Jatuh Cinta Berjuta Rasanya

Dia aktif, aku pura-pura jual mahal…

1

ORANG-orang bilang, kehidupan asmaraku telah menghina hukum objektivitas soal percintaan. Aku tahu mereka iri. Manusiawi sekali, kukira.

Tapi, jujur saja, aku sendiri juga tak tahu kenapa aku selalu bisa menarik perempuan-perempuan yang diidamkan banyak pria dalam pelukan dada kurusku. Tolong jangan kau hujat aku soal ini. Aku hanya sedang menerima anugerah dengan lapang dada. Dan ikhlas. Sudah itu saja.

Soal dada kurusku ini, sebenarnya aku agak risih menunjukkannya padamu. Tapi, berhubung terlanjur kukatakan, baiklah, akan kuceritakan ihwalnya.

Aku tak pernah ingin punya bentuk dada seperti ini. Jujur saja, sejak kecil aku terpesona pada dada Jean-Claude van Damme. Aku ingin punya dada sepertinya. Tapi apa daya, kami memandang olahraga dengan cara berbeda. Dia penyuka, aku tidak.

Dan jelas konsumsi makanan pembentuk otot kami beda. Dia suka gandum, aku pemakan nasi. Entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas, aku gagal berdada bidang. Aku sempat sedih. Untungnya tidak berlarut.

Ya sudahlah, lupakan saja kisah sedih. Mari kembali saja ke kisah-kisah asmara laluku yang syalala itu.

Semua perempuan yang pernah aku kencani selalu disebut cantik secara objektif. Kata orang-orang sih begitu. Mereka memiliki semua syarat kecantikan fisik yang disetujui orang banyak. Beberapa di antaranya tak cukup hanya bagus fisik, tapi istimewa secara finansial.

Sebut saja si Ane, gadis putih bersih yang membawa darah Sunda-Dayak dalam gennya itu. Di masa SMA-ku dulu, dia itu idola remaja. Mayoret, posisinya. Lenggak-lenggok aduhainya di depan barisan marching band membuat remaja-remaja pria terseok-seok memohon cinta monyetnya.

Aku juga tertarik padanya. Dan, demi kaos kakiku yang selalu bau, aku adalah lelaki paling tidak keren yang ikut memburunya. Ya, aku sadar diri kok. Aku tak pernah ikut dalam barisan pemohon terang-terangan itu.

Aku punya metode sendiri.

Suatu hari, aku dengan penuh percaya diri menuliskan surat cinta yang isinya 100% gombal, yang kutitipkan pada teman sebangkunya. Kabarnya, Ane menangis terharu waktu membacanya. Aku malah bingung, bagian mana yang membuatnya terharu? Perasaanku, isinya gombal semua. Itu murni rayuan, bukan ucapan bela sungkawa.

Tapi, ah, sudahlah, yang penting surat itu berhasil menjadikannya pacarku. Selama pacaran, sumpah serapah dari pria-pria yang patah hati membahana di mana-mana. Aku pemenangnya!

Atau Rum, perempuan yang katanya paling cantik seangkatanku di kampus, bapaknya kaya lagi. Perempuan pemilik kerling dan senyum sempurna itu bisa kutundukkan dengan cepat, hanya gara-gara sepik kampunganku, tiap dia melintas di depan tempatku nongkrong sambil mabuk-mabukan.

Sejak Rum resmi jadi perempuanku, aku meninggalkan tongkrongan mabukku. Cantiknya sudah cukup membuatku mabuk. Tempat nongkrongku diambilalih oleh sederet pria lain yang pernah berkompetisi mengejarnya, yang tiba-tiba merasa perlu mabuk berat, lari dari kenyataan, karena mereka tak rela mengakui bahwa kisah asmaraku dengan Rum itu fakta.

Masih ada sepuluh kisah lain sebenarnya. Tapi, aku malas menceritakan satu persatu. Aku tak mau membuat kalian semakin iri seperti orang-orang itu. Yang pasti, dalam catatanku, ada selusin perempuan ketagihan hangatnya dada kurusku ini.

Kau kira aku istimewa? Atau kau penasaran, apa modalku untuk memikat mereka?

Kalau kau lontarkan pertanyaan itu dengan sambil lalu, aku akan menjawab entahlah. Mohon maaf jika jawabanku mengecewakanmu. Tapi, jujur saja, aku tak tahu pasti apa yang aku punya, sampai aku berkali-kali mendapat kehormatan untuk mendapatkan apa yang diperebutkan banyak orang.

Tapi, ketika pertanyaan yang sama dilontarkan dengan nada paksa, menjurus intimidasi, baiklah, aku hanya bisa menjawab; aku cuma punya tubuh yang hidup biasa. Fisikku tersusun dari muka biasa, rambut bergelombang dan berat badan minimum, dengan bonus sedikit tinggi badan. Jelas tak ada Brad Pitt-Brad Pitt-nya sama sekali.

Satu-satunya kelebihan fisikku hanyalah aku jarang sakit. Mungkin karena sejak kecil aku bandel. Entah ada hubungan atau tidak, tapi memang begitulah menurutku. Setiap manusia bebas berpersepsi untuk meningkatkan kadar konfidensi kok.

Bersama lahiriahku yang hanya satu ayat di atas bawah rata-rata ini, aku dilengkapi status sebagai seorang anak lelaki dari sebuah keluarga biasa di kampung. Intelegensiku pas-pasan, tak pandai-pandai amat di bangku sekolah pun kuliah. Yang jelas, aku tidak pernah tinggal kelas.

Tapi, maaf, bukan untuk membuatmu iri, tapi hampir semua keinginanku terwujud. Yakin deh. Aku sendiri juga tak tahu, ikhtiar istimewa apa yang sudah aku lakukan sampai aku mendapat keistimewaan itu dari alam semesta.

Atau, mungkin saja, karena semua keinginanku itu sederhana. Bisa disebut keinginan standar kebanyakan orang. Misalnya, bisa menggandeng pasangan yang cantik semlohai ketika mendatangi undangan hajatan, atau mendapatkan sumber pendapatan halal yang bisa mencukupi hidupku dan keluargaku di kampung, syukur bisa lebih dikit.

Angan sederhana bukan?

Sejauh ini, semuanya berhasil aku wujudkan. Terutama menggandeng yang cantik-cantik itu.

Jika diruntut sejak dari aku mulai kenal cinta monyet, sampai aku berstatus salah satu orang muda dengan jabatan prestisius di sebuah perusahaan kelas atas milik salah satu kerajaan bisnis di Ibukota, tak ada satu pun perempuanku yang tak cantik secara objektif.

Aku sempat merenung sendiri dan coba bertanya pada diri sendiri dalam beberapa keheningan malam yang illahiah. Ya, sekali-kali sok kontemplatif tak apa, bukan?

Dari komunikasi intrapersonal itu, aku seperti mendapat bisikan, bahwa tanpa kusadari, aku punya modal yang sangat penting untuk melakoni hidup ini.

Dan itu adalah: yakin pada keyakinanku sendiri.

Keyakinan bisa memberimu semua yang kau ingin, setidaknya itulah motivasi yang disebarluaskan Paulo Coelcho ala persuasif cerdas melalui The Alchemist-nya.

“Jika kau percaya takdirmu, seluruh semesta alam akan mendukungmu.” Bukankah demikian, sodara?

Dan, aku yakin, semua hal indah yang aku dapat sepanjang kuhirup oksigen di Bumi ini adalah imbal balik yang sempurna dari keyakinan yang terus aku rawat itu.

Keinginan-keinginanku yang sederhana, seingatku, hampir semuanya selalu terwujud. Dan, sejauh yang aku ingat, aku hampir tak pernah punya keinginan muluk.

Eh, maaf, sedikit koreksi. Semua anganku terwujud kecuali memiliki dada bidang berotot itu. Mungkin, untuk aku, itu adalah angan yang terlalu mewah. Maka dari itu, aku tak mampu meraihnya.

Atau mungkin aku tak terlalu yakin bisa memilikinya.

Mungkin saja, aura tekat kuat dari dalam diriku –mungkin lebih tepatnya terlalu percaya diri– itulah yang membuat aku memiliki daya pikat istimewa. Mungkin.

Itu semua dugaanku saja. Aku tak bisa memaksamu untuk percaya. Aku tak bisa memastikan, karena aku sama seperti kalian, manusia kebanyakan, yang memilih memastikan segala hal dengan panca-indera.

Yang immaterial, seperti keyakinan, kerap menimbulkan ragu selama manusia selalu takluk pada pengalaman inderawi.

2

BAIKLAH, cukup perkenalanku yang bertele-tele. Tentu kau bosan menyimaknya, atau bahkan ingin meludahiku. Baiklah, aku terima jika kau ingin. Asal izinkan aku untuk sedikit curhat.

Begini; saat ini keyakinanku sedang terasing dari diriku. Bahkan, aku merasa nyaris kehilangannya. Ini soal keinginan yang, menurutku, akan jadi ihwal yang paling sulit kuraih sejauh aku hidup.

Pinjam bahasa gaul masa kini, aku lagi galau.

Ini soal hubungan asmara pria dan wanita. Itu kerap aku alami, dan seharusnya aku terbiasa dalam situasi ini.

Sebelumnya, seperti yang kusinggung dalam ceritaku yang mungkin saja menurutmu tak penting tadi, ada sekitar 12 cerita yang melibatkanku dengan cinta pada wanita. Tak satu pun dari selusin cerita itu membuatku merasa kesulitan, baik itu ketika mengawali atau menutup kisah-kisahnya.

Seharusnya pengalaman membuatku sama sekali tak risau dalam urusan romantika.

Tapi…

Sepertinya kali ini aku kena batunya.

Ceritanya begini. Aku dipertemukan dengan satu wanita yang benar-benar lain. Dia biasa, tapi berhasil memaksaku untuk memahaminya dengan cara yang luar biasa. Dia hidup di luar pemahamanku tentang wanita yang kubangun bersama deret panjang pengalamanku.

Karena itulah, tiap jumpa dia, entahlah, aku selalu merasa harus bilang “wow” sambil lempar lembing.

Perempuan itu kurasa cerdas. Caranya membawa alur pembicaraan bertema apa pun begitu elegan. Gaya bicaranya ceplas-ceplos, langsung pada inti pesan, tanpa majas, sama sekali tak malu-malu, alih-alih jual mahal. Tawanya lantang dan lepas, dan tak sedikit yang harus kaget gara-gara itu –seperti aku kala pertama mendengarnya. Tapi, tak ada yang terusik. Itu tanda bahwa dia adalah pribadi yang menguasai ruang-ruang di sekitarnya.

Soal kemasan fisik, mmm, jujur saja ya, tak istimewa sama sekali. Jika mengacu pada syarat-syarat kecantikan lahiriah objektif, yang juga aku amini, jujur saja, dia tak ada apa-apanya dibanding sederet perempuanku yang sudah berlalu, yang cantik-cantik itu. Dari sudut pandang libidoku, demi Zeus, Neptunus, dan Pluto, dia tidak menarik sama sekali.

Kulitnya termasuk gelap untuk ukuran perempuan Melayu. Lekuk tubuhnya sama sekali tak aduhai. Hanya tatap matanya saja yang aku rasa lumayan amboi.

Eh, maaf, sangat amboi.

Dia tak dialiri darah tajir. Sudah lama dia bekerja dengan posisi dan penghasilan bagus, bahkan jauh lebih lama dariku, tapi gaya hidupnya wajar-wajar saja, tak heboh layaknya kaum perempuan yang berkarier di kota besar.

Dia tinggal di tempat kos, ketika hampir seluruh sejawatnya, bahkan bawahan dia, sudah memiliki rumah pribadi, kendati kredit.

Yang aku dengar, dia hidup bersahaja itu demi keluarganya yang sedang dijahili oleh kondisi ekonomi. Dia menyangga kehidupan orangtua dan tiga adiknya.

Ah, itu sih biasa sekali bukan?

Perempuan yang bekerja untuk keluarga banyak bersebaran di muka Bumi ini. Dalam upaya heroik itu, dia tak istimewa. Sama sekali tak.

Sebagai wanita dengan jabatan tinggi, dia juga tidak cetar membahana. Bisa jadi luar biasa jika itu didapatnya dulu di Jawa, kala Kartini belum memproklamirkan istilah emansipasi.

Perempuan cerdas juga ada di mana-mana. Dibanding Sri Mulyani Indrawati, mungkin, dia tak ada apa-apanya. Dia tak pernah mendapat penghargaan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau Nobel kok. Cerdas, tapi standar lah.

Tapi, ketika berkomunikasi langsung dengan dia, di mana kesempatan itu jarang kudapatkan –dan hanya basa-basi sepenggal yang kudapat jika kesempatan untuk itu datang–, kurasakan betul bahwa dia itu menyentak. Mak jleb, kalau kata mbahku di Jawa Timur sana.

Apa yang menyentak, bikin jleb itu? Dan kenapa? Entahlah. Soal itu, coba kau tanyakan pada kecebong yang berdiaspora di got-got Jakarta itu. Mungkin cuma mereka yang tahu. Sayangnya, aku tak tahu bahasa mereka. Jadi aku tak pernah tahu.

Yang aku tahu, aku cuma bisa merasakan.

Ada kedalaman yang sempurna, yang mustahil ditangkap pria-pria dangkal pemburu libido. Dan, yang jelas, dia bukan tipikal Ane yang mudah terenyuh, atau Rum yang gampang terpesona pada sepik.

Bersama ayun langkah sang waktu yang sedikit terburu-buru, perempuan itu tiba-tiba saja mengusik hasratku. Tak hanya menyentuh keinginan, tapi sudah mulai kurang ajar menjamah kebutuhanku.

Kian lama terasa betul aku seperti dipaksa butuh dia. Itu hati yang membujuk, bukan logika. Dan, hati adalah satu-satunya unsur dalam diri yang tak pernah bohong. Kehendaknya sulit ditepis. Konon begitu. Maaf, aku memilih percaya pada konon.

Pada situasi inilah aku merasakan suasana yang benar-benar baru; ketika keyakinan yang biasanya setia dan kerasan di dalam jiwaku mendadak kabur tanpa pamit.

Kepergian si yakin itu membuatku semakin galau. Apalagi ketika kebutuhanku terhadap perempuan itu sekonyong-konyong bermetamorfosa menjadi kemelut internal, yang menderaku kuat sekali, dan memaksa untuk diungkapkan total pada sang subjek.

Ketika aku mendapati kenyataan bahwa aku bukan pria pertama yang terjebak dalam kekalutan perihal perempuan itu, mendadak aku merasa asing sekali dengan kata yakin.

Kabar bertebar di awang-awangku memberitahu pernah ada sekitar sepuluh pria bertipikal idaman komplit dan plus-plus yang harus menelan mentah-mentah pahitnya penolakan.

Seketika itu juga mendadak aku amnesia; seolah tak pernah mengenal istilah percaya diri pun yakin. Jika pria istimewa saja kecewa ditampiknya, apalagi aku yang hanya berlabel rata-rata alias biasa?

Beberapa kali aku nyaris memutuskan untuk menyerah saja dalam upaya pencukupan kebutuhan jiwa ini. Aku tak melihat sinyal positif, yang biasanya langsung kudapati dari perempuan-perempuanku dulu ketika kami mulai membuka ruang komunikasi.

Tanda-tanda optimistis yang biasanya muncul vulgar dari perempuan-perempuan lalu, sama sekali tak kupergoki ketika beberapa kali aku mencoba membangun komunikasi dengannya –yang menurutku selalu ditanggapinya sambil lalu.

Sikap dia membuatku berhipotesa bahwa dalam hati perempuan berpenampilan rata-rata itu tak terpercik sama sekali ketertarikan terhadap sosokku –yang padahal menurut kebanyakan wanita sangat istimewa di dalam ini lho.

Apa yang harus aku lakukan?

Sial betul. Dia tak bisa kuklasifikasikan dalam daftar keinginan yang masih bisa kukesampingkan. Tapi dia bercokol pada posisi teratas kebutuhanku. Dan situasi hubunganku dengan dia yang tak pernah berkembang itu menjelaskan padaku, bahwa nyaris mustahil untuk mengajaknya dalam romansa.

Kenapa justru wanita biasa seperti dia yang membuatku mati kutu?

Aku pernah mencoba menepisnya. Nyaris aku berhasil membuangnya dari kepala dan hatiku.

Tapi, aduh mak, semesta alam selalu punya cara nakalnya sendiri untuk kembali mengingatkan aku pada perempuan antik itu, ketika tinggal sejurus lagi aku bisa memusnahkannya.

Misalnya, aku coba menghindari jalan yang biasa kulewati kala aku menuju kantorku. Sebab, biasanya aku berpapasan dengannya di jalan itu.

Aku mengambil jalan berputar saja. Agak jauh yang penting selamat. Sehari-dua strategiku berhasil. Tapi di hari ketiga, alamak, aku bertemu lagi dengannya di jalan memutar itu. Kata dia, jalan yang bisa dia lewati –yang sebelumnya juga selalu aku lewati itu– ditutup karena ada pertunjukan dangdut sporadis, gratis, dan laris. Dia tak bisa lewat.

Atau ketika aku terpaksa memilih lokasi makan siang agak jauh dari kantor, yang rasa masakannya sering bikin aku terheran-heran sebab tak jelas orientasi rasanya –sepertinya juru masak lupa memasukkan unsur gurih– demi menghindari tempat makan dekat areal perkantoran yang biasa dia datangi, yang masakannya amboi lezatnya itu, oh Tuhan, dia menyusul. Dan aku tak tahu apa alasannya bisa sampai situ. Mungkin dia bosan dengan masakan yang rasanya wajar, sampai jauh-jauh makan di tempat yang sensasi menunya sulit diterima akal sehat itu.

Dalam perjumpaan insidentil itu, tak ada yang berubah dengannya. Tetap kurasa dingin, dan menanggapiku sambil lalu. Ya sudahlah, hasrat yang sempat menipis pun dipaksa untuk kembali menjadi-jadi.

Sadis.

HINGGA pada suatu titik yang kurasa tak mungkin untuk kuingkari lagi, aku harus mengambil keputusan; memaksa untuk memusnahkannya lagi –dan terbukti usaha itu selalu gagal— atau memberanikan diri untuk menyampaikan pesan sakral dari pusat kedalaman jiwaku, dengan kemungkinan kecewa 99%.

Dalam gulana yang menggila, aku mendapat isyarat tentang adanya harapan –ketika perlahan namun pasti tunas keyakinan yang sempat musnah itu mulai tumbuh. Ada seserpih bisikan yang memberiku kepercayaan, bahwa mengingkari akan membuatku mati hati, dan mengungkapkan adalah pilihan yang paling tepat.

Bersama selarik keyakinan, aku berangkat mengambil pilihan terakhir.

Baiklah.

3

SENJA mulai terkulai lemah dihela malam yang mulai mengintip.

Peralihan sesi waktu kali ini naga-naganya membawa serta keresahan semua lajang yang sukar menemukan cinta, dan menimbunkan seluruh akumulasi kegundahan itu padaku begitu saja.

Pada peralihan masa ini aku benar-benar dihajar resah. Tak pernah aku rasa setercabik-cabik malam ini.

Keyakinan, yang sepanjang riwayatku selalu menjadi malaikat penjaga, yang selalu bersamaku, di mana atau bagaimana pun aku, malam ini terkesan hanya memenuhi kewajiban untuk sekadar ada.

Ah, bagaimana pun juga, kendatipun sekadar, keyakinan itu masih ada. Lumayan lah…

Aku sangat berharap yakin yang begitu tipisnya ini menjadi pertanda baik untuk upayaku dalam memenuhi kebutuhan jiwaku yang –dengan sukarela– tersandera dalam diri perempuan itu.

Mendapatkan informasi di mana perempuan itu tinggal, butuh upaya yang luar biasa. Bicaranya yang blak-blakan itu rupanya tabir yang dia pasang untuk menutup rapat pribadinya. Dia sedang menyamar, rupanya.

Pernah aku coba mencari tahu di mana tinggalnya dalam beberapa kali pembicaraan dengannya yang sepenggal-sepenggal. Juga melalui pesan singkat yang tak berimbang; karena respons darinya baru datang setelah 15 kali kulontar pesan dari nomor ponselku.

Tapi, untungnya, kesabaran yang menguat, ditopang keyakinan yang tak begitu yakin, memberiku hasil usaha yang memuaskan.

Di antara pesan singkat tak berimbang itu, tanpa kunyana dia menyuguhkan alamat yang kumau dalam salah satu dari beberapa balasannya yang jarang datang.

Entah pesan istimewa itu tak dia sengaja, entah karena dia merasa perlu mengusir bosan yang menggumulinya –akibat pertanyaanku yang selalu sama dan kian membombardirnya–, atau dia memandangku sebagai pria yang perlu rasa iba, aku tak peduli. Yang penting berhasil kuraih setahap lagi kemajuan dalam ikhtiarku memenuhi kebutuhan ini.

Hingga di malam kikuk ini.

Pilihan sudah kuambil, tapi ketakutan terhadap kemungkinan sakit dan kecewa tetap nangkring di posisi teratas prioritas nyaliku. Seperti mencengkeram bahu dan kakiku, yang memaksaku agar tetap tinggal di rumah.

Bayangan tentang kemungkinan jika aku datang ke rumah itu sama artinya dengan menjemput rasa sakit, terus membujuk dan merajuk keyakinanku yang sedang tipis-tipisnya.

Namun, daya pikat si perempuan, serta kewajiban smaradhana dalam jiwa yang merengek-rengek malam itu, mengharuskanku untuk memenangkan keyakinanku yang secarik. Kuputuskan untuk tak acuh pada ketakutan yang merajalela.

Sebuah pilihan bijak, kurasa. Karena, sejauh pengalamanku, memilih percaya pada yakin, setipis apapun itu, selalu menjadi pilihan yang tepat.

Sebelum ketakutanku bergegas kembali menjadi-jadi, aku merapikan diri. Kukenakan setelan yang menurutku terbaik. Kusemprotkan Daviddoff seperti aku mengguyurkan air ke tubuh di kamar mandi.

Aku harus sempurna dan sesemerbak mungkin di depannya. Dan itu adalah satu-satunya cara untuk memompa keyakinanku yang sedang lunglai.

***

ANGIN yang mengikuti langkah kakiku menuju pondokan si perempuan mengembuskan nada simpatik dan sarkastik di saat bersamaan. Sementara mendung pekat musim hujan di langit malam ini seperti gagal menyembunyikan bulan yang menatapku dengan iba.

Bintang-bintang sepertinya bermain gembira di balik awan sana, sebagai bentuk rasa syukur, karena mereka tak harus melihat langsung, ketika salah satu makhluk dari jenis yang paling mulia di muka Bumi ini ditipu oleh keyakinan, yang ternyata salah mengambil keputusan.

Bintang, kali ini kamu sialan.

Setiap ayunan langkah seolah membawa keraguan tingkat tinggi. Tapi, bahwasannya sisa keyakinan terus menarik tubuhku, agar jangan sampai aku mengambil keputusan putar badan di tengah jalan.

Hingga akhirnya aku sampai di depan pintu pagar itu.

Di baliknya ada sebuah misteri yang telah melumpuhkan laki-lakiku.

Dadigdug. Der!

Merinding bulu kudukku. Dan berdiri bulu romaku, kata Nini Carlina.

Aku berlebihan? Sudahlah, tolong biarkan aku mengambil jatah gilaku untuk malam ini saja!

4

BELUM juga kupencet bel, siluet perempuan lebih dulu muncul dari salah satu kamar.

Langkahnya santai sedikit bergegas menuju pagar. Sepertinya dia tahu ada yang datang.

Dada kiriku berdentum.

Dalam bentuk siluet pun aku tahu dialah yang kutuju malam ini.

Perempuan itu.

Gelap dan air hujan yang sudah mulai berancang-ancang untuk merintik itu mendadak berubah menjadi sore yang begitu manja, ketika dia memberiku senyuman pribadi, kala pagar terbuka.

“Mudah bukan mencari rumah ini?”

Pertanyaan itu tak pernah aku duga bakal terlontar dari bibirnya yang tipis dan basah itu. Sumpah.

Pertanyaan mirip doa, yang berharap kepastian aku tak berjumpa aral di tengah perjalanan menuju rumah itu. Pesan yang kutangkap, dia menungguku dan ingin aku baik-baik saja.

Seperti sedang mengkhawatirkan kekasih.

Subjektifku, memang. Tak apa bukan? Lumayan, itu menyuntik keyakinanku agar mau tambah tumbuh.

Dengan basa-basi biasa, aku dipersilahkan duduk di kursi teras. Sepi. Tak tampak penghuni lainnya.

“Semua pulang. Biasa, akhir pekan. Cuma ada aku dan pemilik kos,” dia menjelaskan situasi itu, seolah-olah bisa membaca pikiranku.

Ah, semakin tumbuh saja keyakinan ini. Naga-naganya ruang dan waktu sengaja memberi kami porsi istimewa.

“Oh. Kau tak pulang?” respons dariku berupa pertanyaan yang sangat biasa. Seperti orang tak punya bahan omongan saja.

“Hanya sekali sebulan aku pulang. Lagipula, aku suka sendirian dalam suasana sepi. Obat paling mujarab setelah jenuh seminggu penuh di lingkungan kerja yang berisik.”

Penjelasan yang wajar, sebenarnya. Tapi pernyataan “aku suka sendirian dalam suasana sepi” itu, suer, sedikit mengusikku.

Apakah memang kehidupan hening seperti itu yang dia ingin? Apakah penolakan-penolakannya terhadap beberapa pria istimewa itu karena dia tak ingin terseret dalam kehidupan yang riuh? Plis, semoga jangan…

Syak wasangka dan ketakutan mulai kembali berkolaborasi, memberikan gambaran kekecewaan yang seolah-olah pasti kudapat.

Tapi, sekali lagi, demi kebutuhan jiwa yang perlu diisi, aku memilih setia pada keyakinan yang sedang kembang kempis.

Basa-basi itu berlanjut dengan beberapa obrolan yang tersusun secara acak. Tentang asal-usul, tentang kesenangan, lelucon-lelucon hambar yang dipaksa lucu demi menariknya untuk mendekat.

Anehnya, dia tertarik pada banyolan yang, menurutku, garing. Entah serius, atau mengejek. Ah, sudahlah, penting kami berbincang. Jatuh cinta kadang membuatmu ikhlas untuk tampil bodoh.

Interaksi kami kala itu, di mana hanya ada kata-kata kami dan degupku, benar-benar membawa suasana lain. Tak seperti momen yang kutemui setiap aku berinteraksi dengannya di antara banyak orang.

Dia menebar aura yang tak pernah kutangkap selama kami berinteraksi di ruang publik; perhatian penuh pada setiap kata yang aku ucapkan. Biasanya dia acuh. Dan dingin.

Pertanda baik, sebenarnya. Seharusnya memang begitu. Tapi aku masih belum punya nyali untuk berharap lebih. Kenyataan bahwa dia suka sepi dan sendiri itu masih menggangguku.

5

DETIK-detik terus berdetak.

Malam semakin jauh.

Rintik pertama turun, disusul rintik-rintik lain yang membesar.

Hujan.

Sepi.

Aku dan dia.

Ah, seharusnya ini suasana yang romantis. Seharusnya ini nuansa paling pas untuk mengakui motivasiku menemuinya malam ini.

Di salah satu sela pembicaraan itu, dia menyuguhkan kopi –yang aku rasa terlalu manis.

“Maaf, aku terbiasa membuat minuman yang sangat manis,” katanya seolah-olah bisa menebak yang direkam indera pengecapku. Dia merasa bersalah.

“Hehe, tidak masalah. Tubuhku yang kurus ini perlu banyak asupan gula,” jawabku sedikit berkelakar, sekaligus agar dia tak terlalu merasa bersalah.

Kendati sebenarnya dalam hati aku merasa manis racikannya keterlaluan.

Namun, tak apalah. Ekstra manis ini mungkin bisa jadi penetralisir ketika di akhir pertemuan nanti aku harus membawa pulang pahitnya penolakan. Kuhibur diri di tengah situasi yang masih serba sumir.

Ada yang mengintip. Perempuan menuju baya. Ibu kos, sepertinya. Kulempar senyum sekenanya sebagai tamu.

“Oh,” respon singkatnya yang sangat standar. Lalu dia balas senyumku, dan masuk kembali.

Abang ketoprak melintas sambil berteriak-teriak di tengah hujan. Menurutku resonansi suaranya cenderung mengarah ke kalap. Kutebak dia sedang dalam tekanan, sebab istri yang begitu dimuliakannya merajuk ingin kalung berlian.

“Ketoprak?” pertanyaannya yang mendadak membuyarkan imajinasi ngawurku tentang Abang Ketoprak.

“Terima kasih. Kopi dan kamu sudah cukup untuk malam ini.”

Eits, aku melihatnya sipu-sipu!

Eh, tunggu dulu, tunggu dulu. Apa benar begitu? Aku tak bisa memastikannya. Agak remang di antara kami, sementara kulitnya cenderung gelap. Mungkin perasaanku saja.

Yang jelas, tak ada respons kata dari dia.

Entah hatinya.

6

HUJAN malam ini membawa irama syahdu yang segar. Angin mengalun genit, tanpa guntur, dengan volume yang sangat pas untuk sejoli yang sedang jatuh cinta.

Ah, andai saja dia merasakan sama seperti aku. Tentu malam ini akan kukenang sebagai salah satu malam sempurnaku.

Hening beberapa saat.

Irama alam di malam yang bergemericik itu seperti sedang mengerjaiku; agar aku langsung ungkapkan saja maksud kedatanganku.

“Lalu, apa hal penting yang kau maksud dalam pesanmu itu, sampai kau harus terjebak hujan di sini hanya dengan aku sekarang ini?”

Terjebak? Hei, ini bukan terjebak, perempuan yang aku butuhkan! Ini romantika kudus yang sengaja diatur semesta untuk kita…

Seandainya rayuan itu tak hanya berhenti di dalam hati.

Ah, tapi, pertanyaan itulah yang sebenarnya aku tunggu. Jalurku untuk berkata jujur mulai terbuka.

“Kenapa selalu ada nuansa romantis saat hujan turun dalam bentuknya yang tenang?” aku mulai berani memancing agar pembicaraan mengarah pada tema romansa.

Tentunya setelah susah payah kukumpulkan nyali demi mengucapkan itu. Mungkin saja ada “sisi Ane” yang yang gampang terenyuh, bersembunyi dalam dirinya, yang mungkin bisa kugedor.

Tapi, pertanyaanku tak mendapat respons.

Hening dari sebelah kiriku.

Krik, krik…

Mulut perempuan itu tertutup, tapi biarkan matanya menatap air-air yang jatuh dari langit. Sedikit percik mendarat di wajah dan pakaian kami.

“Entahlah. Aku tak begitu mengerti tentang hal yang kau tanyakan itu.”

Respons itu membawa pesan agar tema pembicaraan dialihkan, prasangkaku.

“Pertanyaanku itu memang bukan untuk dijawab nalar. Bukan untuk dimengerti. Tapi dirasakan. Dan itu teritorial hati.”

Aku berusaha mempertahankan tema ini. Ingin kulihat reaksinya sejauh mana. Sehingga aku bisa memutuskan teruskan atau hentikan niatanku.

Responnya hanya senyum multiinterpretasi yang gagal kuterjemahkan kepastiannya. Tanpa kata-kata.

Sepatah pun.

Dia sedang pasang kuda-kuda pertahanan diri rupanya.

Baiklah, perempuan edisi khusus, kali ini aku tertantang. Kita lihat seberapa kuat kau menahan gempuranku. Seberapa jauh kau bisa mempertahankan hatimu dari sentuhanku.

“Konon, air adalah satu-satunya zat di dunia ini yang langsung diturunkan dari surga.” Celotehku berlanjut

Beberapa kali aku mendengar premis itu, kendati tak pernah kutemui penjelasannya langsung di kitab suci yang aku percayai. Agak ngawur, memang, yang penting melankolis.

“Ya, aku pernah mendengar itu.”

Ternyata awuranku tepat sasaran. Kali ini dia merespons dengan kata. Sepertinya kailku mulai mengena. Level pengetahuan kami, dengan sedikit sisi-sisi ngawur itu, setara rupanya. Tentu ini akan menjadi dialog yang asyik.

“Mungkin karena itulah hujan identik dengan cinta. Romantika. Karena dia membawa zat yang diproduksi langsung oleh surga, dan tentu membawa pesan-pesan surgawi. Cinta salah satunya.” Mendadak aku berkotbah.

“Haha… Mungkin saja.” Untuk pertama kalinya aku mendapat sedikit persetujuan darinya, yang dibumbui nada tawanya yang khas; lepas, tapi pendek.

“Seluruh isi jagat raya ini, pada dasarnya, membawa pesan cinta. Melalui hujan, cerah, pergantian waktu terang-petang-gelap, anugerah, musibah, kesenangan, rasa sakit. Semua itu adalah pengejawantahan cinta dan konsekuensinya yang hadir dalam bentuk rupa-rupa.”

“Lalu?”

Aha! Aku sukses mendapat perhatiannya!

“Intinya, tetap ada unsur cinta di dalamnya.”

Baru saja hendak kuteruskan presentasiku soal pemahaman terhadap semesta dan cinta…

“Tapi aku setuju kalau rasa sakit itu adalah salah satu bentuk cinta,” selanya. “Salah satu bentuk konsekuensi cinta, tepatnya. Bentuk yang paling mungkin terjadi, utamanya dalam hubungan lawan jenis. Dan bentuk yang lebih baik tak dipilih.”

Alamak… Definisi seperti itulah yang sebenarnya tak ingin aku dengar dari dia. Itu seperti portal, yang jadi penghalang gerak majuku.

“Kerap, bahkan hampir selalu, menghadirkan rasa sakit. Ketika cinta berangkat dari kebutuhan naluriah manusia untuk berkembang biak. Antara laki-laki dan perempuan.”

“Selalu ada definisi berbeda dari kedua jenis manusia yang terlibat dalam hubungan itu, untuk mempertahankan eksistensi ke-aku-an, yang disamarkan dalam jatuh cinta.”

Sepertinya aku bisa menebak arah paparannya. Tapi kubiarkan saja dia melanjutkan.

“Aku percaya cinta itu ada pada setiap hal di alam semesta. Tapi manusia punya kuasa untuk memilih, karena itu spesies ini disebut paling istimewa oleh agama Ibrahim. Manusia leluasa untuk memilih cinta dalam bentuk apa untuk mengisi kekosongan hidupnya.”

“Dan…”

Aku berusaha mengambil tempat di sela-sela penjelasannya –yang tampaknya akan panjang dan menjadi tema penutup perjumpaan kami malam itu.

“Justru hak untuk menentukan pilihan itu membuat manusia memilih untuk membela ego. Pilihan yang manusiawi dan logis. Karena, secara naluriah, manusia selalu berorientasi untuk memanjakan diri sendiri dengan cara yang bisa membuat dirinya bahagia.”

“Dan, hampir selalu, cara yang ditempuh individu satu dan lainnya menggunakan parameter yang beda sama sekali, cenderung bertentangan. Kontradiktif.”

Ah, dia sedang berbicara tentang Sigmund Freud dan psikoanalisisnya. Dia benar-benar sedang menunjukkan bahwa pertahanan dirinya kokoh.

“Tapi…” aku berusaha menyela agar jurus-jurus ofensifku tak sampai patah. “Bukankah ada kuasa semesta, yang tak dimiliki individu dan hadir dari luar kesadaran, tapi itu cukup ampuh untuk mengatur individu-induvidu agar tak sampai berbenturan? Karena, bersama dengan keinginan-keinginan individual itu, dalam diri setiap orang hidup juga naluri untuk hidup bersama orang lain. Ada kebutuhan untuk menjadi makhluk sosial. Dan, kebutuhan itu akan terpenuhi selama kuasa yang tak dimiliki itu turun tangan.”

Aku coba membobol dia dengan jurus-jurus Foucault, yang coba kukolaborasikan dengan konsep tawakal. Sedikit memaksa, memang. Tapi, terus terang saja, aku nyaris kehabisan dalil.

“Ya, aku setuju itu,” reaksinya spontan, seperti tak rela pendapatnya terpotong oleh pendapat lain, yang pada dasarnya bisa dia terima.

“Tapi pada kenyataannya, relasi interpersonal maupun sosial yang diidamkan semua manusia itu selalu tumbuh dalam kepalsuan. Dalam kemunafikan.”

“Pemahaman yang dibangun demi kebersamaan itu hanyalah pura-pura untuk memenuhi kebutuhan pribadi, yang disamarkan dalam interaksi, yang hanya perlu dicukupi untuk sedikit waktu saja.”

“Interaksi individu-individu, yang semestinya indah atas nama kebersamaan, itu sebetulnya hanyalah bulu domba yang dikenakan musang. Hanya kedok seorang individu untuk menyelisik kelemahan individu lain. Agar sasaran bisa dijinakkan di saat yang dirasa tepat. Ujung-ujungnya agar dia bisa menguasai individu lain. Demi kehendak naluriahnya untuk berkuasa.”

Aduh, dalam kata-katanya itu, eksistensialis individualnya. Oh, Sartre, kenapa kau dilahirkan membawa konsep ide yang sempurna untuk pijakan pribadi-pribadi individualistis….

Dan kenapa harus kau rasuki perempuan ini..?

“Pun dengan hubungan bernama “cinta” terhadap lawan jenis.” Dia memberikan tekanan khusus untuk kata “cinta”.

“Itu adalah sebuah pola hubungan yang sebetulnya paling mengerikan. Absurd. Berangkat dari tuntutan naluri dasar untuk berkembangbiak. Untuk mencukupi hasrat seksual saja. Segala angan-angan indah dalam asmara itu hanya rekayasa imajiner demi politik persuasif individu saja, yang tujuan pokoknya adalah pencukupan libido.”

“Setelah kebutuhan seks terpenuhi, apalagi yang dicari? Tidak ada. Karena itu, banyak relasi yang awalnya dibangun atas nama “cinta” dan kebersamaan berujung pada kebencian dan perselisihan. Karena, ketika seks tercukupi, sudah tak ada lagi yang dicari dalam hubungan lawan jenis.”

“Ketika intisari hubungan itu telah diraup, pasangan yang terlibat akan bertemu dengan kejenuhan. Rasa bosan kemudian diungkapkan dalam selisih paham, juga pertengkaran berkepanjangan, dan berujung pada perpisahan yang selalu menghadiahkan rasa sakit.”

“Sebagian besar pasangan memilih untuk menutup kisah cinta dengan berbagai macam dalih, ketika intisari kebutuhan dalam hubungan itu telah terpenuhi. Dan, aku rasa, itu adalah pilihan manusia-manusia modern rasional.”

“Yang awet bertahan hingga renta, atau tutup usia, itu hanya individu-individu yang memutuskan untuk tidak individualistis. Dan, sepertinya, pada masa ini, tak banyak yang mengambil keputusan yang itu.”

“Karena itulah aku setuju ketika kau menyebut rasa sakit itu adalah salah satu bentuk konsekuensi “cinta”. Bentuk yang bisa dipilih atau dihindari. Sejauh ini, jujur saja, secara pribadi, aku belum berani mengambil pilihan itu.”

Misi gagal.

Pesan yang disampaikannya dalam kalimat terakhir itu jelas sudah. Dan, sepertinya, prediksi dari sedikit keyakinanku —yang aku turuti ketika mengambil keputusan menemuinya di malam yang kebetulan hujan ini— meleset kali ini.

Untuk pertama kalinya dalam hidup aku merasa ditipu oleh keyakinan yang selama ini selalu aku yakini.

“Hahaha… Sejak kapan kau lahap bujukan-bujukan Jean Paul-Sartre itu?” tanyaku datar. Agak nyinyir, aku berusaha menjaga keberlanjutan perbincangan kami, sembari mencari jalan untuk sampai pada penutup yang wajar. Yang membuatku tak tampak bodoh-bodoh amat.

Lagi-lagi dia jawab dengan senyum.

Dan, demi puncak Lawu yang adem, tiap kali kudapati ekspresi itu di wajahnya, sungguh, aku semakin yakin kalau Tuhan menjadikan senyum itu sebagai bentuk terindahnya secara lahiriah.

“Yah, begitulah.”

Ternyata singkat saja kalimat yang dia pilih untuk menutup kebersamaan kami malam ini. Singkat, tapi memaksa lawan bicara untuk menyerahkan kesepahamannya.

Ya, sudahlah. Kali ini keyakinan sedang tidak berada di pihakku.

Urusan selesai.

Dan akulah yang diselesaikan oleh pertemuan itu.

Untuk mengisi kekosongan ruang kata-kata di antara kami, kucomot keretek filter dari saku kanan celana jinsku. Kunyalakan sebatang, dan kunikmati pelan-pelan sembari kupandangi hujan yang kurasakan sedang salah memilih tempat untuk mengucur di depan kami.

Nikmat betul nikotin ini. Kenikmatan yang sempat aku lupakan sama sekali ketika aku bertukar cakap dengan perempuan istimewa ini.

Kenikmatan yang kudapat melalui pertemuan kata-kata, jembatan psikologis kami, aku rasakan sebagai nikmat di atas segala kenikmatan yang pernah aku nikmati di dunia. Sayangnya, kenikmatan sakral ini harus urung sampai pada klimaks.Kali ini aku kalah.

Sepertinya.

7

PUKUL 11 malam sudah sampai.

Hujan sepertinya enggan untuk menyudahi guyurannya. Tapi aku harus pulang, atas norma kepantasan hubungan laki-laki dan perempuan yang hidup lestari di tengah masyarakat Timur –kelompok masyarakat di mana kami menjadi bagiannya.

Norma yang, entah, disetujui atau tidak oleh perempuan individual yang selalu menomorsatukan eksistensi pribadinya itu. Yang jelas, dia sama sekali tak merasa terganggu oleh waktu yang menyeret malam itu menuju larut.

Dalam diam kami, aku coba lirik dia. Sial, seharusnya aku tidak melirik. Sebab, ketika aku melakukannya, aku berjumpa dengan sebuah paradok yang membuatku merasa makin goblok.

Aku merasa, sepertinya, gestur dia mengisyaratkan agar durasi kebersamaan kami malam ini diperpanjang. Bahasa tanpa kata yang jelas bertolak belakang dengan penolakan melalui dalil-dalil verbalnya –yang sangat masuk akal itu.

Logis tapi menzalimi hati. Setidaknya hatiku.

Pesan mana yang harus kuikuti? Aku berusaha mencari penutup perjumpaan itu dalam gamang.

Ah, sudahlah. Aku harus bergegas menutup kebersamaan ini. Atau aku harus mengamini bahwa rasa sakit itu adalah salah satu bentuk cinta seperti yang didefinisikannya dengan fasih.

Memang fasih, tapi belum pasti sahih.

Aku mau cinta. Dan memang itulah yang aku cari dalam kunjunganku kali ini. Tapi aku tak mau sakit.

Malam ini harus segera kuakhiri. Untuk kemudian kunikmati hujan dan gelap Ibukota, yang kuharap bisa melunturkan kekecewaan amat sangat yang kutuai malam ini.

“Baiklah. Terimakasih untuk luangmu malam ini. Sepertinya sudah waktunya aku pulang. Tak enak dengan Ibu kosmu,” aku memilih gaya berpamit penuh basa-basi gaya remaja, dan sok sungkan, yang jamak dipilih banyak orang.

“Sebenarnya tidak masalah, meski kau di sini hingga pagi sekalipun. Apalagi tampaknya hujan akan lama membasahi malam ini.”

Jawaban seperti itu, sumpah, tak pernah aku duga.

Tapi, sepertinya dia serius. Juga tak kulihat lagi ibu kos yang mengintip-intip, untuk memastikan aku sudah enyah. Dia seperti merestui kebersamaan kami yang bisa saja panjang.

Situasi yang membuatku kian ambigu.

“Tapi, jika malam yang terlalu larut di kediaman lawan jenis yang baru kau kenal membuatmu merasa rikuh, silahkan.”

Caranya melepasku itu pun, yang menyelipkan kata “jika” di antaranya –yang berarti aku diberi peluang seluas-luasnya untuk memilih, terus di sini, atau menerabas gerimis— membuatku makin bingung menebak-nebak.

Menebak-nebak yang, sayang betul, ujung-ujungnya membuat gundahku semakin resah. Aduh, memang sebaiknya aku pulang saja lah.

Untuk gestur penutup, aku memilih mengangkat cangkir kopi yang tinggal seperseruputan itu. Ya ampun, kenapa kopi yang terlalu manis ketika awal disuguhkan itu menjadi telampau pahit di saat penghabisan?

Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Tapi, aneh. Di tengah kecewa dan pahit itu, aku masih bisa merasakan bahwa keyakinan yang kurasa telah membohongiku itu masih belum pergi. Cenderung menguat, malah.

Tapi aku tak dapat menangkap isyarat apa yang ingin disampaikan oleh naluriku sendiri.

“Kapan-kapan datanglah kembali ke sini. Aku menyukai perbincangan kita.”

Apalagi maksudnya ini?

Ah, sudahlah. Tak perlu kutebak-tebak lagi. Lebih baik aku segera beranjak sebelum terlalu hanyut dalam kebingungan yang hadir bertubi.

Setelah kulempar senyum dan salam sepantasnya, kuterabas hujan yang menjinak jadi rintik itu.

Mereka, rinai-rinai itu, memberiku sentuhan yang lebih lembut untuk meredam kecewa yang –anehnya—masih menyisakan sekelumit yakin, bahwa yang aku yakini itu tidak berdusta.


Sssttt… Ini Bisiknya…

SEJUJURNYA, pamitmu malam ini itu tak sepenuhnya kurelakan. Karena aku sangat menikmati hujan yang kurasa sangat lengkap dengan keberadaanmu.

Aku telah berupaya menahanmu untuk lebih lama duduk di sebelahku dengan bahasa tubuhku. Tapi, mungkin, aku tak pintar dalam berisyarat.

Dalam pertemuan tiga jam itu aku membuktikan bahwa keyakinanku tidak meleset. Dari sekian banyak yang datang padaku, aku baru mendapati sesosok lelaki yang menghormati eksistensi perempuan yang punya pendapat, pada dirimu.

Sebetulnya, siapakah kamu? Kamu membuatku malu. Kamu membuatku menanti kedatanganmu.

Untung saja kamu tidak tahu.

Aku sebenarnya telah melihat isyarat keistimewaanmu itu dalam perbincangan-perbincangan singkat kita di ruang ramai, yang kita lakukan sambil lalu itu.

Kamu, yang asing dan sekonyong-konyong masuk di dalam ruang sosialku, berhasil membuat yakinku yang lama mati ini muncul kembali.

Pelan-pelan memang, namun tumbuh dalam pasti.

Maaf, aku sengaja tak membalas seluruh pesan singkatmu yang tiba bertubi itu. Aku hanya butuh waktu untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa yang aku rasa ini benar-benar tepat.

Dan, melihat upaya yang kau kemas dalam susunan bahasa elegan dalam pesan singkatmu itu, aku kian yakin dengan keyakinanku. Hanya saja baru separuh, belum bulat betul.

Karena itulah aku membagi alamatku untuk kamu. Aku ingin melihat kesungguhanmu. Aku ingin bukti langsung, dalam pertemuan fisik, untuk melengkapi jiwa kita yang sebenarnya telah bertemu.

Definisi cinta dan sakit yang kupaparkan padamu tadi sebenarnya telah menjadi masa lalu setelah perbincangan kita itu. Tapi aku malu mengakuinya di depanmu.

Pun aku hanya ingin tahu, seberapa keras kesungguhanmu. Kau perlu meyakinkan aku tentang itu dengan ikhtiarmu.

Dan aku yakin, kau akan melakukannya.

Kutatap kepergianmu membelah hujan yang telah menjinak sebagai rintik itu dengan berat, sebenarnya. Tapi aku tak punya alasan untuk menahanmu.

Keyakinanku masih butuh waktu untuk bisa menjadi utuh.

Aku yakin kau bisa membimbingku mengubah definisiku tentang cinta: manifestasi paling sempurna yang Tuhan anugerahkan pada manusia.

Aku harap kamu dan aku bisa memanifestasikannya dalam bentuk dan definisi yang saling menghargai. Antara aku dan kamu. Sebelum benar-benar menjadi kita.

Aku yakin kamu bisa memberiku itu. Dan aku lebih yakin lagi, aku sanggup memberikanmu itu.

Kejarlah daku, kau kan kutangkap, kata pujangga dulu.

Dan entah, mungkinkah aku sedang jatuh cinta? Karena, waktu kamu aktif, aku pura-pura jual mahal. Kamu diam, aku cari perhatian.

Oh, repotnya…

Kadang cinta memang datang dalam bentuk yang sangat sarkastik.
Tapi, ah, biar bagaimana pun, cinta tetaplah cinta; bentuk paling kudus dan sempurna dari segala keindahan di semesta raya ini…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s