Cuma Soal Waktu

Juaranya adalah yang hakiki


Galilei Galileo dibakar hidup-hidup karena dia mengungkap kebenaran harfiah soal hukum fisika semesta. Filsuf yang juga disebut sebagai pelopor sains modern ini dibunuh lantaran menentang sebuah tirani yang dengan prasangka semena-mena mereka menyimpulkan bahwa matahari lah yang mengelilingi Bumi.

Galileo melawan. Dengan kecerdasan yang dianugerahkan semesta kepadanya, dia berteriak lantang di depan tirani yang sembrono itu; Bumilah yang mengelilingi matahari. Dan itu kebenaran yang haq.

Namun, sejarah mencatat, alih-alih mendapat penghargaan karena telah mengungkap kebenaran hakiki di semesta, dia malah diseret oleh tirani Romawi kala itu, untuk dijadikan tontonan dengan dibakar hidup-hidup. Tirani ingin menyampaikan pesan; “Jangan pernah menentang “kebenaran” yang sudah kami tentukan!”

Angkuh penguasa rezim duniawi itu mengesampingkan kebenaran hakiki jagat raya.

Sejarah manusia pun bergulir membawa banyak kisah tentang kebenaran-kebenaran yang dimiliki dan dikuasai. Juga menceritakan banyak upaya untuk mempertahankan kebenaran itu. Coba saja intip banyak cerita –yang terpaksa dikisahkan dengan takut-takut itu– soal banyak “Galileo-Galileo” lain yang juga diberangus oleh “kebenaran” tirani; kebenaran yang disimpulkan dengan sangat sembrono itu.

Ingat almarhum Munir? Tentu ingat bagaimana dia “diselesaikan” ketika dia mengetahui kebenaran hakiki soal fakta penzaliman hak azasi manusia di Indonesia bukan? Atau simaklah bagaimana Otto Iskandardinata dihilangkan ketika dia mendapati fakta kebenaran yang aneh dalam sistem pemerintahan negeri ini dan keterkaitannya dengan investasi asing. Bahkan, hingga detik ini pun, tak ada yang pernah tahu di mana jasadnya.

Atau simaklah kisah Sjahrir yang disingkirkan dan dituding sebagai biang kekalahan Indonesia pada perundingan Linggarjati –yang berbuntut Indonesia sebagai negara boneka itu– karena dia ngeyel ingin agar Indonesia murni merdeka dan nonkooperatif dengan kolonialisme. Sayangnya, dia bersikap demikian ketika penguasa Indonesia yang masih sangat muda kala itu memilih kooperatif dengan Belanda sebagai kebenaran. Dan akhirnya, sejarah negeri yang penuh dengan cerita pahit ini menempatkan Sjahrir sebagai tahanan politik yang menghabiskan sisa umurnya di dalam tahanan Kota Madiun.

Kebenaran persepsi memang milik pemenang sejarah, yang ujung-ujungnya bertransformasi pada tirani dengan pembenaran atas kebenaran mereka yang diciptakan dengan sembrono. Kebenaran untuk apa? Tentu saja kebenaran atas nama syahwat politik dan kekuasaan yang terkonsentrasi. Kebenaran yang diciptakan demi legitimasi dan kewibawaan penguasa. Kebenaran tirani yang absurd.

Kebenaran duniawi yang kerapkali dipersepsikan semena-mena itu pun mendapat kritik sinis dari si melankolis Kahlil Gibran; “Kebenaran saat ini bukanlah berarti kebenaran saat nanti. Kebenaran bukanlah kenyataan.” Yang dia maksud adalah kebenaran-kebenaran dalam konteks persepsi-persepsi manusia. Ya, itu betul, saya rasa. Kebenaran jenis ini memang tak ada yang mutlak. Kebenaran yang dibentuk dengan segala penolakan terhadap kebenaran semesta yang hakiki. Kebenaran yang dipertahankan dengan darah dan penghilangan hak bahkan nyawa manusia.

Namun, pada akhirnya, kebenaran hakiki selalu datang dengan sendirinya dan diamini oleh semua manusia. Seperti kebenaran orbit sistem tata surya yang pernah diteriakkan Galileo itu. Semesta selalu punya cara untuk mempermalukan kebenaran yang dikonsep oleh tirani. Kebenaran semesta itu hakiki. Taurat, Injil, dan Alquran jelas menerangkan itu.

Pada dasarnya, seluruh alam semesta ini harus takluk pada kebenaran yang sudah ditentukan-Nya. Kebenaran bukan dipandang dari sisi persepsi manusia-manusia. Namun kebenaran semesta yang sudah digariskan dan dijanjikan Tuhan akan menjadi sebuah keniscayaan.

Dan, suatu saat nanti, siapa sebenarnya pembunuh Otto, Munir, atau Nasruddin –yang menjebloskan Antasari Azhar itu–, atau siapa saja sebenarnya yang makan duit haram proyek Hambalang, pasti terbuka selebar-lebarnya. Mungkin juga siapa pelaku penyerangan LP Sleman dan apa motivasinya juga akan terbuka tak lama lagi.

Kebenaran hakiki selalu hadir di saat yang tepat. Sekaligus bukti bahwa kebenaran tirani itu tak pernah awet. Semua cuma soal waktu.

Salam.

image

carreerattraction.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s