Tuhan Sedang Senyum

Dia sedang cantik-cantiknya.



SAYA
suka hari Jumat. Hari baik, kata orang-orang tua atau ulama. Hari di mana segala macam doa bisa munajat. Di mana segala macam kebaikan bertebaran di situ.

Saya suka Jumat, karena saat itulah saya melihat kebaikan dalam wajah Tuhan yang paling indah. Saya suka masjid di hari Jumat. Dan hari ini saya melihat banyak senyum di rumah Tuhan.

Siang tadi, seperti Jumat lainnya, saya dan ratusan muslimin lainnya menunaikan salat jamaah dua rakaat. Di antara suara khotib yang menyebarkan kebaikan Islam, tak sengaja saya lihat pemandangan yang, menurut saya, menarik. Dua saf di depan saya, ada seorang bocah yang masih mengenakan seragam SD dan sarung.

Dari penampakan sekilas, tanpa bermaksud menghina, saya melihat ada sesuatu yang agak lain pada bocah itu, dibandingkan bocah lain. Ternyata benar. Sekali lagi maaf, ternyata bocah itu kurang beruntung, dilahirkan sebagai seorang tunawicara. Tapi kekurangan itu tidak tampak mencolok, alih-alih mengganggu, di dalam rumah Tuhan itu.

Dari yang saya lihat, dia kentara sekali tidak merasa sebagai “sesuatu yang lain”, di mana persepsi itu biasa muncul di lingkungan umum. Dia berbaur, dan temannya yang bisa bicara –sepertinya tahu bagaimana cara berbahasa si bocah kurang beruntung itu—mengajaknya bercanda dengan bahasa isyarat, di antara tauziyah Pak Khotib. Kegembiraan anak-anak yang benar utuh. Saya rasa, Tuhan pun senang melihat keakraban mereka. Saya rasa Dia sedang tersenyum.

Dari kejadian itu, saya langsung bersyukur untuk dua hal. Pertama, karena saya dilahirkan dengan kondisi tanpa kekurangan suatu apapun secara fisik. Alhamdulillah. Kedua, saya bersyukur karena kegembiraan bisa dirasakan siapa saja di dalam rumah Tuhan. Mereka yang sehat, pun mereka yang tuna secara fisik. Tidak ada minder. Tidak ada canggung. Tidak ada diskriminasi. Tuhan memandang semua umat-Nya dalam derajat yang sama.

Dan Tuhan menghadirkan kegembiraan untuk siapa saja di rumah-Nya, termasuk untuk anak itu. Dalam keceriaan dua sahabat beda kondisi fisik itu, saya melihat Tuhan sedang senyum dalam kebaikan-Nya.

Masuk qomat, salat dimulai. Kebetulan, saya yang tadi berangkat agak terburu lupa membawa sajadah. Tak masalah, karena toh rumah Tuhan itu bersih. Tak ada najis mugholadoh di situ. Begitu muazin mengajak menuju kebahagiaan, semua jamaah berdiri mengikutinya. Bersiap untuk tawaduk di hadapan-Nya.

Sebelah saya anak kecil. Tingginya hanya seperut tubuh saya, yang punya tinggi 182 sentimeter ini. Dari awal, saya lihat dia datang sendiri, ketika bocah seusianya biasanya datang bersama pria yang lebih dewasa –entah bapak entah kakak. Saya senang melihatnya. Tentu dia sangat berbahagia, karena Tuhan telah memanggil kesadarannya ketika usianya masih sangat dini. Tidak seperti saya, yang baru pulang kembali ke Tuhan setelah “dijewer”, di usia yang sudah jauh melewati masa akil balik. Segala puji untuk-Nya, untuk panggilan kepada si bocah.

Si bocah bawa sajadah besar. Tahu saya tak bersajadah, tanpa ada yang menyuruh, dia membeber alas itu secara horisontal, di mana sebagiannya masuk ke dalam wilayah sujud saya. Saya lirik si bocah, yang memandang saya dengan senyum khas bocahnya yang polos itu, dan saya balas dengan senyum yang, saya rasa, tulus juga.

Bertukar senyum dengan sesama jamaah sebelum menghadap-Nya itu adalah kenikmatan yang sangat luar biasa. Si kecil sudah tahu apa itu berbagi, dan mungkin sudah merasakan kenikmatannya. Buktinya, dia tersenyum pada saya.

Maha Suci Tuhan.

Salat usai, waktunya semua jamaah keluar masjid. Saya lihat seorang jamaah yang masih muda, mungkin jauh lebih muda dari saya jika dilihat dari fisiknya, tampak kebingungan. Dan, ternyata, dia sedang mengalami ”musibah” yang jamak dialami muslim peserta salat jamaah di rumah Tuhan; sendalnya hilang.

Saya pikir, dengan pikiran saya yang masih belum juga bisa bersih ini, dia akan mengumpat. Darah mudanya akan mengajak dia mengambil sikap tersebut.

Tapi.. Saya keliru.

”Haha.. Apalah artinya sepasang sandal jepit, dibanding dengan nikmat yang saya dapat dari dalam masjid,” dia bergumam sendiri, dengan nada enteng, lalu berjalan pulang tanpa alas kaki, juga tanpa melepaskan senyum gembira yang menempel di bibirnya setelah nikmat yang didapatnya dari rumah Tuhan.

Hahaha, nikmat Tuhan manakah yang hendak kita dustakan? Saya pun semakin yakin, dalam tiap senyum umat-Nya, ada kegembiraan Tuhan di situ.

Advertisements

4 thoughts on “Tuhan Sedang Senyum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s