Surga yang Belum Juga

Wilis. Surga

Wilis dari Madiun

Panorama Wilis dari Desa Dungus, Kec Wungu, Kab Madiun.

DUA gundukan raksasa mengawal hari-hari kecilku; Wilis di timur dan Lawu di barat. Kuhabiskan waktu kanak-kanak untuk berimajinasi tentang mereka. Mereka adalah sepasang punggawa yang membentengi kota kecilku dari serangan nenek sihir dan setan jahat.

Tiap pagi selalu kudapati Nila yang menyapu Wilis di kejauhan, ketika kukayuh sepeda BMX-ku ke sekolah. Kala pandangku berjumpa dengan dia, ada ketenangan luar biasa dalam dada anak-anakku. Juga imajinasi yang tiba-tiba menghambur. Imajinasi tentang segala keindahan jiwa.

Aku selalu membayangkan surga, yang diceritakan guru mengajiku itu, ada di Wilis. Biru paginya yang membuatku selalu tersenyum. Aku yakin, suatu saat aku akan bermain-main ke sana.

Ketika sore tiba, kunikmati Lawu yang berselimut kabut dari kejauhan, ketika layang-layangku sedang tenang di awang-awang karena sepi musuh aduan.

Di antara lamunan kecilku, aku selalu membayangkan, seandainya aku bisa menerbangkan layang-layang dari atas halimun yang mengitari pucuk Lawu itu. Pasti layang-layangku yang tertinggi dalam terbangnya. Jelas saja, karena anak-anak lain menerbangkannya dari tanah, sedangkan aku dari atas awan kabut itu. Aku akan jadi juara dan aku tertinggi. Lawu memberiku optimisme. Kurasa dia merestuiku.

Dari sisi geografis, menurutku, Wilis dan Lawu itu jodoh. Memiliki kesesuaian karakter. Mereka bukan gunung berapi aktif. Keduanya juga sama-sama punya khas berupa telaga; Sarangan dan Wahyu (dulu Wurung) untuk Lawu, sementara ada Ngebel di Wilis.

Dalam imajinasiku, Wilis dan Lawu adalah sepasang karunia Tuhan yang melengkapi duniaku. Wilis mencukupi imajinasiku tentang kebahagiaan surgawi dengan biru paginya itu. Sedangkan Lawu, yang selalu kubayangkan akan kudaki halimunnya, mengajarkanku banyak hal untuk menuju yang tertinggi.

Waktu berlalu laju. Sampai sekarang, mereka masih menempati posisi yang sama pada persepsiku. Wilis masih menjadi mimpiku tentang kebahagiaan, dan Lawu adalah kenyataanku.

Kenyataan menunjukkan, bahwa di antara keduanya, hanya Lawu yang bisa kucapai puncaknya. Wilis belum. Berkali-kali telah kutapaki halimun Lawu –kegiatan yang selalu kubayangkan sejak kecilku kala bermain layang-layang itu. Dari Lawu pula kudapati banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan, di antaranya melalui kebersahajaan Mbah Di dan Pak Rebo. Lawu adalah mimpi yang berhasil kukonversi dalam kenyataan.

Setelah Lawu, telah kutaklukkan juga Tangkuban Prahu, Papandayan, Gede, Merapi, Merbabu, Penanggungan, Arjuno, dan Semeru. Sayang sekali, belum sekalipun aku mampu menundukkan Wilis. Dia masih lestari sebagai misteri bagiku.

Entahlah, dalam beberapa upaya pendakiannya –yang telah kujajal berpuluh kali– selalu saja gagal. Penyebabnya macam-macam. Ya cuaca lah, ya kawan sependakian yang tiba-tiba KO –yang aku tak bisa meninggalkannya sendiri dan harus kembali–, atau rasa lelah dan sakit yang datang tiba-tiba mencegah niatanku untuk melanjutkan pendakian.

Padahal, dibandingkan gunung-gunung lain yang telah takluk di telapak sepatu bootku, Wilis yang terendah. Ketinggiannya hanya 2.550 meter dari permukaan air laut. Bandingkan dengan deretan gunung yang kusebut tadi, yang minimal ketinggiannya 3.000 meter, yaitu Tangkuban Prahu. Lainnya lebih tinggi dari itu.

Tapi, kenapa Wilis belum juga bisa kutaklukkan? Seluruh jalur pendakiannya sudah aku coba. Baik melalui jalur Madiun, Nganjuk, Tulungagung, atau Kediri, semua pintu masuknya sudah kucoba. Tapi, selalu saja ada salah satu halangan, seperti yang telah kusebutkan, mendadak hadir.

Tiap aku hendak mengagendakan pendakiannya lagi, ada saja bisikan hati yang datang agar aku mengurungkan. Aku mengikuti anjurannya, karena aku percaya bisikan hati tak pernah keliru.

Ah, mungkin memang belum waktunya aku menaklukkan Wilis. Belum waktunya aku mencapai surganya yang biru – puncak keindahan yang kubangun dalam imajinasiku sejak anak-anak dan kurawat hingga sekarang.

Atau, mungkin semesta sedang berbahasa padaku melalui Wilis; bahwa menuju surga itu bukan perkara mudah.

Siluet Wilis pagi.

Siluet Wilis pagi.

Advertisements

12 thoughts on “Surga yang Belum Juga

  1. karena niatanmu itu menaklukkan wilis, bukan menaklukan egomu. Pemilik jagat ini tak suka melihat semesta ditundukkan hanya untuk sebongkah jumawa πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s