Menempuh Jarak, Melihat yang Tak Tampak

Catatan dan ingatan seorang mantan jurnalis

writing_a_letter

KETIKA memutuskan berkecimpung di dunia jurnalistik, jarak dan waktu rasanya tak ada apa-apanya. Tiapkali datang perintah dari atasan, zap, langsung melesatlah saya. Tak peduli kapan dan di mana, yang penting berangkat dulu.

Kejadian ini berlangsung sekitar bulan Mei 2006 lalu. Waktu itu Piala Dunia Jerman hendak dihelat. Belum juga gempar gegap gempita pesta bola sedunia itu dimulai, eh, ada kejadian yang jauh lebih menggemparkan lebih dulu: Klaten dan Yogyakarta diamuk gempa! Ratusan orang tewas tertimpa reruntuhan bangunan.

Waktu itu saya masih ditempatkan di desk Jawa Timur, sebagai wartawan di eks Karesidenan Madiun, wilayah Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Kebetulan, itu kampung saya sendiri.

Waktu Yogyakarta digoyang gempa, ada kabar di Kabupaten Pacitan juga kena dampaknya. Pacitan adalah wilayah paling selatan eks Karesidenan Madiun, tapi dari Madiun, tempat saya ngepos, masyaAllah jauhnya. Kalau kita naik motor, sampai bosan duduk di sadelnya, masih belum sampai juga.

Ada telepon dari komandan di Jakarta, saya harus langsung pantau lokasi saat itu juga. Pagi-pagi, belum sempat gosok gigi alih-alih sarapan, belum sempak memanaskan mesin motor Yamaha Vega R saya, langsung saya cabut menyusuri rute sejauh 120 kilometer itu. Saya hanya berbekal doa dari Ibu.

Sekitar pukul 06.00 WIB saya cabut, menempuh perjalanan di pagi yang masih malas. Saya pacu kecepatan termaksimal untuk kendaraan yang belum diservis (maksimal 80 kilometer per jam), menembus jalanan utama penghubung Ponorogo-Pacitan yang masih “purba”. Jalannya berkelok-kelok, naik turun, tak ada pengaman pembatas antara jalan raya dan jurang, bukitnya rawan longsor.

Jalur Ponorogo-Pacitan, di Kecamatan Arjosari, Pacitan, yang rawan longsor.
Jalur Ponorogo-Pacitan, di Kecamatan Arjosari, Pacitan, yang rawan longsor.

Alhamdulillah, saya tidak apa-apa. Pukul 09.00 pas saya sampai dengan selamat di kampung halaman Presiden SBY itu. Sampai di sana, saya sedikit “kecewa”. Ternyata, apa yang terjadi di pacitan tak semengerikan apa yang saya bayangkan. Yang rusak cuma sedikit, tak ada korban jiwa. Gempa nggak ngaruh di situ.

Saya pulang ke Madiun dengan lunglai. Saya menyempatkan diri sarapan di Pacitan, dan langsung cabut pulang. Saya naik motor kurang lebih tiga jam lagi. Sampai di rumah tidur sebentar, agak sore terbit lagi buat mengisi halaman reguler, sekaligus kirim laporan dari Pacitan yang tak begitu menggemparkan itu.

***

KEESOKAN harinya, tiba-tiba kakak di Sidoarjo telepon, butuh bantuan adik tercintanya ini. Pagi itu, cepat-cepat saya tuntaskan liputan, kirim berita, langsung wussss, geber motor meluncur ke Sidoarjo. Jaraknya sekitar 160 kilometer.

Sore harinya saya sampai.

Setelah urusan kelar, sekitar pukul 00.30 WIB, saya tidur dan bercita-cita pulang ke Madiun, karena hari itu tidak libur dan saya harus menyelesaikan tugas.

Tapi, pukul 02.00 WIB, ponsel saya menyanyi. Kode areanya 021. Walah, sudah pasti dari Jakarta. Tugas lagi.

Benar, waktu saya angkat telepon, redaktur langsung mengeluarkan titah: besok pagi saya harus sampai Klaten. Wartawan di sana masih baru dan tidak bisa meng-cover area liputan yang porak poranda. Saya dipilih karena pos saya, Madiun, paling dekat dengan Jateng, di mana Klaten berada. Kala itu, tentu redaktur mengira saya di Madiun. Padahal saya di Sidoarjo.

Berhubung yang merintah komandan, saya hanya bisa ho-oh. Pagi-pagi buta saya pamitan ke kakak –yang bingung kenapa saya mendadak pamit, sedangkan dia dalam keadaan setengah bangun– dan langsung geber motor menuju Klaten. Saya hanya berbekal bismillah.

Jarak Sidoarjo-Klaten sekitar 300 kilometer dan saya harus naik motor. Padahal, sumpah, saya tidak tahu di mana Klaten! Mata masih ngantuk, badan remuk, tapi dedikasi saya (waktu itu) mengalahkan semuanya, hehehe…

Saya hanya memacu motor lurus, ke arah Jateng, sambil di setiap kota tanya orang “Klaten arah mana?”. Selama perjalanan, saya juga cuma bisa “mbatin”, kok gak sampai juga ya?

Berhubung Klaten wilayah kecil, yang gerbang selamat datangnya tidak begitu ngejreng, dan saya masih ngantuk, motor saya bablas sampai Yogya. Waktu saya sadar ada yang tidak beres dengan rute yang saya tempuh, saya berhenti sebentar tanya orang. Jawabannya: “Oalah Mas, Mas. Sampeyan kebablasan…”. Masyaallah…

Saya putar balik motor dan, alhamdulillah, akhirnya ketemulah Klaten.

Sampai situ masalah belum selesai. Saya tidak tahu di mana lokasi gempa paling parah, yang namanya Desa Wedi dan Gantiwarno. Di tengah bingung dan banyak orang panik, saya mendapat petunjuk; ada ambulans! Hakul yakin, kendaraan medis itu pasti sampai lokasi paling parah.

Insting saya benar! Alhamdulillah… Saya sampai di lokasi. Saya lakukan tugas peliputan saya seperti yang diperintahkan komandan.

Liputan beres, data beres, foto beres. Sepertinya semua beres. Tapi… ternyata belum.

Saya tidak bisa menemukan jalan keluar lokasi. Waktu masuk, saya ikut ambulans melewati jalan yang rutenya sudah hancur. Saya bingung harus keluar lewat mana? Saya tidak sempat menghapal rute, karena terburu-buru menguntit ambulans.

Saat saya selesai, ambulansnya malah sudah ilang. Tanya relawan, eh, mereka juga tidak tahu. Tanya korban, dijawab “waduh, awakku remuk kabeh…”

Akhirnya, cuma ada satu jalan; saya telepon redaktur, tanya siapa teman yang pos di Klaten. Dapatlah saya nomor rekan. Saya hubungi dia, seorang wanita, tapi kami belum pernah bertemu muka. Saya sepakat menunggu di posko Wedi.

Lama saya menunggu, yang ditunggu tak juga datang. Saya telepon dia berkali-kali, ealah, ternyata dia juga sudah nunggu di depan posko dari tadi! Harap maklum, kami belum pernah bertemu.

Akhirnya kami berhasil keluar lokasi dan meluncur ke Sukoharjo, cari warnet. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari klaten. Berita terkirim. Tugas hari itu tuntas.

Tapi…
Saya belum mendapat penginapan..

Beruntung teman itu memberi saya tumpangan semalam. Ah, akhirnya saya istirahat juga. Badan letih. Pikiran juga. Saya paksakan malam itu tidur, sambil menebak-nebak apa yang bakal terjadi besok…

Prambanan yang meranggas diterjang gempa.
Prambanan yang meranggas diterjang gempa.

***

SETELAH hari yang melelahkan itu…:

Pagi-pagi betul saya bangun. Kata Ibu, sejak masih orok saya paling tidak bisa tidur nyenyak kalau sedang bertamu, secapek apapun. Sekitar pukul 05.30 saya sudah membuka mata, setelah tertidur pukul 03.00 sebelumnya.

Saat itulah saya baru sadar, kalau saya sedang menginap di sebuah keluarga yang benar-benar Jawa. Yang masih memegang teguh prinsip “tamu adalah raja”. Saya betul-betul di-“raja”-kan.

Begitu mata melek, sudah ada kopi panas dan sarapan pagi siap di atas meja makan, spesial untuk saya. Sementara untuk tuan rumah sendiri malah belum siap. Saya dipersilahkan mencicipi hidangan itu, ditemani teman saya. Dengan gaya yang tak kalah rikuh, saya nikmati sajian itu.

Setelah mata seger, mandi, saya berangkat lagi untuk menunaikan tugas dari komandan. Dari Sukoharjo, saya pacu motor Yamaha Vega R orange saya yang setia itu, sejauh 30 kilometer ke barat menuju Klaten. Setelah sempat istirahat dan dapat suntikan energi itulah saya baru sadar, ternyata tempat yang sempat saya sambangi sehari sebelumnya itu benar-benar hancur rata dengan tanah.

Orang-orang yang kebetulan selamat sibuk mengais-ngais sisa-sisa reruntuhan bangunan rumah, kantor, masjid bahkan kandang ternak, berharap menemukan yang masih tersisa dari amuk alam itu. Tapi, yah, mereka tidak mendapat apa-apa. Semuanya hancur.

Desa Gantiwarno, nama desa yang hancur itu, benar-benar “ganti warno” alias berganti warna. Desa yang makmur sebagai sentra tanaman bawang itu bersalin muka jadi hamparan padang puing. Sebelum gempa, desa yang, menurut data Pemkab setempat, makmur itu, di mana rata-rata warganya punya mobil pribadi, minimal sepeda motor, dan hasil bumi melimpah, hanya menyisakan nol besar.

Desa Gantiwarno yang remuk pasca-gempa.
Desa Gantiwarno yang remuk pasca-gempa.

Bahkan tak sedikit dari mereka yang memutuskan “banting setir” jadi pengemis, berharap belas kasih orang yang –entah kenapa—berduyun-duyun sengaja datang dari luar kota untuk menikmati “wisata kehancuran” itu.

Yang membuat saya miris, para “wisatawan” itu tampak menikmati betul trip mereka. Dari dalam mobil, mereka lemparkan “oleh-oleh” makanan dan pakaian bekas, yang diterima dengan sukacita , bahkan sampai berebut, oleh warga (entah benar-benar korban gempa entah hanya oknum pemalas yang sengaja menunggangi situasi itu), seolah-olah mereka mendapatkan berkah.

Saya jadi ingat ketika pengunjung Kebun Binatang Surabaya (KBS) melempar kacang ke kandang monyet. Primata itu pasti berebut. Tapi tentu saja mereka yang di Klaten itu bukan monyet.

Tentang para peminta-minta itu, sebagian besar mereka mengaku memilih melakukan itu karena pemerintah setempat tak juga menyalurkan bantuan. Mereka mengaku kelaparan dan kedinginan. Bahkan, untuk memenuhi perut dan menghangatkan diri, kalau tidak juga ada yang memberi,mereka tidak segan-segan meminta paksa.

Saya sendiri nyaris jadi korban, ketika segerombolan pemuda dan anak-anak berpakaian lusuh dan luka seperti korban gempa (entah mereka benar-benar korban gempa atau oknum), mendatangi saya dan berusaha merebut tas saya yang berisi bekal, kamera, notes, ponsel dan alat peliputan lainnya. Beruntung saya berhasil menyelamatkan hak saya itu.

Melihat kondisi tak wajar itu saya coba ke posko bantuan, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pak ketua panitia penyalur bantuan pasang tampang tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Ketika saya coba menanyakan apa yang terjadi, kok sampai banyak pengemis dadakan, dia menjawab “Ah, itu orang yang coba memanfaatkan situasi. Coba sampeyan lihat sendiri, bantuan sudah didistribusikan semua. Itu orang dari luar yang coba cari keuntungan…”

Dia menerangkan sembari menunjukkan daftar warga penerima bantuan yang disetorkan kelurahan, lengkap dengan tanda contreng yang menandakan si warga sudah dapat bantuan semua. Tapi sejauh mana validitas data itu saya belum sempat cek sendiri karena waktu saya memang sangat terbatas.

Mana yang benar? Sampai saya di Jakarta, bahkan sampai pensiun dini sekarang, tabir pertanyaan itu belum terkuak juga. Siapa yang menunggangi situasi belum terungkap jelas. Yang pasti, dalam situasi yang serba porak poranda itu ada oknum yang curi-curi kesempatan. Entah itu oknum pemalas atau oknum aparat penyalur bantuan.

Saya beri contoh lagi fenomena yang menunjukkan kalau benar-benar ada oknum di tengah gonjang-ganjing itu: ketika pemerintah mengeluarkan pengumuman besarnya bantuan untuk korban dihitung dari tingkat kerusakan rumah, orang-orang yang rumahnya rusak tak begitu parah buru-buru membongkar sendiri rumah mereka! Harapannya, jelas, dengan rumah yang rusak parah –yang dirusak “swadaya”– besarnya duit yang akan diterima jauh lebih besar.

Ah, jika mengingat fenomena itu, saya jadi mahfum, mencari untung itu tak peduli situasi. Apa pun kondisinya, selalu saja ada yang namanya oknum, yang berupaya menggemukkan kantong dan perut. Bahkan di zaman sekarang kita hidup, oknum-oknum tanpa malu itu terus menerus menggali laba, apa pun caranya.

Selama dua pekan lebih saya di Klaten dan Yogyakarta, pelajaran tentang meraup untung gelap mata itulah yang paling terpatri di otak saya, sekaligus membuat saya benar-benar miris. Celakanya, sampai sekarang, saya harus terus menerus menemui orang-orang seperti itu. Keuntungan tak jarang membuat orang gelap mata dan mati nurani.

Jalan yang dirusak gempa Desa Pondong, Bantul DIY.
Jalan yang dirusak gempa Desa Pondong, Bantul DIY.

***

SELAIN tentang upaya meraih untung serampangan, ada lagi pelajaran yang saya timba dari pengalaman saya di Klaten dan Yogyakarta itu. Segala sesuatu itu harus direncanakan matang. Melakukan hal yang kontinu tanpa rambu-rambu, itu sama artinya buang-buang waktu dan uang. Juga tenaga.

Untuk menyusun rencana sip, minimal harus tahu dulu apa yang akan kita lakukan, bagaimana kita melakukannya, dan di mana tempat kita melakukan itu. Kalau tidak bisa-bisa konyol, persis seperti apa yang saya alami ketika itu.

Memang, waktu berangkat ke lokasi gempa itu serba mendadak. Dari awal saya berangkat tanpa perencanaan. Lha wong perintahnya juga mendadak.

Saya tidak menyusun rencana, padahal sebelumnya saya belum tahu lokasi itu seperti apa, dan apa yang harus saya lakukan agar semuanya bisa tepat. Saya asal berangkat, sementara saya sendiri tidak tahu mana yang saya tuju.

Akibatnya, ya jelas, saya kesasar-sasar. Saya tidak membaca peta dulu di mana persisnya Klaten, saya geber motor. Akhirnya saya kebablasan sampai Yogyakarta. Tapi, saya sadar, itu konsekuensi dari tiadanya perencanaan.

Sepanjang liputan, saya fokus pada objek liputan. Dan Alhamdulillah, saya tidak pernah menerima komplain dari komandan soal itu. Tapi bagaimana saya hidup selama di sana? Inilah yang luput dari perencanaan. Jadinya, karut marut dan buang-buang energi plus duit.

Berhubung saya berangkat tanpa rencana, saya kepontalan. Sampai di lokasi saya tak tahu harus ke mana (kendati akhirnya saya tahu harus ke mana). Nah, begitu tugas liputan selesai, saya juga tidak tahu harus ke mana. Saya tak punya saudara di situ, dan saya belum booking penginapan. Sampai akhirnya saya harus membuang malu nunut di rumah teman perempuan selama semalam.

Tapi, keesokan harinya, saya bertekat tidak akan mau lagi menyusahkan teman dan keluarganya yang sangat baik hati tersebut. Saya harus mencari penginapan. Tapi di mana? Itu juga belum saya rencanakan. Saya tidak kenal daerah itu. Sama sekali asing bagi saya. Kalau mau apa-apa atau ke mana, saya harus meraba-raba.

Akhirnya, saya memutuskan menginap saja di penginapan di Solo, yang dekat dengan Sukorharjo. Karena, saat itu yang saya tahu hanya jalur Klaten-Sukoharjo. Sukoharjo-Solo sekitar 20 kilometer. Dengan bantuan seorang teman reporter televisi swasta, saya mendapat penginapan di Solo.

Selama hampir seminggu saya pulang pergi Solo-Klaten, sekitar 40-an kilometer jauhnya. Kalau pulang pergi, jadinya sehari saya harus menempuh jarak 80 kilometer. Itu belum termasuk jarak yang harus saya tempuh di Klatennya sendiri, saat saya mengobok-obok informasi dari daerah itu. Sehari rata-rata 100-an kilometer lah totalnya.

Dan ketika saya bertemu kawan akrab saya, yang juga wartawan koran dan kebetulan juga ditugaskan dari Madiun untuk meliput Yogyakarta, saya baru sadar, kalau keputusan saya menginap di Solo itu bodoh.

Kenapa? Ya karena, ternyata, Klaten-Yogya jauh lebihdekat dari Klaten-Solo. Jaraknya kurang dari 20 kilometer! Dan teman saya itu menginap di Yogya selama tugas. Tahu saya menginap di Solo, teman saya itu cuma tersenyum dan berkomentar; “Bodo ente. Hehehe…”

Akhirnya, dengan semangat efisiensi yang dibumbui rasa malu karena salah ambil keputusan tanpa perencanaan, saya ikut ke penginapan tempat teman saya menginap. Ternyata benar-benar dekat dan efisien.. Yah, tapi memang ini adalah situasi yang harus saya alami setelah mengambil keputusan dengan cara grusa-grusu..

Perencanaan itu perlu. Kalau sebelum berangkat saya baca peta dulu, saya paham situasi dulu, dan setelah itu menyusun rencana apa yang akan saya lakukan di sana dengan matang, tak perlu saya buang-buang banyak ongkos dan tenaga. Jatah bensin untuk menempuh jarak 60 kilometer seharusnya bisa saya tabung kalau saya menginap di Yogya dari awal. Dan tentunya badan saya tak juga remuk.

Memang, waktu awal datang saya sempat kebablasan ke Yogya. Tapi ketika itu saya belum bisa menaksir jarak Klaten-Yogya, sehingga mengambil keputusan menginap di Solo. Gara-gara, ya karena grusa-grusu itu. Serampangan.

Tentang perencanaan ini, saya jadi ingat sejarah invansi Sparta ke Troya. Si raja Sparta ketika itu maunya menyerang saja Troya, tanpa perencanaan. Mereka hanya bawa amunisi sebanyak-banyaknya, beratus-ratus armada kapal, tapi mereka tidak membekali diri dengan strategi dan rencana. Akibatnya, sampai berhari-hari mereka gagal masuk jantung kota, meski mereka sudah membawa prajurit super handal bernama Achilles.

Dalam keadaan nyaris putus asa, untungnya ada Odysus, Raja Itaca yang tunduk pada imperium Sparta. Dia punya rencana brilian dengan taktik Kuda Troyanya. Dia memasukkan prajurit Sparta, termasuk Achilles, ke jantung Kota Troya dengan cara menyelundupkannya ke dalam patung kuda raksasa, yang tidak dianggap berbahaya oleh laskar Troya. Kota Troya pun berhasil dihancurkan. Dengan perencanaan yang mempertimbangkan situasi, kondisi dan amunisi, Sparta akhirnya jadi juara.

Perencanaan, perencanaan, perencanaan. Meski berbekal kekuatan luar biasa, seperti saya berbekal ketahanan fisik saya yang kebetulan prima saat ditugaskan ke Klaten, atau seperti pasukan Sparta yang membawa amunisi yang kekuatannya luar biasa untuk menyerbu Troya, tanpa perencanaan, semuanya bakal konyol.

Setelah dua minggu dinas luar kota, saya pulang ke kampung halaman sekaligus pos liputan saya. Sembari saya menyusun perencanaan bagaimana saya ke depan nantinya. Tapi sampai sekarang sebagian besar perencanaan itu sulit terealisasi karena berbagai macam variabel.

Dan rencana-rencana yang gagal itu akhirnya membuat saya harus mengambil keputusan; pensiun dini, per 1 Desember 2010.

Si Kurus yang pensiun dini.
Si Kurus yang pensiun dini.

 

Advertisements

14 thoughts on “Menempuh Jarak, Melihat yang Tak Tampak

      1. Lho, kalo definisi orang bekerja itu datang ke instansi, absen, dan menerima gaji tiap bulan, berarti saya pengangguran. Hahaha… Wong kerjaane cuma nulis, ngedit, sama naik gunung kok.. :p

  1. gempa 2006, masih jadi mahasiswa yang sedang berada di Jogja. Siapa sangka ada gempa, yang bikin panik satu kosan. Kocar kacir, panik, gak ada sinyal buat hubungin keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s