Untuk Hujan pada Sepenggal Sabtu

Bukankah kita suka hujan…?

Rain 5574

MENDUNG itu kurasa sedang mengejekku. Aku yakin seyakin-yakinnya sekali soal itu. Aku melihat seringai di langit.

Mega-mega menebal dalam penampakannya yang flamboyan. Menggelantung kemayu dia, dicumbui angin sore Jakarta. Itu adalah sebuah Sabtu yang ambigu.

Kutuju pondokanmu dengan motor matic yang kubeli atas namamu. Agak enggan, memang. Tapi harus.

Ah, motor ini. Yang kupersiapkan khusus untuk kita nanti, setelah penghulu menyatakan kita sah. Kupacu dia dengan ragu.

Kala itu adalah sebuah Sabtu. Besok pagi ada pesawat tujuan Belanda yang harus kau kejar. Sementara kau belum berkemas. Kau harus pulang ke Bogor. Aku merasa harus mengiringmu dalam perjalanan sore yang enggan itu, karena kau telah memintaku untuk itu, dengan desah-desah manjamu.

“Kita bercumbu di atas motor kita, semalaman, sebelum enam bulan memisahkan peluk dan cium kita.” Rayumu itu, alamak…

Tapi, demi langit dan Bumi, sore itu aku merasakan firasat yang sangat menggigit. Suasana itu tak seperti Sabtu-Sabtu lain kala aku menjelangmu dengan riang.

Aku mengadu pada langit Sabtu itu; aku resah. Seperti ada sesuatu yang hendak beranjak. Seterusnya. Tanpa pernah bisa kembali.

Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Dan sepertinya langit abai pada curhatku. Gundahku ini, sepertinya, karena kita harus terpisah untuk waktu yang sangat lama. Tapi, sepertinya juga, resah ini hadir untuk sesuatu yang lebih dari sekadar ketakutan pada perpisahan jarak.

Tapi aku hanya membisikkannya pada mendung Sabtu itu. Dan kutitipkan sekelebat pada angin penyambut hujan. Aku titip resah. Sementara saja.

Aku malu mengatakannya di depanmu. Aku tak mau cengeng. Karena aku tak mau resahku ini menghalangi usahamu untuk menggamit angan. Aku ingin kau bisa dapatkan semua yang kau ingin. Karena aku mencintaimu.

Sial, senyummu yang lengkap keburu menyambutku dari balik pagar pondokanmu. Senyummu yang cantik, dengan tatapmu yang tak kalah cantik. Aku semakin mati kutu.

Kamu adalah kecantikan yang sempurna untukku. Sesuatu yang sangat aku kuatirkan bakal hilang. Aku tak pernah mau kehilangan itu.

”Hujan hendak turun,” kataku. Aku ingin perjalanan ke Bogor sore itu diurungkan saja. Tiba-tiba aku takut pada hujan.

”Bukankah kita suka hujan?” Dan tutur genitmu selalu tak bisa aku tolak. Nada-nada yang tak pernah bisa kutepis.

“Dan kita masih suka bermantel di bawah hujan bukan? Dengan motor kita.” Ah, kau…

Dengan malas yang makin meranggas dan ketakutan akan kehilanganmu yang mengganas, aku nyalakan mesin dan tancap gas. Sementara kamu mendekap aku dari belakang. Dengan kehangatan yang hingga kini belum ada yang mampu menukarnya.

2

HUJAN turun dalam desah yang kurasakan makin resah, sejak roda motor kita menggamit aspal di kawasan Cempaka Putih.

Begitulah seterusnya, hanya ada aku, pelukan kamu, dan hujan yang menggoda kita di luar mantel warna hijau tua itu. Dalam sebuah perjalanan dengan tanda-tanda sesuatu bakal terenggut, yang aku rasakan sangat.

Entah yang kamu rasakan.

Di antara deru hujan yang kian gila itu –entahlah, malam itu aku begitu takut pada hujan—kugenggam telapak tanganmu yang memeluk perut tipisku, dengan telapak tangan kiriku. Ada kehangatan yang amat sangat.

Saat-saat seperti inilah yang memang kau sukai. Yang juga aku suka. Ketika kita dialun oleh hujan. Bersama rintik-rintiknya, yang kita percayai turun langsung dari surga.

Tapi, dalam perjalanan itu, aku tak merasakan aroma surga yang jamaknya kita hirup itu. Kendati pada setiap perempatan yang menyalakan merahnya, tak henti-hentinya kamu berbisik-desah dari tengkukku; “Aku mencintaimu…”

Sesekali kubelai tengkukmu dengan tangan kiri yang kujulurkan ke belakang. Yang kau balas dengan desak mesra hidung dan napasmu di tengkukku. Sembari tak hentinya kau ucapkan; “Aku mencintaimu…”

Tapi entah, kemesraanmu itu tak sanggup mengusir gundahku, yang tak tahu pertanda apa itu. Semesta sedang mengerjaiku, semestinya.

Hujan kala itu turun dalam volume yang adil. Sepanjang Cempaka-Putih hingga Bogor, dia mengguyur dalam alunan yang senada.

Dengan sedikit bumbu angin yang menelusup ke pori-pori, membuat pelukanmu kian erat. Membuat kita kian lekat. Sekaligus menumbuhkan takutku yang kian mencekat.

Cinta kita di bawah hujan kala itu kurasakan begitu mengkhawatirkan. Ada firasat yang terus memberiku isyarat yang, sialnya, gagal kutangkap.

Apakah yang ingin disampaikan semesta melalui hujannya yang asing kali ini?

3

BOGOR. Setelah menempuhi satu setengah jam yang gundah.

“Kamu sakit?” sigap kau tempelkan telapak tangan kananmu pada dahiku, dengan wajahmu yang kian dekat pada wajahku.

Hangat. Wangi. Dan cantik.

Itulah yang membuatku tak mau kehilanganmu. Dan merasakan berat yang begitu hebat, ketika kita harus menjumpai kenyataan, di mana kita harus terpisah untuk enam bulan.

Demi cita-citamu. Demi sebuah bangku kosong untuk pendidikan singkat di Ultrech. Untuk mempertajam kemampuan analisis humanioramu.

Cintamu itu akhirnya melihat muka pucatku juga, yang sedari tadi berusaha kusembunyikan. “Aku tidak sakit, sayang. Aku takut. Sangat takut. Entah, ketakutan untuk apa.” Hanya dalam hati kuucapkan itu.

“Badanmu agak panas. Ganti bajumu.” Dia mengambilkan aku satu setel pakaian adik lelakinya. Lalu Mamanya menyeduhkanku teh madu. Mama paling tahu kesukaan calon mantunya ini.

“Kalau kamu capek, tidur saja di sini. Besok sekaligus ikut antar ke bandara, ya?” Mama mengajakku. Nada keibuan beliau sangat sulit kutolak, sebenarnya. Tapi, aku terpaksa menolak.

”Maaf, Ma. Minggu besok giliran saya piket. Saya harus datang pagi-pagi sekali,” alasan yang sangat terpaksa kurancang, demi sebuah rahasia yang –sejauh ini– cantik kusembunyikan dengan rapi dari kamu dan keluargamu, Sayang.

Bahwa sebenarnya ada satu babak penting yang sengaja aku simpan dari kalian.

Dan aku khawatir, kamu bertemu momen yang tak pernah bisa aku bayangkan waktu kau pulang nanti.

Semoga saja tidak.

Bergantian dengan Mama, kamu datang dengan nasi tomat masakan kamu. Makanan yang kurasa paling lezat di dunia. Dan kau menyuapiku. Dengan tingkahmu yang khas. Aku senang.

Setiap suapmu kutukar dengan pandang lekatku untuk matamu yang cantik. Tiga tahun kita tak mengubah kebiasaanmu tiap kali kulakukan itu; kau malu, lalu kau tepis halus pipiku untuk mengalihkan tatapku. “Sudahlah, Sayang…,” adalah jurus terakhirmu untuk menutupi malu-malumu yang selalu kurindu itu.

Bersama hujan yang masih di luar, kita habiskan sebagian besar waktu kita untuk saling bertatap, terbuai dalam diam, dan membiarkannya menjadi bahasa yang menjembatani hati kita.

Tanpa kata-kata.

4

DETIK-detik itu menyusun nada dramatis, ketika dia membawa waktu menuju larut.

“Aku akan sangat merindukanmu,” lalu kau sandarkan begitu saja kepalamu di dada kurusku ini.

Kubiarkan kau berdamai di situ dengan belaiku untuk rambut hitammu yang lebat terjurai. Kubiarkan kau mengikuti degupku yang malam itu begitu tak beraturan, menghadirkan irama liar di antara ketakutan-ketakutan yang semakin menjadi.

Kita biarkan diam mengisi malam itu, bersama detik jarum jam di ruang keluargamu yang hangat. Dan hujan melankolis di luar sana. Hujan yang sangat kita sukai.

Malam melata menuju pagi, setelah menembus batas larutnya. Kepalaku tiba-tiba pusing seribu keliling. Pening bukan main.

Sudah waktunya aku pulang.

“Ah, kenapa lekas sekali malam ini melewati kita…” kamu mengeluh dengan tulus.

“Ya. Aku juga merasakan itu. Tapi aku harus pulang…”

Kau jawab pamitku dengan berat yang amat sangat. Begitu pula Mama. Kalian mendapati mukaku yang begitu pucat dan pantas khawatir, sebagai orang-orang yang mencintaiku. Apalagi aku harus menempuh Bogor-Jakarta malam itu.

Sendiri. Dan berhujan.

Maaf. Tapi, ada hal yang aku ingin kalian tak pernah mengetahuinya. Aku takut kalian kecewa.

Aku merasa harus pulang.

Di luar ada hujan yang masih. Dengan volume yang lebih ramah. Menuju pintu keluar itu, kamu dekap lengan kananku bersama semacam enggan untuk berpisah.

Sebenarnya aku pun tak ingin. Tapi aku harus.

Aku tak ingin kau melihat aku dalam kondisi yang paling lemah. Yang akan membuatmu kecewa. Yang bisa membatalkan keberangkatanmu karena dihela oleh khawatirmu padaku.

Karena, jika kamu tahu….

5

SIAL itu terlalu semena-mana pada ruang privat kita. Dia datang begitu sekonyong-konyong.

Contohnya, seperti ketika kesialan menyamar dalam bentuk metromini bedebah yang membawa penumpangnya dari Tenabang ke Pasar Minggu, dua bulan sebelum Sabtu itu.

Tanpa rasa berdosanya sedikit saja, atas nama kejar setoran, tanpa lampu sein, sopirnya mendahului motorku dari kanan, lalu membanting kiri, dan berhenti mendadak di depan motor yang kupacu dengan kecepatan tinggi, karena aku diburu tenggat waktu dan pimpinan menungguku cemas di kantorku.

Sial, metromini yang mendadak ada begitu dekat dalam jarak pandangku jelas membuatku terperanjat. Hanya, brak, yang sempat kudengar. Tapi hanya sebentar, lalu semuanya gelap.

Kata orang-orang yang mendapati kejadian itu, bagian depan motorku menghantam keras belakang metromini, dan tak ketinggalan pula kepalaku yang berhelm ikut berpartisipasi menyeruduk bokong si bus kecil. Sayang sekali, helmku tak berlabel SNI. Terbelah jadi dua dia, dan mempersilahkan kepalaku menyeruduk langsung bidang keras di belakang bus kecil.

Ternyata brak waktu itu ada dua. Tapi aku hanya mendengar satu.

Dan sopir mobil umum yang –seperti kubilang tadi, yang tak pernah percaya dosa itu– langsung memacu kembali metromininya, demi setoran yang harus dikejarnya, membiarkan aku begitu saja terkapar di tepi jalan raya yang sedang sibuk dan mendadak macet itu. Sial.

Sudah, begitu saja cerita di tepi jalan itu.

Setelahnya, yang aku dengar dari dokter adalah, ada cidera yang cukup serius di otak kananku akibat benturan di hari sial itu, yang, katanya, nyaris mustahil ditangani oleh medis. Tapi aku tak percaya. Sebab, aku merasa baik-baik saja. Dokter bilang, gejala sakitnya memang tak akan terasa. Hanya saja, dalam perasaanku yang merasa sehat itu, ada kemungkinan aku bakal end tiba-tiba.

Dia juga berpesan padaku agar hati-hati pada air hujan. Gerojoknya kurang bagus untuk keselamatanku.

Kau percaya kata dokter? Aku tidak. Sebab, aku yakin hidup mati itu urusan Tuhan. Lagi pula, aku merasa baik-baik saja setelah siang celaka di tepi jalan itu. Aku masih bisa menemui bosku yang menungguku, hari itu juga. Aku baik-baik saja. Kalau saja aku tidak merasa sangat pening, seperti baru saja terkena 10 kali jab dari Mani Pacquiao, mungkin aku tidak akan mengunjungi dokter itu.

Aku tak suka dokter yang berusaha memisahkanku dengan hujan. Aku suka hujan. Aku suka bermain dengan air-air yang rontok dari langit. Siapa kau, hei dokter, sampai berani kau minta aku mewaspadai anugerah semesta paling segar itu?

Akan tetapi, jujur saja, kelamaan aku takut juga. Entah karena teror keterangan dokter itu, atau karena aku dan perempuanku harus hidup dalam jarak selama enam bulan.

Manusiawi sekali bukan, jika aku memiliki rasa takut?

Dan, maaf, kabar buruk dari ruang medis ataupun momen yang membawaku terbaring di ruang periksa dokter itu tak pernah sampai di telinga perempuanku. Kuharap, kamu tidak menceritakan bagian ini padanya.

Aku tak rela dia bersedih.

Sudah, itu saja.

6

AKU resah, bukan karena kamu harus pergi terlalu lama. Tapi aku resah tak akan bisa menyambutmu pulang. Aku tak takut mati. Tapi aku terlalu takut membuatmu menangis, Sayangku.

Bersama berat yang amat sangat, kau tatap aku lekat-lekat. Masih bersama pelukan rapatmu dari sisi kiri tubuh kurusku ini. Kita seperti terlibat dalam kekalutan yang sama.

Kuhela motor kita itu dengan malas. Aku, sebenarnya, masih merasa berat beranjak dari Bogor. Kota yang memberiku banyak cinta ini. Kota yang memberiku banyak hujan ini.

Tapi aku harus cepat-cepat. Agar kau tak melihat aku yang mungkin saja sedang sekarat.

***

DI bawah jembatan layang Cawang itu, kutepikan motor kita sejenak. Dari balik mantel aku merasakan ada yang hangat meleleh dari hidungku.

Kuseka, dan aku tercekat. Kudapati cairan hangat berwarna merah, hangat, merata di telapak tanganku.

Ketakutanku kian menerkam.

Aku takut.

Aku khawatir, kamu tak akan menjumpai senyum kangenku, kala kamu keluar dari gerbang kedatangan Bandara Soekarno Hatta.

Sudah, itu saja.

Lalu semuanya gelap.

7

“KAMU bohong!”

“Maaf, aku hanya tak mau membuat kamu bersedih.”

“Sekarang kamu buat aku menangis. Mana janjimu dulu? Mana bualan manismu menjemputku di bandara waktu aku pulang?!”

“Maaf.”

“Aku bertanya padamu kenapa pucat wajahmu. Tapi kenapa kamu menyembunyikan itu dariku?!”

“Maaf…”

“Sebilangan jumlah bintang pun kamu minta maaf, aku akan sulit memaafkanmu! Kamu bohong!”

Aduh, tolonglah simpan air matamu. Aku tak pernah sanggup melihat itu, sayangku….

Bukankah seharusnya sekarang kamu sudah ada di dalam pesawat itu, yang membawamu ke Belanda dengan segala riang hajatmu untuk masa depan? Kenapa kamu di sini, lalu menumpahkan marahmu padaku?

Untuk kamu tahu, aku sengaja menyimpan ini demi cita-citamu! Pembatalan keberangkatanmu seperti inilah yang tak pernah aku ingini. Aku tak ingin menghalangi semua citamu…

“Kamu bohong! Kamu bohoooooooooonnnnngggggggggg!!!”

Ya, sudahlah. Sepertinya kali ini aku sulit menjelaskan semua cinta dan ketakutanku padamu. Inilah yang kukhawatirkan dari awal. Aku tak pernah siap melihat air mata menderas di pipimu yang cantik.

Maafkanlah aku…

***

BAIKLAH. Aku memang pembohong. Dustaku pada perempuanku, kali ini, memang keterlaluan. Aku akui itu. Aku akan belajar menerima kenyataan, bahwa kali ini, sepertinya, permintaan maafku tak akan digubrisnya.

Bahkan ketika belaiku di rambut hitam lebatnya, yang biasanya disukainya, itu tak lagi diacuhkannya. Perempuanku benar-benar diamuk sakit karena bohongku, sepertinya.

Baiklah. Aku mengaku salah.

Baiknya aku biarkan saja perempuanku mendekap tubuhku yang terbujur kaku, dengan wajahku yang pucat, tanpa detak jantung, di ruang jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu. Sebaiknya kubiarkan dia meraung-raung dalam tangisnya, dengan ratap dan kesakitannya karena bohongku.

Kata mereka, aku ditemukan tergeletak begitu saja, dengan darah yang mengalir kontinu dari hidung, mata, dan kupingku, di bawah jembatan layang Cawang yang basah itu, terbungkus mantel hujan hijau tua. Jujur saja, aku sendiri tak merasakan apapun. Tahu-tahu perempuanku meraung-raung di samping wadagku yang nir-sukma itu.

Ah, sepertinya, semua inilah yang diisyaratkan semesta melalui hujannya, yang Sabtu malam itu benar-benar kurasakan asing. Asing sekali.

Maafkan aku…

artistic-rain_00221009.jpg

Advertisements

5 thoughts on “Untuk Hujan pada Sepenggal Sabtu

  1. Sebelumnya mohon maaf, karena dua posting terakhir saya baunya mellow banget. Tapi wajar kan? Saya manusia juga. Rahwana yang raksasa sangar saja bisa mellow kok, apalagi saya 😀

    1. ternyata iso melow toh mas iki ckkk,,,top banget wes dadi penulis…iki koyok e..pengalamn pribadi iki ckkkhee wes ndang di cetak toh..cerpen iki iso dadi BEST SELLER heeee 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s