Keminggris Kok Bangga

Keminggris!

APAKAH dengan keminggris (sok-sok Inggris) kamu merasa keren? Kalau memang begitu yang kamu rasakan, dari lubuk hati yang paling dalam saya ucapkan turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya untuk kematian identitas dan kebanggaanmu.

Jujur saja, pas mendapati ada sebuah film yang bermaksud untuk mengangkat kembali eksistensi sekelompok pelawak yang Indonesia banget, Srimulat, tapi menggunakan judul “Finding Srimulat”, rasanya kayak gimana gitu. Menurutku, ada semacam kebanggaan yang ambigu. Kalau kamu? (Logat bahasa iklan, hehehe)

Kenapa saya sebut ambigu? Ya karena maksudnya bangga, tapi bingung milih cara buat membanggakannya. Membanggakan budaya asli dengan cara asing. Pinjem istilah Jawa, itu kan mbingungi (bikin bingung-red).

Wes, gampangnya gini; dalam film itu, bukankah yang mau dibanggakan itu Srimulat? Dibanggakan dengan cara coba dibangkitkan kembali. Mungkin memang negeri ini butuh lawakan ala Srimulat karena guyonan-guyonannya, terutama soal politik, kian garing. Nggak lucu. Konyol malah.

Balik ke Srimulat. Ya, seni lawakan ini memang pantas untuk dibanggakan. Karena seni ini khas produk Indonesia, yang tumbuh dan berkembang bersama komedian-komedian tradisional yang dibentuk di Solo dan Surabaya. Jelas sekali dua kota itu sangat Indonesia banget, yang mana keduanya punya ciri khas tradisional yang sangat kental. Dan, irama juga iklim budaya di kedua kota itu mau nggak mau, otomatis, sudah memberi warna pada karakter pelawak yang sudah sangat Jawa.

Sebut saja tokoh-tokoh legendarisnya: Teguh, Triman, Bendot, Asmuni, Timbul, Tarsan, Nurbuat, Eko Deye, Basuki, Nunung, Jujuk Juariyah, Kadir, Doyok, Polo, Gogon, sampai Bambang Gentolet, Roy Markun, dan Eko Tralala. Kalau memang benar-benar menyimak sepak terjang mereka, tentu kita tahu toh, bahwa mereka itu ASLI INDONESIA. Dalam materi lawakannya pun, mereka sering menggunakan bahasa Jawa Soloan atau Suroboyoan. Justru ketika menggunakan dialek daerah, yang lokalan banget itu, guyonan mereka jadi lebih utuh dan sempurna. Dan ketika di-Bahasa Indonesia-kan, guyonan itu juga tetap kena.

Intinya, Srimulat itu asli Indonesia, produk budaya lokal –terutama Jawa– yang bener-bener nasionalis. Produk anak negeri yang sudah diakui seluruh bangsa ini, sebagai simbol dari identitas budaya bangsa.

Ya, memang sih, belakangan ini lawakan-lawakan Srimulat jarang muncul. Mungkin kalah saingan sama pelawak-pelawak kemasan baru, seperti wayang Opera van Java, Bajaj, Cagur, atau Komeng dan Adul, Abdel, atau pelawak-pelawak generasi abad ke-21 lainnya. (Mau nggak mau kita harus mengakui kalau Srimulat itu generasi abad ke-20, dan sekarang beda abad. Mungkin karena tuntutan zaman itu mereka pun tenggelam. Ini mungkin lho ya…)

Tapi, mungkin lagi, putus kabar dari Srimulat –yang personel seniornya sekarang lebih banyak yang bersolo karir, sementara regenerasi (kayaknya) stagnan– membuat Indonesia menjadi rindu guyonan nasionalis ala Srimulat. Rindu guyonan-guyonan spontan yang kerapkali membuat penonton terpingkal-pingkal.

Soal gaya, Srimulat ini bisa dibilang orisinil. Materinya sederhana, tentang konflik rumah tangga biasa antar-anggota keluarga atau antara majikan dan pembantu, yang disatirkan dengan guyonan “ndeso” tapi memancing gelak yang kadang berbau bulying tapi nggak bikin sakit hati siapapun. Dan jujur saja, kita rindu suasana segar yang diciptakannya –setelah terakhir kali kita bisa simak setiap malam Jumat di stasiun tivi Indosiar bertahun lampau. Guyonan jujur yang nggak garing. Guyonan ASLI INDONESIA.

Pas mendengar kabar akan ada upaya buat menghidupkan kembali Srimulat –atau setidaknya mengingatkan kembali soal eksistensi mereka– melalui film, rasanya senang sekali. Berarti masih ada upaya untuk mengapresiasi kesenian khas Indonesia. Minimal masih ada sedikit rasa cinta terhadap karya orisnil anak negeri, di tengah gerojokan joget-joget Korea atau Harlem Shake.

Awalnya saya kira semua unsur dalam film soal Srimulat itu seratus persen lokal. Ya memang hampir semuanya lokal sih. Tapi, saat nyimak judul yang dipilih, jleb, saya langsung drop. Kenapa harus “Finding Srimulat”? Kenapa masih saja ada istilah asing dalam upaya untuk menghidupkan kembali budaya asli kita? Kenapa nggak milih “Mencari Srimulat”, “Menemukan Srimulat”, “Nemu Srimulat”‘ atau “Nggoleki Srimulat”? (Nggoleki = mencari dalam bahasa Jawa). Itu kan lebih Srimulat?

Kalaupun alasannya agar Srimulat bisa masuk ke kancah internasional (maaf, saya nggak pakai istilah go international), bukankah lebih baik menggunakan bahasa kita, sekaligus memperkenalkan Bahasa Indonesia sebagai identitas kebanggaan kita. Dalam hubungan internasional yang sehat, baik itu bilateral maupun multilateral, bukankah masing-masing negara yang terlibat dalam posisi setara?

Anggap saja hubungan internasional itu seperti hubungan pacaran. Kita nggak boleh egois, selama kita ingin hubungan yang mesra. Kalau kita mau pacar kita menerima kebiasaan kita merokok, misalnya, ya kita harus menerima kebiasaannya makan jengkol. Nggak boleh kita memaksanya mengganti kebiasaan makan jengkol dengan merokok, biar sama kayak kita. Kalau memang pasangan kita menuruti paksaan untuk merokok, dengan terpaksa, hubungan itu sudah nggak layak disebut pacaran, tapi perbudakan. Kalau sudah begitu, mending putus saja. Nggak ada upaya saling menghormati, dan ada upaya merampas kedaulatan ciri khas dan identitas lainnya. Itu hubungan nggak sehat.

Begitu pula kalau kita mau membawa Srimulat sebagai identitas budaya bangsa kita, ya kita harus datang dengan murni apa adanya. Srimulat berbahasa Indonesia, kadang lokalan, ya kita sajikan sesuai khitahnya dong! Nggak perlu keminggris gitu lah. Kalau kita bisa menerima Bahasa Internasional, ya dunia internasional harus menghargai bahasa kita dong! Kalau kita merasa harus menggunakan bahasa asing, itu artinya kita sudah mulai diperbudak dan dipaksa bergaul dengan cara asing, dan dengan sendirinya lunturlah kedaulatan budaya kita. Bangsa tanpa budaya itu nggak layak disebut bangsa, tapi tak ubahnya boneka. Mau disebut boneka?

Kalau nggak mau disebut boneka, tunjukkan bahwa kita berbudaya dong! Perkenalkan bahasa kita pada pergaulan internasional. Nggak pede sama bahasa sendiri? Minder?

Kalau memang minder, apa masih pantas merasa sebagai bangsa yang besar, yang berdaulat, yang bangga dengan budaya sendiri, bahasa sendiri? Apa yang kita banggakan pada dunia kalau dalam berbahasa saja kita masih minder?

Kalau begini, nih, kayaknya kita nggak pantes disebut bangsa yang besar. Mengutip Bung Karno, bangsa yang besar itu menghargai jasa pahlawannya. Mohon dicatat ya, menghargai jasa pahlawan itu bukan cuma dengan ikut upacara. Tapi hargai apa yang telah mereka perjuangkan: kedaulatan dan harga diri bangsa dalam beridentitas dan berbudaya. Aneh kan, kalau kita memperingati Sumpah Pemuda tiap 28 Oktober, tapi gagal memahami esensi momen itu –yang salah satunya sepakat berbahasa satu Bahasa Indonesia?

Ingat, inklusif itu beda dengan mbabu. Asimilasi budaya itu beda dengan pemerkosaan kultur. Jadi, kalau kamu merasa keren dengan berbahasa Inggris selalu, dan sama sekali tak memahami bahasa Ibumu, maka saya ucapkan turut berbela sungkawa atas keterlibatanmu dan kenikmatan yang kamu rasakan ketika kamu sedang membuly kedaulatan, budaya, dan harga dirimu sendiri.

Wassalam.   

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s