Maaf, Saya Tidak Sibuk

Kata orang-orang saya aneh.

ORANG-ORANG yang saya maksud –yang bilang saya aneh itu– adalah orang-orang yang merasa selalu sibuk; sibuk cari duit, sibuk cari pengakuan, sibuk berbelanja, sibuk menghitung saldo, sibuk menyikut, sibuk bergunjing, sibuk mencibir, sibuk memicing, sibuk mencela. Pokoknya, orang-orang sibuk yang selalu berharap orang-orang memandangnya kagum ketika mereka berangkat kantor yang berdiri di kawasan sentra bisnis elit, dengan baju rapi dan tubuh yang wangi.

Ya, saya punya cita-cita yang mungkin tak pernah dicita-citakan orang-orang yang merasa sibuk itu. Sederhana saja cita-cita saya itu; saya hanya ingin hidup tenang, dan tak terlibat dalam kesibukan-kesibukan seperti itu. Karena, menurut saya, kesibukan seperti itu bikin capek. Hidup cuma sekali, kenapa sibuk nyari capek?

Saya punya cita-cita untuk tidak sesibuk itu. Saya tidak menyibukkan diri saya untuk memutar otak bagaimana caranya bisa tinggal di apartemen, kondominium, atau rumah megah di kawasan elit yang selalu berhasil memikat serombongan garong itu.

Saya memilih untuk tidak terlibat dalam kesibukan orang-orang yang kikuk memilih antara Mitsubishi Outlander atau New Range Rover yang akan jadi koleksi untuk update isi garasi mereka. Saya tidak ingin sesibuk mereka-mereka yang seringkali kebingungan di dalam butik ketika  merasa harus menghabiskan limit kartu kredit yang menumpuk di dalam dompet Versace mereka.

Saya tidak ingin sesibuk mereka yang merasa kehilangan kepercayaan pada bank, ketika masih juga menghitung ulang angka dalam buku tabungan yang, padahal, baru saja dicetak. Saya tidak sesibuk mereka yang rajin bolak-balik ke anjungan tunai mandiri hanya untuk menyelempitkan kartu, dan memastikan angka yang tersaji di layar monitor itu tak kurang dari 10 digit.

Tidak, saya tidak sesibuk orang-orang yang bahkan tak pernah menyadari akumulasi keindahan yang sekonyong-konyong disuguhkan Tuhan setiap pagi itu, lantaran tergopoh-gopoh ketika jarum arloji Rolex mereka semakin mepet dengan jadwal absen. Sampai-sampai kemeja Eksekutif mereka lupa dirapikan dan Hush Puppies mereka lupa disemir. Dan saya tidak pernah ingin sibuk mengutuk seperti orang-orang terjebak macet di dalam Toyota Alphardnya.

Saya tidak ingin menjadi kikuk karena terlalu sibuk. Tapi, jujur saja, saya senang sekali menjadi penonton ketika melihat orang-orang yang selalu merasa sibuk itu tergopoh-gopoh dikejar debt kolektor, sembari saya menikmati secangkir kopi yang menyempurnakan saya tiap pagi.

Saya memilih untuk menikmati setiap pagi saya. Saya memilih untuk menikmati setiap detik saya dengan segala kenikmatan yang selalu hadir bersamanya. Kenikmatan yang tentunya tak akan bisa saya rasakan kalau saya memilih untuk ikut-ikutan sibuk. Saya memilih menempatkan detik demi detik saya sebagai teman, bukan sebagai juragan yang selalu membuat kita tertekan.

Tidak, saya tidak ingin itu semua. Saya hidup cuma ingin tenang. Saat orang-orang sibuk berburu brosur apartemen, saya menikmati setiap hela dan embus napas yang meningkahi mimpi saya untuk menata sebuah rumah mungil berbiaya murah di lereng sebuah gunung yang adem. Saat orang-orang sibuk berhitung hingga meringis-ringis, saya nikmati setiap saat saya dengan menulis.

Dan ketika ditanya, apa cita-cita saya dengan gaya hidup yang sama sekali tak sibuk itu? Sederhana saja; saya ingin menikmati setiap detik dan napas saya untuk berkarya dan berbagi cinta dengan semesta dan makhluk-Nya yang cantik.

Soal bagaimana saya mencukupi kehidupan ekonomi saya, ah, sejauh yang saya tahu, Tuhan belum pernah bohong kok. Dia masih sangat Maha Pemurah pada orang-orang yang tidak selalu merasa sibuk. Orang sibuk biasanya abai pada Dia. Karena Dia diabaikan, mungkin, Dia pun mengabaikan pada pengabai yang sibuk itu.

Saya membuktikan sendiri betapa murahnya Dia ketika kita mau menikmati setiap karunia-Nya. Saya sampai malu minta sesuatu pada Dia. Sebab, tanpa saya minta, Dia sudah memberi saya semua yang saya perlu –ketika saya menempatkan diri sebagai manusia yang menghargai segala keindahan dari-Nya.

Jelas sekali, Tuhan saya jauh lebih kaya daripada bos orang-orang sibuk itu. Dan Tuhan saya jelas lebih royal, tentu saja. Gaji dari-Nya jauh lebih besar, selama kita melakukan segala hal tanpa terpaksa dan bersama segenap cinta. Juga tak lupa selalu mengucapkan terima kasih.

Jadi, silahkan saja kalau Anda mau sibuk. Yang jelas, maaf, saya tidak sibuk. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Maaf, Saya Tidak Sibuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s