Selayang Kenang dari Aceh

Catatan perjalanan menyongsong sekeping surga;

pantai barat Nangroe Aceh Darussalam.

Senja Tapak Tuan

SENIN, 18 Januari 2010 malam semua sudah aku persiapkan. Aku sudah packing, mempersiapkan dua tas yang bakal dibawa. Satu tas khusus untuk pakaian, satu tas lainnya berisi alat tempur; alat tulis, notes, notebook, dan kamera. Semuanya aku pastikan siap malam itu juga. Menurut perhitunganku, dengan semua persiapan tersebut, tak akan ada hal yang akan menghalangi keberangkatan.

Selasa pagi aku ikut rombongan World Bank menyambangi Kabupaten Aceh Selatan, Nanggroe Aceh Darussalam, menengok langsung pembangunan swadaya yang berlangsung di gampoeng (kampung) yang dulunya jadi basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM), atau Komite Peralihan Aceh (KPA).

Selasa pagi bangun amat dini. Jam 5 pagi mata sudah melek. Cepat-cepat mandi dan berangkat, agar tak ketinggalan pesawat Garuda jurusan Jakarta-Medan, yang flight jam 11 tepat. Harus berangkat cepat-cepat, karena jarak dari rumah ke Bandara Soekarno-Hatta sangat jauh. Butuh dua kali oper moda transportasi. Dari kost ke Gambir naik bajaj, dari Gambir ke bandara ikut bus Damri.

Sejak mulai keluar dari rumah, kekonyolan otomatis menyala.

Berhubung tak pernah membawa barang bawaan terlalu banyak, iya saja aku kerepotan sangat. Ribet. Di antara ribet-ribet itu, ponsel CDMA-ku berbunyi. Dengan gaya yang tak kalah ribet, aku ambil ponsel itu dari kantong kiri celana jinsku. Namanya juga ribet, mengambil ponsel saja repot, nggak tepat sama sekali. Baru saja keluar kantong, eh, luput. Lepas. Prak! Jatuh dan mati. Wassalam.

Ah, persetan. Mungkin mati sebentar, nanti idup lagi. Aku pungut ponsel jatuh itu dengan gaya yang tak kalah ribet. Dengan gaya yang luar biasa ribet pula aku masukkan lagi ke kantong. Aku tengok langit, mendung gelap mulai menggantung, siap menghujamkan banyak air ke bumi. Aku harus cepat-cepat, kalau tak ingin terhalang hujan deras yang semalam sebelumnya juga sudah mengguyur kerasan.

Langsung aku stop bajaj. Tawar menawar harga pas, lalu kami cabut. Sepertinya semua lancar-lancar saja.

Ketika sampai di persimpangan Tugu Tani, beberapa meter dari Gambir, hujan deras keburu turun! Celaka dah.

Sialnya, si abang bajaj nggak mau masuk stasiun. Walhasil, dengan bawaan yang super ribet aku kudu lari-lari di bawah hujan deras. Setelah membayar, aku berancang-ancang sembari menenteng dua tas besar yang bikin repot itu. 1… 2… 3… cabut!

Tapi… Gedebuk!

Jalan licin dan bawaan yang terlalu banyak membuat keseimbanganku pergi meninggalkan kusendiri (halah). Terpelesetlah aku di bawah hujan deras. Dengkul lecet dan jadi tontonan banyak orang yang berteduh. Sialan, ada yang ketawa sambil nunjuk-nunjuk lagi. (Pengen aku tampol aja tuh orang). Sakitnya nggak seberapa. Malunya itu lho….

Ah, sudahlah. Dalam kuyup aku menuju Damri yang sudah hampir berangkat. Tak seberapa lama, bus meluncur ke bandara. Ah, aku tak akan tertinggal pesawat. Bus tepat waktu, pukul 10 tepat aku sudah sampai di terminal domestik Garuda.

Masih ada sejam. Aku tengok kanan-kiri, belum ada satu pun anggota rombongan menampakkan batang hidung. Aku telepon si pemimpin rombongan. Katanya ngopi di salah satu gerai, dan dia mempersilahkan aku kalau mau jalan-jalan dulu. Yah, aku pikir kami bakal bertemu di depan gerbang, lalu check in bareng-bareng. Ya aku nyantai saja.

Nah, kebetulan, di sela menunggu itu ada seorang SMA, yang sudah sekitar 10 tahun tak sua, datang dari Pontianak. Namanya orang Jawa, lama tak ketemu kawan, otomatis kami terlibat dalam sebuah perbincangan gayeng. Sampai lupa waktu.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 10.40. Sekitar 20 menit lagi pesawat yang hendak membawa kami take off. Tapi aku merasa aneh, kok orang-orang itu belum pada nongol? Di tengah perbincanganku dengan kawan, ponselku berbunyi. Ternyata si pemimpin rombongan menanyakan aku di mana. Aku jawab masih di depan gate. ”Belum check in?” tanyanya. ”Ya belum, kan menunggu kalian semua. Check in bareng kan?” aku balas bertanya.

Oalah, oalah. Ternyata miskomunikasi. Ternyata, sedari tadi si pemimpin rombongan sudah check in dan dia ngopi di dekat ruang tunggu keberangkatan. Jadi, ceritanya, hanya aku satu-satunya orang yang belum mendaftarkan diri sebagai penumpang pesawat! Sial.

Sembari terburu-buru lagi, aku putus perbincangan kami. Aku tinggalkan kawanku dengan tergesa-gesa. Waktu mau boarding, masyaallah, yang ngantre puanjaaaaaaannnngggg…. Alamat telat nih…

Benar saja, pukul 11 tepat aku baru mendapat giliran. Dan kata petugasnya,” Wah, sudah tak bisa boarding, Mas.” Lhadalah! Sementara si pemimpin rombongan juga panik dan terus telepon dan SMS. Aku bilang saja ikut penerbangan berikut dan kami bertemu di Medan. Untung ada pesawat flight dengan jurusan yang sama, 50 menit kemudian. Aku putuskan ikut pesawat itu.

Rencananya, sesuai petunjuk orang World Bank, aku diminta rebooking. Kalau kena charge, aku kudu nanggung sendiri. Apes.

Dengan perasaan tak menentu, akhirnya aku datang ke loket Garuda, melakukan apa yang disarankan orang Bank Dunia itu. Dan, alhamdulillah, untuk rebooking aku tak kena charge sepeser pun. Biar keterlambatan tak terulang lagi, aku buru-buru boarding.

Aku memilih lama menunggu daripada ketinggalan lagi. Sembari menunggu, aku mampir ke salah satu penjual minuman, membeli sebotol Nu Tea Madu. Aku siapkan uang Rp 5 ribu, karena biasanya harganya segitu. Ketika hendak membayar, aku tanya; ”Berapa, Mbak?” ”17 ribu, Mas.” Asu!

***

AKHIRNYA pesawat tiba, terbanglah aku ke Medan. Baru saja take off, pesawat nabrak awan gelap. Turbolance luar biasa. Karena pada dasarnya aku segan naik pesawat, langsung pucat dan kebelet kencing lah aku! Untungnya, itu hanya sedikit insiden kecil yang sudah biasa. Aku bersama beberapa orang dan kursi kosong di dalam pesawat Garuda itu melanglang ke Medan.

Sampai di Medan, untunglah tak ada sial lagi. Aku dijemput pegawai Arya Dhuta Hotel, tempat kami menginap malam itu. Langsung diantar ke hotel, dan check ini di kamar suite twin bed, sendirian. Asyiiikkkk….

***

Nagan Raya-Tapak Tuan

Rabu, 20 Januari, aku kudu bangun pagi-pagi kalau emoh ketinggalan lagi. Kami harus mengejar pesawat Susi Air, sebuah pesawat kecil penerbangan domestik Polonia-Nagan Raya. Pesawat hendak lepas landas pukul 7 tepat. Untunglah bisa bangun cepat. Dengan tubuh yang masih pegal-pegal karena tergesa-gesa dan jatuh terpeleset kemarinnya, kami berangkat.

Semua tepat waktu. Kami check in dan diantar ke pesawat dengan minibus. Aku sama sekali tak membayangkan bagaimana bentuk Susi Air itu. Paling hanya pesawat kecil, tak beda jauh dengan cassa milik TNI AL yang sudah beberapa kali aku tumpangi.

Tapi…

Begitu melihat bentuk pesawatnya, waduh, selamat nggak ya sampai Nagan Raya? Yang namanya Susi itu, ternyata, sebuah pesawat cesna dengan satu baling-baling berkapasitas 10 penumpang plus dua pilot-copilot. Wadow….

Menantang maut di dalam Susi Air.

Menantang maut di dalam Susi Air.

Ketika hendak take off, tak henti-hentinya kami berdoa, memohon keselamatan pada-Nya.

Sejam kami melayang-layang di udara, di antara gerimis. Beberapa kali pesawat kecil itu menabrak awan. Goncangannya jelas lebih dahsyat dari Garuda!

Kata teman yang duduk di sebelahku; “Gile, loe pucet banget, Bro.” Ya, aku rasa dia betul. Tak karuan hati ini. Masih belum sarapan lagi…

Setelah 70 menit diombang-ambing dan diguncang di antara awan, mendaratlah kami di Bandara Tjut Nyak Dien, Kabupaten Nagan Raya, utuh tanpa kekurangan suatu apapun. Entahlah, mungkin sebagian jiwaku sudah kabur, bersembunyi di antara awan, saking takutnya tadi. Yang penting secara fisik aku masih utuh, tuh.

Begitu mendarat, kami langsung dijemput dua driver bernama Agam dan Malik. Keduanya asli Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan. Kami yang laki-laki dan perokok ini; aku, Ido dan Edison dari SCTV, menumpang Kijang Krista yang dikemudikan Malik yang Aceh abis itu.

Dimulailah perjalanan panjang selama 4 jam menyusuri jalur lintas barat Sumatera, menuju Ibu Kota Kabupaten Aceh Selatan bernama Kecamatan Tapak Tuan. Subhanallah, memang indah betul Bumi Rencong ini.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang sama sekali tak pernah kami jumpai di Jawa. Kami menyusuri gunung, lereng, lembah, pantai. Dari semuanya, tak ada satu kedipan pun pemandangan yang rasanya ikhlas untuk dilewatkan begitu saja.

Aceh memang Indah! Beruntunglah aku pernah datang ke tempat ini.

Tapak Tuan

Di tepi pantai perawan Tapak Tuan.

Setelah melalui jalan panjang berliku bersama sopir rock n roll bernama Malik “The Good Boy”, sampailah kami ke Tapak Tuan. Kami langsung check in di sebuah hotel kelas melati bernama Chaterine. (Sampai sekarang aku tak habis pikir, kenapa hotel di Aceh Selatan yang agak terisolir itu memilih nama “Chaterine”? Tapi, mau tanya penjaganya sungkan. Jangan-jangan mereka tersinggung. Ya aku simpan saja pertanyaan sampai sini). Lagi-lagi, aku mendapat kamar sendiri, twin bed. Asyik…

Setelah melewatkan beberapa seremonial bersama Bupati Aceh Selatan, Husin Yusuf, yang mantan laskar GAM itu, kami melepas penat dengan jalan-jalan sejenak ke pantai.

Ya, pantai memang satu-satunya hiburan. Tapak Tuan memang daerah yang masih harus tunduk pada hukum syariat Nanggroe Aceh Darussalam. Semua wanitanya harus berbusana muslim, sementara yang pria harus menutup udel sampai dengkul. Nah, kalau melihat kebudayaan seperti itu, kami jelas tak berharap ada pub atau karaoke di bumi lembah yang indah itu.

Makan-makan Cuy.

Makan-makan Cuy.

***

SETELAH istirahat semalam, meluncurlah kami ke Kluet Tengah. Lagi-lagi kami melewati pemandangan yang indahnya tak pernah habis, selama 1,5 jam perjalanan. Beberapa tikungan membuatku dagdigdugder saking curamnya. Tapi, yah, untunglah, Malik kami itu sopir yang ciamik. ”Tenang, Abang. Setiap hari saya melintasi jalur ini. Saya kenal betul,” katanya, yang membuat saya tenang.

Dan sampailah kami ke tempat tujuan. Manggamat. Tempat di mana tragedi kemanusiaan maha sadis, tempat di mana mereka yang menentang KPA dibabat habis. Tempat di mana mereka disiksa, dikandang seperti binatang, sebelum akhirnya dihukum mati. Sangat singup ada di situ. Hawa kematian masih terasa, kendati konflik sudah lima tahun berlalu.

Di Gunung Ruak inilah pernah berdiri markas besar GAM.

Di Gunung Ruak inilah pernah berdiri markas besar GAM.

Singkat kata saja, seharian itu kami dipaksa ikut seremoni yang punya gawe, World Bank itu. Tapi, di tengah situasi seperti itu, naluri jurnalisku bekerja. Aku memutuskan pisah dari rombongan untuk mencari feature-feature menarik. Kalau ikut rombongan, mati gaya gue!

Menghirup Aceh.

Menghirup Aceh.

Penduduk di sana ramah. Mereka menawarkan apa saja yang mereka punya kepada kami, gratis. Baik itu makan, penginapan, minuman, atau berjalan-jalan ke tempat yang indah.

Ah, ramah nian Aceh Selatan sekarang ini. Perilaku penduduknya menambah indah sajian pemandangan alamnya. Kami dilayani bagaikan kaisar yang datang dari jauh, yang memberikan pertolongan segenap jiwa dan raga pada mereka.

Setelah berkeliling ke sana ke mari, kami memutuskan mandi di kali. Jalan menuju ke sana amat sangat tak mudah. Jalan rusak dan kanan kiri ada hutan. ”Waktu konflik dulu, tak ada yang berani ke sini karena pasti mati,” tutur Malik the Driver.

Wah, jadi deg-degan abis. Eh, siapa tahu masih ada sisa-sisa GAM yang menggila, lalu menghentikan dan menculik atau membunuh kami? Apalagi di tengah hutan seperti itu, di mana sinyal saja ogah mampir ke ponselku.

Setelah perjalanan yang –bagiku– mendebarkan itu, akhirnya sampailah kami ke sungai. Gile, bening betul sungai itu! Letaknya di puncak gunung Aceh Selatan. Semua penduduk mandi di situ. Tapi, jelas, mengingat perda syariat, tempat mandi pria dan wanita dipisah. Sembari berkolor kami pun menikmati segarnya air pegunungan yang masih sangat sangat asri itu.

Subhanallah….

Menikmati alunan Sungai Koto yang mengalir di atas gunung.

Menikmati alunan Sungai Koto yang mengalir di atas gunung.

Setelah puas bermain air murni, waktu menunjukkan pukul 7 malam. Tapi suasana masih terang. Kami kembali lagi ke kampung Koto, hendak menuju rumah Pak Keuchiek atau kepala kampung, tempat kami menginap malam itu. Setelah 30 menit perjalanan, sampailah kami ke rumah yang dituju. Tapi….

Rupanya estafet kesialan berpindah tangan. Ketika kami hendak turun, Ido, reporter SCTV itu, kehilangan yang paling berharga; ponsel Moto-Q 9, Nokia CDMA, I-pod, dan ID Card yang disimpannya dalam satu tas pinggang kecil. Dicari ke seluruh sudut mobil, tak ada juga. Akhirnya, sampailah kami pada kesimpulan; tas itu tertinggal di tepi sungai…

Waduh, malam-malam gelap, kami harus kembali ke tempat yang jalannya, waduh…..

Tapi, atas nama solidaritas, kami kudu kembali. Malik dengan skill menyetirnya yang luar biasa menerobos kegelapan hutan di malam Koto Manggamat itu. Aku pikir tak masalah, karena dia tentu kenal daerah itu.

Tapi, bayangan yang seram-seram tetap saja menemani kami selama perjalanan. Bagaimana kalau ada GAM? Bagaimana kalau ada harimau Sumatera, yang kata penduduk, sehari sebelum kami datang menampakkan diri di kampung itu? Atau, bagaimana kalau ada hantu gentayangan dari korban pembantaian Manggamat? Waduh…

Begitu sampai di tepi sungai, keadaan gulita sangat. Kami cari ke sana kemari, tak ketemu juga. Halah. “Apes gue,” cuma itu yang bisa dikatakan Ido, lalu kami kembali ke kampung, kembali menembus jalan gelap yang diliputi tanda tanya itu.

Untunglah kami sampai kembali dengan selamat. Ketika kami sampai, si Malik membuat pengakuan, ”Sebenarnya, Bang, saya tadi takut luar biasa. Saya belum pernah ke situ.” Lhadalah! Malik yang aku kira paham medan ternyata takut juga…
Tapi, untunglah kami tak apa-apa.

Setelah semalam di rumah Pak Keuchiek, kami melanjutkan perjalan ke Kluet Utara. Di situ acaranya masih sama dengan Kluet Tengah. Yang membedakan hanya, di setiap gampoeng kami disambut upacara adat sebagai ucapan selamat datang khas masing-masing desa.

Kami benar-benar seperti dirajakan. Hidangan tak pernah ada habisnya. Seluruh penduduk tersenyum ramah. Perbincangan antara kami dengan penduduk, yang baru saling mengenal itu, langsung klik. otomatis akrab.

Dari semua kunjungan itu, kami merasa, Tanah Rencong memang sangat indah dan ramah. Gara-gara aksi separatis lah masyarakat Aceh Selatan dulu terkesan sangar, nggak ramah blas. Tapi, setelah melihat langsung wilayah itu pascakonflik, kami harus mengakui bahwa Serambi Mekkah ini luar biasa ramah. Ya alamnya, ya manusianya.

***

Meulaboh

SETELAH pertemuan itu, kami kembali ke Hotel Chaterine di Tapak Tuan, menginap semalam di sana. Sabtu, 23 Januari, pagi, kami melanjutkan perjalanan ke Meulaboh. Kota yang pernah hancur lebur dihajar tsunami, akhir 2004 lalu. Aku pernah datang ke tempat itu dulu, ikut kapal bantuan TNI AL. Ketika itu memang luar biasa hancur. Tak ada yang tersisa dari Meulaboh kota tua waktu itu.

Setelah menempuh perjalanan 3 jam dari Tapak Tuan, sampailah kami di ibu kota kabupaten itu. Meulaboh sudah jauh berubah. Setelah dihantam tsunami, kota ini tak lagi mati. Malah jauh lebih modern. Kalau sebelum bencana Meulaboh hanyalah kota tua yang didominasi rumah kayu khas Aceh, setelah bencana disulap jadi kota modern, di mana seluruh bangunannya modern juga. Benar-benar terjadi metamorfosa total. Bahkan ada juga tempat karaoke keluarga di sana. Tapi, tetap saja, berhubung Meulaboh masih di Aceh, jangan berharap menemukan alkohol di sana, biar hanya bir sekali pun.

Kami bermalam di Hotel Tiara, yang berdiri di pusat kota. Setelah rehat sejenak, kami berkunjung ke titik di mana tsunami dulu paling parah. Sebuah pantai yang landai di ujung utara kota.

Monumen Tragedi Tsunami, Meulabouh.

Monumen Tragedi Tsunami, Meulabouh.

Ada monumen peringatan tragedi tsunami di sana, lengkap dengan peringatan bahaya tsunami. Tapi, terlepas dari bayang-bayang bencana, sumpah, pantai itu luar biasa indah. Apalagi ketika dinikmati saat matahari terbenam. Ah, malam minggu kami ketika itu terasa begitu sempurna, dicumbu panorama dan angin pantai Meulaboh…

Setelah puas bercumbu dengan alam, kami rehat ke hotel. Minggu pagi kami harus kembali ke Medan bersama Susi Air lagi, untuk selanjutnya naik Garuda ke Jakarta.

Cerita tentang Aceh kami rekam baik-baik dalam memori otak dan foto kami, malam itu di kamar nomor 201 Hotel Tiara, Kabupaten Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam.

Kembali ke Polonia, Lalu Jakarta

Setelah beristirahat, Minggu siang itu kami harus menghadapi tantangan lagi; naik pesawat Susi Air!

Cuaca sedang buruk. Awan tebal betul, setelah semalaman hujan deras mengguyur kota pantai Meulaboh. Kami selalu berdoa agar Tuhan sudi memberi kami selamat.

Setelah perjalanan 30 menit dari Meulaboh, sampailah kami ke Bandara Cut Nyak Dien, Nagan Raya. Berpisahlah kami dengan Malik, sopir rock n roll itu.

”Abang, nanti kalau datang ke sini lagi, telepon saya lagi. Saya ajak Abang menjelajah Aceh Selatan.” Ajakan yang aku rasa tulus. Terus terang, ada sedikit suasana haru dalam perpisahan itu.

Kami pun masuk bandara, sementara Malik dan Agam memacu mobilnya masing-masing, kembali ke Tapak Tuan.

Dan…

Alangkah syoknya kami ketika ternyata pilot pesawat kami adalah seorang perempuan bule! Piawaikah dia? Sanggupkah dia membawa kami selamat sampai Polonia?

Apalagi, setelah mendapati kenyataan kalau si pilot masih berstatus magang. Untuk mengendalikan pesawat pun dia butuh buku panduan. Instrukturnya tak henti-henti memberi masukan. Kami menatap langit sebelum take off, mendung tebal sekali.

Ya Allah, bimbinglah perjalanan kami…

Pesawat lepas landas dengan goncangan yang tak wajar. Yah, mungkin karena pilotnya perempuan, magang lagi. Tapi, untunglah sampai setengan jam perjalanan semuanya baik-baik saja. Kami sukses menembus awan.

Si Ido, yang baru saja kehilangan ponsel, merekam semua yang terjadi dalam pesawat itu dengan ponsel lamanya yang sudah di-flight mode. Dan, damput, dia merekam muka pucatku selama di pesawat!

Ketika sudah dekat Polonia, terjadilah yang kami khawatirkan. Goncangan pesawat luar biasa sangat, ketika coba menembus awan gelap yang tebal itu. Beberapa pesawat naik-turun mendadak, seperti kehilangan kendali. Radio komunikasi sempat gangguan.

Berani potong leher, tak ada satu pun penumpang waktu itu yang tak pucat. Si Ido, yang ngambil gambar, bahkan merekam mukanya sendiri yang luar biasa pucat!

Tuhan… Tolonglah kami….

Sekitar 30 menit kami mengalami kejadian menegangkan itu. Pesawat seperti diombang-ambing di antara awan gelap. Ketika hendak mendarat pun, si pilot tampak kesulitan. Beberapa kali dia berputar-putar, sebelum akhirnya mengempaskan pesawat yang kami tumpangi dengan goncangan yang hebat ke landasan pacu Bandara Polonia Medan.

Alhamdulillah… Kami selamat!

Setelah menenangkan diri, kami langsung check in untuk pesawat Garuda yang take off pukul 16.50. Setelah itu kami berkeliling mencari oleh-oleh untuk Jakarta.

Setelah menunggu dan berbincang-bincang di antara kami, membahas segala keindahan dan keramahan Aceh, kami pun boarding pass. Tak lama kemudian, pesawat membawa kami menuju Jakarta, bersama cerita tentang Aceh, Malik, dan orang-orang lainnya.

Indah nian Tanah Rencong. Teurimong Gaseh, Aceh.

Suatu saat nanti, aku akan kembali untuk mencumbui kepingan-kepingan surgamu. Bersama terkasihku.

Meulaboh_Sore

Senjaku di Pantai Meulabouh.

Advertisements

6 thoughts on “Selayang Kenang dari Aceh

  1. saya nggak baca sampai akhir, keburu mengumpat dalam hati “Shit! gue baru ngalamin kemaren!” batal baca sampai lanjut karena terlalu takut menemukan hal yang sama lagi.. masih trauma hahaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s