My Beloved Nicotine

Aku menemukan cinta dalam rokok.

DALAM situasi mental yang sedang berat, dalam sehari aku bisa menghabiskan 32 batang rokok mild, alias dua bungkus.

Kebiasaan ini sudah aku mulai sejak duduk di kelas II SMP –sekarang disebut kelas VIII– sekitar tahun 1995 lalu. Jika terhitung dari start itu, hingga sekarang aku telah 18 tahun menjadi perokok aktif. Aku pun semakin jatuh cinta pada zat yang dibawanya, yang disebut nikotin itu.

Awalnya aku merokok karena pergaulan. Dari dulu, aku lebih senang bergaul dengan mereka yang lebih dewasa. Sebab, aku bisa mencuri ilmu dari mereka, baik teoritis maupun praksis. Dan di masa SMP-ku, aku banyak kumpul dengan mereka yang usianya beberapa tahun di atasku. Kebanyakan usia SMA. Mereka sudah mengenal rokok. Dari merekalah kukenal sedapnya lintingan tembakau.

Masa itu adalah ketika aku remaja. Masa yang, kata orang, seorang pribadi sedang berada pada puncak gelisah. Apalagi, di kala tersebut, aku mulai mengenal cinta monyet, yang membuat jiwa remajaku kian galau. Aku butuh sesuatu yang menenangkan. Dalam suasana itu, teman-temanku yang lebih tua menawarkan rokok padaku.

Selain dari pergaulan, jujur saja, keinginanku merokok tumbuh juga karena penasaran, setelah setiap hari melihat Bapak begitu menikmati kebal-kebulnya. Kakek dan Nenek, orangtua Bapak, pun perokok aktif. Bila boleh membela diri, mungkin kebiasaan merokok ini adalah kebiasaan warisan dari garis darah keturunan Bapak.

Pengalaman pertama menghisap tembakau itu, yang mungkin dialami kebanyakan perokok pemula, adalah seperti melakukan kebodohan. Asap kok diisap. Batuk-batuk, jelas. Tapi, di antara sesak dan batuk itu, secara sadar aku mulai merasakan ada ketenangan yang dihadirkan. Dan lama-lama aku menikmatinya. Sedak-sesak di awal langsung terlupakan ketika nikotin mulai menunjukkan kepiawaiannya memberi otak ketenangan dan rasa segar.

Sebelum untuk terus melanjutkan aktivitas merokok, aku yang dari kecil memang selalu dihantui rasa ingin tahu, mulai mencari-cari referensi soal benda nikmat satu itu. Dan menurut beberapa referensi yang kudapatkan, merokok juga memberikan banyak efek positif.

Setiap menghisap rokok, nikotin akan masuk ke dalam paru paru, selanjutnya diserap ke dalam aliran darah. Hanya dalam waktu 8 detik, nikotin sampai ke otak dan mengubah kerja otak. Proses ini berlangsung cepat, karena nikotin bentuknya mirip dengan acetylcholine, zat yang terdapat di dalam otak. Jadi, nikotin dan otak ini layaknya sejoli. Cocok.

Dari otak, selanjutnya nikotin akan meningkatkan denyut jantung dan frekuensi pernafasan. Nikotin juga akan meningkatkan kadar gula darah. Inilah menyebabkan seorang perokok akan merasa lebih segar setelah merokok. Dan salah satu sisi baik nikotin pun kudapat.

Nikotin di dalam sel saraf otak juga akan merangsang pengeluaran dopamin. Zat ini dapat meningkatkan rasa puas, nyaman dan kesenangan. Pada orang normal, efek dopamin biasanya dicetuskan oleh makanan, rasa nyaman, dan kasih sayang pada orang yang dicintai. Itulah sebabnya, perokok merasakan kenikmatan pada saat menghisap.

Jadi, aku telah menemukan jawaban untuk keresahanku; nikotin yang diam di dalam lintingan tembakau. Aku menemukan alasan rasional untuk meneruskan aktivitas merokokku.

Tapi, di masa debut sebagai perokok, aku melakukannya sembunyi-sembunyi. Jelas saja. Lingkungan kita memandang aneh seorang bocah 12 tahun, dengan celana pendek biru tuanya, petentang-petenteng di pinggir jalan sembari jari tengah dan telunjuknya menjepit rokok yang menyala. Tapi aku membutuhkannya.

Aku nyandu dan aku punya penjelasannya. Dalam 40 menit, setengah dari efek dopamin atau zat penenang rokok, akan hilang. Nah, saat inilah timbul keinginan untuk mengisap satu batang rokok lagi. Inilah mengapa seorang perokok akan terus merokok tanpa putus, untuk mendapatkan konsentrasi dopamin yang mereka inginkan di dalam otak. Mendapatkan ketenangan tentunya. Manusia mana yang tak ingin tenang? Termasuk aku di remajaku dulu.

Berhubung tak punya uang untuk membeli rokok, aku biasanya patungan dengan teman sesama perokok debutan. Beli rokok eceran, dan tiap batangnya digilir untuk 3-4 mulut. Dalam bahasa kami waktu itu, berbagi sebatang rokok disebut “inden”.

Kala itu kesukaan kami adalah Gudang Garam Internasional, alias Garpit kata orang Sunda atau Jakarta, dan biasa disebut Gudang Garam mini di Makassar juga Medan. Alasannya sederhana, karena tembakau dalam rokok itu padat dan tak cepat habis meski harus digilir banyak mulut. Murah lagi. Kala itu sebatang hanya lima puluh rupiah.

Biasanya kami merokok di sekitaran tanah lapang atau kuburan di dekatnya, untuk menghindari radar orangtua kami. Bapakku jelas belum mengizinkan, karena persoalan kepantasan dalam umur, kendati beliau adalah perokok yang superaktif. Ibuku, apalagi.

Setelah dua tahun menikmati nikotin secara gerilya, akhirnya SIM kudapatkan dari Bapak dan Ibu. Bukan Surat Izin Mengemudi, tapi Sahnya Izin Merokok, istilah kami ketika itu. Itu kudapat kala aku duduk di kelas I SMA, atau kelas X untuk hitungan kini.

Kudapatkan SIM itu setengah “memaksa”, setelah beberapa kali Bapak harus bolak-balik ke ruang Bimbingan dan Penyuluhan, untuk membahasku yang beberapa kali terpergok merokok di areal sekolah barengan kawan satu geng. Akhirnya Bapak dan Ibu berkesimpulan, daripada dilarang tapi aku nekat dan itu membuat mereka pening, izin pun turun. Alhamdulillah….

Dan inilah aku sekarang. Perokok berat. Dan, alhamdulillah, aku belum pernah kesandung masalah medis terkait rokokku. Semoga saja tidak. Aku merokok dan merokok untuk beberapa alasan.

Guliran usia yang terus bertambah memberi kian banyak tanggung jawab, yang tak jarang membebani pikiran. Ketika itulah nikotin hadir menyelamatkanku. Setelah beberapa batang, biasanya solusi untuk semua masalahku akan datang dengan sendirinya. Sepertinya mereka dipanggil paksa oleh nikotin. Dan aku berterimakasih padanya untuk itu.

Beberapa orang dekat memprotes kebiasaanku itu. Kata mereka, aku bisa mati muda dengan intensitas merokokku yang seperti sekarang. Tapi, untunglah saya bukan orang musyrik. Aku masih percaya hidup-mati seseorang itu Tuhan yang menentukan, bukan rokok. Toh, banyak juga orang yang tak merokok tapi mati muda juga. Umur manusia itu mutlak urusan-Nya. Dan itu rahasia pribadi-Nya.

Dan aku tetap merokok sampai sekarang. Dia memberiku ketenangan yang sangat, di samping salat dan zikir. Menurutku, nikotin adalah salah satu bentuk kenikmatan Tuhan yang sayang jika didustakan.

Selain itu, dengan merokok, aku juga ikut membantu kelangsungan kehidupan buruh linting pabrik rokok. Ada ibadah yang tak langsung, menurutku. Aku juga menyumbang negara melalui cukai rokok yang harus kubayar. Jadi, apa salah perokok? Mendapatkan ketenangan sekaligus memberikan sumbangsih untuk buruh rokok dan negara, kupikir bukan perilaku yang buruk.

Dengan cara pandang itu, aku menikmati rokokku sampai sekarang. Sebab, sejauh ini hanya zat di dalam rokok yang mampu memberiku ketenangan yang tulus. Tak seperti beberapa orang yang pernah dekat itu, memberikan ketenangan sesaat, tapi tuntutannya bersaat-saat.

Kalaupun aku harus berhenti merokok, aku hanya punya satu alasan untuk itu; ada seseorang yang bisa memberikuku alasan kuat untuk berhenti mengonsumsi nikotin. Yang bisa memberiku ketenangan yang kontinu dan tak banyak menuntut, lebih dari yang dipersembahkan oleh nikotin untukku selama ini.

Dia juga selalu menghindarkanku dari situasi kering ide. Dan untuk menyelesaikan celoteh singkat ini saja, kuhitung sudah ada empat puntung yang teronggok di asbakku.

Dari nikotinku itu, aku hanya butuh ketenangannya. Rokok bersama nikotinnya adalah separuh napasku, meminjam istilah dalam salah satu hits Dewa 19 itu. Seperti kudapatkan cinta yang tulus darinya. Untuk aku bisa berpikir jernih. Berkarya. Berbuat. Dan melangkah.

Sudah, itu saja.

Lukis Narsis

Narsis Yo Ben!

Advertisements

5 thoughts on “My Beloved Nicotine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s