Bahagia Itu Sederhana

Hai! (dadah-dadah) Saya kembali! (padahal nggak ada yang nanya) -__-

BAIKLAH. Setelah pelayaran selama seminggu, akhirnya saya pulang (karepmu…). Pelayaran di lautan kebahagiaan, meminjam istilah Hugo Chavez. Bayangkan, bahagianya itu seluas lautan!

Betapa menyenangkannya perjalanan saya. Kebahagiaan, meski cuma sejumput saja, itu sudah sangat cukup. Apalagi kalau bahagianya seluas lautan, pastinya kita harus bilang “wow” sambil melancarkan tendangan tanpa bayangan! (uopo…)

Dalam pelayaran itu, saya diajak banyak melihat kebahagiaan yang memang seharusnya menjadi hak semua manusia –mulai dari yang perlente sampai kaum kere. Mereka semua berhak bahagia. Saya mempelajari kebahagiaan itu justru dari kubangan duka yang saat ini sedang menggenangi Caracas sana. Ya, saat orang merasa kehilangan El Commandante, yang kematiannya ditangisi karena dia begitu piawai menunjukkan pada orang-orang sedunia, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya banyak tersedia di sekitar kita.

Kebahagiaan itu seluas lautan, yang bisa diarungi oleh siapa saja. Dan kebahagiaan itu datang dalam bentuknya yang sempurna ketika kita sadar apa itu arti kebersamaan dan berbagi. Kebahagiaan menjadi definisi yang salah kaprah ketika seseorang terjebak dalam ambisi pribadi.

Memang, kadang ada di antara kita yang kurang peka, kurang bisa melihat kebersamaan, sebab sibuk mengejar ambisi pribadi –yang sebenarnya malah membuat seseorang menjauh dari kebahagiaan. Ambisi itu biasanya berorientasi pada materi, yang secara tak sadar, sebenarnya malah membuat si ambisius jauh dari bahagia.

Kebahagiaan seperti itu terkonsentrasi dalam definisi yang sempit. Bahagia sepertinya menjadi begitu mahal dan terbatas. Tak luas, seperti ketika kebahagiaan itu diraih bersama dengan kebersamaan juga berbagi. Materi, apalagi yang dimiliki sendiri secara terkonsentrasi, menumpuk, hanya bisa memberikan kebahagiaan yang remuk.

Sayang, terlalu banyak orang sekarang yang dengan cerobohnya mendefinisikan materi sama dengan kebahagiaan. Mereka lupa; kebahagiaan itu adalah kebersamaan dan berbagi, bukan kesunyian yang tersembunyi dalam tumpukan materi pribadi.

Ada inti pelajaran yang bisa saya petik dari pelayaran sepekan ini, lalu saya bawa pulang sebagai oleh-oleh; bahwa bahagia itu murah sekali.

Bahagia itu bisa hadir dalam banyak bentuk yang sederhana. Misalnya, seperti ketika kita salah potong rambut, tapi justru terlihat jauh lebih keren (saat saya ngetwit soal ini, membawa maksud berbagi kebahagiaan, saya justru diserbu protes. Katanya narsis, hahaha..).

Penting untuk dipahami, kebahagiaan itu banyak berserak di sekitar kita, melimpah bagaikan air laut, sejauh kita sudi untuk peka dan berbagi.

Dan, untuk saya, bahagia itu sederhana saja; ketika saya berbagi kebersamaan dengan seorang perempuan cantik yang gemar membagikan senyumnya, yang segar bagaikan agar-agar itu.

Salam bahagia. 🙂

PhotoFunia-921a4e

Advertisements

6 thoughts on “Bahagia Itu Sederhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s