Sekuntum Rindu untuk Ibu

Dia yang tak pernah meminta apapun darimu.

Tiba-tiba aku rindu padamu, Ibu.

BERUNTUNGLAH aku dilahirkan sebagai anak paling bontot. Otomatis, sebagian besar porsi perhatian Ibu jadi hakku. Keistimewaan yang luar biasa. Suatu kali sempat, mungkin saking irinya kakak-kakakku, mereka menyebutku lelaki banci, anak mami. Tapi, peduli setan, aku menyukainya.

Ibuku, juga sebagian besar ibu waras di dunia ini, tentunya tak bakalan pernah menggunakan kalkulator untuk mengakumulasikan kasih yang tercurah pada anak-anaknya. Total. Kalau kata lagu “Kasih Ibu”; “Hanya memberi tak harap kembali.” Pokoknya, top banget deh.

Aku sangat memuja ibuku. Bukan hanya karena terikat kewajiban seorang anak untuk menyayangi Ibu. Tapi, setelah secara nyata Beliau memberikan semuanya padaku, ada semacam dorongan, semacam common sense dalam naluriku, yang mengatakan aku harus mencintai Beliau. Tak ada pilihan selain itu. Dan aku memilihnya dengan gembira.

Sayang kepada Ibu semakin menguat, baik di hati maupun nalarku, ketika aku mendengar kisah kehadiranku di dunia ini, sekitar tiga dasawarsa lalu. Cerita ini tak langsung keluar dari Ibu. Mungkin karena Beliau sengaja tidak menceritakan kepadaku. Beliau tak ingin memberiku beban.

Di suatu pagi menjelang kelahiranku, Kota Madiun dicurahi hujan yang seakan enggan berhenti. Di salah satu kamar kelas ekonomi rumah sakit daerah, ibuku dengan perut buncitnya tergeletak lemah. Muka Beliau pasi. Seperti menahankan sakit yang seharusnya tak bisa Beliau tanggung, tapi tetap harus ditanggung karena ada cinta yang menyangganya.

Menurut analisa dokter, ada penyakit di usus Beliau. Beberapa hari sebelum masuk rumah sakit, ada semacam virus dan itu berhubungan dengan rencana kelahiran bayi yang Beliau kandung –yang tak lain tak bukan adalah jabang bayiku. Virus itu pula yang membuat Beliau harus di rumah sakit lebih cepat, jauh sebelum waktu kelahiranku tiba.

Menurut nasihat dokter pada Bapak, kalau ibuku memaksakan diri mengeluarkan jabang bayi, risikonya fatal. Ususnya bisa terganggu, dan itu sama artinya mempersilahkan maut datang sekonyong-konyong. Peluang selamat memang ada, namun lebih tipis dari kulit ari.

Kalau ingin selamat, ibu dan bapakku harus rela membiarkan aku berangkat ke akhirat cepat-cepat, sebelum sempat mengintip dunia. Karena pergerakan bayi ketika lahir sangat berbahaya. Singkatnya, si bayi harus dibuat tak bergerak, alias dimatikan.

Sampailah bapakku pada pilihan sulit. Sudah lama Bapak dan Ibu ingin anak lelaki. Dua kakak lelakiku tak berumur panjang, dan itu cukup membuat Bapak dan Ibu menggendong duka selama bertahun-tahun. Kehadiran bayi lelaki adalah satu-satunya obat. Dan, menurut hasil USG, bayi yang dikandung Ibu itu sahih berpenis. Tentunya kelahiranku sangat ditunggu-tunggu. Tapi, di sisi lain, kehadiranku mengancam hidup Ibu.

Dengan berat, di tengah gerimis yang cukup kerasan mengguyur kota kecil itu, di antara kesadaran ibuku yang setengah-setengah, Bapak berbisik; ”Kalau aku lebih memilih kamu.” (Waduh, bapakku mengambil opsi menggagalkan kedatanganku ke dunia!)

Setelah mendengarkan suara Bapak yang lamat-lamat, naluri Ibuku bekerja otomatis. Dengan bibir pucatnya Beliau berujar; ”Kita sudah lama ingin anak lelaki. Siang malam kita berdoa untuk itu. Dan sekaranglah saatnya. Bayi ini amanat Yang Kuasa, aku hanya mendapat tugas untuk memberinya jalan merasakan kehidupan. Inilah harapan kita, anugerah Tuhan, dan aku tidak ingin menambah dosa karena menyia-nyiakan jawaban Tuhan untuk doa-doa kita. Kalau toh aku harus mati, masih ada sebagian diriku yang bisa menemanimu dalam bayi ini. Aku harus melahirkannya.” Bapakku menangis mendengar keputusan Ibu.

Bapakku menghargai keputusan vital Ibu ketika itu, kendati berat. Sore hari, ketika volume hujan meninggi, Ibu merasakan kontraksi. Dokter yang menanganinya harus hati-hati. Setelah melalui proses terapi cukup lama, sampai hampir tengah malam, waktu hujan makin deras, dimulailah proses persalinan maut itu.

Bapakku yang menunggu di luar ruang persalinan tak henti-hentinya komat-kamit dan tersedu. Tangannya tak berhenti meramas saku celana. Dua kakak perempuanku sengaja ditinggal di rumah ditemani nenek. Bapakku tidak ingin mereka tahu cepat-cepat, ketika kemungkinan terburuklah yang terjadi.

Setelah menunggu sekitar satu jam, malam itu akhirnya Bapak mendengar tangisan orok yang cukup kencang. Suara hujan yang makin deras seakan hilang dikoyak suara tangis si bayi. Bapak menghambur. Seorang bayi laki-laki, berkulit putih bersih, tanpa sehelai pun rambut, berbobot 3,8 kilogram, telah hadir di dunia membawa harapannya sendiri.

Ketika Bapak mengengok ke Ibu, Beliau melihat kekasihnya itu terkulai lemas. Matanya terpejam. Muka Ibu sangat pasi. Bapak menghambur ke Beliau, setelah sebelumnya sempat menengokku sekejap.

Ibu tak bernapas! Denyut beliau tak ada! Komat-kamit Bapak makin kencang. “Tolonglah, Tuhan.”

Akhirnya medis turun tangan lekas-lekas. Ibuku langsung diboyong ke ruang ICU. Dan, selama seminggu penuh beliau ada di situ. ”Kita berdoa saja, Pak,” kata dokter itu, yang membuat bapakku tambah miris.

Seminggu lebih ibuku berdiam di ruang perawatan intensif itu. Selama kurun waktu itu juga Bapak tak bosannya memandangi aku yang selalu terlelap di ruang khusus bayi. Seolah Bapak sedang melihat Ibu pada bayi lelaki itu. Bapak menatapku dengan perasaan gembira yang membeku.

Untung Tuhan Maha Pengasih. Setelah seminggu melewati masa kritis, Ibu mulai sadar. Bapakku mulai menjenguk. Masih dengan mulut yang teramat pucat, kepada Bapak beliau berucap; “Tuhan masih menginginkan kita bersama anak lelaki kita.”

***

Tak cukup di situ ibu menggerojokkan cinta pada anak lelaki satu-satunya yang Beliau lahirkan sembari menantang ajal ini. Ketika masih kecil, suatu malam aku terserang tipus mendadak. Bapak ke luar kota. Di malam yang juga hujan itu, Beliau panggil becak dan larikan ke aku ke tempat praktik seorang dokter yang sudah tutup.

Beliau gedor pintu dengan tangan kuyupnya selama hampir setengah jam. Tangan Beliau sampai bengkak. Sampai akhirnya dokter membukakan pintu dan tertolonglah aku.

Beranjak remaja, ketika narkoba mencabik-cabik sebagian besar waktuku, dan akhirnya Hepatitis C meng-KO-ku, ibu tak hentinya selalu ada di dekatku, memanjatkan doa Beliau yang paling tulus untuk kesembuhanku.

Ketika murka Bapak tak terbendung, kala menangkap basah aku yang sedang menyuntikkan heroin di lengan kiri, dan siap menghancurkan aku di antara amuknya, Ibu menghelaku dalam peluknya. ”Aku lahirkan anak ini dengan mempertaruhkan nyawa! Aku tak akan pernah rela kalau kau menyakitinya!” hardik Ibu pada Bapak, yang seketika itu juga membekap amarahnya.

***

Ibu memberiku semuanya. Raga, pun jiwanya.

Sayang sekali, waktu tak akan memberiku porsi untuk bisa membayarnya, kendati itu sekelumit saja. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa membayar tuntas apa yang telah Ibu curahkan untukku.

Ketika azan Subuh berkumandang di langit Sabtu Kota Madiun, 28 Mei 2011 lalu, beliau dipanggil pulang ke surga oleh Yang Terkasih, setelah seminggu penuh koma akibat tumor otak yang mendekam selama lima tahun tanpa terdeteksi.

Ibu selalu menyembunyikan sakit Beliau pada anak-anaknya. Beliau tidak pernah ingin membebani kami. Apalagi, beliau tahu, menjelang mangkat itu aku sedang dalam keadaan hancur, setelah semua yang pernah dititipkan Tuhan padaku diambil kembali. Akibat kebodohan luar biasa dari tuntutan egoku. Ibu mengemas sakitnya sendiri, demi kebahagiaan anak-anak beliau. Terutama untukku.

Aku marah pada dokter. Nyaris kuhajar habis dia di ruang kerjanya sendiri. Mejanya kacau balau kuobrak-abrik, yang memaksa petugas keamanan untuk menenangkanku. Pasalnya, dalam kurun tiga tahun sebelum mangkat, ibu kerap keluar-masuk rumah sakit yang sama. Tapi, kenapa tumor yang mendekam lama itu tak terdeteksi? Ah, dasar dokter cuma cari duit!

Pada akhirnya, aku sadar, siapa kuasa menolak kehendak takdir? Mungkin sudah begitu cara-Nya untuk memulangkan Ibu. Dan aku yakin, beliau sudah sangat bahagia di sana.

Ibu, yang sempat aku lupakan sejenak ketika duniawi memanjakanku di tengah gemerlap Ibukota dengan status sosial tinggi. Ibu, yang jarang melihatku pulang, dan hanya bisa meredam rindu suara sementara melalui sambungan telepon dengan anak lanang yang hanya menjawab sekenanya, lantaran dikejar kesibukan megapolitan.

Ibu, yang selalu memelukku dengan cintanya, kala aku pulang dalam kalah, setelah kemenang-kemenanganku habis kubagi pada pasanganku. Ibu, yang hampir tak bisa merasakan kemegahanku, tapi tak pernah henti berkirim doa untukku di kejauhan sana. Ibu, yang memilih berjibaku demi maut, untuk memberiku kebahagiaan kasihnya di dunia ini.

Al Fatekhah dan salam segenap cinta untukmu, Ibu. Di surgamu sana.

***

Cintailah Ibumu selama beliau masih ada di sisimu. Minumlah air basuhan kakinya untuk menunjukkan baktimu. Jangan sekecap pun kau gores hatinya, karena Penguasa Semesta tak akan pernah menyukai itu.

Cintailah Ibumu dengan segenapmu, raga juga jiwamu, dengan ketulusan yang penuh. Berilah dia kebahagiaan sejauh yang kau bisa. Berilah dia cinta sebesar yang kau bisa, kendati kau tak akan pernah bisa menyamai kemegahan cintanya untukmu.

Atau kau akan menggendong sesal seumur hidupmu; ketika beliau dipanggil pulang oleh Kekasihnya, sementara kau belum memberinya apa-apa, juga tak bisa berbuat apa-apa.

09082009(001)

Last picture from my beloved Mom and me, May 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s