Pagi Kami yang Cantik

Pada suatu kala yang sederhana.

Mimpi indahku pada sebuah malam mendarat dengan mulusnya di alam sadarku. Aroma wangi kopi menyambangi indera pembauku kala langkah waktu sampai pada Subuh.

Kubuka hariku dengan tatapan yang agak mengantuk digelayuti sisa-sisa mimpi. Lalu senyum perempuanku menarikku dengan genit untuk sepenuhnya kembali pada kenyataan yang cantik.

Bersama keindahan energi semesta itu kubawa bangun tubuhku menuju wudhu. Perempuanku mengikutiku. Kami menyucikan diri, kemudian kuberdiri sebagai imam di depan perempuanku untuk tawaduk di pagi nikmat itu. Bersembah kasih pada Sang Pemurah untuk segala berkah.

Bersama segenap keringanan jiwa, kami duduk di teras kecilku dengan sepasang kursi rotan dan meja kayu kecil itu. Aku duduk di kursi kanan, bidadariku di satu kursi lainnya. Di antara kami ada dua cangkir kopi yang diseduh oleh jari lentik perempuanku.

Papandayan berselimut kabut itu menjadikan lezat pandang kami yang menunggu matari bangun dengan malu-malunya, ketika aku dan perempuanku berbagi cinta melalui kata-kata yang terbingkai begitu apiknya. Tentang mimpi-mimpi sederhana yang megah. Yang mulai berhasil kami bangun setahap demi setahap seizin Sang Maha Pemurah.

Kuseruput kopi ketika kutatap perempuanku yang indah dengan segala smaradhanaku saat dia dengan riang senyumnya mengisahkan lucunya bocah-bocah lembah Papandayan ketika terpana oleh dongeng tentang hujan dan senjanya yang membawa kebaikan.

Juga dia menatapku dengan kejelitaan yang tulus ketika giliranku berbagi tentang segarnya kebun sayur kami yang sebentar lagi panen.

Pagi yang sederhana namun begitu “wah”.

Di tengah canda cinta perempuanku dan aku, tiba-tiba tangisan Randu lamat-lamat mampir di antara ruang kemesraan kami. Ah, anak lanang terbangun. Dengan gopoh-gopohnya yang masih membawa gemulai, kecantikan perempuanku menjadi kian sempurna ketika dia menjalankan peran sebagai ibu yang mengkhawatirkan tangis anakku.

Dalam gendongan ibunya, wajah lucu Randu yang masih meninggalkan sedikit sisa tangis menatapku, seperti berkata; “Ayah, ajak aku mengenal dunia.”

Kuminta dia dari peluk hangat ibunya.

Ayo, Nak, jangan kau bikin repot ibumu. Sudah lelah dia mengurus air susu untukmu. Ikutlah ayah, Nak. Mari kita berkenalan dengan indahnya semesta sebagai seorang lelaki. Yang tak manja, tak cengeng, tapi memahami betul makna-makna surgawi yang bertebaran di jagat ini. Seorang lelaki yang kelak akan hidup sendiri. Lelaki sejati yang sudi untuk melihat sisi baik pada segala apapun.

Kugendong Randu dengan tangan kananku yang mulai kokoh setelah rutin kuperintahkan dia mencangkul. Dia tegak, dengan tangan kiri mungilnya merangkul kuat leherku. Rangkulan lelaki sudah mulai dia kuasai. Kugandeng lembut lentik jari perempuanku dengan tangan kiriku. Kami susuri pematang kebun sayur kami yang sedang indah-indahnya pagi itu. Berselimut kabut yang rendah.

Sang Maha Pemurah menganugerahi berkah pada kami; yang mencoba sebisa kami membawakan lentera untuk anak-anak lembah.

Kami nikmati genitnya Papandayan berhalimun pagi dan siluet matari yang masih manja bersama langkah-langkah kecil kami yang senada. Menghirup segala kedamaian di bagian semesta yang tak berisik. Pada suatu pagi yang cantik.

Advertisements

2 thoughts on “Pagi Kami yang Cantik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s