Politisi Genit di Minggu Pagiku

Rayuan yang pasti gagal.


PAGI-pagi kedatangan orang yang tak diharapkan itu ‘wow’ banget. Apalagi ketika kunikmati pagiku dengan kopi yang berwarna putih (akhirnya aku menyesal menyeduh kopi ini. Aku terpaksa menyeduhnya lantaran terbujuk iklan. Sensasi kopinya tak ada sama sekali. Sial).

Tiba-tiba di depan rumah berhenti sebuah Toyota Fortuner warna putih bersih. Siapa?

Pintu kanan depan terbuka. Seorang pria berumur 40-an, dengan dandanan perlente, turun. Begitu melihatku duduk sendiri di teras sembari menyimak berita koran yang kian membuatku bingung itu, dia spontan melempar senyum.

Ah, ternyata dia. Orang yang pernah kukenal semasa masih ada label “redaktur” pada namaku. Sebut saja namanya Sugeng.

“Hai, kabar baik, bos?” Sebagai tuan rumah, aku berusaha menyapanya seramah mungkin. Dengan mengumbar senyum, tentu saja. Kendati sebenarnya aku tak suka dengan kedatangannya. Aku merasakan sangat gejala kurang baik. Sinyal hati tak pernah keliru.

“Hahaha, selalu sehat bos. Bagaimana kabar sampean sendiri? Lama nggak muncul.” Bau wanginya langsung menyengat hidungku, dan aku langsung tak suka dengan pilihan aromanya.

Setelah jabat tangan ala kadarnya, kupersilakan dia duduk di kursi sebelahku yang kosong. Kursi yang terpisah meja kecil. Agar kami bisa sama-sama menghadap ke taman, memandangi tetumbuhan kecil yang diriangi beberapa burung gereja dan capung yang kebetulan mampir.

Aku lebih suka dihampiri oleh makhluk-makhluk Tuhan tak berakal budi, yang bermain riang di tamanku itu, sebenarnya. Daripada harus kedatangan makhluk berakal budi yang duduk di sebelahku sambil cengar-cengir yang menumbuhkan firasat buruk itu. Tapi, bagaimana pun juga dia tamu. Dan dia manusia. Aku harus memperlakukannya dengan sopan. Ada kepantasan yang harus aku tempatkan sebagai prioritas.

“Jadi, apa kegiatan sampean sekarang? Bisnis lancar?” Aku membuka percakapan sebagai tuan rumah, setelah kuminta Mbak Nur –pembantu yang sedang piket– menyeduhkan kopi untuknya.

“Yah, beginilah bos. Usaha masih stabil. Politik yang bikin dag, dig, dug.” Katanya.

Mbak Nur datang menyuguhkan kopi. Kupersilakan dia menikmatinya, sembari kunyalakan rokok. Semoga saja sensasi kopi palsu itu bisa mengalihkan perhatiannya dari tema yang mulai diarahkannya itu: politik. Aku tak begitu suka tema itu. Dan dia suka. Karena itulah, aku tak suka kedatangannya karena sudah pasti tema pembicaraan yang ‘harus’ kuikuti: politik.

“Sampean belum berubah ternyata. Masih idealis sekali,” katanya, sembari menaruh cangkir kopi di atas tatakan di meja.

Idealis? Idealis ndasmu! Batinku. Aku tidak idealis. Tapi, aku suka sekali usil, hehe.

“Ah, biasa saja bos. Ya dari dulu aku begini ini. Sampean tahu aku sudah lama kan.” Kulengkapi pernyataanku dengan senyum palsu. Perasaanku tambah nggak enak.

“Sekarang kegiatannya apa bos?” Dia balik melempar tanya.

“Hanya menulis. Biasa. Masih seperti dulu.”

“Berarti banyak waktu luang dong?” Tebaknya.

“Yah, begitulah. Saya hanya punya tanggung jawab yang harus diselesaikan hanya tiga hari dalam seminggu. Lainnya kosong, dan saya nge-blog. Sampean juga tahu sendiri.” Paparku apa adanya.

Dia memang mendapati alamatku ini dari blogku. Aku memang terbuka, memasang jelas semua kanal yang bisa menghubungiku dalam profil. Tapi, maksudku untuk memperluas ruang silaturahmi dengan orang-orang baru saja, bukan memberi pintu masuk untuk pengusaha yang iseng-iseng berpolitik –lalu kecanduan– seperti si Sugeng itu. Tapi, ya sudahlah, kadung terjadi. Pilihan untuk terbuka di dunia maya tak jarang memberi kita kejutan yang kurang menyenangkan.

“Kebetulan bos,” lanjutnya. Aku merespons pernyataannya itu dengan kernyit di dahi. “Kami butuh orang seperti sampean,” jawabannya untuk kernyitku.

“Maksudnya?”

“Ya sampean pasti tahu lah, partai sedang kocar-kacir. Butuh orang seperti sampean untuk propaganda dan rekonsolidasi,” bilangnya, lalu tersenyum lebar memamerkan gigi-geligi cokelatnya.

Anjing! “Propaganda” dan “konsolidasi” adalah diksi paling menjijikkan yang kudengar di pagi indahku ini.

Tapi tetap kupaksa senyum, demi predikat sebagai tuan rumah yang baik. “Ah, di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih mumpuni bos,” elakku. Dalam hati kuberharap dia benar-benar menangkap sinyal, bahwa sebenarnya jawabanku adalah, “tidak, terima kasih.”

“Tapi yang dari semua yang aku tahu, sampean yang paling pantas. Sampean juga kenal Pak Ketua bukan? Kami semua tak melupakan jasa baik sampean dulu. Dan kami menyediakan tempat yang pantas. Idealisme sampean cocok untuk partai kami,” rayunya, khas politisi. Tapi politisi goblok, kukira. Dia tak bisa menangkap bahasa politia penolakanku tadi. Malah tambah ngeyel.

Kebaikanku dulu? Ah, itu adalah kebodohan lain di masa laluku yang lugu. Bantuanku itu bukan ibadah. Tapi sikap untuk kepentingan kantorku yang butuh iklan saja. Dan sekarang aku menyesal karena telah melakukannya. Perbuatan baik untuk politik praksis partai itu adalah dosa besar pada kemanusiaan, setidaknya menurutku.

Kusenyumi lagi dia ala kadarnya. Lalu kuseruput kopi, yang diikutinya. Kunyalakan lagi sebatang tembakau. Kutatap capung yang mulai mengajak teman-temannya rekreasi ke tamanku yang mini. Enak betul jadi mereka. Tak perlu diribeti urusan politik.

“Maaf, bos, saya belum tertarik. Saya lebih tertarik nulis. Tulisan tanpa agenda praksis,” jawabku. Kali ini tegas. Aku memang tak pernah tertarik berpolitik. Mengotori tulisanku saja.

Dia diam. Dia tahu, sulit untuk menekukku ketika aku sudah menjatuhkan pilihan. Dia juga tahu iming-iming rekening tak akan menbuatku bergeming. Aku senang menulis, iya. Tentang yang terpantik dari ideku. Yang mengalir. Tulisan yang kubagikan. Bukan untuk kujual, alih-alih kulacurkan.

Bagiku, sebuah tulisan haruslah bersih dan tulus. Tulisan adalah sebuah pemberian untuk dunia, sebagai bentuk terima kasih pada Tuhan atas akal budi yang diberikan pada manusia. Sejauh ini aku masih merasa sebagai manusia.

Ketika tulisan lahir untuk “meminta”, seperti propaganda, bagiku itu adalah sebuah kemurtadan terhadap makna esensialnya. Karena itu aku menolak berpolitik praksis, apalagi dengan tulisan. Itu akan membunuh nuraniku dan keluhuran sebuah karya tulis.

Babakan selanjutnya kami putuskan untuk lebih banyak diam, menikmati kopi, nikotin, sembari memandangi tingkah kumbang-kumbang yang mulai berdatangan ke tamanku, dan mengusili para capung yang datang lebih dulu. Lucu. Tuhan memberi manusia banyak hiburan dalam semesta-Nya.

“Baiklah, kalau begitu. Kalau sewaktu-waktu berubah pikiran, pintu DPC selalu terbuka untuk sampean. Ada banyak kebajikan yang harus kita selesaikan,” dia masih berusaha merayu.

“Sepertinya tidak akan berubah bos. Bukalah pintu DPC untuk orang lain,” jawabku spontan demi pilihan yang sudah kujatuhkan.

Dia bilang kebajikan? Ah, tentu yang dimaksudnya kebajikan yang tak bijak.

Dia masih tersenyum. “Silahkan untuk sekarang. Tapi besok, siapa tahu?” Sugeng masih berusaha. Dan kubalas celetuknya dengan senyum.

Lalu dia berpamitan, setelah menghabiskan kopinya. Sebelum membuka pintu Fortunernya, dia berkata padaku, “Nomorku masih ada, bukan? Kalau butuh apa-apa jangan sungkan.” Halah, masih saja dia berusaha menawar.

“Yap, terimakasih. Tapi sepertinya saya masih belum butuh apa-apa bos,” masih sambil tersenyum, sebagai tuan rumah yang menghantar tamunya ke pintu pagar.

Mesin mobil mewah menyala, dan Sugeng berlalu dari pandangku. Aku cuma tersenyum sendiri. Lalu kukeluarkan ponsel dari saku kiri celana pendekku, kucari nomor yang menghubungiku semalam. Nomor Sugeng. Tanpa pikir panjang, nomor itu langsung aku cantumkan dalam daftar hitam yang akan selalu ditolak otomatis oleh operatorku.

Kulirik sekilas mentari yang sedang menuju Dhuha itu. Sepertinya dia tersenyum.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

2 thoughts on “Politisi Genit di Minggu Pagiku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s