Dalam Pelukan Lembah Syawal

Aku Pulang…

Di antara lipatan pegunungan Syawal, di kaki Galunggung ini, muncul damai yang begitu murni. Namun, kemurnian itu justru membuatku malu. Pasalnya, aku dihadapkan pada situasi yang begitu “menampar”. Ketika manusia-manusia bersahaja yang diam di sini masih menyimpanku dengan baik dalam ingatan dan hati mereka.

Aku terakhir datang ke sini ketika aku masih bukan siapa-siapa. Ketika aku masih seorang pekerja media biasa yang mampir sejenak, karena tujuanku sebenarnya adalah penasaran dengan Galunggung yang ingin kutaklukkan. Kala pertama aku datang itu, warga di lembah ini langsung menyambutku dengan senyum. Dan tak pernah terlontar sekalipun tanya soal statusku. Mereka memandangku sebagai tamu jauh yang harus disambut dengan hangat. Kopi dan hasil Bumi rutin tersuguh tiap pagi dan jelang senja.

Kala itu aku hanyalah anak muda biasa yang belum begitu mengenal angkuhnya ambisi. Aku menerima sambutan itu pun dengan biasa. Tak ada yang spesial. Hingga akhirnya aku pamit dan dilepas dengan pesan, “nanti mampir lagi ya”, aku pun menganggap itu hanya basa-basi biasa. Tak terlalu kurekam dalam-dalam pesan itu, yang akhirnya hilang begitu saja digilas kesibukanku mengejar ambisi.

Lantun waktu mengayun dengan lekas, sampai aku akhirnya kugenggam semua yang pernah kukejar bersama obsesiku dan persepsi yang salah soal kemenangan. Ketika ada label “membanggakan” di namaku, pesan untuk datang kembali dari orang-orang lembah ini sama sekali musnah dari ingatanku –yang hanya sibuk mengingat ambisi.

Pesan singkat yang kerap datang ke ponselku, yang bertanya kabarku, kutanggapi sambil lalu. Bahkan kerapkali tak kutanggapi. Aku “terlalu sibuk”. Bahkan, ketika salah satu dari mereka mengabarkan padaku, bahwa orang sekampung sampai menggelar acara nonton bareng saat aku menjadi nara sumber tamu di sebuah stasiun televisi nasional –sebagai penulis buku yang coba menelisik berbagai peristiwa janggal jelang Pemilu 2009 dengan analisaku–, aku sama sekali tak terkesan. Aku mengabaikannya.

Waktu pun menggilasku dengan banyak pelajaran juga tamparan. Hingga terbuka mata dan hatiku, bahwa ambisi adalah sebuah cara yang keliru untuk mendefinisikan “kemenangan”. Ambisi hanyalah upaya yang sia-sia dan mengusirku jauh dari kedamaian. Dan bahwa sebenarnya kedamaian itulah yang aku cari, sebagai manusia.

Setelah “pengasingan swadaya” bertahun sebagai upaya untuk berdamai dengan masa lalu, aku rindu pulang. Pada damai. Dan semesta berbisik dalam kesunyianku; “Pulanglah ke lembah Syawal”.

Setelah sedasawarsa yang penuh dengan kelupaan-kelupaanku itu, langkahku membawa tubuh dan jiwaku hadir kembali di tengah sejuk lembah Syawal. Dan, orang-orang itu menyambutku dengan peluk dan senyum hangat mereka. Persis seperti sepuluh tahun lalu. Mereka memilih untuk meniadakan arogansiku. Mereka menempatkanku sebagai anak hilang yang kembali pulang. Yang sangat dirindukan.

Masih ada kopi dan hasil Bumi yang tersuguh di teras kecil depan kolam yang memanjakanku dengan pemandangan bukit itu. Masih ada cerita-cerita sederhana tentang musim tanam dan hasil panen yang selalu mereka terima dengan gembira, terlepas sedikit-banyaknya. Semua masih ada, masih lengkap, kendati aku pernah meniadakan mereka sama sekali.

Beberapa orang yang sebelumnya benar-benar aku lupakan mencoba mengingatkanku bahwa kami pernah kenal, dalam sebuah dialog malam di tepi kolam bersama kopi dan singkong rebus. Tak ada satupun yang menyinggung pengabaianku. Entah mereka sengaja memilih melupakan khilafku, atau mereka tulus merasa tak pernah aku lupakan, yang sudah tentu adalah mereka masih memberiku damai.

Di dalam pelukan lembah, aku berjumpa kembali dengan damai yang pernah aku lupakan. Dan aku malu. Sebab, Raja Semesta yang Maha Kasih masih memberiku lembah Syawal; yang selalu memberiku tempat, ketika aku pulang setelah perjalanan panjang yang murtad.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s