/2 floppy a.

Rename file: Makalah Jancuk.

Save.

Makalah setengah matang itu sudah tersalin dengan aman ke dalam disket. Kegiatan selanjutnya lari ke kamar mandi. Antre.

Belok ke sumur. Hanya berkumur dan cuci muka.

Bergegas lari kembali ke kamar. Mengenakan cepat-cepat celana jins lusuh yang tak sempat tercuci selama dua setengah bulan. Mengenakan dengan tergesa kemeja yang tak pernah disetrika.

Mengeluarkan disket dari PC. Langsung mematikan stavolt tanpa men-shut down PC-nya. Matikan lampu.

Menutup pintu dengan tergesa; brak! Eh, tepatnya membanting.

Klik! Mengunci pun dengan tergesa.

Lari tergopoh-gopoh keluar areal kos.

“Woi, Bhre, mana? Ini sudah dua bulan!” Teriakan Mbah Yah dari belakangnya tiba-tiba menembus kupingnya dari belakang. Kakinya mengerem spontan, seperti tergigit rem cakram.

Dia menoleh. Dengan senyum yang jelas dipaksakan dia memaksakan diri memasang wajah ramah pada si tuan rumah.

“Maaf, Mbah, belum ada. Saya usahakan secepatnya ya?”

“Dari kemarin-kemarin secepatnya terus kamu itu. Pastinya kapan?” Mbah Yah tampak sedang berusaha dengan amat sangat, agar mulutnya tidak mengeluarkan umpatan pada Bhre.

“Ya secepatnya, Mbah. Maaf, Mbah, saya sudah terlambat!” Tanpa menunggu persetujuan dari Mbah Yah, Bhre langsung kabur.

“Lho, hei! Tunggu dulu!” Teriakan Mbah Yah yang mulai terpancing emosinya tak sanggup lagi menghentikan upaya kabur Bhre.

Mbah Yah memicing. Menggigit gigi gerahamnya. Sepertinya dia menyimpan rencana untuk Bhre, begitu buruannya itu pulang dari kampus.

Seratus dua puluh ribu rupiah per bulan, dan sudah dua bulan terlambat. Total dua ratus empat puluh ribu rupiah. Dari mana uang itu? Bhre membatin selintas.

Kenapa harus kos di tempat itu? Jelek. Yang punya galak. Air sering ngadat. Tapi itulah tempat termurah dan terdekat dengan kampusnya. Hanya sekitar 300 meter dari pintu gerbang universitas. Lokasi yang jelas sangat menguntungkan bagi mahasiswa luar kota yang tak punya kendaraan pribadi seperti Bhre. Juga tak punya duit.

Tapi bayangan masalah duit kos hanya selintas. Isi dalam disket yang harus segera dicetak lebih penting untuk pikirannya.

Tujuannya; Farid rental dan print komputer. Hanya sekitar seratus dua puluh langkah dari rumah kosnya.

“Tolong cepet ya, Rid,” tanpa ba-bi-bu Bhre sodorkan disketnya.

“Biasa?”

“He-em. Belum ada pemasukan,” jawab Bhre dengan mimik yang biasa.

Farid membuka catatannya. “Bon kamu sudah tiga puluh empat ribu tujuh ratus,” dia mengingatkan Bhre. Sebal juga dia. Pagi-pagi belum ada pemasukan, datang pengutang.

“Iya, iya. Kalau ada uang langsung lunas. Tolong cepetan lah. Aku sudah terlambat.”
Dengan gerakan malas yang sangat kentara, Farid si juragan rental memasukkan disket usang warna hijau tua milik Bhre ke dalam PC-nya. Utak-atik, buka Makalah Jancuk, cetak. Tujuh lembar makalah berspasi ganda tercetak cepat.

“Utangmu tambah seribu tujuh ratus,” Farid mengingatkan lagi, dan sigap mencatatnya. Dalam deretan buku kasbon, kolom Bhre yang paling panjang.

“Ok, Bro,” Bhre ambil makalah itu, lalu dibundelnya sendiri. Hanya dijepret, tanpa dijilid rapi. Tanpa sampul.

Langsung dia lari. Disketnya ketinggalan. Tapi itu sudah biasa.

Farid mengeluarkan disket itu dengan sekenanya. Diambil, lalu dilemparnya ke dalam raknya, menunggu si empunya mengambil kembali.

PUKUL 07.40. Bhre terlambat empat puluh menit. Terburu-buru masuk ke kampus. Tujuannya ruang 304, tempat di mana semua makalah harus dikumpulkan.

“Hei, gendeng, ke mana saja kau?” suara Mike membuatnya kaget untuk kedua kalinya pagi itu.

“Biasa, Bro. Kurang tidur. Anak-anak sudah mengumpulkan semua?”

“Nggak tahu. Tapi, sepertinya tinggal kamu saja. Sama belahan jiwamu itu.” Bram?

Ah, biasa, dua orang itu memang langganan telat. Kalau Bhre karena alasan tumpukan masalah yang dia rasa harus ditanggungnya sendiri sehingga mengganggu ritmenya mengerjakan tugas, sementara si bocah borjuis Bram selalu hanya punya satu alasan; malas.

“Ke kantin, Bro,” Mike mengucapkan salam perpisahan yang tak ditanggapi Bhre yang pikirannya hanya fokus ke ruang 304 dan ekspresi Pak Sam yang terlipat-lipat setiap kali menerima naskah makalah yang datang terlambat.

Naik ke lantai 3, lift mati. Bagus. Naik tangga dengan sisa tenaga yang belum terisi sarapan.

PINTU ruang 304 masih setengah terbuka.

Isinya sepi.

Dari berderet-deret kursi mahasiswa itu, tak ada satu pun yang diduduki. Dari sudut pandang Bhre, daun pintu itu menghalangi pemandangannya ke kursi dosen. Dia ingin memastikan bagaimana ekspresi Pak Sam. Seandainya Pak Sam itu Tuhan, terlambat 40 menit sepertinya adalah dosa yang tak termaafkan. Sama derajatnya dengan menyekutukan-Nya!

Lorong sepi. Pak Sam tak tampak.

Bhre coba mengintip. Sembari dia meyakinkan diri sendiri bahwa semua bakal baik-baik saja.

Dia coba longokkan kepalanya. Berusaha mengintip bagaimana Pak Sam. Apakah masih di dalam kelas, ataukah sudah kembali ke ruang dosen. Ternyata masih ada.

Terlambat empat puluh menit untuk mengumpulkan naskah yang hanya selesai setengah? Pada Pak Sam?

Oh, sial.

Bhre ragu. Kumpulkan atau tidak. Ketika mengumpulkan dalam kondisinya sekarang, dia harus siap menerima kuliah insidentil tentang perilaku dan sikap dari Pak Sam yang sangat mengagungkan ketepatan waktu dan kerapian. Dan itu bisa memakan waktu selama dua SKS sendiri, yang mana keseluruhan tempo itu berjalan dengan menyakitkan.

Pasti ada hardikan.

Pasti ada sinis.

Pasti ada cemoohan.

Lalu kuliah ditutup dengan sedikit masukan yang, menurut Bhre, tidak masuk di akalnya.

Tapi kalau dia memilih untuk balik dan meninggalkan Pak Sam, sembari membawa makalahnya yang setengah matang, yang dikemas ala kadarnya itu, artinya tahun depan dia harus bertemu untuk ketiga kalinya dengan Pak Sam di ruang dan materi yang sama. Tahun lalu dia gagal. Sekarang dia ingin berhasil. Tapi, situasi seperti ini bukan rencananya.

Bhre terjebak rasa bimbang, antara keinginan untuk berhasil dan ketakutan akibat situasi yang semuanya di luar rencana dia.

Bhre harus memilih. Terus, atau mundur. Terus dengan risiko yang tak mengenakkan, tapi masih ada kemungkinan dia tak harus mengulangi lagi semuanya dari awal di tahun depan. Dengan mundur dia terbebas dari situasi yang sangat menyiksanya kini, tapi sangat mungkin tahun depan dia akan mengalami situasi serupa kembali.

Terus?

Mundur?

Terus?

Mundur?

Ah, sial! untuk ketiga kalinya di pagi itu Bhre menghardik dengan pilihan kata yang sama.

Kebimbangan tumbuh karena manusia dihadapkan pada dua pilihan yang dua-duanya sudah terpikirkan dengan baik. Tetapi orang yang mempertimbangkan dua pilihan yang baik, tetapi tidak bertindak, itu bahayanya besar sekali. Bertindak walaupun salah, itu lebih baik daripada tidak bertindak.

Keberhasilan itu harus. Untuk orang yang diharuskan mencapai keberhasilan, gagal atau salah adalah hak. Kalau diharuskan berhasil, dan ada kemungkinan salah, berarti salah itu hak.

Banyak orang menakut-nakuti dirinya dengan kesalahan. Padahal orang yang salah itu tidak rendah. Justru orang yang paling salah itu adalah orang yang tidak bertindak karena takut salah.

Bhre pun mengambil keputusan. Dia terus maju. Kalaupun dia harus didamprat Pak Sam, itu juga karena kesalahannya. Sudah sewajarnya sebuah kesalahan berbuntut hukuman.

Dia banyak belajar soal hal satu itu pada Gendari. Dalam sebuah pelajaran yang mewariskan rasa nyeri di hatinya.

Dengan memantapkan hati dan nyali, Bhre menuju pintu setengah terbuka itu.

Diketuknya pelan.

“Masuk.” Suara berat Pak Sam menjawab dari dalam.

Dengan muka berkeringat setengah pucat, karena takut dan belum sarapan, Bhre memberanikan masuk.

Pak Sam memandangnya tanpa ekspresi. Mari.

Bhre mendekat. Dengan nyali setengah-setengah dan benak bertanya-tanya, dia serahkan makalah yang menurutnya belum jadi, berjudul Be Stong Approach Communication pada Gejolak 1998.

Pak Sam menerima dengan dingin. Tanpa menatap Bhre. Dia baca judul makalah itu. Ketebalan dan kemasan sepertinya tak diperhatikannya. Dilihatnya jam tangan. Pukul 07.50.

“Sekarang Anda tanda tangan di sini.” Pak Sam menunjukkan lembar absensi sekaligus bukti pengumpulan makalah.

Dengan tangan gemetar Bhre tandatangan selurus dengan kolom namanya.

“Sudah, Pak.”

“Ya sudah, terima kasih.”

Jawaban yang membingungkan Bhre. Semua di luar kebiasaan Pak Sam. Dan semua di luar prediksinya.

“Terima kasih, Pak.”

Dengan langkah yang masih bingung, Bhre melangkah ke luar ruang.

Tepat keluar pintu, Bhre berpapasan dengan Riris. Dengan makalahnya yang sepertinya jauh lebih tipis.

“Lho, kamu baru mau kumpulkan, Ris?”

“Iya, belum telat kan?”

“Hei, ngawur kamu, jam berapa ini?”

“Jam delapan kurang sepuluh.”

“Bukankah jam tujuh tadi seharusnya sudah terkumpul semua? Aku juga baru mengumpulkan.”

“Diterima kan?”

“Iya.”

Bhre buru-buru menambahkan; “Aku tadi nekat karena berpikir aku terlambat. Tapi anehnya, Pak Sam masih menerima dengan baik.”

“Ah, itu pikiranmu saja.”

“Wajar kan? Bukankah makalah harus terkumpul semua paling lambat pukul tujuh tepat tadi?”

“Kau punya masalah dengan ingatan atau memang tak memperhatikan jadwal, Bhre?”

“Maksudmu?”

“Jadwal pengumpulan antara pukul tujuh sampai delapan. Aku masih punya waktu sepuluh menit sebelum nilaiku kosong.”

“Jancuk.”

“Kenapa?”

“Kau benar. Aku tidak memperhatikan jadwal.”

Riris hanya menghela napas, lalu memasuki ruang 304 dengan penuh percaya diri, bersama makalahnya yang sangat tipis.

Dia sangat mengenal Bhre. Dan bisa menerima dengan wajar sikapnya yang spertinya di luar rencana.

Karena Bhre selalu merencanakan semuanya sesuai dengan kehendaknya. Hasratnya untuk menguasai diri dan situasi. Tanpa memperhatikan banyak variabel lain yang kemungkinan bisa membengkokkan rencananya.

Dia turun, menuju kantin. Bram, yang ternyata bahkan sudah lebih dulu mengumpulkan makalah, menunggunya di sana.

Di halaman kampus, di bawah pohon sonokembang, dilihatnya Gendari sedang bertukar tawa dengan Roy. Sekilas Gendari melihatnya. Mereka sempat bertukar tatap selama beberapa detik yang hambar.

Lalu Gendari berpaling lagi pada tatapan Roy. Dan Bhre melangkah bersama ngilu.

3

SATU, dua, tiga, empat, lima, enam. Genap, Bram mengeluarkan lembar demi lembar uang lima puluh ribuan dari dompet Ocean Pacific warnya cokelatnya.

Bhre tidak memperhatikan lembaran-lembaran itu berpindah dari dalam dompet Bram ke depan mangkuk sotonya. Dengan gaya yang dipaksakan untuk biasa, Bhre meraih enam lembar uang berwarna biru tua itu.

Tidak dia hitung ulang. Bram bagaikan belahan jiwanya. Dia hampir tidak punya alasan untuk tidak mempercayai sobatnya yang charming dan murah senyum itu.

Langsung saja dimasukkan uang itu di saku kanan depan celana jins kumalnya.

Bhre terlalu sibuk dengan soto ayam Lamongan di depannya, setelah drama di ruang 304; fragmen konyol yang seharusnya tidak perlu terjadi seandainya Bhre benar-benar menyimak jadwal pengumpulan tugas ke Pak Sam. Kebingungan insidentil yang sebenarnya tidak perlu dan sangat menguras energi di tubuh Bhre yang belum terisi bahan bakar.

Makan adalah kebutuhan dasar manusia, sebagai salah satu kegiatan yang harus tunduk pada hukum sebab-akibat di jagat raya ini. Tubuh memerlukan asupan energi untuk bisa melahirkan gerak. Itu sudah hukum alam.

Jagat raya menyusun segala komponen yang ada di dalamnya sedemikian rigid, seperti sebuah mesin yang terdiri dari banyak komponen sampai yang terkecil.

Sampai pada mitokondria, unsur terkecil yang jadi bagian dari DNA yang setidaknya masih dipercaya oleh sains hingga saat ini.

Semua punya peran masing-masing, yang membentuk sebuah pola hubungan sebab-akibat yang kontinu.

Jagat ini semestinya disusun untuk sebuah tujuan.

Apakah itu? Dan itulah yang masih menjadi perdebatan para filsuf sejak zaman Socrates hingga mereka-mereka penganut aliran postmodern yang percaya teori ketakteraturan.

Tapi setidaknya agama sudah memberi bocoran tentang tujuan penciptaan alam semesta ini; untuk tunduk kepada hukum-hukum Tuhan.

Tapi itu agama, bidang yang tak pernah menarik perhatian Bhre.

Bhre lebih tertarik, dan percaya, kepada Hegel. Dia sedang mengikuti gerak ruh semesta alam untuk menuju kesempurnaan. Dia mengikuti bisikan ruh semesta lama. Tapi dia memilih mengesampingkan ruh itu berasal dari mana.

Sempurna seperti apa? Pertanyaan itulah yang membuat hidup menjadi lebih menarik dan menggairahkan. Definisi sempurna selalu dan selalu dicari, seolah tidak akan pernah selesai. Hingga hukum fisika menyelesaikan perputaran jagat raya ini, yang oleh agama didefinisikan sebagai kiamat.

PERAN.

Setidaknya saat ini Bhre telah mendefinisikan perannya dalam dunia yang masih memberikan tempat untuknya ini; sebagai penolong untuk belahan jiwanya, Bram anak orang kaya itu. Dan orang-orang sejenisnya.

Bram yang malas. Bram yang kuliah hanya untuk menjaga gengsi bapaknya, yang seorang pengusaha ekspedisi di Pelabuhan Tanjung Perak. Agar dia tampak punya kesibukan layaknya anak muda seumurannya. Bahkan sebenarnya makalah pun adalah hal yang belum dikenalnya, kendati Bram sendiri berstatus mahasiswa semester enam.

Namun, bukan berarti Bram hanya menjadi sampah di jagat ini. Bram juga punya perannya sendiri; sebagai sumber penghasilan orang-orang seperti Bhre. Yang sangat tertarik ilmu-ilmu sosial dan selalu berusaha untuk mencari tahu segala hal yang terhubung dengannya. Untuk mencapai ambisinya sebagai orang yang diakui di bidangnya. Ambisi yang harus terengah-engah lantaran alasan klasik finansial. Mahasiswa yang punya cita-cita tanpa harta.

Setiap punya masalah dengan tugas, Bram lari kepada Bhre. Dan itu adalah peluang Bhre untuk meneruskan hidupnya. Hubungan timbal balik yang terjadi sejak semester awal mereka kuliah itu berkembang pada hubungan yang lebih intim; persahabatan. Ada Bhre, ada Bram. Ada si pemikir, ada si borju.

Hingga masyarakat kampus menjuluki mereka sebagai belahan jiwa.

“Sial kau, gara-gara aku selesaikan dua puluh lima halaman makalahmu, makalahku sendiri terbengkalai.

Hanya selesai setengah.” Bhre baru merutuki sahabatnya itu setelah dia selesai dengan sotonya.

“Hahaha Bukankah itu fungsi dari sebuah persahabatan? Pengorbanan,” entengnya Bram menjawab.

“Ah, jancuk. Kalau sampai nanti nilaimu di atasku, aku punya alasan untuk membuatmu merasa, uang yang keluar dari dompetmu hari ini masih belum cukup.” Bhre membicarakan uang tiga ratus ribu yang didapatkannya dari empat makalah Bram yang dikerjakan dengan komputer butut dan otaknya.

“Tenang, Bro. Apa pernah aku membuat perhitungan dengan kau? Kau tinggal bilang saja, duit bapakku tak pernah habis.” Retorika anak borju.

Bhre diam mendapat jawaban itu. Betul juga. Setiap terbentur tembok masalah finansial, Bram lah yang selalu menjebol itu untuknya. “Terserah kau lah, Bro.”

“Tapi ingat, aku bukan pengemis. Aku mendapat uangmu karena aku telah melakukan sesuatu yang sangat penting untukmu. Aku adalah penasehat khusus urusan tugas, hahaha.” Bhre memang tidak punya duit, tapi dia juga punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Setidaknya di depan sobatnya sendiri.

“Akur saja, Bro.”

Bhre raih rokok kretek filter di depan Bram. Diambilnya sebatang, dinyalakannya. Dinikmatinya sebagai penutup sarapan paginya yang agak terlambat. Makan pagi yang selalu masuk ke dalam tagihan Bram.

“Aku pulang dulu, Bro. Jatah tidurku semalam belum selesai.” Bhre berkemas.

“Sebaiknya kau memang tidur. Kau tak usah bicara, sorot matamu sudah menggambarkan kondisimu.” Bram merespon.

Bhre hanya tersenyum.

“Kau butuh tidur karena malam nanti aku punya rencana untuk kita.”

Bhre kaget; “Apa?”

“Sudahlah, kau ikut saja.”

“Apa?” Pertanyaan diulang.

“Sudahlah, kau ikut saja. Kau perlu hiburan, Bro. Sepertinya kau selalu mendefinisikan hidupmu dengan cara yang sulit. Kau perlu merenggangkannya.”

“Hm. Clubing?”

“Sudahlah, ikut saja.”

“Kau tahu aku tak pernah suka.”

“Kau tega menolak sahabat yang berusaha untuk menyenangkan sahabatnya sendiri?”

Bhre speechless. “Ya sudahlah. Lihat nanti. Tapi aku tidak berjanji.”

“Aku tidak perlu janji. Jalani saja nanti,” Bram mengerling.

Bhre mengangkat alis. Lalu beranjak.

“Salam untuk mucikarimu.”

“Jancuk.” Bhre diingatkan pada tagihan Mbah Yah.

Bram melepas tawa lepas. Bhre merespon dengan senyum yang masih tersisa.

Dan sebelum menyelesaikan urusan tidurnya, Bhre harus menyelesaikan urusan dengan Mbah Yah.

Atau dia tidak akan pernah bisa tidur di dalam kamar lusuhnya yang tergembok dari luar. Enam lembar lima puluh ribuan yang berpindah dari dompet Bram ke saku kanan depan celananya adalah kunci pembuka gembok itu.

4

KURANG cerdik mengikuti irama permainannya telah melipat Bhre pada rasa sakit yang terasa pandir.

Sakit bersama sedak batuk setelah ampas kopi kantin di siang itu mendadak kerasan dalam tenggorokannya.

Memanglah, sesuatu itu selalu menjadi misteri yang tak akan bisa dipecahkan oleh umat manusia. Sesuatu yang bahkan dijadikan jaminan sumpah Tuhan; waktu.

Semua memiliki tempo.

Alam semesta memiliki batasan. Hingga akhirnya semua berhenti.

Di tengah kebiasaan waktu yang selalu menggelinding spontan, manusia berkejar-kejaran dengannya demi aneka macam tujuan mereka.

Pada fitrahnya sendiri, waktu berjalan seperti biasa. Tidak memberikan toleransi bagi mereka yang lambat, tapi memanjakan mereka yang cepat.

Definisi kecepatan waktu berbeda-beda antara satu individu dengan individu lainnya. Ada yang merasakan terlalu sebentar, ada yang merasakan terlampau lekas.

Gerak yang lambat menyebabkan waktu terkesan begitu cepat, dan gerak yang cepat seolah tidak pernah merasakan perputaran waktu saking lambatnya.

Einstein merumuskan fenomena relativitas itu dengan tepat.

Bhre diam dalam keadaan yang mendefinisikan waktu terlampau cepat. Geraknya lambat. Hingga tak terasa dua bulan sudah dia menunggak tanggungan pada Mbah Yah –induk semang yang dalam persepsi Bhre adalah versi nyata dari mitos Bathara Kala.

Tapi, waktu pun tak pelit membagikan toleransi pada manusia-manusia yang mau berbuat, kendati terlambat.

Dan, Bhre pun akhirnya menyelesaikan tanggungan dua bulannya, tepat beberapa jam sebelum pintu kamarnya digembok paksa dari luar oleh Mbah Yah.

Siang di rumah kos itu dia datang disambut dengan senyum yang sudah dua bulan belakang ini tak pernah dia lihat; senyum Mbah Yah yang menerima uang dua ratus empat puluh ribu dari Bhre.

Setelah uang jasa penyusunan makalah dari mahasiswa-mahasiswa tajir namun malas itu cair. Dana turun di waktu yang tepat.

Bhre kembali bisa menikmati kamar pengapnya, kembali meneruskan tanggungan tidurnya yang dipaksa terpenggal untuk memburu tenggat waktu pesanan para langganan, juga demi senyum Mbah Yah yang sama sekali tak ada manis-manisnya itu.

Sampai Mbah Yah kembali datang padanya sebagai juru tagih ketika waktu mulai menggelinding menuju akhir bulan.

Tapi, setidaknya, saat ini Bhre bisa tidur.

5

WAKTU.

Bhre selalu kebingungan mengikuti iramanya. Urusan kos, tugas kuliah, membayar uang SKS, sampai urusan cinta. Bhre kerap kalah jauh dari laju sang waktu.

Cinta?

Terlalu ragu sekaligus phobia terhadap kemungkinan gagal menyebabkan Gendari selalu diam dalam pikiran Bhre, dalam sebuah memori yang menyakitkan.

Seharusnya Gendari sudah menjadi bagian hidupnya.

Kalau dia tiga hari lebih cepat.

Gendari memiliki komposisi wajah dan tubuh yang benar-benar pas. Tirus-semampai. Itu masih ditunjang kemampuan intelegensi dan kemampuan diplomasi juga diskusi; faktor internal yang disukai Bhre dari sosok perempuan. Dan Bhre tak pernah ereksi pada perempuan yang sukar nyambung jika diajak ngobrol tentang banyak hal.

Sebab, Bhre mendefinisikan ketertarikan pada lawan jenis bukan hanya berhenti pada kebutuhan seksual. Tapi lebih pada hasrat untuk saling melengkapi jiwa masing-masing yang terlibat. Seperti mur dan baut.

Lengkap-melengkapi, sebagaimana banyak hal di jagat raya ini bekerja, yang membuat semesta alam menjadi utuh.

Seperti atmosfer dan gravitasi yang melengkapi Bumi.

Seperti susunan planet-planet yang melengkapi matahari sebagai induk tata surya.

Soal hal satu ini, Bhre selalu berseberangan pendapat dengan Bram– sohib yang tak pernah percaya hanya ada satu perempuan untuk seorang lelaki itu, sekaligus pelanggan tetap usaha jasa penyusunan paper ala Bhre.

Tapi hanya dalam hal ini saja. Yang lain, mereka cocok, sepertinya.

Pertemuan tak sengaja dengan Gendari terjadi tiga tahun lampau, ketika mereka sama-sama menyandang status sebagai mahasiswa baru. Dari tatapan tak sengaja, lalu pandangan mereka saling bertumbuk, mengikat, mengisyaratkan tarik menarik seperti dua kutub magnet.

Tapi Bhre, dengan kebodohan yang diyakininya penuh percaya diri, melawan gaya itu.

Atau dia takut untuk mengikutinya, sebab Gendari begitu terlalu segalanya dalam definisi Bhre.

Timbul minder.

Bukan karena Bhre tak punya sesuatu untuk dibanggakan sebagai lelaki. Tapi karena ketakmampuan finansialnya. Statusnya kere, dan itu terjadi secara sporadis akibat amukan badai ekonomi 1997.

Keadaan yang tiba-tiba, dari status sebagai anak pengusaha kaya menjadi anak dari orangtua yang tak mampu membiayai kuliahnya, sehingga dia harus melacurkan intelegensinya pada mahasiswa-mahasiswa berduit yang malas itu, tidak bisa diterima Bhre dengan tiba-tiba dan langsung.

Namun, sebenarnya kere itu hanyalah satu-satunya kekurangan yang ada padanya. Mukanya oke, setidaknya itulah yang diakui beberapa perempuan yang sempat main mata dengannya. Otaknya juga yahud –buktinya, pelanggannya selalu mendapatkan nilai minimal B+.

Tapi, dalam definisi Bhre yang angkuh, kere memang satu-satunya kekurangan, tapi itu memalukan. Buat dia, satu minus itu menisbikan banyak kelebihannya.

Dalam definisi keliru yang dibangunnya secara sadar diri itu, Bhre terjangkiti minder.

Dia menolak magnet Gendari.

Eh, bukan menolak. Tapi berusaha untuk mencari saat yang tepat untuk menyesuaikan diri dengan keminderannya.

Dan dia butuh waktu.

Waktu.

Yang tak tahu sampai kapan.

Hingga akhirnya, waktu dan semesta dengan akur mempersilakannya masuk dalam ruang dialog dengan Gendari sebagai teman satu kelas yang mengambil mata kuliah yang sama. Mata kuliah komunikasi politik memberi banyak ruang untuk mereka berdiskusi. Saling melengkapi antara pendapat satu dan pendapat lainnya.

Bhre merasa semua wacana yang dikemukakannya mendapatkan respon yang sesuai setiap kali dia terlibat diskusi dengan Gendari. Perempuan itu memang pandai. Setidaknya menurut Bhre.

Dia semakin ereksi.

Tapi, minder membuatnya harus menyimpan rapat-rapat ereksinya itu.

Gendari sebenarnya memahami situasi Bhre, abai pada status kerenya, dan melemparkan sinyal-sinyal positif. Bahkan dengan ikhlas sering dia traktir Bhre menikmati mi pangsit kesukaannya di kantin. Canda-canda genit yang dilempar Gendari tiapkali makan siang bersama itu seharusnya bisa Bhre artikan sebagai isyarat “silahkan masuki hati saya.”

Tapi minder, dalam proses penyesuaian harga diri yang dipersepsikannya sendiri secara keliru, membuat Bhre memandang sinyal itu abu-abu.

Dia pun, dengan gobloknya, meragu dalam ketakutan-ketakutan yang diciptakannya sendiri.

6

STIMULUS tanpa respon akan mengundang kejenuhan. Wajar. Dan sudah sangat manusiawi ketika manusia berusaha menolak rasa jenuh.

Mencari suasana baru.

Itulah yang dilakukan Gendari.

Dia menampik kejenuhan relasi parararara-nya dengan Bhre. Dia resah, seperti kata Is Payung Teduh itu. Dia berusaha mencari suasana yang lebih segar, yang lebih bisa memahami sinyal-sinyal yang dilepaskannya.

Yang bisa merespons stimulusnya. Yang bisa memberinya respons aduhai.

Gendari tidak ingin proses komunikasi hanya berjalan satu arah. Dia muak. Muak tingkat dewa, tepatnya.

Sebab itu, dia tak lagi mentraktir Bhre makan mi pangsit siang-siang.

Bhre merasakan itu. Sadar kondisi dia. Bhre merasakan kehilangan secara bertahap, tapi pasti.

Dan, sebagai manusia yang masih perlu rasa senang, Bhre tidak rela kehilangan. Dia tak khawatir soal jatah makan siang yang tiba-tiba hilang. Tapi, jika kehilangan Gendari? Dia akan merasa sangat pandir jika kenyataan itu hadir.

Dia harus berbuat.

Dia harus memutuskan. Dan dia harus berani untuk menjawab tanda-tanda yang –kalau mau diterimanya dengan akal sehat– akan membawanya pada rasa gembira. Bukannya malah menolak karena ketakutan yang diciptakannya sendiri.

Kabar tentang senior, sangat kaya, yang sedang menjalin komunikasi intensif dengan Gendari, semakin menendang-tendang Bhre untuk segera mengambil sikap. Gendari dan senior itu sedang saling berkirim tanda, yang ditangkap secara positif oleh masing-masing.

Begitulah kabar mendebarkan yang diterima Bhre.

Senior kaya?

Bhre minder kembali.

Dia takut kalah. Jika kalah dari pesaingnya itu, dia rasa kekalahannya jauh lebih memalukan. Sebab, dia merasa kalah sebagai orang kere. Pemenangnya adalah dia yang kaya.

Ah, dasar hukum kapitalis! Dan kenapa aku harus kere?

Tanpa dia sadari, atau mungkin dengan kesadaran penuhnya, bayangannya tentang takut kalah dalam persaingan dengan senior tajir itu menempatkan Gendari sebagai perempuan mata duitan dalam persepsi Bhre. Satu lagi kekeliruan didefinisikan Bhre dengan gembira. Dan nyinyir. Dia lupa kalau sebelumnya Gendari rajin mentraktir, dan tak pernah menghitung untuk itu.

“Kau katakan saja sebelum terlambat, Bro. Percayalah, selama ini Gendari menunggumu. Hanya menunggu keberanianmu saja, dan semuanya akan menjadi bagus. Jangan pernah menghinakan dirimu sendiri dengan statusmu. Rasa suka yang sebenarnya selalu mengesampingkan status.”

Itulah satu-satunya masukan Bram yang, menurut Bhre, paling bijak.

Nasehat yang muncul di bawah pengaruh dua gelas rainbow yang menyala, dalam sebuah klab malam yang sarat dengan dentum musik ajib-ajib.

7

“KAU tidak pandai menangkap tanda.”

Dalam pertemuan siang di kantin itu, beberapa kala lalu, pertemuan yang dipaksakan Bhre, suara Gendari mirip petasan bambu yang diletupkan dengan satu ons karbit, dan dia nikmati sebagai VIP. Berdebum dan mengagetkan. Tapi, tentu saja, hanya Bhre yang bisa mendengar suara debum itu.

“Ya, aku akui.”

“Kau tidak peka. Kau egois.”

Bhre diam.

“Kau tidak tahu lelahnya menunggu.”

Bhre masih diam. Dia memainkan rokok di jemarinya. Dan menatap cangkir kopi yang nyaris habis, tanpa berani membalas tatapan Gendari yang lekat padanya.

Dia tak menyangka bahwa Gendari lebih dulu mengungkapkan kesal karena penantiannya. Sementara Bhre malah belum mengungkap maksudnya. Menyinggung pun juga belum. Padahal, dia yang sebenarnya punya gawe dalam pertemuan itu.

“Kau cinta aku, Bhre?”

Pertanyaan tiba-tiba yang membuat Bhre harus mendongak. Membalas tatapan Gendari yang membuatnya tampak lemah.

Kali ini bukan debum petasan yang didengarnya, namun dentum meriam. Lebih mengagetkan dan tetiba laki-lakinya runtuh di tengah dialog itu.

Lalu dia kembali menunduk dan menghisap rokoknya yang tinggal separuh.

Gendari terus menatapnya. Beberapa detik.

Bhre perlu waktu untuk memancing keberaniannya sendiri muncul dan menjawab pertanyaan Gendari yang sangat dalam itu. Seperti pompa air yang perlu dipancing untuk menyemburkan air dari sumber yang melimpah.

“Alasan kita di sini adalah, karena aku ingin kau tahu kalau aku cinta kau.”

Akhirnya keberanian Bhre muncul juga.

“Ah.” Gendari menunduk.

Dalam sekali dia tertunduk selama tujuh detik. Menatapi buku, mangkuk, gelas, dan remah-remah makanan yang tersebar rata di mejanya, tanpa pernah bermaksud untuk mempersepsikannya.

Bhre yang ganti mendongak. Penasaran dia pada respon Gendari. Dia mulai berani menatap perempuan cantik itu.

Gendari kembali mendongak. Bola mata mereka bertemu.

Kutub magnet itu bekerja kembali. Hanya saja, kali ini energi dari sisi Gendari jauh lebih lemah.

“Sejak kapan kau memendamnya?”

Bhre diam. Tapi masih menatap Gendari.

“Sejak kapan, Bhre?”

“Sejak aku belum mengenalmu, tapi mata kita sudah bertatapan.”

“Sejak kita baru masuk?” Ingatan Gendari masih tajam. Sekaligus bukti bahwa momen itu masih dipatri baik-baik di memorinya. Sebuah tanda yang seharusnya menjadi respon positif untuk Bhre.

Bhre mengangguk pasrah.

“Kenapa kau memilih hari ini untuk mengungkapkannya? Itu sudah tiga tahun lalu!” Emosi Gendari akhirnya meletup.

“Aku tak berani.”

“Banci kamu, Bhre!”

Dan untuk pertama kali dalam hidupnya Bhre menerima begitu saja makian dari orang lain. Angkuhnya mendadak lumpuh. Dia masih dalam diamnya.

“Kau sia-siakan tiga tahun kita hanya karena ketakutanmu yang konyol itu?”

Bhre masih diam. Rokoknya habis. Dia jentikkan.

Tak sengaja puntung berbara yang dijentiknya mendarat mulus di lengan kanan seorang mahasiswa berbadan dan bermuka sangar, yang kebetulan melintas di depan kantin — tepat di depan meja Bhre dan Gendari. Tersundut membuat dia mengumpat, lalu matanya jelalatan mencari sumber jentikan.

Bhre yang menyadari itu buru-buru menunduk. Pura-pura tak tahu dia. Dia malas berurusan dengan si tubuh besar. Sebab, urusannya dengan Gendari saja masih belum selesai. Yang dipedulikannya hanyalah respon dari Gendari.

Gendari diam. Tapi jelas terdengar oleh Bhre napasnya yang memburu. Kentara betul Gendari sedang berusaha keras agar kekecewaannya tidak terletup dalam emosi di tengah keramaian kantin itu. Tak seperti emosi yang diumbar mahasiswa yang tersundut bara dari puntung Bhre itu.

Bhre menyeruput kopinya.

“Kalau saja kau ucapkan itu tiga hari lalu, mungkin kita bisa bersama, Bhre.”

Ampas kopi ikut dalam tegukan terakhir Bhre, menerobos mulut dan sela-sela gigi tanpa permisi.

“Tiga hari lalu Mas Roy mengungkapkan apa yang kau ungkapkan sekarang. Dan aku mengiyakan.”

Penjelasan yang membuat ampas kopi Bhre langsung terseret masuk ke dalam tenggorokan, dan tersasar ke saluran eustacius. Butir-butirnya menancap di situ. Bhre tersedak.

Sedakan yang sangat pahit.

“Kau menyia-nyiakan waktumu, Bhre.”

Sedakan terasa semakin pahit menggigit ketika berubah bentuk menjadi batuk-batuk kecil.

Bunyi klakson dari depan kantin melengking menelan suara batuk-batuk Bhre. Isuzu Panther dengan Roy di belakang kemudinya memberi isyarat pada Gendari bahwa mereka harus pergi.

“Kita impas, Bhre. Kau telah membuatku terjebak dalam abu-abu hubungan kita selama tiga tahun yang membuatku bertanya dan terus bertanya. Aku mencintaimu, Bhre. Tapi aku tak mau kau buat aku capek.”

“Sebab Roy kaya? Aku kere?” Pertanyaan sinis dan bodoh yang tulus masih saja sempat terlontar dari mulut ngawur Bhre. Dia masih enggan juga mengakui kebodohannya sendiri maupun kuasa waktu.

Pertanyaan yang dijawab Gendari dengan mengemas buku-bukunya, membayar ke kasir, dan menyongsong Roy.

Sesaat dia tinggalkan pandangan kecewa yang amat sangat pada Bhre.

Dia tinggalkan Bhre yang sibuk dengan ketersedakannya yang belum selesai, begitu saja, dibumbui tatapan nanar karena sebuah keputusan yang kalah oleh waktu.

Panther Roy meninggalkan asap hitam dari semburan knalpotnya.

Sehitam tiga tahun yang telah disia-siakan Bhre, dengan ketakutannya merespon tanda positif kail cinta Gendari.

Berjuta detik telah dimubazirkannya secara sadar.

DEMI waktu.(*)

image

richtaveras.com

Advertisements

One thought on “Demi Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s