Dan Kita pun Bernyanyi di Dalam Koloni

Merdeka?

HARI Senin di Indonesia yang merdeka ini, seperti biasa, selalu saya buka dengan nyanyian. Bangun Subuh, absen wajib, mandi, gosok gigi, lalu menikmati pagi bersama secangkir kopi.

Namun, Senin kali ini saya merasakan ada yang sedikit mengganjal. Dalam tubuh dan pikiran saya yang merasa “merdeka” itu, mendadak saja terpantik pertanyaan; benarkah kita sudah merdeka? Benarkah kita sudah lepas dari intervensi bangsa lain? Benarkah kita berdaulat terhadap diri sendiri dan martabat bangsa? Benarkah kita sudah bebas dan mengelola segalanya dengan mandiri?

Lalu, saya coba merunut kehidupan keseharian saya –atau kita– dalam sehari. Dan saya coba menelaah untuk mencari kepastian, apa benar kita sudah bebas? Dan saya pun coba melakukan beberapa pengamatan kecil dalam kegiatan keseharian.

Baiklah, kita mulai dengan bangun tidur. Pertama yang saya tuju adalah kamar mandi dan gosok gigi. Biar pede, dan gigi kentara bersih, tak lupa tentunya memakai pasta gigi. Dan kebetulan pilihan saya jatuh pada Pepsodent –produk Unilever, yang 85% sahamnya milik Maatschappij Voor International Beleggingen (Mavibel) B.V, sebuah perusahaan Belanda. Setelah gigi bersih, saya lari pagi.

Lari-lari sambil nampang, berbusana olahraga plus sepatu Reebok adalah pilihan saya. Inggris punya. Agar larinya enak, ditemani I-Pod Apple produksi Paman Sam. Ketika haus, minum sebotol Aqua, yang mayoritas sahamnya dipunyai Danone, Prancis.

Setelah berkeringat, kembali ke rumah isi energi dengan sarapan pagi. Menu yang umum dikonsumsi adalah nasi goreng. Bahan utamanya nasi dari beras impor dari Thailand. Kalau tak sempat membuat sarapan, terutama bagi mereka yang merasa sibuk dikejar waktu, paling gampang adalah mengkonsumsi makanan instant.

Pilihan pertama mungkin jatuh pada mie instant. Yang banyak dikonsumsi adalah Indomie, semua produksi PT Indofood. Atau kalau kurang praktis lagi mengonsumsi Energen atau roti tawar diolesi keju. Baik itu mie, minuman energi atau roti, semuanya berbahan gandum; bahan makanan yang diimpor dari Amerika dan Eropa. (Dan ketika Jusuf Kalla mengusulkan agar mie instant menggunakan bahan singkong, dia malah ditertawakan.)

Setelah kenyang, lalu mandi. Pakai sabun Gatsby produksi Mandom Coorporation, Jepang. Atau keramas dengan sampo Clear, yang juga produksi PT Unilever, yang saham mayoritasnya dikuasai Belanda. Setelah badan segar, santai dulu sebentar, minum kopi instant yang dibuat di Indonesia tapi pemilik saham mayoritas luar negeri. Atau biar suasana rileks tambah pas, menghisap rokok Sampoerna, Dji Sam Soe, atau Marlboro milik si Amrik Philip Morris.

Setelah itu, bagi yang punya kantor, biasanya berangkat beraktivitas. Alat transportasi mobil atau sepeda motor. Di Indonesia, untuk sepeda motor hanya ada 5 pilihan utama; Yamaha, Honda, Suzuki, Kawasaki (Jepang) atau Bajaj (India). Paling jelek juga milih motor produksi home industry di China, seperti Jetmatic. Kalau mobil pilihan ya jatuh ke itu-itu saja: kalau tak Honda, Suzuki, Daihatsu, Hyundai atau Toyota. Kalau pun naik kendaraan umum pilihan jatuh ke kereta listrik, yang buatan Jepang itu.

Di tengah perjalanan ponsel berbunyi. Ada nada panggil dari ponsel Nokia (Finlandia), Sony Ericsson (Amerika-Jepang), Samsung (Korea), LG (Korea), Blackberry (Kanada) atau yang paling jelek Nexian (Taiwan). Terjadilah percakapan dengan peranti buatan luar negeri itu; alat yang sekarang harus dipunyai semua orang modern yang ”merdeka” dan bermobilitas tinggi itu.

Lalu tiba di kantor atau tempat aktivitas lain, umumnya yang dituju pertama adalah personal computer (PC) atau komputer lipat (laptop). Lalu mulailah diutak-utik alat canggih berlabel Acer, HP, IBM/Lenovo, Asus, Toshiba atau Dell (yang sekarang aku pakai), yang tak ada satu pun produksi asli dalam negeri. Program yang digunakan Mocrosoft Windows atau Window Vista berprocesor Intel buatan Bill Gates dari Amrik itu. Atau juga AMD buatan Eropa itu. Jarang sekali yang menggunakan Linux.

Tibalah waktu istirahat makan siang. Bagi mereka-mereka yang mapan dan merasa sudah merdeka, pilihan jatuh ke Starbucks, Oh Lala, Burger King, McDonald, KFC atau franchise lainnya yang barat banget. Alasannya suasana lebih nyaman dan ngomong bisnis lebih enak. Tentunya sembari menghisap rokok buatan perusahaannya Philip Morris.

Lalu bekerja lagi. Jam kerja usai, pulang. Kalau datang akhir pekan, biasanya bersama keluarga jalan-jalan ke mal yang menjual barang-barang impor yang harganya masyaallah tapi menjanjikan gengsi selangit itu. Setelah puas jalan-jalan, lapar, lalu belok ke Hoka-Hoka Bento atau McD. Atau bisa juga ke Food Hall yang menjual salad dan sandwisch itu. Setelah kenyang, lalu pulang.

Sampai di rumah santai. Bersama keluarga menghabiskan waktu nonton acara televisi yang menyala di balik TV merk LG, Samsung (Taiwan), Toshiba, Sony, Polytron (Jepang). Ada juga yang dilengkapi DVD player atau home theatre dengan merk yang sama. Setelah badan benar-benar lelah, lalu istirahat untuk besoknya menjalani aktivitas serupa.

Nah, itulah aktivitas kita sehari-hari. Dan, ketika pemahaman kita tentang merdeka adalah bebas dari segala intervensi asing, sebagai bangsa berdaulat yang mandiri, di tengah kepungan produk-produk asing yang “harus” kita konsumsi setiap hari itu, apakah kita pantas sudah merasa merdeka, bebas dan mandiri?

Berdaulat di dalam negeri sendiri? Ketika di tengah gaya hidup modern itu ternyata kita malah mempersilahkan modal asing masuk membabi buta, dollar gencar menyerbu, rupiah melemah, dan produk-produk lokal semakin tersingkir.

Karena sudah terbangun cara pikir yang keliru, bahwa produk lokal itu nggak elit, kurang mewakili zaman. Dan, dengan gembiranya kita mengusir anak negeri sendiri dari persaingan produksi dan industri dengan selalu memandang hasil karya mereka ”nggak mutu”. Kita menghina kemampuan kita sendiri dengan begitu bangganya.

Tanpa kita sadari, dengan pola pikir “sok gaul” atau “sok modern” itulah kita mempersilahkan kolonialisme “pulang dan menetap” di Indonesia. Seolah kita lupa, bahwa kolonialisme, dalam bentuk paling tradisional sekali pun, adalah sebuah usaha intervensi ekonomi. Upaya menguasai hajat hidup dan kebutuhan mendasar banyak orang.

Oleh karena itu pula, ketika kapal dagang Belanda atau Portugis berbondong-bondong datang ke Nusantara untuk merampas kekayaan alamnya, untuk menguasai kehidupan ekonomi tradisional, sekitar 4 abad lalu, kita mendefinisikannya sebagai “penjajahan”.

Kita terjajah karena kita tak bisa merdeka mengelola perekonomian kita sendiri, setelah dikendalikan oleh kompeni (companie/perusahaan yang bermotivasi ekonomi) dengan tanam paksanya. Kita pernah berjuang keras untuk lepas dari itu, yang puncaknya kita “dapat” 67 tahun lalu.

Kini? Dengan gaya hidup kita yang sudah sangat permisif itu, bisakah kita dengan pedenya merasa “merdeka”?

Mengingat kondisi ini, ah, saya langsung teringat analogi Thomas Friedman, wartawan senior The New York Times, penulis buku Lexus and Olive Three (2000) itu. Dia menyebut, negara berkembang –seperti Indonesia– adalah olive tree (pohon zaitun ) dan negara maju adalah Lexus (nama sebuah merk mobil Jepang). Pohon zaitun itu akan dilindas lexus apabila tidak memiliki akar yang kuat.

Selama pikiran picik kita selalu terpesona pada produk asing, fondasi ekonomi nasional kita bakal kian lemah, rupiah tak akan pernah gagah, dan selamanya kita bakal dipandang rendah.

Tapi, yah, mau apa lagi. Untuk sementara ini, kebanyakan dari kita masih terkagum-kagum pada pikiran “gaul” dan “modern” –yang tanpa sadar membuat kita menjadi bangsa masokist; dieksploitasi oleh penjajahan, tapi kita sangat menikmatinya dengan sukaria. Kita bernyanyi di dalam koloni-koloni yang kian menjadi.

Selamat menikmati. 🙂

 

Advertisements

4 thoughts on “Dan Kita pun Bernyanyi di Dalam Koloni

  1. kita sudah sangat terbiasa terjajah. bahkan dijajah jadi pemakluman tanpa kita sadari.. daaan, selamaaaat pagiiiiii.. 😀

    *lapkeringetsetelahjadimonyetkopaja*

    1. Selamat pagi. Semoga kamu miliki senin yang indah dan loveable. Semesta selalu bersama orang-orang yang berusaha dengan segenap hati. 😀
      *sodorinlaplalubalikmenikmatikopi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s