Pesan dari Tepi Aspal

Ketika kamu…
Saat kamu…
Waktu kamu…

KETIKA kamu teriak-teriak dari dalam ruangan kantor dinginmu tentang keadilan pada bosmu, sebab kamu merasa gajimu selalu kurang, sudahkah kau ingat berapa receh yang telah berpindah tangan dari saku celanamu ke tangan bocah-bocah pengamen yang kudu genjrang-genjreng sampai larut malam di pintu angkot jurusan Pasar Minggu – Kampung Melayu tanpa pengaman itu? Atau pada perempuan-perempuan tua jompo yang menengadahkan kantong plastik atau kaleng di tepian aspal Jakarta itu?

Saat kamu mengutuk masakan yang tersuguh di rumah nyamanmu, dan kau umpat istrimu atau pembantumu sebab tumisnya kurang asin atau keburu dingin, pernahkah kamu lirik seorang ibu muda dengan tampangnya yang kumal itu menyuapkan sebungkus nasi untuk tiga anaknya yang masih kecil-kecil dan mukanya tak kalah rusuh di tepian aspal perempatan Pancoran itu?

Ketika kamu mengutuk bonusmu yang tak juga cair itu, karena kamu tak bisa segera mengganti Honda CRV-mu dengan Mitsubishi Outlander, pernahkah kamu melihat sebatalion marjinal berjajar di tepi aspal, untuk menunggu angkutan umum yang akan menumpuk mereka di dalamnya seperti ikan peda demi gaji yang hanya cukup untuk mengganjal perut hingga tanggal tujuh itu?

Kala kamu diseret pasanganmu dalam kegilaan konsumerisme dan kartu kredit yang ingin dihambur-hamburkan dalam mal itu, pernahkah kamu melihat di salah satu titik tepian aspal seorang ibu dengan anak kecilnya yang tergendong malas –terlepas itu akal-akalan mereka untuk menguatkan aura melas mereka– memunguti receh 500 perak di atas aspal yang telempar dari dalam mobil mewah, dengan taruhan tersambar mobil lainnya itu?

Waktu kamu mengumpat pasanganmu hanya karena beda pendapat soal sofa yang hendak kamu beli untuk nonton smartTV 60″ di rumah yang sedang kalian persiapkan untuk setelah pernikahan nanti, lalu pertengkaran itu berkembang ke mana-mana mengungkit soal ketaksukaanmu pada pilihan parfumnya dan kegemarannya memasak untukmu sehingga kamu tak pernah punya kesempatan untuk nongkrong di kafe dan resto –yang itu membuka semua kepalsuan cintamu yang fasis itu– pernahkah kau lihat sesosok gelandangan yang terseret sunyi yang menyenyap sendirian, meringkuk di atas selembar kardus dan lapar tanpa kekasihnya di tepian aspal Jakarta yang sedang dirajam hujan itu?

Umpatan-umpatan dan keluh-kesah di dalam rumah nyaman dan mobil ademmu itu adalah kegagapanmu memahami nikmat. Karena kamu tidak pernah sudi untuk menjenguk tepian aspal. Karena kamu tidak pernah menjumpai seorang bocah yang –dalam deskripsi Iwan Fals itu– hidup di dua sisi dan dipaksa pecahkan karang dengan lemah jari terkepal.

Mungkin perlu juga kau ketahui: hanya pengecut yang menghabiskan waktu untuk mengumbar keluhan dan mengumpati kehidupan mereka sendiri. Dan manusia-manusia di tepian aspal itulah para petarung sesungguhnya. Mereka tak pernah mengeluh. Setidaknya, mereka tak pernah menampakkan keluh itu.

Sekian.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s