Keluarga Fulan Suka Berhitung

Ketika kalkulasi melupakan kebersamaan

PAGI-pagi saya sudah disuguhi kisah yang “aneh”. Tentang sebuah keluarga yang hanya terikat secara genetika, namun sepertinya jiwa mereka saling terpisah. Dalam keluarga yang terdiri dari empat bersaudara itu masing-masing hati berdiri sendiri-sendiri.

Suatu hari salah satu dari empat bersaudara tersebut tertimpa musibah. Sebut saja si Fulan. Dia dan istrinya sakit keras, sementara dua anak mereka yang masih kecil ditinggal sendiri keleleran di rumah. Makan dan pendidikan kedua bocah itu terabaikan. Hak keduanya sebagai bocah sepertinya mendadak musnah, ketika kedua orangtuanya tertimpa musibah.

Nah, kabar tak bagus itu pun sampai ke telinga tiga saudara Fulan yang tinggal jauh dari kota di mana Fulan hidup. Sebagai saudara, ketiganya memang peduli, ingin membantu si Fulan, terutama dua anaknya yang keleleran itu. Sejauh itu, mereka masih tampak sebagai sebuah keluarga yang wajar, karena ada kepedulian.

Namun, ketika membahas teknis bantuan untuk si Fulan, di sinilah mulai terlihat bahwa empat saudara itu adalah jiwa yang berdiri sendiri-sendiri. Mereka saling lempar soal siapa yang sementara menjaga dua anak Fulan. Sepertinya pada ogah menampung — kendati secara ekonomi ketiganya jelas mampu. Mereka adalah keluarga kaya turun temurun.

Eyel-eyelan mereka yang saling lempar hak asuh itu berlangsung lama dan berlarut-larut. Sampai-sampai sekolah dua anak Fulan benar-benar terbengkalai. Si sulung, yang baru 9 tahun, bahkan lebih memilih bermain internet dan mengunggah gambar-gambar porno dalam akun jejaring sosialnya. Jelas anak itu punya masalah serius dan harus segera ditangani. Namun, penanganan dari saudara Fulan tak kunjung direalisasikan lantaran mereka masih sibuk berdebat.

Yang membuat saya merasa aneh, ternyata pangkal perdebatan itu soal duit. Karena, untuk menjemput dua anak Fulan itu butuh ongkos transportasi. Untuk merawat mereka butuh biaya ekstra. Sepertinya saudara Fulan yang kaya itu enggan untuk mengeluarkan budget tersebut. Aneh, padahal mereka berpunya dan berlebih.

Usut punya usut, ternyata mereka terkesan enggan membantu, dengan segala macam dalih dalam perdebatan itu, karena selalu mengingat “keburukan” si Fulan! Selama masih diberi sehat, ternyata, si Fulan itu ogah berbagi. Dalam masa jayanya, dia genggam sendiri duit yang masuk kantongnya. Ada yang kesulitan, dia tutup mata. Dan ketika Fulan jatuh sakit, kemudian bangkrut, sikapnya di masa lalu itulah yang membuat dia diasingkan.

Ah, lagi-lagi duit. Lagi-lagi soal ingatan buruk yang dipelihara baik-baik, dan mengesampingkan makna sebuah keluarga yang jelas tak ternilai harganya itu. Ini aneh, setidaknya menurut pemahaman saya. Sebab, sejauh yang diajarkan semesta pada saya, keluarga itu adalah cinta dan jiwa yang dibagi rata pada diri setiap anggotanya. Sejauh yang saya tahu, semestinya tidak perlu ada ingatan buruk pada saudara sendiri. Dan sejauh saya tahu juga, kehangatan saudara dan keluarga itu bebas intervensi hitungan akuntansi.

Keluarga Fulan itu juga muslim, sama seperti keluarga saya. Yang Tercinta Muhammad SAW selalu mengajarkan pada umatnya agar hanya selalu mengingat yang baik dan berbagi. Tak hanya pada keluarga, juga orang lain. Beliau, dengan indahnya, mencontohkan dalam tindakan, ketika menjenguk dan mendoakan seorang Quraisy yang sakit keras padahal ketika sehat orang itu pernah meludahi muka Nabi.

Ingatan buruk dan nafsu berhitung sepertinya telah meracuni hati keluarga Fulan dan mengobrak-abrik indahnya makna berkeluarga. Semoga Tuhan sudi menasehati mereka.

Semoga saja kita semua senantiasa selalu peduli dan berbagi. Karena dua hal itulah yang bisa membuat lukisan semesta ini selalu indah dalam senyumnya. Amin.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s