Chapter 2: Mari Kita Keren!

Tahu definisi keren? Tahu unsur-unsur pembentuk keren?


Eh, jangan salah ya. Keren itu nggak cuma soal sandang yang nempel di tubuhnmu. Keren itu tidak diinterpretasikan sama kaos Banana Republicmu, kemeja Hugo Bossmu, celana Executivemu, arloji Swiss Armymu, atau sepatu Doctor Martin yang kamu pakai dengan bangganya mengayun-ayun bersama dua telapak kakimu yang langkahnya nggak jelas ke mana.

Kalo yang kayak gitu, namanya bukan keren. Tapi itu cuma manekin yang kebetulan dikasih napas sama Tuhan. Dandanan necis tapi kerjaannya cuma nongkrong di kafe dan ngerumpi alias (ng)gibah.

Aroma tubuh wangi ala Yves St Laurent, tapi yang dibahas cuma bagaimana cara dapat duit dan beli gadget baru, lalu casciscus ngomong nggak penting sambil petantang-petenteng di depan bocah kecil yang nggak sempat ngerasain berseragam sekolah gara-gara kudu ngemis atau ngamen di traffic light karena perut mereka butuh diisi.

Atau sibuk test drive Honda Jazz yang baru keluar dari dealer, lalu di tengahnya I-Phonenya bunyi, panggilan dari pacar yang membahas rencana malam nanti mau ke mana dengan mobil barunya, mau nonton apa, mau makan di mana, sampai pecah konsentrasi nyetirnya dan nyerempet ibu-ibu tua sampai terpelanting tapi terus aja ngacir pura-pura nggak tahu.

Atau sarjana jebolan universitas bergengsi dengan IPK cumlaude tapi jatohnya tetap jadi karyawan yang selalu mengeluh soal gaji yang segitu-gitu saja. Nggak berani kreatif membuka lapangan kerja baru untuk sejawatnya yang terhimpun dalam brigade pengangguran. Ngakunya cerdas tapi cari solusi buat diri sendiri saja nggak bisa.

Atau merasa pintar dan kebal dengan status jurnalis, yang kritis, sebagai kontrol sosial, teriak-teriak saat terjadi dugaan penyimpangan, tapi kelayapan berkendaraan ke mana-mana tanpa SIM. Kalo kena razia, andalannya kartu pers. Memang ada undang-undang yang menyebut kartu pers itu sama dengan SIM? Ingat, UUD 1945 tegas menyebut semua warga negara sama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan. Nggak peduli jurnalis, nggak peduli pengemis, salah ya salah.

Keren itu bukan sok intelek koar-koar kudeta (kudeta kok koar-koar) tapi nggak peduli teriakan ibu-ibu rumah tangga yang dizalimi harga bumbu dapur. Ngakunya anggota dewan, wakil rakyat yang terhormat, dandanan perlente, tapi kerjaannya cuma nyari akal gimana ngakalin anggaran, sementara rakyat yang katanya mereka bela dihantui mimpi buruk dan terbirit-birit ketika kedatangan penagih kreditan panci. Byuh….

Itu keren? Nggak blas! Pamer kekayaan di depan kemelaratan itu nggak ada keren-kerennya sama sekali. Pamer IPK cumlaude tapi kerjaannya mengeluhkan diri sendiri karena ngerasa gajinya dari kantor kurang alias cuma mikirin diri sendiri. Orang-orang yang punya banyak kelebihan tapi nuraninya mati itu nggak keren.

Keren itu sadar diri dan sadar sosial. Kerena itu percaya bahwa seluruh kelebihan yang dianugerahkan semesta pada kita itu untuk dibagikan pada yang kekurangan. Keren itu ketika dadanya berdesir saat mendapati bocah-bocah yang seharusnya sekolah malah keleleran di pinggir jalan, berselimut asap hitam knalpot metromini demi meneruskan hidup mereka yang masih panjang tapi nggak jelas ke mana arahnya itu. Bayangkan, kalo bocah-bocah itu anakmu, adikmu, keponakanmu, atau sepupumu, gimana?

Keren itu sadar diri bahwa penciptaan kita di jagat raya ini hanyalah sebagai kepingan puzzle yang punya peran yang mulia di jagat raya ini untuk melengkapi kepingan lain yang masih buntung. Hidup itu saling melengkapi, bukan cuma menyibukkan diri buat nyalon, ngerumpi, atau konsumtif habis.

Keren itu Bono U2. Biar duitnya bejibun sampe nggak ada nomor serinya, dia menyempatkan diri beberapa bulan hidup bersama bocah-bocah Afrika yang kelaparan, karena ingin merasakan bagaimana hidup melarat, lalu menyumbangkan dana yang sangat besar untuk memberi makan mereka yang lapar.

Keren itu Andrew Sumur, pria Prancis yang ahli balon udara dan kaya tapi menghabiskan waktunya untuk membantu masyarkat yang kesulitan air di Bima, Nusa Tenggara Barat sana, menggali sumur dengan teknologi yang diketahuinya soal bagaimana cara mendapatkan air yang benar. Heloooo, ke mana aja sarjana geografi kita?

Keren itu Angelina Jolie, selebritis jetzet yang mau mengadopsi bocah miskin di Vietnam dan membuka sekolah wanita di Afganistan untuk membangun kesadaran emansipasi di sana.

Keren itu Hugo Chavez, yang punya program Venezuela bebas tunawisma 2015 dengan membangun rumah sederhana yang diberikan cuma-cuma. Juga tegas memerintahkan Toyota agar merancang jenis kendaraan yang bisa menjangkau wilayah pedalaman yang miskin, untuk menyediakan sarana transportasi memadahi untuk warga kelas bawah, dan jika Toyota menolak Chavez akan mengusirnya keluar Venezuela. Itu baru keren; peka dan tegas.

Keren itu bukan soal dandanan fisikmu. Keren itu bukan soal merek bajumu, berapa isi rekeningmu, apa gadgetmu, atau seberapa sering kamu ngerumpi yang kamu kasih judul bersosialisasi biar ngeksis itu. Keren itu bukan gerudak-geruduk nggak jelas, ujung-ujungnya ‘nggumunan’ (gampang terheran-heran lalu terpengaruh-red).

Keren itu soal cara berpikir dan orientasimu. Keren itu punya keyakinan tentang kepekaan sosial yang terus dipertahankan. Keren itu mau ikhlas memberi, sebab itu terangkan hati. Keren itu berkarya. Keren itu sadar diri, bahwa manusia itu punya hati dan cinta untuk saling berbagi, bukan manekin yang kerjaannya cuma petentang-petenteng pamer merek.

Hati-hati lho ya, me-manekin-kan diri sendiri itu sama juga dengan menghina Tuhan yang telah memberimu otak dan hati.

Wassalam.

image

Advertisements

7 thoughts on “Chapter 2: Mari Kita Keren!

  1. Tapi sekarang ini agaknya rancu deh. Aktif di social movement, gencar mengkampanyekan di social media, tapi pas di lapangan ternyata melempem. Kadang ikut2an eksis ajah. Umm.. saya berpendapat demikian karena memang sudah liat kenyataan di lapangan, dan itu sama sekali nggak keren! Bukannya terlibat langsung malah sibuk sama gadgetnya sendiri. 🙂

    1. Kalo itu sih namanya gerudak-geruduk. Salah satu unsur keren itu inisiatif. Kalo cuma angka ikut, itu baru numpang keren. Kalo pengen keren, kerenlah pada porsinya. :p

      1. Oya, kadang gak perlu melulu jadi inisiator. Kalau semua orang memaksa jadi inisiator lantas siapa yang membantu gerakan itu? Setuju, keren pada porsinya. Kalau belum sanggup jd founder dari sosial movement, ya bantu aja social movement yang udah ada. Tentunya dengan totalitas hehe.. *ini kok kayak curhat saya*

      2. Hehe, inisiatif itu perlu agar sebuah program berjalan dinamis. Ketika bergeraknya bareng, semua wajib jadi inisiator, satu inisiatif melengkapi inisiatif yang lain. Toh, nggak ada inisiatif yang sempurna bukan? Semua perlu dilengkapi. Yang membantu seorang inisiator ya inisiator lainnya. Inisiator yang ga mau nerima inisiatif lain itu namanya diktator. Makanya, saya sebut, keren itu sadar diri. Mau menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s