Terjerat Pikat Pantai Sekerat

Bercumbu dengan keindahan pantai perawan Desa Sekerat.

Pantai Sekerat

Garis pantai desa Sekerat, Kecamatan Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kaltim.

SEKITAR bulan Oktober tahun 2005 lalu saya ikut berlayar menumpang Kapal Republik Indonesia (KRI) Tanjung Dalpele. Salah satu kapal medis TNI AL yang kala itu paling lengkap fasilitasnya.

Enak memang numpang kapal itu, besar, jadi tak begitu terasa ketika gelombang menggoyang. Tahu-tahu kita sudah sampai tujuan setelah lima hari mengapung membelah laut Jawa yang ketika itu sedang berbadai. Untunglah di antaranya ada joget lumba-lumba Laut Jawa yang berlompatan genit menyapa pandangan kami.

Lumba-lumba Laut Jawa.

Lumba-lumba Laut Jawa.

Kami labuh jangkar di perairan sekitar Desa Sekerat, Kecamatan Sangata, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Perairannya bagus. Daratannya masih asri. Sepanjang 10 kilometer garis pantainya benar-benar putih. Saya melihat pemandangan yang masih perawan.

Melihat pemandangan itu, dan teringat dongeng guru IPS saya saat saya masih duduk di bangku SD, saya menarik kesimpulan secara subjektif, itulah yang disebut Indonesia. Negeri subur, permai dan damai.

Dengan sekoci, saya dan beberapa prajurit TNI AL mendarat di pantai, yang tampak indah ketika saya tatap dari geladak kapal. Ketika menjejak di desa itu, wah, saya langsung bersyukur. Ternyata penglihatan saya masih sehat.

Apa yang saya lihat dari geladak tadi ternyata benar-benar seperti apa yang saya jejak ketika itu. Hanya orang munafik yang tidak mengatakan pantai itu elok.

Dari pusat Kabupaten Kutai Timur, desa ini berjarak 70 km. Letaknya sangat pesisir. Memiliki garis pantai sekitar 2 km, desa ini hanya bepenghuni 60 kepala keluarga. Suasananya tenang untuk tidak dikatakan senyap. Pantainya indah dan belum dicemari aksesori industri pariwisata, termasuk sampah. Angin semilirnya membuat siapapun terkantuk-kantuk, termasuk tim survei marinir.

Satu-satunya “kegaduhan” yang disaksikan penduduk hanyalah latihan pendaratan Marinir, yang memang ketika itu TNI AL punya proyek latihan tempur di desa itu. Anak-anak kecil berlarian sepanjang pantai sambil matanya lekat memandangi KRI Tanjung Dalpele dan KRI Teluk Sampit yang lego jangkar di kejauhan.

Dan, saat hovercraft mendarat di pantai sekitar pukul 09.00 WITA, 13 Desember 2005 lalu, penduduk desa langsung melingkar berkerumun. Mata mereka terkesima, tangannya sibuk mengelus, meski dengan sedikit takut-takut.

Latihan pendaratan TNI AL.

Latihan pendaratan TNI AL.

Mereka mendapat kesibukan baru, satu hal yang sangat mahal di Desa Sekerat. ”Dengan datangnya tentara ini kami punya kesibukan. Sebelumnya kami lebih banyak diam, duduk-duduk di tepi pantai sambil mengobrol tanpa ada kegiatan lain,” kata Suliman, seorang pemuda desa setempat dengan logat Kutai yang sangat kental.

Sebagian warga yang kreatif langsung mendirikan 2 warung dadakan berfondasi kayu. Warung ukuran 2 x 4 meter itu yang menyediakan makanan, minuman, rokok dan kebutuhan sehari-hari semacam sabun cuci dan sabun mandi. Soal harga, jangan tanya: serasa beli di Singapura!

”Dengan begini lumayan. Maklum, suami saya menganggur,” tutur Hanifah, salah satu pemilik warung langganan personel TNI AL yang ikut latihan.

Desa Indah dengan Sisi Gelap

Desa Sekerat yang indah itu menyimpan sisi gelap. Bukan hanya Suliman dan suami Hanifah yang masih menganggur. Hampir 80% penduduk pria usia produktif berstatus tanpa pekerjaan tetap, rata-rata pendidikan mereka juga sebatas SMP. Apalagi, di desa ini memang hanya ada 2 SD dan sebuah SMP. Untuk melanjutkan ke SMA, mereka harus datang ke ibukota kecamatan di Bengalon, yang berjarak 70 km. Rutenya juga aduhai, hanya jalan setapak yang hancur jika hujan.

Menghidupkan roda perekonomian di desa ini memang sulit karena lokasinya yang terpencil. Menghidupkan industri juga –sementara ini—masih mustahil. Hanya ada sebuah pertambangan batu bara, 5 km di selatan desa itu. Itu pun mayoritas pekerjanya adalah tenaga asing. Hanya segelintir penduduk lokal yang mendapat kesempatan, itupun dengan status kontrak maksimal 3 bulan.

Desa Sekerat memang menyajikan sejumlah ironi. Salah satunya adalah mobilitas silang penduduknya. Menurut Zurom (57), pria asli kelahiran Desa Sekerat, mayoritas penduduk di Sekerat adalah pendatang. ”Penduduk asli yang ingin maju merantau ke kota. Sementara, penduduk kota seperti Banjarmasin, Balikpapan, maupun Kutei Timur yang kehilangan pekerjaan mereka di kota malah memilih tempat ini. Katanya untuk menenangkan pikiran. Tapi tak jarang mereka akhirnya malah kerasan dan menetap di sini,” paparnya.

Alhasil, ketika itu hanya 10 KK saja yang merupakan penduduk asli. Selebihnya pendatang. ”Saya asli Banjarmasin. Tiga tahun silam saya pindah ke sini. Di kota saya dipecat dari pabrik plastik. Di sini pun saya belum dapat kerja, masih menumpang,” kata Tora, salah satu pendatang.

Sisi lain pantai Sekerat.

Sisi lain pantai Sekerat.

Menjerat Rusa

Untuk biaya hidupnya, Tora dan beberapa pendatang yang menganggur mengandalkan hasil menjerat rusa, yang banyak berkeliaran di hutan sekitar Sekerat. Pagi hari mereka pasang jerat, sore hari mereka pantau. Jika dapat dalam keadaan hidup, langsung mereka sembelih, dagingnya dijual ke ibukota kecamatan. Sementara jika jeratan mereka mati, ditinggalkan begitu saja. ”Kami di sini semua Muslim. Haram makan bangkai,” jelas Tora.

Selain menjerat rusa, beberapa warga juga mengandalkan dari hasil melaut. Tapi hanya sebagian kecil. Tercatat hanya 3 rumah yang memiliki perahu nelayan. Selain digunakan sendiri oleh pemiliknya, perahu itu juga disewakan dengan imbalan ikan hasil tangkapan.

”Kami semua di sini selalu rukun. Alhamdulillah, meski kami bukan orang yang berlebih, kami bisa saling menolong. Suasana selalu tenang,” imbuh Hanifah.

Saking tenangnya desa itu, sampai gejolak sosial yang terjadi di sekitar mereka tak pernah merambah sampai ke sana. Misalnya, pembagian bantuan langsung tunai (BLT) yang sempat menimbulkan keributan. Bahkan, istilah BLT itu baru mereka dengar pasca- kedatangan pasukan yang hendak menggelar latihan itu. Sebelumnya?

”Apa itu?” tanya salah seorang wanita setengah baya ketika kata BLT mampir di telinganya.

Menurut Zamor, wanita itu, memang pemerintah tak pernah datang mensurvei desa mereka. Karena medan yang berat, desa itu jarang dijenguk penguasa. Maka dari itu, ketertinggalan di sana pun tak terpantau.

Wajar jika warga kekurangan informasi. Tidak ada koran, tidak ada radio. Satu-satunya kabar mereka dapatkan dari televisi. Itu pun harus menggunakan antena parabola. Belum lagi listrik yang dimatikan dari sebuah gardu PLN, tepat pukul 22.00 WIB. Setelahnya, gelap gulita hingga matahari bangun.

Sebenarnya, untuk daerah seindah Sekerat, terlalu sayang jika pemerintah memalingkan muka. Pantainya lebih eksotis dari Kuta. Jika sektor pariwisata dibangun, diharapkan desa itu akan sangat produktif.

”Inginnya juga begitu. Tapi bupati saja jarang menengok ke sini,” ujar Hanifah.

Inilah desa Sekerat. Alam indah yang menyuguhkan berbagai macam ironi. Desa penuh potensi yang tak terhiraukan. Tapi Sekerat punya apa yang tak dipunya kota-kota modern. Desa ini mau mengucapkan selamat datang pada siapa saja tanpa berharap pamrih.

Terutama garis pantainya yang mempanoramakan surga, ketika tirai senja mulai jatuh.

Mencumbui surga senja Pantai Sekerat.

Mencumbui surga senja Pantai Sekerat.

Advertisements

4 thoughts on “Terjerat Pikat Pantai Sekerat

  1. pantai sekerat itu bersambungan dgn pantai jepu-jepu, 30 menit dari rumah saya di desa selangkau. pantai jepu-jepu itu masuk desa selangkau. perbatasannya di batu pondong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s