Melodi Adem dari Hati yang Melawan

Virgiawan Listianto kini lebih adem.

Beberapa saat lalu, saya kebetulan mampir di sekitaran kediaman Iwan Fals, di daerah Leuwinanggung, Bogor. Lingkungannya adem, dengan banyak pohon rindang. Luas, tenang, dan terbuka di banyak sisinya.

Warga sekitar maupun masyarakat umum pengidola Bang Iwan bisa masuk melalui beberapa sisi yang memang sengaja dibuat untuk menjadi akses masuk mereka. Namun, hanya masuk dan menikmati suasananya saja, belum tentu selalu berhasil menemui si empunya –yang beberapa saat terakhir sedang padat kegiatan.

Ada satu akses untuk langsung bertemu dengan Iwan, tapi tak sembarang orang bisa mengaksesnya. Harap maklum, dia selektif agar konsentrasinya dalam berkarya tak sering-sering terganggu. Apalagi ketika yang datang itu membawa agenda politik.

Bisa masuk ke dalam lingkungan rumahnya saja, rasanya cukup untuk merasakan kedekatan dengan kharisma pemilik rumah. Seperti yang saya rasakan, kendati saya –untuk sementara– hanya bisa menghirupi suasana adem pekarangan luasnya tanpa berhasil menemui si tuan rumah. Namun, dengan memandangi aktivitas perbaikan panggung yang biasa digunakan untuk konser bulanan di sekitaran rumahnya itu, terasa betul bagaimana irama metamorfosa seorang Iwan Fals; dari yang dulunya sangar dan urakan menjadi lebih kalem dan berkharisma.

Karya-karyanya, sepak terjangnya, totalitasnya, kegarangannya, hingga sisi romantisnya adalah jejak-jejak tak akan pernah bisa ditimbun oleh debu-debu zaman. Tembang-tembangnya bercerita tentang realitas sosial yang hidup dan berkembang di sekitar kita –tapi kerap disamarkan oleh metafora politik dan kekuasaan– menjelajah hingga seluruh penjuru negeri. Bahkan menembus batas geografis Tanah Air.

Iwan Fals itu menancapkan kharismanya begitu kuat di negeri ini. Penduduk negeri yang selama puluhan tahun sejarahnya diisi fragmen manipulatif ini lapar akan kejujuran. Dan Iwan Fals mampu memberikan itu dengan cerdas. Dalam setiap intonasinya, setiap liriknya, dalam setiap emosinya, Iwan Fals melihat dan menceritakan dengan jujur perasaanya yang teraduk-aduk, sebagai respon dari realitas di sekelilingnya.

Iwan mengungkapkannya dalam nada. ”Siang di Seberang Istana”, ”Sore, Tugu Pancoran”, ”Ujung Aspal Pondok Gede”, atau ”Kontrasmu Bisu” adalah keterusterangan dalam melodi-melodi yang merdu untuk kaum akar rumput yang merasa terwakili, tapi tentunya sangat mengusik segolongan orang”di atas” yang ditempatkan sebagai antagonis.

Iwan Fals hidup dalam setiap lagunya. Apa yang dinyanyikannya, itulah cerminan jiwa anti-kemampanan Iwan Fals. Setiap tembang karya pria kelahiran 3 September 1961 ini muncul bukan dari keisengan. Karyanya lahir bukan bukan untuk mengejar selera pasar. Karyanya adalah buah perenungan mendalam dari getaran nuraninya yang selalu ingin berontak terhadap tirani. Iwan layak disejajarkan dengan maestro sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang selalu mengusung realisme sosialis dalam karya-karyanya. Hanya saja mereka berbeda dalam memilih lapangan bermain.

Karya-karya Iwan lahir bukan tanpa sebab. Itu adalah sebuah respon dari stimulus sosial yang dia tangkap dengan sudut pandangnya se-obyektif mungkin. Dia menangkap tanda dari alam, dan dia membahasakannya dalam lagu.

Setiap tembang Iwan Fals memiliki sejarahnya masing-masing. Banyak cerita-cerita di balik lagu yang terkemas dengan rapi. Dan di antara cerita itulah sosok Iwan Fals tumbuh di tengah dinamika sosial-politik-ekonomi di Indonesia ini. Karena berbagai macam variabel tersebut, majalah Times pun menilainya sebagai sosok luar biasa yang layak dinobatkan sebagai salah satu tokoh berpengaruh di dunia.

Perjalanan waktu pun membawa sebuah metamorfosa bagi sosok Iwan sebagai manusia. Pergerakan zaman dan situasi membawa serta pergerakan jiwanya. Dinamika batin yang ikut bergerak seiring pertumbuhan usia. Dalam proses yang begitu panjang, sosok Iwan muda yang dikenal sebagai ”pemberontak” frontal yang terang-terangan, perlahan berubah menjadi sosok yang kalem. Tapi, di balik kekalemannya itu, kepekaan Iwan tak pernah tumpul. Dia tetap jujur, apa adanya, berontak, hanya saja dalam kemasan yang berbeda. 

Usia membawa Iwan menjadi sosok yang lebih banyak perhitungan. Memperhitungkan posisinya, orang-orang di sekitarnya, dan memperhitungkan kebutuhan zaman itu sendiri. Kebutuhan sosial-politis zaman dia muda dengan kebutuhan sekarang berbeda. Orde Baru dan Reformasi jelas berbeda. Meski secara esensial kedua zaman ini sebenarnya tetap saja sama; sarat dengan fragmen manipulatif. Tapi bentuknya berbeda. Itulah yang mengharuskan Iwan untuk juga menyesuaikan diri, agar dia tetap bisa mengambil posisi sebagai kontrol sosial.

Dinamika jiwa wajar untuk Iwan Fals yang juga manusia. Dan metamorfosa gaya sajian lagu-lagunya yang kini cenderung romantis-melankolis itu adalah cermin dari perubahan kondisi jiwanya yang semakin matang. Tapi, di tengah kemendayu-dayuannya itu, Iwan Fals tetap memiliki empati yang tinggi pada manusia dan kemanusiaan, di Indonesia bahkan dunia.

Semangat humanis yang terpelihara dengan baik itulah yang menjadikan sosok Iwan Fals sebagai ikon kemanusiaan yang luwes mengikuti dan menyikapi irama zaman; yang gaya manipulatifnya makin lama makin canggih ini. 

Sebab itu, mungkin, dia kini memilih irama yang lebih adem. Seadem pekarangan luas dengan banyak pohon rindang yang mengelilingi sebuah rumah di Leuwinanggung itu.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s